Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Setangkai Hati


Jevan melambaikan tangan pada Namira dan Ale --istri dan anaknya-- yang berada di atas kuda komidi putar yang mulai bergerak. Malam ini adalah akhir pekan, dan ia selalu mengkhususkan akhir pekannya untuk keluarga. Sambil menyilangkan tangan di dada, ia memilih untuk menunggu tak jauh dari wahana yang ada di pasar malam di alun-alun kota itu. Tiba-tiba seorang anak lelaki berambut keriting menarik-narik ujung jaketnya. Disodorkannya setangkai hati berwarna merah pada Jevan yang sedikit kebingungan. Ia berpikir mungkin anak itu sedang kehilangan orang tuanya. Ya, di tempat ramai seperti ini sudah sering terjadi hal seperti itu.
Ia membungkukkan badan agar lebih dekat dengan anak lelaki di depannya. “Ada apa, Dek?”
Anak itu tersenyum hingga terlihat deretan giginya yang rapi. “Ini hati pertama untuk Oom,” ujarnya.
Kening Jevan berkerut melihat setangkai gulali merah berbentuk hati yang disodorkan anak lelaki itu padanya. Dengan sedikit ragu, ia menerima gulali itu. Oh, bukan karena Jevan mencurigai anak lelaki itu, tapi kalimat yang diucapkannya. Kalimatnya mengingatkan Jevan pada seorang gadis dari masa lalu. Leya, cinta pertamanya.
Belum sempat Jevan bertanya, anak lelaki yang tadi memberikan gulali padanya sudah berlari ke arah lain. Ia hilang dalam kerumunan alun-alun kota yang luar biasa ramai di akhir pekan. Meninggalkan setangkai hati berwarna merah dan tanya yang mulai mengisi kepala.
Kaukah itu Leya? Yang memberikanku setangkai hati ini?

**

Kamu suka yang berbentuk hati. Selalu bentuk yang sama dan berwarna merah. Bukan bentuk dan warna yang lain. Aku pernah menanyakan tentang itu, tentang gulali kesukaanmu. Kamu hanya akan tersenyum. Tak pernah ada jawaban selain karena kamu menyukainya.
“Mengapa selalu berbentuk hati?” tanyaku ketika kita menunggu gulali pesananmu dibentuk oleh si penjual gulali langgananmu. “Bentuk bunga atau kupu-kupu juga cantik bukan?”
Sepasang mata cokelatmu memandangku sejenak sebelum kembali pada jemari kurus yang terampil membentuk hati pesananmu. “Karena aku menyukainya,” jawabmu singkat dengan mata yang seolah takut kehilangan momen bagaimana hatimu dibentuk.
“Hanya karena suka? Tidak ada alasan lain?” Aku masih penasaran. Ini adalah kali kesekian aku menemanimu membeli penganan gula kental yang manis itu.
“Apakah menyukai sesuatu harus selalu dengan alasan, Jevan?” Kamu mengakhirinya dengan senyum di bibirmu yang merah muda. Dan aku, diam.
Lelaki kurus itu menyerahkan setangkai hati pertama yang kamu sambut dengan mata yang berbinar. Kamu memandangi hasil karya lelaki itu beberapa jenak. Seolah meneliti sebuah karya seni yang langka. Plastik bening yang membungkus hatimu itu pun kamu rapikan. Lalu mengikat tali menjadi simpul berbentuk pita di bawahnya. Itu ritualmu setiap kali membeli gulali. “Hati pertama ini untukmu,” ujarnya. 

**

Gulali berbentuk hati dan berwarna merah. Langkahnya terus menyusuri alun-alun kota, mencari seseorang. Ia sangat yakin bahwa yang memberikan setangkai gulali itu adalah Leya. Perempuan yang dulu selalu memberikannya setangkai hati pertama tiap kali mereka membeli gulali bersama.
Wahana komidi putar sudah jauh darinya. Di kepalanya tak terpikirkan bagaimana jika Namira dan Ale kebingungan mencarinya nanti. Ia hanya ingin bertemu dengan Leya meski tak yakin juga apa yang akan dikatakannya nanti jika mereka bertemu.
Jevan menemukan seorang pedagang gulali yang sedang sibuk membentuk gula kental panas dari wajan kecilnya. Ia menghampirinya, berharap Leya ada di sana. Tak ada perempuan itu di antara para pembeli yang sedang menunggu gulali mereka. Leya mungkin sudah pergi.
Ia belum menyerah. Dilangkahkan lagi kakinya ke arah lain, ke mana saja karena ia pun tak punya arah. Lalu ia teringat tempat kesukaaan Leya jika ada festival atau acara seperti pasar malam seperti ini, kembang gula!
Tepat! Seorang perempuan berambut hitam sebahu dengan dress hijau floral selutut ada di sana. Senyum Jevan terkembang. Itu Leya!
Jarak mereka tidak jauh, hanya sekitar lima meter, namun tiba-tiba ada rombongan anak muda yang mengahalangi jalannya. Membuatnya terpaksa melambatkan langkah. Dengan tubuhnya yang tinggi, ia masih bisa melihat perempuan itu memegangi kembang gulanya. Perempuan itu tersenyum ke arahnya sebelum akhirnya melangkah pergi. Ia mempercepat langkahnya menuju stan kembang gula. Berkali-kali pula ia harus meminta maaf pada pengunjung yang tanpa sengaja tersenggol tubuhnya saat ia mencoba menerobos jalan.
Leya sudah pergi. Ia terlambat lagi.

