Rabu, 03 Desember 2014

Setangkai Hati


Jevan melambaikan tangan pada Namira dan Ale --istri dan anaknya-- yang berada di atas kuda komidi putar yang mulai bergerak. Malam ini adalah akhir pekan, dan ia selalu mengkhususkan akhir pekannya untuk keluarga. Sambil menyilangkan tangan di dada, ia memilih untuk menunggu tak jauh dari wahana yang ada di pasar malam di alun-alun kota itu. Tiba-tiba seorang anak lelaki berambut keriting menarik-narik ujung jaketnya. Disodorkannya setangkai hati berwarna merah pada Jevan yang sedikit kebingungan. Ia berpikir mungkin anak itu sedang kehilangan orang tuanya. Ya, di tempat ramai seperti ini sudah sering terjadi hal seperti itu.
Ia membungkukkan badan agar lebih dekat dengan anak lelaki di depannya. “Ada apa, Dek?”
Anak itu tersenyum hingga terlihat deretan giginya yang rapi. “Ini hati pertama untuk Oom,” ujarnya.
Kening Jevan berkerut melihat setangkai gulali merah berbentuk hati yang disodorkan anak lelaki itu padanya. Dengan sedikit ragu, ia menerima gulali itu. Oh, bukan karena Jevan mencurigai anak lelaki itu, tapi kalimat yang diucapkannya. Kalimatnya mengingatkan Jevan pada seorang gadis dari masa lalu. Leya, cinta pertamanya.
Belum sempat Jevan bertanya, anak lelaki yang tadi memberikan gulali padanya sudah berlari ke arah lain. Ia hilang dalam kerumunan alun-alun kota yang luar biasa ramai di akhir pekan. Meninggalkan setangkai hati berwarna merah dan tanya yang mulai mengisi kepala.
Kaukah itu Leya? Yang memberikanku setangkai hati ini?

**

Kamu suka yang berbentuk hati. Selalu bentuk yang sama dan berwarna merah. Bukan bentuk dan warna yang lain. Aku pernah menanyakan tentang itu, tentang gulali kesukaanmu. Kamu hanya akan tersenyum. Tak pernah ada jawaban selain karena kamu menyukainya.
“Mengapa selalu berbentuk hati?” tanyaku ketika kita menunggu gulali pesananmu dibentuk oleh si penjual gulali langgananmu. “Bentuk bunga atau kupu-kupu juga cantik bukan?”
Sepasang mata cokelatmu memandangku sejenak sebelum kembali pada jemari kurus yang terampil membentuk hati pesananmu. “Karena aku menyukainya,” jawabmu singkat dengan mata yang seolah takut kehilangan momen bagaimana hatimu dibentuk.
“Hanya karena suka? Tidak ada alasan lain?” Aku masih penasaran. Ini adalah kali kesekian aku menemanimu membeli penganan gula kental yang manis itu.
“Apakah menyukai sesuatu harus selalu dengan alasan, Jevan?” Kamu mengakhirinya dengan senyum di bibirmu yang merah muda. Dan aku, diam.
Lelaki kurus itu menyerahkan setangkai hati pertama yang kamu sambut dengan mata yang berbinar. Kamu memandangi hasil karya lelaki itu beberapa jenak. Seolah meneliti sebuah karya seni yang langka. Plastik bening yang membungkus hatimu itu pun kamu rapikan. Lalu mengikat tali menjadi simpul berbentuk pita di bawahnya. Itu ritualmu setiap kali membeli gulali. “Hati pertama ini untukmu,” ujarnya. 