**

“Aku akan menikah,” ujarmu pelan, bahkan sangat terlihat santai. Tanpa beban. Kamu mengucapkannya seolah sedang mengatakan kalau kamu ingin makan atau ingin pergi tidur. Sementara itu jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika kamu mengucapkannya beberapa detik lalu.
“Menikah?” ulangku terkejut. Ya, aku berharap kamu sedang bercanda tadi. Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku padamu dan sebentar lagi kamu akan jadi milik lelaki lain. Secepat itukah, Leya? Atau aku yang terlalu bodoh, membiarkan lima tahun berlalu begitu saja.
Kamu tersenyum dengan mata yang tak beralih dari hati kedua yang sedang dibentuk. “Kurasa kamu belum butuh pergi ke dokter THT, Jev.”
“Kamu akan menikah dan baru memberitahuku sekarang?” Aku masih mencecarnya soal pernikahan. “Bahkan kamu bisa begitu santai memberitahukannya padaku, seolah itu adalah kabar tak penting,” ujarku geleng-geleng kepala dan kusisipkan kekehan pelan yang kupaksa keluar. Menutupi lubang yang mulai menganga dalam hatiku.
“Kamu itu orang sibuk, Jev. Sulit menghubungimu,” jawabmu bergurau. “Dan kamu juga tahu bukan bahwa aku paling sebal jika menunggu terlalu lama?”
Ya, kamu betul Leya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berperang sendiri tentang perasaanku padamu hingga tanpa sadar telah membuatmu menunggu terlalu lama. Kamu pasti berpikir bahwa aku hanyalah Jevan, si pecundang yang bodoh.
“Jadi dengan siapa kamu akan menikah?”
Jemarimu merapikan hati kedua milikmu. “Dengan lelaki yang kepadanya akan kuberikan hati kedua ini,” jawabmu sambil menunjukkan gulali merah berbentuk hati yang sama dengan milikku.

**

“Ayah....” Dilihatnya tangan kecil Ale melambai ke arahnya, mencoba memberi tanda keberadaannya. Pun Namira yang berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama. Kini ia sedang berdiri di persimpangan. Terus berlari mencari Leya atau kembali pada Namira dan Ale.
“Kamu ke mana sih? Kita nyari kamu daritadi,” keluh Namira kesal.
Jevan mencoba tersenyum pada Namira, istrinya. “Maaf ya, tadi seperti melihat teman lama.”
“Siapa? Sudah ketemu?” Pertanyaan Namira dijawab dengan gelengan kepala olehnya. Tiba-tiba raut wajah Namira berubah sedih.
“Ayah, aku mau itu....” Ale menunjuk sesuatu yang ada di genggaman ayahnya.
“Hati pertama untukmu, Nak.” Senyum Jevan mengembang. Ale sangat antusias menerimanya.
Jevan menyadari wajah sedih istrinya itu lalu bertanya, “kamu kenapa, sayang?” Diusapnya rambut Namira dengan lembut.
“Barusan Vanya kabarin aku tentang Leya,” jawabnya sedikit ragu. Ia tak yakin Jevan akan baik-baik saja setelah mendengar kabar tentang teman lamanya ini. “Leya meninggal sore tadi di Amerika, jenasahnya akan tiba di Indonesia besok pagi.”
Bibir Jevan terkatup rapat. Kepalanya masih sulit mencerna kata-kata dari Namira. Istrinya pasti sedang bergurau. Tapi ia tak menangkapnya di wajah Namira. Ia benar-benar serius tentang Leya. Matanya langsung diarahkan ke atah stan kembang gula tempat terakhir melihat perempuan itu. Lalu beralih cepat ke arah hati yang ada di tangan Ale. Dadanya terasa sesak. Bibirnya tak mampu mengeluarkan apapun. Ia hanya diam memandang Namira yang sama sedihnya dengan dirinya.
Leya masih hidup. Ia ada di sini.

****

Minggu, 11 Mei 2014

Aquamarine

“Suatu hari, kita akan kembali lagi ke tempat ini.”
"Tentu saja,” balasnya santai. “Tak perlu kata 'suatu hari', karena minggu depan kita juga akan bertemu lagi di sini, di tempat ini,” tambahnya sambil tersenyum padaku. Aku memaksakan kedua sudut bibirku naik, membalas senyumya. Harapanku, lebih dari sekedar itu.

           
            Aroma khas kopi menguar dari segala penjuru, menyapa setiap indera penciuman manusia. Temasuk kita yang akhirnya tergoda untuk membuka pintu kaca yang tercetak logo berwarna hijau itu ketika hujan tak kunjung reda. Kita memesan secangkir double espresso dan segelas besar mocha frappuccino pada barista cantik berkuncir kuda.
Beruntung sudut favorit kita di cafe itu tak ada yang menempati lebih dulu. Sepasang sofa berwarna coklat tua yang dijeda meja bundar kecil warna senada. Kita berdua menikmati kopi masing-masing sembari membicarakan banyak hal. Lagu Secondhand Serenade, album terbaru Maliq 'n d'Essentials, buku-buku sci-fi koleksimu, dan entah apa lagi, masuk dalam obrolan kita.
Sesekali aku melirik ke luar sana. Beberapa anak lelaki yang kuyup dan kedinginan. Bibir mereka pucat, bergetar. Menawarkan payung-payung mereka pada pengunjung demi beberapa lembar rupiah.
“Buana, kau tak keberatan ‘kan kalau aku membagi donat-donat ini pada anak-anak itu?” tanyaku hati-hati. Telunjukku mengarah pada anak-anak lelaki yang sedari tadi kuperhatikan. Kulihat matamu mengikuti telunjukku.
            Kamu mengangguk. Senyum yang menghadirkan gelenyar aneh tiap aku melihatnya pun tak luput kau sisipkan.
Segera kuambil satu kotak berwarna kuning dari kantung belanja kami tadi. Tak sabar membagi sedikit kebahagiaan pada anak-anak itu.
**
            Iced Frappucinno dalam gelas besarku sudah sisa setengahya ketika aku membuka pesan singkat ketiga. Mataku memandang jauh ke luar pusat perbelanjaan di pusat kota ini. Sebuah tugu dengan replika senjata khas tanah Sunda di tengah kota pun masih sedikit tertangkap pandangan mata dari sini.
Tugu Kujang. Gagah berdiri meski dicumbu teriknya matahari, dibalut polusi. Bogor, mulai menjelma ibukota. Ah, itulah sebabnya aku lebih suka sepanjang jalan Ahmad Yani menuju Sudirman ataupun di sepanjang Jalan Padjajaran. Pepohonan besar dan hijau menaungi sepanjang jalan. Teduh. Sejuk. Lalu aku memindai kenangan ketika kamu menantangku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan itu.
Sudahlah. Itu masa lalu.
            Kulirik jam tangan warna cokelat yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sepuluh menit berlalu. Kamu terlambat, seperti biasa. Aku menghela napas sejenak. Lalu memutuskan untuk mengambil buku yang belum tamat kubaca.
“Ayla?” suara itu mengurungkan niatku untuk melanjutkan bacaanku.
Itu kamu, orang yang kutunggu. Ketika tubuhmu yang tinggi tegap itu tertangkap pandang mataku, sesuatu bergemuruh di dalam diriku. Rasanya nyaris sama seperti dulu, namun aku buru-buru mengenyahkannya.
Aku harus tahu diri.
Kutarik kedua sudut bibirku ke atas. Novel Laura Florand pun kututup kembali. Kamu kemudian duduk di seberangku. Meja kayu bundar menjadi sekat antara tubuh kita.  
            “Maaf terlambat lagi,” ujarmu sambil memamerkan senyum yang masih saja menghadirkan getaran yang sama, membuat jantungku berkali-kali lebih cepat detaknya. Hanya saja kali ini berbeda. Aku harus mengusirnya.
“Sudah lama?” tanyamu.
            Aku menggeleng. “Baru sepuluh menit,” jawabku datar. Raut wajahmu berubah mendengarnya.
            “Maaf, Ayla,” ujarmu terlihat menyesal.
Aku tersenyum hambar. Bukan karena memaklumi keterlambatanmu, namun mendengar caramu menyebutkan namaku. Kamu menyebutkannya dengan lengkap. Ayla. Bukan ‘Ay’ yang terkadang diucapkan dengan nada manja. Ah, lupakan itu. Aku tahu kamu tak akan lagi memanggilku seperti itu.
            “Tidak apa-apa.”
            “Terima kasih karena kamu mau menyempatkan waktu dan menyanggupi permintaan yang kukirim lewat email dua minggu lalu,” katamu. “Aku bahkan sempat takut kamu tak mau menanggapi emailku.”
            Lagi-lagi aku memaksakan diri untuk tersenyum, mencoba memberi tanda padamu kalau aku selalu baik-baik sejak perpisahan kita setahun lalu.
“Saya diharuskan untuk bersikap profesional untuk menanggapi customer,” jawabku kaku. “Menanggapi permintaan desain yang anda kirimkan via email dua minggu lalu pada kami, berikut saya bawakan beberapa contoh desain yang mungkin sesuai dengan permintaan anda,” ujarku dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. Kuputar komputer jinjingku agar klien-ku bisa melihat desain yang sudah kusiapkan dari Surabaya, tempatku bekerja. 
            “Ayla,” panggilmu pelan. Mengabaikan slide-slide yang tersaji di hadapanmu.
         "Untuk contoh gambar yang ini,” kataku sambil menunjukan gambar pertama.  “Cincin dengan material platina dan batu saphire.”
Jemariku berpindah ke gambar kedua. “Untuk yang ini cincin dengan material emas murni dengan bentuk hati. Klasik, sederhana, namun bisa tetap elegan.”
            Sementara aku terus menjelaskan detail-detail gambar cincin di slide selanjutnya, kamu hanya diam dan membiarkanku bicara, tak tahu apakah kamu benar-benar mendengarkan penjelasanku atau tidak. Pun selama itu, aku tak berani memandang matamu. Bahkan untuk sesekali mencuri lihat dimana sepasang manik mata warna hitam yang dulu begitu sering membuatku rindu pun aku tak berani.
            Andai kamu tahu bahwa aku rindu. Padamu.
**
            Aquamarine.
            Batu mulia berwarna biru yang cantik. Aku terinspirasi untuk menambahkan batu itu dalam desain cincin yang sedang kugambar. Dua hari lalu aku menemukannya dalam halaman kesekian dalam sebuah judul buku yang kubaca di perpustakaan universitas.
            Aku berhenti sejenak, menilik hasil goresan pensilku. Seporsi sirloin steak yang mulai dingin pun kuabaikan sejak pelayan Steak and Shake mengantarkannya ke meja ini. Senyumku mengembang ketika daya imajinasiku membayangkan wujud tiga dimensi dari desain yang baru selesai kugores.
            Cincin cantik bertahtakan aquamarine itu hancur tak sampai hitungan menit bersamaan dengan menggelapnya pandangan mataku. Aku menggeram sembari menyebutkan nama seorang lelaki, namamu. Detik berikutnya cahaya terang menyerbu pandanganku diiringi bunyi kikik tawa  yang terdengar menyenangkan.
            Kamu kemudian mengambil gerakan untuk duduk di sampingku setelah sebelumnya memberiku isyarat dengan tangan padaku untuk menggeser tubuhku ke sebelah kiri. Ruang yang kuberikan pun langsung saja ditempati oleh tubuhmu yang tentu saja lebih besar dariku.
“Gambar apa?” tanyamu sambil berusaha mencuri lihat sketch book-ku. Aku langsung mendekap erat bukuku dan tak ingin memberimu ksempatan untuk melihat cincin pernikahanku. Ah ya, walau baru sekedar angan-angan saja.   
            Bibirmu mengerucut. “Pelit.”
            “Biarin,” balasku. Kamu tidak akan memaksaku untuk memperlihatkan apa yang kubuat di lembaran benda kesayanganku ini karena kamu tahu aku sangat keras kepala dan tak suka dipaksa. Alih-alih memaksa, kamu mengalihkan pembicaraan.  
            “Jalan kaki sampai Istana Bogor, berani nggak?” tantangmu ketika aku hendak mengiris sirloin-ku.
            “Cuma sampai Istana? Sampai Surken juga dijabanin!”
            "Kalau kamu kalah, kasih aku lihat gambar yang tadi ya?" Mukaku memerah. Bukan soal gambar, tapi tulisan tanganku di bawahnya. Tentang harapan untuk mengenakannya di hari pernikahanku dengannya.   
**
            Seorang perempuan dengan kacamata hitam datang menginterupsi. Syal warna abu yang dililit di leher dan sisanya dibiarkan jatuh di depan dada makin membuatku iri. Kamu ternyata menghadiahi syal itu untuknya. Bukan untukku.
            Seulas senyum ia berikan padaku. “Hai,” sapanya ramah. Aku bisa melihat sorot matanya yang bersahabat ketika ia melepas kacamatanya.
            Hatiku mencelos. Lagi.
            “Nania.” Ia menyebutkan namanya, pelan. Tentu saja aku sudah tahu meski ia tak menyebutkannya. Memangnya siapa yang tak mengenalnya. Top model yang tahun lalu menjadi finalis ajang Miss Indonesia.
            “Ayla,” balasku.
            Nania yang cantik itu duduk di sisimu. Serasi. Seolah ada yang meneteskan air garam di atas lukaku ketika melihat kalian saling bicara.
            “Tapi aku suka yang desain aquamarine ini,” ujarnya setelah melihat-lihat slide yang tadi kujelaskan panjang lebar padamu. “Menurutmu gimana, sayang?”
            Kamu tersenyum. “Aku juga suka,” jawabmu dengan melirik aku di ujung kalimat.
            “Oke, kalau gitu kita pilih yang ini.” Ia mengambil keputusan dengan cepat dan mantap. Lalu menyerahkan sisanya pada asistennya. Berbeda denganmu yang terlalu lama menimbang-nimbang. Sama seperti ketika akhirnya kamu memilihnya  dan meninggalkanku.
            Kamu dan perempuanmu lalu pergi setelah berpamitan dan menjabat tanganku. Meninggalkanku berdua dengan perempuan muda yang tadi dikenalkan sebagai asistennya. Kulihat punggungmu menjauh bersamanya lalu hilang di balik kaca besar itu. Lamat-lamat kudengar suara Sara Bareilles mengalunkan lagu Gravity.
            Ah sial, mau membuatku semakin sedih saja rupanya.
            Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Darimu. Hanya satu kata. Maaf.
            Jemariku dengan cepat mengetikkan balasan.
            