**

Gulali berbentuk hati dan berwarna merah. Langkahnya terus menyusuri alun-alun kota, mencari seseorang. Ia sangat yakin bahwa yang memberikan setangkai gulali itu adalah Leya. Perempuan yang dulu selalu memberikannya setangkai hati pertama tiap kali mereka membeli gulali bersama.
Wahana komidi putar sudah jauh darinya. Di kepalanya tak terpikirkan bagaimana jika Namira dan Ale kebingungan mencarinya nanti. Ia hanya ingin bertemu dengan Leya meski tak yakin juga apa yang akan dikatakannya nanti jika mereka bertemu.
Jevan menemukan seorang pedagang gulali yang sedang sibuk membentuk gula kental panas dari wajan kecilnya. Ia menghampirinya, berharap Leya ada di sana. Tak ada perempuan itu di antara para pembeli yang sedang menunggu gulali mereka. Leya mungkin sudah pergi.
Ia belum menyerah. Dilangkahkan lagi kakinya ke arah lain, ke mana saja karena ia pun tak punya arah. Lalu ia teringat tempat kesukaaan Leya jika ada festival atau acara seperti pasar malam seperti ini, kembang gula!
Tepat! Seorang perempuan berambut hitam sebahu dengan dress hijau floral selutut ada di sana. Senyum Jevan terkembang. Itu Leya!
Jarak mereka tidak jauh, hanya sekitar lima meter, namun tiba-tiba ada rombongan anak muda yang mengahalangi jalannya. Membuatnya terpaksa melambatkan langkah. Dengan tubuhnya yang tinggi, ia masih bisa melihat perempuan itu memegangi kembang gulanya. Perempuan itu tersenyum ke arahnya sebelum akhirnya melangkah pergi. Ia mempercepat langkahnya menuju stan kembang gula. Berkali-kali pula ia harus meminta maaf pada pengunjung yang tanpa sengaja tersenggol tubuhnya saat ia mencoba menerobos jalan.
Leya sudah pergi. Ia terlambat lagi.

**

“Aku akan menikah,” ujarmu pelan, bahkan sangat terlihat santai. Tanpa beban. Kamu mengucapkannya seolah sedang mengatakan kalau kamu ingin makan atau ingin pergi tidur. Sementara itu jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika kamu mengucapkannya beberapa detik lalu.
“Menikah?” ulangku terkejut. Ya, aku berharap kamu sedang bercanda tadi. Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku padamu dan sebentar lagi kamu akan jadi milik lelaki lain. Secepat itukah, Leya? Atau aku yang terlalu bodoh, membiarkan lima tahun berlalu begitu saja.
Kamu tersenyum dengan mata yang tak beralih dari hati kedua yang sedang dibentuk. “Kurasa kamu belum butuh pergi ke dokter THT, Jev.”
“Kamu akan menikah dan baru memberitahuku sekarang?” Aku masih mencecarnya soal pernikahan. “Bahkan kamu bisa begitu santai memberitahukannya padaku, seolah itu adalah kabar tak penting,” ujarku geleng-geleng kepala dan kusisipkan kekehan pelan yang kupaksa keluar. Menutupi lubang yang mulai menganga dalam hatiku.
“Kamu itu orang sibuk, Jev. Sulit menghubungimu,” jawabmu bergurau. “Dan kamu juga tahu bukan bahwa aku paling sebal jika menunggu terlalu lama?”
Ya, kamu betul Leya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berperang sendiri tentang perasaanku padamu hingga tanpa sadar telah membuatmu menunggu terlalu lama. Kamu pasti berpikir bahwa aku hanyalah Jevan, si pecundang yang bodoh.
“Jadi dengan siapa kamu akan menikah?”
Jemarimu merapikan hati kedua milikmu. “Dengan lelaki yang kepadanya akan kuberikan hati kedua ini,” jawabmu sambil menunjukkan gulali merah berbentuk hati yang sama dengan milikku.

**

“Ayah....” Dilihatnya tangan kecil Ale melambai ke arahnya, mencoba memberi tanda keberadaannya. Pun Namira yang berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama. Kini ia sedang berdiri di persimpangan. Terus berlari mencari Leya atau kembali pada Namira dan Ale.
“Kamu ke mana sih? Kita nyari kamu daritadi,” keluh Namira kesal.
Jevan mencoba tersenyum pada Namira, istrinya. “Maaf ya, tadi seperti melihat teman lama.”
“Siapa? Sudah ketemu?” Pertanyaan Namira dijawab dengan gelengan kepala olehnya. Tiba-tiba raut wajah Namira berubah sedih.
“Ayah, aku mau itu....” Ale menunjuk sesuatu yang ada di genggaman ayahnya.
“Hati pertama untukmu, Nak.” Senyum Jevan mengembang. Ale sangat antusias menerimanya.
Jevan menyadari wajah sedih istrinya itu lalu bertanya, “kamu kenapa, sayang?” Diusapnya rambut Namira dengan lembut.
“Barusan Vanya kabarin aku tentang Leya,” jawabnya sedikit ragu. Ia tak yakin Jevan akan baik-baik saja setelah mendengar kabar tentang teman lamanya ini. “Leya meninggal sore tadi di Amerika, jenasahnya akan tiba di Indonesia besok pagi.”
Bibir Jevan terkatup rapat. Kepalanya masih sulit mencerna kata-kata dari Namira. Istrinya pasti sedang bergurau. Tapi ia tak menangkapnya di wajah Namira. Ia benar-benar serius tentang Leya. Matanya langsung diarahkan ke atah stan kembang gula tempat terakhir melihat perempuan itu. Lalu beralih cepat ke arah hati yang ada di tangan Ale. Dadanya terasa sesak. Bibirnya tak mampu mengeluarkan apapun. Ia hanya diam memandang Namira yang sama sedihnya dengan dirinya.
Leya masih hidup. Ia ada di sini.

****

Rabu, 01 Oktober 2014

3rd day : What are You Afraid Of?





Haii...
Sudah hari ketiga untuk tantangan ngeblog nih. Kali ini judulnya tentang hal yang gue takutkan.
Sudah pasti dari sekian ketakutan gue, yang ada di daftar paling atas adalah Sang Maha Pencipta. Gue sadar banget kok sebagai manusia masih banyak melakukan hal yang dilarang oleh-Nya, tapi gue selalu berusaha untuk menjalankan perintah-Nya. Selalu berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik dan taat.

Mati. Semua makhluk hidup pasti akan mati kan? Iya, gue tahu. Dan nggak ada yang tahu kapan waktu itu tiba kecuali Tuhan.
Takut kehilangan orang-orang tersayang, terutama keluarga. Ah, siapa sih yang mau kehilangan keluarga?

Ular. Ketakutan gue dengan hewan jenis ini emang gak parah-parah banget sih, malah pengen belajar megang (dan tetep belum berani juga!). Pernah waktu kecil (lupa umur berapa), ketika lagi di kamar mandi di rumah kakek-nenek gue  tuh ada ular yang ngelilingin wc yg lagi gue pake. Dan gue cuma bisa teriak-teriak manggil mama. Sejak itu gue agak parno pake kamar mandi di rumah nenek gue itu dan takut tiba-tiba ada ular nongol di sana. Ahahaha

Apalagi ya? Banyak sih sebenarnya hal yang gue takutkan. Tapi gue gak menjadikan ketakutan gue itu sebagai hal yang harus gue takutkan dalam hidup. Kebanyakan gue malah belajar buat melawan ketakutan gue itu. Sok berani aja sih gue. Ahahahaaaa...


Jadi, mari belajar untuk menghadapi ketakutan yang kalian punya. Semangaaaattt....!!







Kota Hujan, 011014

Selasa, 30 September 2014

2nd day : 20 Facts About You



Allo....