      Aku sudah menepati janjiku, memperlihatkan hasil goresanku karena aku kalah. Cincin aquamarine itu.


****


Selasa, 06 Mei 2014

Last Minute


            “Kau tidak mengenalku?” Perempuan berambut mahogani menggeleng pelan ketika seorang lelaki asing menanyakan itu padanya.
            “Carmel, semudah itukah kamu melupakanku?” Laki-laki dengan jaket hitam itu terlihat frustasi. Jawaban perempuan bernama Carmel itu jauh dari yang diharapkannya.  “Aku Bill. Brilliant Miller.”
            “Maaf Bill -atau siapapun namamu- aku tak pernah merasa pernah mengenalmu, jadi menyingkirlah dari sini dan biarkan aku pergi. Ok?!” Gadis itu mengeluarkan kalimatnya nyaris tanpa jeda. Seperti menumpahkan sesuatu yang terlalu lama disimpan.
            Brilliant Miller menggeser pelan langkahnya beberapa ke samping, memberi celah untuk Carmel. Sepasang mata hazel milik Carmel menatap sinis pada Bill sebelum kedua tungkainya melangkah. Kentara sekali bila ia tak menyukai Bill. Carmel pergi. Meninggalkannya. Lagi.
            Bill menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu taman itu. Otaknya masih mencari tahu mengapa Carmel tak bisa mengenalinya.
            “Pasti ada yang salah!” Bill berujar penuh keyakinan.
            **
            “Ben selingkuh lagi!”
            Lelaki itu, Bill, memutar bola matanya. Kasus yang sama untuk kesekian kalinya meluncur dari bibir gadis di depannya. “Kau saja yang bodoh,” komentarnya. “Sudah tahu brengsek tapi masih saja kau jadikan pacar.”
            Perempuan itu menggeram. “Bill! Aku butuh saran, bukan ocehanmu yang sama sekali tak membantu!”
Langkah Carmel berhenti mengikuti Bill.
“Saran?! Kau pikir semua saran pernah yang kuberikan tentang hubunganmu dengan si brengsek itu bisa kau lakukan, hah?” Emosi Bill jelas terlihat. Kesal.
“Kau menyebalkan!”
“Kau lebih menyebalkan! Gadis bodoh!”
Sepasang hazel milik Carmel menatap tajam penuh kemarahan pada laki-laki di hadapannya. Carmel memutar arah tubuhnya, langkah kakinya melangkah cepat, meninggalkan Bill yang masih tak mengerti dengan sikap gadis bersurai mahogani itu.
            “Carmel!” Suara Bill yang terdengar keras pun tak dihiraukan gadis itu. Carmel semakin mempercepat langkahnya. Perempuan itu terlalu mudah tersinggung. Bill masih bergeming di tempatnya, memandang punggung itu menjauh.
**
            Kakinya memutar balik ke arah restoran milik Paman Ed. Sebuah restoran tua di daerah Buenau.  Pintunya berderit ketika Bill mendorongnya masuk. Restoran itu sepi pengunjung.  Tujuan Bill kembali ke restoran Paman Ed adalah sebuah brankas besar yang ada di ruang kerjany. Lemari besi yang membawanya kembali ke Buenau, menemui Carmel untuk menebus kesalahannya dulu.
            Bill menyibak kain putih yang menutupi brankas yang tingginya hampir setinggi pundaknya. Brankas yang sama dengan yang disimpan Paman Ed di gudang rumahnya di Paris.  Ia meneliti lagi angka-angka yang tertera di putaran kuncinya.
“Sial!” Bill mendengus kesal. Ia salah memutar angka-angka itu. Pantas saja Carmel tak mengenalinya. Seharusnya ia datang satu tahun lebih awal dari yang seharusnya, ketika Carmel meninggalkannya di lorong universitas mereka.
Waktunya hanya tersisa dua puluh menit.
**
“Sebelum pergi, Carmel menitipkannya untukmu, Bill.” Mom menyodorkan sebuah surat pada Bill. Lelaki itu menerimanya dan segera meninggalkan Mom untuk masuk ke dalam kamarnya, membaca surat dari Carmel.
Bill membaca tiap kalimatnya pelan-pelan seakan takut akan terlewat satu kata saja bila ia membaca terlalu cepat.
Seketika penyesalan tumbuh dalam hatinya. Ia menyadari kebodohannya dengan membiarkan Carmel bersama Ben hingga akhir hidupnya. Meninggal dalam pelukan Ben. Andai ia tahu perasaan yang selama ini disimpan gadis itu untuknya. Cinta. Ya, Carmel hanya mencintai lelaki yang pernah menyebutnya gadis bodoh karena masih berpacaran dengan Ben.
“Gadis bodoh,” lirih Ben. “Kenapa harus pacaran dengan si brengsek itu jika kau mencintaiku?” Suaranya tertahan di antara isak.
Mesin waktu.
Ide itu terlintas begitu saja di kepala Bill. Ia segera bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya. Paman Ed adalah tujuannya. Lelaki tua yang pernah bercerita tentang brankas yang bisa membawanya melintas waktu. Tak ada lagi yang tahu soal itu selain Bill kecil yang penuh rasa ingin tahu dan pamannya yang berbeda dengan paman dan bibinya yang lain.