Tantangan hari kedua ini adalah membeberkan 20 fakta tentang gue. Yuk mari disimak fakta-fakta yang gaje ini. Ohohohohooo 

  1. Jawa. Mungkin di hari pertama gue udah cerita tentang ini. Yep, gue keturunan Jawa yang sering dikira bukan orang jawa. Kebanyakan mereka mengira gue adalah orang sunda karena domisili gue di Bogor. Bahkan pernah ada yang ngira gue orang Aceh, Padang, atau Palembang. Oh!!
  2. Anak sulung dan perempuan satu-satunya membuat gue nggak punya saingan. Hahaha... karena dua adik gue semuanya laki-laki dan jarak usia gue dengan mereka agak jauh.
  3. Angka 9. Gue lahir di tanggal itu dan gue merasa itu adalah semacam nomor keberuntungan.
  4. Golongan darah gue B, dan gue baru tau ini beberapa bulan lalu. Diceknya sama Praka yang punya satu titik di ujung mata. Uwuwuwuww.... *toyor
  5. Ekspresif dan moody. Hehehehee....
  6. Jatuh cinta banget sama Yogyakarta dan punya mimpi bisa tinggal di kota itu sama keluarga gue kelak. XD
  7. Suka banget sama warna coklat. Sampe tiap beli baju, sepatu, atau sandal pun pasti yang dicari tuh warna coklatnya dulu.
  8. Gak suka jeruk.  Paling gak suka sama buah yang satu ini. Jangankan makan, cium bau jeruk aja udah nggak suka. Kalau ada yang makan jeruk di dekat gue, pasti gue menyingkir atau kalaupun nggak bisa pergi ya... tutup hidung ajalah. Tapi Cuma jeruk buah yang oren-oren itu aja sih. Kalo lemon atau jeruk nipis sih masih oke.
  9. Lebih suka jalan sendirian. Iya sih kalau ada teman bisa ngobrol, tapi kadang suka nggak bebas, apalagi gue suka nggak enakan orangnya. Jadi kalau sendirian kan mau sampai kaki pegel pun puas. Tinggal teparnya aja di rumah. XD
  10. Seneng  belanja buku (apalagi kalau diskonan), tapi dibacanya nggak tahu kapan. Hihihihiii
  11. Novel. Suka baca novel sejak SMP ketika teenlit lagi booming. Dan gue nggak fanatik sama satu genre aja sih.
  12. Suka nge-craft, tapi masih yang gampang-gampang aja kayak flanel dan kertas. Seru dan bisa bikin lupa waktu. Gue kadang suka sayang ngeluarin duit buat beli sesuatu yang sebenarnya bisa dibikin sendiri, jadi kalau bisa bikin kenapa mesti beli? Nggak enaknya adalah ketika selesai berkreasi dan menyadari tempat lu udah kayak kapal pecah. XD
  13. Lebih suka nonton film action, spionase, atau adventure ketimbang romance. Bukan berarti gak suka nonton romance ya, koleksi dvd gue juga banyak kok romance-nya.
  14. Will Smith. Teman gue sampe heran kenapa gue suka sama bapaknya Jayden Smith ini. Bagi gue, dia itu keren. Anaknya juga! Ahahhaha..
  15. Sheila on 7. Sebagai generasi yang melewati tahun 90-an, gue juga merasakan bagaimana lagu-lagui dari grup yang satu ini menemani hidup gue. (Dulu) gue fanatik banget sama So7, sampai ngumpulin semua tentang mereka. Playlist gue pun masih didominasi oleh lagu-lagu mereka sampai sekarang.
  16. Gak suka kucing, tapi gak sampe histeris juga kalau ada kucing.
  17. Kalau ngendarain motor suka ngebut (katanya!). Iya, kata orang-orang gitu. Sampe ada yang kapok diboncengin sama gue, padahal gak ngebut-ngebut amat kok gue. :p Tapi kalau gue yang diboncengin juga suka ngeri  (nah, lho...) dan gue jadi mikir ‘jadi gini ya rasanya diboncengin ngebut?’. *toyor
  18. Anggota Gengges. Nama ini sebenarnya cuma asal ceplos aja waktu kumpul bareng sepupu-sepupu perempuan dari garis keturunan Mbah buyut Karsoredjo. Biasanya kita suka nonton dvd bareng atau kumpul-kumpul.
  19. Lango. (Buat yang belum tau apa itu lango, silahkan googling aja ya. :p ) Banyak yang bilang gue aneh atau konyol karena suka sama lango. Yateruss? Dan gue beruntung akhirnya menemukan satu teman yang gokil kalau udah ngomongin hal yang satu ini. Nulis novel dengan dunia lango adalah salah satu cita-cita gue juga. *wish
  20. Pengen banget bisa main voli. Ahahaha... Iya, mau belajar olahraga yang satu ini. *nyariguru

Udah ah, segitu aja yang gue bocorin tentang hidup gue (ya emang cuma 20 kalii tantangannya...). Besok kita jumpa lagi dengan tantangan berikutnya. Jangan kapok mampir sini yak... :D





Kota Hujan, 300914

Senin, 29 September 2014

1st day: Introduction


Haiii...
Yep, akhirnya gue memutuskan untuk ikutan 25 days challenges ini. Tertarik untuk ikutan setelah baca blognya Kak Rula dan kayaknya seru juga. Sekalian buat ngisi blog gue yang jarang banget diisi tulisan baru. Hehehe.... Baiklah mari kita mulai dan semoga gue konsisten ngeblog selama 25 hari ke depan.

Di hari pertama ini gue mesti memperkenalkan diri. Nama lengkap gue Desvian Trisna Sekar Wulan. Ketika gue memperkenalkan diri pada orang baru, gue biasanya pakai nama Desvian dan seringnya gue mesti menyebutkannya pelan-pelan atau mengulangnya. Dan nama gue ini bikin gue ngabisin waktu ketika ujian (u know what I mean, lah). Gue punya banyak nama panggilan mulai dari Desvi, Dedes, Dedel, Vian, Trisna, Isna, Wulan, dan beberapa teman gue punya nama panggilan khusus buat gue (meski aneh). XD

Lahir di kota yang tetanggaan sama kota yang bikin gue jatuh cinta. Kedua orang tua gue asli Jawa, tapi entah kenapa banyak orang yang ngira gue bukan orang Jawa. Emang sih gue tumbuh dan besar di kota Hujan, tapi gue juga gak pinter bahasa Sunda (bahasa Jawa juga gak pinter sih. Hahaha...). Lalu gue mikir di mana letak kurang Jawa-nya muka gue? Apa gue mesti mengeksotiskan(?) warna kulit dan ngomong lemah lembut plus kemayu? Hahahaa..*abaikan.

Saat ini gue masih tercatat (etdah tercatat...) sebagai karyawati di sebuah perusahaan tesktil di kota hujan. Pekerjaan gue di bidang keuangan. Dari dulu gue lebih suka angka-angka dan menghitung ketimbang teori dan hapalan. Meski begitu, gue suka banget nulis dan baca buku. Menurut gue nulis itu semacam terapi. Kadang ada beberapa hal yang ingin diungkapkan tapi nggak bisa diungkapkan secara langsung, dan gue milih nulis buat mengungkapkan. Gue suka nulis sejak SMP, tapi baru serius nulis sih beberapa tahun yang lalu. Belum punya novel solo sih, tapi beberapa tulisan gue masuk dalam beberapa antologi. Dan saat ini sedang merancang pilar-pilar calon ‘anak’ pertama. XD

Segitu dulu kali ya perkenalan kali ini. Salam kenal untuk kalian. Kalau pada takut kenalan sama gue karena ada yang bilang gue galak atau jutek abaikan saja, karena emang gitu kok (lho?!) :o

Boleh lho mampir buat denger kicauan gak penting gue di akun @desvianwulan (promo terselubung).XD

Sampai jumpa besok.






Kota Hujan, 290914

Minggu, 21 September 2014

Just Give Her A Sign


Perempuan itu tersenyum. Lalu tertawa. Bahagia. Ingin rasanya kamu di sana. Menikmati manis senyumnya, renyah tawanya, dan tentu saja matanya yang katamu seperti telaga. Tapi kamu bisa apa? Hanya diam mengawasinya. Lalu hancur ketika lelaki lain datang. Mendapatkan yang kamu inginkan. Dan kamu mundur pelan-pelan seolah tak ingin jejakmu tertinggal.