“Sekarang putar kunci-kunci itu ke waktu yang kau inginkan,” perintah Paman Ed di depan brankas yang masih disimpannya di gudang bawah tanah rumahnya. Ia pernah menggunakannya. Dulu.
Bill dengan hati-hati memutarnya sambil diawasi Paman Ed. Kepalanya mengangguk ketika jemarinya selesai mengatur waktu. Ia sudah siap.
“Ingat, waktumu hanya empat puluh menit. Lebih dari itu, satu menit dihitung dengan satu harimu di masa sekarang akan hilang,” jelas Paman Ed serius.
**
“Carmel...”
Pemilik nama yang dipanggil menoleh, mencari-cari sumber suara yang sudah meneriakkan namanya begitu keras.
“Hah? Kau lagi?” Carmel mendengus kesal begitu lelkai yang memanggilnya sampai di hadapannya. “Bukankah sudah kubilang kalau aku tak mengenalmu, hah?”
Napas Bill belum teratur, dadanya masih naik turun. “Carmel, bisa beri aku waktu lima sampai sepuluh menit?”
Hazel kembar itu memutar. “Lima menit, oke?”
Kepala Bill dengan cepat mengangguk. Lima menit lebih baik daripada tidak sama sekali, pikirnya. “Oke. Lima menit.”
“Carmel, aku hanya ingin meminta maaf padamu atas kebodohan yang pernah kulakukan padamu. Maaf jika aku terlalu bodoh dan lambat untuk menyadari perasaanku.” Gadis itu memandang Bill dengan tatapan aneh.
“Kau memang belum mengenalku sekarang. Tapi kau harus mengingat ini, satu tahun lagi kau akan bertemu denganku, Brilliant Miller, di sebuah restoran tua di Buenau. Akan banyak cerita tentang kita di sana.”
Carmel masih menyimak tanpa minat.
Je’t aimee, Carmellia Manhattan,” ujar Bill akhirnya.
Oke, five minutes has gone, Man.” Gadis itu memberi tahu sebelum akhirnya melenggang pergi dengan wajah sedikit ketakutan.
**
Paman Ed berdiri di depan pintu brankas dengan wajah cemas ketika Bill melangkah keluar dari brankas tua miliknya. “Kau baik-baik saja ‘kan, Bill?” tanyanya cemas.
Bill menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lesu. Ia gagal.
“Kita memang tak bisa mengubah masa lalu, tapi setidaknya kau sudah berusaha, Bill,” ujar Paman Ed sambil menepuk pundak keponakannya itu.
Bill tertunduk, merenungi kebodohannya sendiri. Carmel sudah meninggal. Tak ada gunanya juga ia kembali ke masa lalu. Ya, Paman Ed benar. Masa lalu memang tak akan bisa diubah. Oleh mesin waktu sekalipun.

***

Rabu, 16 April 2014

Dalam Pelukan

Sudah lewat tengah malam. Anak lelaki dengan kaus kebesaran itu belum juga terlelap. Duduk mendekap lututnya di pojok ruangan sempit itu. Tak berkawan. Bagai virus yang harus dijauhi dari radius beberapa kilometer.
Matanya menerawang jauh, coba meraih senyum-senyum yang datang membelai ingatannya. Dadanya bergemuruh seperti gunung yang akan erupsi. Tangannya menyeka beberapa bulir air mata yang lolos. Karena rindu.

“Kamu harus percaya kalau kebaikan itu menular.”

“Menular? Maksudnya?” Seorang anak perempuan bertanya dengan dahi berkerut.

“Setiap kebaikan yang kita lakukan akan menciptakan kebaikan-kebaikan lainnya,” jelasnya dengan sabar pada anak perempuan di sampingnya.

“Termasuk sama Bapak yang suka mukulin kita? Atau preman yang suka malak kita itu?”

Anak lelaki itu tersenyum. “Berbuat baik itu nggak boleh pilih-pilih. Kita harus baik sama semua orang, termasuk bapak atau preman-preman itu.”

Mendengar penjelasan itu, anak perempuan berambut tipis lantas mendengus kesal. “Mereka kan jahat sama kita, kenapa juga harus dibaikin!”

“Kamu ingat nggak yang Ibu bilang ke kita bahwa nggak ada kebaikan yang sia-sia?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan anggukan kecil si anak perempuan. “Nah, lain kali kalau anak-anak itu mengejekmu, jangan dibalas dengan kekerasan ya. Apalagi sampai melempar batu ke kepalanya.”

“Maaf ya, Bang.” Suaranya terdengar sangat pelan. Ia menunduk merasa bersalah.

Lampu di atas tiang telah berwarna merah. Ia buru-buru beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan anak perempuan di sampingnya. “Udah merah, ayo ngamen dulu.”
**
Tangisnya pecah di atas gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. Barisan huruf dan angka pada nisannya pun mulai pudar, tapi ia masih hapal dengan apa yang tertulis di sana. Napasnya memburu. Debar jantungnya mengencang luar biasa. Peluhnya jatuh bercampur air mata, membuat wajahnya basah. Ia ketakutan.