Kamu menelanjangi dinding putih itu dari bingkai-bingkai kenangan. Semua. Tak satupun kamu biarkan tertinggal. Tidak juga hatimu yang sudah remuk. Kamu menyerah. Semudah itu.


Sedang di sana ia tahu kamu ada, mengawasinya. Ia melihat punggungmu yang menjauh. Dan ia bertanya-tanya, mungkinkah kamu sudah menyerah? Tanpa kamu tahu, ia sama remuknya denganmu. Ia ingin membagi tawanya denganmu. Mengulurkan tangannya untukmu dan membantumu menyembuhkan luka dalam hatimu. Ia tidak mengabaikanmu. Ia hanya sedang menunggu. Menunggumu. 









(Tulisan dengan 123 kata ini diikutkan dalam #Fiksilaguku @KampusFiksi
terinspirasi dari lagu Breaking Benjamin-Give Me a Sign )

Minggu, 07 September 2014

10 Books That Affected Me

Awalnya ditag seorang teman di facebook tentang buku-buku yang mempengaruhi hidupnya. Sempat minder dengan bacaan saya yang ringan-ringan ini. Seringan kapas yang ditiup lalu terbang terbawa angin. Hahahahahaa.... Jadi, ini kesepuluh buku versi saya.


  • G30S-PKI (Nggak tahu judul tepatnya) 

Sebenarnya buku ini bukanlah sebuah buku yang utuh dan lengkap, tanpa kover dan beberapa bagian buku yang hilang (dan nggak tahu kenapa bisa begitu). Saya temukan nggak sengaja di bawah meja tamu di rumah Pakde saya yang tentara, waktu saya masih SD (sekitar kelas 4 atau 5). Mengisahkan tentang proses penculikan para pahlawan revolusi sampai pengangkatan mayat-mayat di Lubang Buaya. Karena halaman yang nggak lengkap, saya sampai nyari di gudang rumah Pakde, dan nggak ketemu! Sedih. Buku inilah yang membuat saya jadi suka sama pelajaran sejarah, sampai dapat nilai 9 koma  di rapor dan seneng banget waktu itu. XD


  • Biografi Denny Sumargo 

Sebuah biografi dari pebasket nasional. Awalnya beli buku ini karena kesengsem banget sama Koko Densu, lalu saya menemukan sesuatu ketika mulai membaca tiap lembar kisah hidupnya. Hidup yang tidak mudah, keras, dan penuh perjuangan. Didikan keras dari ibunya yang orang tua tunggal membentuknya menjadi pribadi yang keras pula, mudah emosi, namun berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah. Beberapa bagian membuat saya ingin menangis saja rasanya (emang cengeng sih. XD ). Melalui buku ini saya jadi menyadari bahwa hidup saya masih lebih mudah dari kisah-kisahnya, yang membuat saya lebih bersyukur.


  • Fairish – Esti Kinasih

Salah satu teenlit yang booming banget jamannya saya SMP. Sejak itu saya jadi keranjingan baca novel, mulai dari minjem teman (ngantri pula) sampai harus nabung buat beli. Dari hobi baca teenlit macam itu saya jadi kepengen punya karya seperti itu, jadi saya mulai nulis cerita-cerita saya di buku tulis (waktu itu belum punya komputer) yang kemudian dikonsumsi sama teman-teman terdekat dan bikin saya senang ketika mereka menagih lanjutannya. Momen sederhana itu yang bikin saya mulai suka nulis sampai menghabiskan banyak buku tulis.


  • Bangkok (Journey)- Moemoe Rizal

Buku ini yang akhirnya membuat saya jatuh cinta sama tulisannya Kak Moemoe lainnya, Fly to the sky (tepatnya sama Ardian-nya). Awal beli ini sih memang karena Bangkok-nya, tapi akhirnya lewat novel ini membuat saya belajar bagaimana membuat tulisan deskriptif yang lebih baik (ngomong apa sih). :D


  • Supernova – KPBJ

Sebenarnya bisa dibilang telat gaul juga pas baca ini. Mungkin yang lain sudah sampai Partikel bahkan nunggu Gelombang keluar, saya baru mulai dengan KPBJ. Hehehe.... Karya-karya ibu suri emang jempolan. Sains yang dipadankan dengan fiksi, penokohan yang kuat, dan banyak kejutan. Keren pake banget! Dan saya jadi kepingin beli seri selanjutnya.


  • Season Series – Ilana Tan

Idenya membuat benang merah yang menyatukan keempatnya itu bagus. Gaya tulisan Ilana Tan dalam cinta empat musimnya itu yang banyak mempengaruhi gaya tulisan saya beberapa tahun lalu (sekarang juga masih sih).


  • Harry Potter – J.K Rowling

Saya juga merasakan bagaimana hanyut dalam dunia sihirnya Tante Rowling seperti teman-teman saya yang lain waktu SMP. Membuat saya nggak sadar bahwa novel itu lebih tebal dari teenlit yang biasa saya baca.


  • You’re the apple in my eyes

Suka juga sama filmnya. Tentang persahabatan dan cerita cinta yang realistis. Saya suka endingnya. Akhirnya.... *ketawajahat


  • 9 Matahari – Adenita

Tentang semangat dan perjuangan seorang Matari untuk kuliah di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Semangat yang sama juga terbit kembali dalam diri saya ketika membaca kisahnya.


  • Alles Liebe – Farrahnanda

Saya suka dengan pesan singkat yang dituliskannya pada halaman awal novelnya untuk  saya. Dari tokoh yang diciptakannya itu saya jadi belajar untuk berani “mengumpat” dalam tulisan. Sebuah perubahan. Ahahahahaa....






Kota Hujan, 07092014

Sabtu, 26 Juli 2014

Hujan Turun Lagi

picture from weheartit

Hujan turun lagi, Kirana.
Aku melihatmu dari balik jendela kamarku. Berlari-lari di bawah rinai hujan. Sesekali menari, berputar-putar sambil bergandeng tangan dengan temanmu. Kamu tahu Kirana, aku ingin sekali bisa keluar dari kehangatan kamarku dan berlari menujumu. Aku ingin menari di bawah hujan. Sepertimu. Namun kamu juga tentu tahu Kirana, Ibu tak akan membiarkanku melakukan itu. Aku harus tinggal di dalam kamar dan berselimut tebal. Dan tentu saja, aku hanya bisa memandang sedih ke luar jendela kamarku. Menyaksikan gadis-gadis berpesta.

Kamu menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasimu di balik jendela yang buram berembun. Aku menangkap senyummu. Senyum yang melengkung di bibir pucatmu. Seharusnya kamu cepat pulang dan menghangatkan tubuhmu yang menggigil itu, Kirana. Pulanglah... jangan membuat Ibu sedih jika kamu sakit karena terlalu lama bermain hujan. Jangan marah padanya jika ia banyak melarangmu ini itu. Ibu terlalu sayang padamu. Biar kuberitahu padamu, diam di dalam kamar dan hanya memandang iri pada hujan di luar sana sungguh menyebalkan, Kirana. Maka cepatlah pulang dan menurut pada apa yang Ibu katakan.

Pintu kamarku berdecit, membuatku mengabaikan dirimu. Ibu berjalan menuju ranjangku dengan membawa semangkuk sup buatannya. "Sudah waktunya makan, Kirana." Ibu duduk di sampingku, menyuapi anak gadisnya dengan sabar. Kamu tahu Kirana, aku sungguh menyesal ketika aku justru berlari membawa marah pada Ibu karena menyuruhku berhenti bermain hujan. Andai saja bisa mengulang waktu, aku akan segera pulang. Dan Kirana--aku atau kamu, sama saja--tak akan menghabiskan waktunya di atas ranjang sambil memandangi hujan dari balik jendela saja.







Kota Hujan, 26072014