Dalam isak tangis, ia memanggil-manggil yang sudah terkubur di bawah sana. Berharap yang dipanggilnya datang dan memberikannya.
“I-bu....”

Wajahnya jatuh di atas tanah. Tangan kecilnya berusaha menjangkau gundukannya. Memeluk makam ibunya. Langit di atasnya semakin pekat, namun tak dihiraukannya. Ia merasa berada dalam pelukan hangat ibunya di tiap malam. Melantunkan doa sambil mengelus kepalanya sampai ia tertidur. Ia terlelap. Di atas pusara ibunya.
**
“Siapa yang membunuh adikku?!” Suaranya tak pernah setinggi ini jika sedang berbicara pada orang lain, termasuk bapaknya yang sering memukuli jika ia pulang dengan jumlah recehan yang tak banyak. “Siapaaa...!!”

Seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar menggebrak papan catur yang sedang dimainkannya. Preman yang sering meminta jatah dari hasil ia mengamen di lampu merah. Rokok yang belum habis dihirup pun dibuang dengan kasar. Preman bertato naga itu tertawa.

“Aku,” jawabnya enteng. “Aku yang sudah membunuh bocah ingusan itu. Lalu kau mau apa?” tantangnya pada anak lelaki yang matanya sedang berapi-api.

“Kalau adikmu yang bodoh itu tidak mencoba memukulku dengan botol, pasti ia masih hidup sekarang. Dasar bocah tolol.” Kali ini preman dengan tato macan di bisep kirinya yang berbicara. Lalu disambut dengan tawa preman bertato naga.

Anak lelaki itu makin berapi-api melihat wajah-wajah itu tertawa. Tanpa rasa dosa. Setan-setan sedang menguasai mereka. Berpesta pora.

Darah segar mengucur deras dari perut lelaki bertato naga, membasahi kaus tipis hitamnya. Seketika tawa yang begitu membahana pun lenyap meninggalkan gema. Sebuah pisau dapur berbalut amarah setan telah ditancapkan anak lelaki itu.

Tetiba ketakutan menelusup dengan cepat ke dalam hati anak lelaki itu ketika melihat preman bertato naga limbung.

“Dasar bocah brengsek!” Preman satunya menggeram marah sambil berusah menahan tubuh temannya.

Anak lelaki itu mundur perlahan. Wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kian kencang. Tak sampai hitungan detik, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit kumal itu mengambil langkah meninggalkan kedua preman itu.
Ia berlari. Terus berlari.
**
Belum pernah ia merasakan ketakutan yang seperti ini sebelumnya. Ia benar-benar kasihan. Hidupnya menyedihkan. Sendirian.
Masih dalam posisi yang sama sejak sipir melewati selnya, ia membuka kedua telapak tangannya. Dipandanginya lekat-lekat tangan itu. Sudah dua anak satu selnya yang harus dilarikan ke klinik karena ulahnya.

“Apa tangan ini hanya bisa menciptakan kejahatan, Ibu?”

Air matanya lolos lagi. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya yang menutup wajahnya pun basah air mata. Tetiba ia merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya yang berguncang karena tangis. Seperti pelukan Ibu.
**
w

Sabtu, 07 Desember 2013

Kembali ke Kotamu


Beberapa hari lalu aku diingatkan lagi oleh seseorang tentang sesuatu yang dulu begitu menggebu dalam diriku, mungkin juga dirimu, yang mau tak mau membuatku kembali mengingatmu yang satu paket dengan masa lalu. Tentang cita-cita mengunjungi kotamu, kota kita. Berawal dari sapaan yang ramah dibarengi dengan satu garis yang melengkung di bibirmu sore itu, di salah satu kursi di dalam gerbong kereta yang tengah melaju cepat di atas lintasan besinya. Membawa kita dan manusia-manusia lainnya ke kota yang begitu membuatku benar-benar jatuh cinta pada akhirnya.

Aku bukan orang yang mudah mencair dengan orang lain. Selalu butuh waktu untukku ikut hanyut dalam percakapan bersama orang yang baru kukenal, terlebih pada lelaki, namun kamu yang entah dengan sihir apa berhasil membuatku dengan mudahnya hanyut dalam aliran ceritamu. Sebuah perkenalan singkat namun begitu hangat. Kamu mengulurkan tangan lebih dulu dengan bersemangat sembari mengucapkan namamu yang kusambut dengan sedikit malas.

Kota itu, kota kelahiranmu yang menjadi obrolan seru kita di tengah suara deru kereta yang terus beradu dengan bisingnya suara dari penumpang sekitar kita. Kamu menceritakan beberapa tempat yang menurutmu sangat indah, bahkan kamu dengan penuh percaya diri berani bertaruh kalau aku akan jatuh cinta pada mereka. Aku tergelak. Pede benar orang ini, umpatku dalam hati. Detik berikutnya aku tetap mendengarkan dengan baik tiap kata yang keluar dari bibirmu, mengabaikan Sara Bareilles yang kupaksa berhenti menyanyikan King of Anything ketika kau menepuk pelan pundakku untuk memintaku memindahkan jaket double collar yang kuletakkan di bangku kosong sebelahku, yang ternyata adalah milikmu.

Obrolan kita terhenti ketika kamu beberapa kali menangkap basah aku yang menguap di tengah obrolan kita malam itu. Kamu mempersilahkan aku untuk memejamkan mata lebih dulu. Sempat terdengar tawa pelan ketika aku memiringkan badan ke arah jendela kecil di samping kiriku dan memejamkan mataku.

Perasaan kecewa menelusup dalam hatiku ketika kereta kita berhenti di tujuannya pagi itu. Seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan kita mencoba membangunkanku yang begitu pulas. Mataku dengan cepat menyesuaikan keadaan dengan cahaya matahari pagi dan aku tak mendapatimu ketika mataku mencari seorang lelaki yang penuh semangat menceritakan kotanya di sampingku kemarin. Kursi itu kosong tanpa menyisakan sesuatu pun. Ah, setidaknya kita menyempatkan diri untuk saling mengucapkan salam perpisahan.

Kedua kakiku sukses menginjak kotamu yang menyambut kali pertama kedatanganku dengan ramahnya, seolah tersenyum dan mengucapkan selamat datang padaku. Selamat datang di kota yang indah, ujar suara seseorang tepat di telinga kananku dari arah belakang. Aku dengan sigap membalikkan badan dan mendapatimu tepat di depan wajahku, dekat sekali hingga ujung indera pencium kita nyaris bersentuhan, menghadirkan getaran aneh yang tetiba menyerbu aliran darahku yang kemudian menyebarkannya hingga ke seluruh tubuh. Aku berinisiatif untuk mengambil satu langkah ke belakang, lalu kita sama-sama kikuk. Seperti sebelumnya, kamu selalu pandai mencairkan kekakuan suasana. Kamu menawariku sarapan bersamamu dengan makanan khas dari kotamu. Mungkin aku harus mengakui kehebatanmu karena lagi-lagi aku pun menyetujui gagasanmu untuk makan pagi bersama di salah satu sudut pemberhentian kereta yang mulai ramai.

Kamu membuatku menyadari sesuatu dan akhirnya membuatku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa lelaki yang baru kukenal tak sampai dua belas jam lalu ini begitu hebat karena mampu membuatku begitu akrab dengannya, seperti teman yang sudah bertahun-tahun bersama. Aku bahkan tak menyimpan sedikitpun rasa curiga padamu. Siapa sebenarnya kamu? Aku terpaksa menyimpan deretan pertanyaan dalam otakku ketika kamu menawarkan diri untuk menemaniku menikmati kota, menelusuri tiap sudutnya, hingga menemukan tempat yang kau bilang cantik dan indah. Lagi-lagi aku menyetujui gagasanmu itu. Kita membuat janji untuk bertemu lagi di Alun-alun Kidul malam hari nanti. Aku bergumam dalam hati kalau sepertinya liburanku kali ini tak sekedar mengunjungi Malioboro ataupun Parangtritis yang sudah sangat tekenal itu. Akan lebih hebat dari sekedar bayangan awal ketika aku dengan modal nekat mengunjungi kota yang selalu jadi destinasi liburan impianku sejak lama.


Dua mangkuk ronde menemani obrolan kita malam itu, mengobrolkan banyak hal dan mendengarkanmu bercerita tentang kotamu hingga rencana perjalanan kita esok. Ya, aku menerimamu untuk menjadi pemanduku selama liburanku yang hanya dua hari.  Esok paginya, kamu menungguku di depan tempatku menginap di daerah Malioboro, sesuai janjimu semalam di Alun-alun. Aku tersenyum mantap untuk memulai perjalananku, bersamamu. Aku masih ingat betul ketika kamu menjabarkan dengan menggebu tentang menyusuri sungai bawah tanah Goa Pindul yang akan membuatku terkesan dengan keindahan di dalam goanya yang masih aktif dengan stalaktit dan stalagmitnya. Lepas itu kamu mengajakku mengunjungi pantai Indrayanti kemudian pantai Sadranan yang tak kalah indah dari pantai-pantai lainnya. Katamu lagi, pantai-pantai di Gunung Kidul itu luar biasa cantik dan masih banyak yang tersembunyi. Jalan menuju ke sana pun tak mudah, namun semuanya akan terbayar dengan kecantikan pantainya, debur ombak yang putih, dan pasirnya yang bersih.

Hari sudah sore ketika sepeda motor yang kau pinjam dari temanmu itu membawa kita pulang menuju Malioboro. Kamu menawariku untuk sejenak mampir di tempat yang disebut Bukit Bintang. Seperti Puncak di Cisarua, komentarku ketika kita duduk bersisian sembari menikmat jagung bakar. Kamu hanya terkekeh mendengarnya dengan pandangan mata menatap landscape kota yang berkelip sejauh mata memandang, seperti bintang di langit malam. Kemudian kamu bertanya sesuatu padaku, mengapa aku mau ikut dalam perjalananmu dan bersama orang yang baru dikenal di kereta dari stasiun Pasar Senen. Entah, aku pun tak tahu mengapa aku begitu mudah percaya padamu, mungkinkah karena kebetulan saja? Tak ada yang disebut kebetulan, katamu. Aku mengalihkan pandanganku dari kerlip lampu di bawah sana padamu, menunggu kalimatmu selanjutnya. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu dan melakukan perjalanan ini bersama, kamu bisa saja mengabaikanku ketika di dalam kereta, menolak ajakanku untuk sarapan di Lempuyangan, ataupun menolak pertemuan kita di Alun-alun yang akhirnya menelurkan rencana yang ternyata sudah kita jalani hari ini, jelasmu lagi.

Aku tersenyum mendengar jawabanmu. Menurutmu apa kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, begitu tanyaku. Kamu balik memandangku, mengatakan padaku kalau kamu tak tahu dan jika nanti kita bertemu lagi, biarkan itu menjadi kejutan untuk kita. Jika kamu merindukan aku, maka kembalilah ke kota ini, ia akan menyambutmu dengan senyuman hangat yang sulit kau lupakan, begitu katamu dengan yakin dan tawa yang begitu lepas. Aku pun tertawa mendengarnya. Memang siapa yang akan merindukanmu, kataku geli. Lalu kamu dengan nada penuh keyakinan mengatakan kalau aku boleh saja tak merindukanmu, namun aku akan merindukan perjalanan ini dan tentu saja kota ini. Aku hanya bisa terkekeh mendengar kata-kata yang selalu keluar dengan nada yang penuh percaya diri darimu. Kembalilah jika kamu rindu, katamu yang terakhir sebelum kita meninggalkan bukit itu.

Aku selalu rindu pada kotamu, juga kamu. Kabarmu tak lagi kudapat sejak sepuluh bulan lalu, satu tahun setelah pertemuan kita. Surat elektronik, media kita saling bertukar sapa, tak lagi darimu di barisan atasnya.

Dear Sekar,

Hari ini, tepat di hari ketiga di bulan kesembilan, satu tahun setelah perjalanan kita. Seharusnya hari ini aku sedang menunggumu di stasiun tempat kita pertama kali makan pagi bersama, Lempuyangan, sesuai janji kita setahun lalu. Dua piring nasi yang masih panas dengan gudeg, serta dua gelas teh beraroma melati mungkin sudah menanti di warung makan itu. Jujur, aku tak mampu menikmati rasa nikmat yang sama seperti yang kamu rasakan ketika nasi dan gudeg itu menyentuh lidahmu. Aku terlalu sibuk menikmati kamu, wajahmu dari sisi kirimu. Wajah yang beberapa tahun lalu hanya bisa aku lihat dari kejauhan.
Perpustakaan, menjadi tempat favoritku menghabiskan waktu ketika masih menyandang status pelajar berseragam putih abu-abu. Bukan karena buku-buku yang berjejer rapi di setiap rak di ruangan itu,  namun karena kamu. Dari sudut favoritku, di ujung ruang perpustakaan yang sepi, mengawasimu dari balik kaca jendelanya. Melihat tawamu yang begitu menggelitik hatiku, berharap kamu tak menangkap basah aku yang mengawasimu dari perpustakaan ini agar aku bisa lebih lama melihat tawa yang begitu renyah. Satu semester saja perpustakaan menjadi sahabatku, karena setelahnya aku harus ikut orang tuaku ke Surakarta, meninggalkan kamu di kota yang berada di selatan ibukota negara tercinta. 
Aku percaya Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu kelak, dan jaket double collar yang membuatku kesal awalnya itu ternyata adalah jalan yang diberikan untukku. Semalam suntuk kita membicarakan Yogya. Aku bersyukur karena kamu tak mengenaliku sebagai seseorang yang pernah satu sekolah beberapa tahun lalu.
Maaf karena aku tak akan bisa lebih sering mengirimu surat lagi. Kewajibanku sebagai abdi negara akan banyak mengambil waktu yang sebenarnya ingin kuberikan padamu. Tanah di timur nusantara sudah menungguku.  Kamu tentu sudah mendengar kabar tentang gejolak yang terjadi di tanahnya, tempat aku berpijak untuk waktu yang cukup lama.
Sampaikan rinduku pada kota cantik kita, Yogya.

Di Timur Nusantara, 03 September 2013
Pranatha Nayottama

Surat terakhir yang kuterima itu masih terekam dengan baik di salah satu file memori otakku sebelum akhirnya berita dari berbagai media menyelipkan namamu sebagai korban dari penembakan di tanah Papua.  Aku menghela nafas dalam-dalam, menenangkan diri sendiri. Rangkaian gerbong kereta menjadi pemandanganku siang ini. Disesaki dengan banyaknya manusia dan bisingnya suara mesin yang beradu dengan suara dari pengeras suara di atas sana, pun dilengkapi dengan terik matahari yang sukses meneteskan peluh. Lagu Come Home dari  One Republic dan Sara Bareilles mengalun pelan di telingaku. Otakku memindai kembali pertemuan kita di gerbong itu dengan cepat. Kedua sudut bibirku melengkung ke atas, melihatmu tersenyum di sana, di tempat yang tak bisa ku jangkau. Sekali lagi aku membenarkan letak ransel canvas warna beige yang kugendong di pundakku seraya memantapkan hati menuju kotamu, yang kamu bilang akan selalu membuatku jatuh cinta dan akhirnya rindu untuk kembali, Yogyakarta.

****

Minggu, 29 Januari 2012

A man in the bus

           Langit sudah mulai gelap ketika aku tiba di halte, menunggu bus kota jurusan Bogor. Kupasang headshet di telingaku dan mulai memutar lagu-lagu yang bisa menemaniku membunuh rasa sepi dan dingin karena harus menunggu bus tanpa teman. Lagu-lagu dari penyanyi pop-rock, Avril Lavigne, sedikit mampu mengusir rasa jenuh. Cukup lama juga aku menunggu kendaraan rakyat yang murah meriah itu, sampai akhirnya yang kutunggu-tunggu bersama orang-orang lainnya datang juga.
           Sore itu bus lumayan ramai dan penuh hingga aku terpaksa harus berdiri sampai ada tempat duduk kosong. Tangan kananku berpegangan pada besi yang ada di atas kepalaku dan tangan kiri mendekap erat tas kerjaku, satu tindakan kewaspadaan terhadap hal-hal kriminal yang kerap terjadi di angkutan umum. Di depanku berdiri seorang pria setengah baya dengan pakaian yang agak lusuh tapi satu yang membuatku ingin keluar dari bus yang sebenarnya sudah overload ini adalah bau badannya yang sangat menusuk hidung. “Ya ampun pengen muntah rasanya, udah ga mandi berapa hari sih ni orang?!” gerutuku dalam hati. Belum lagi kalau supir bus menginjak rem seenaknya sehingga tubuhku terpaksa condong ke depan, bahkan nyaris jatuh, dan aroma tak sedap itu makin membuat perutku mual. Tapi setiap kali itu terjadi, seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan tampan (menurutku) di belakangku dengan sigap memegangi pundakku agar aku tak jatuh. Aku melempar senyum dan berterima kasih padanya.

            Beruntungnya aku tak perlu berlama-lama menikmati aroma yang sangat menusuk hidung ini, seorang wanita turun dan aku dengan sigap langsung menempati tempat duduk dekat jendela, bekas wanita tadi. Setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang. Air hujan mulai membasahi kaca jendela di samping kananku. Aku sesekali menengok ke arah laki-laki yang tadi membantuku. “Ganteng!” pujiku dalam hati dan akupun senyum-senyum sendiri tiap kali aku menengok ke arahnya. “Ya Tuhan, semoga orang yang duduk di sebelahku ini cepat turun biar si Mas Ganteng itu duduk di sebelahku,” kataku berdoa dalam hatiku dan aku tertawa kecil tentang doa yang agak konyol barusan. Hei, apa sih yang kupikirkan?!
            Meski aku berusaha sedikit jaga image, tetap saja mataku ini bandel dan sesekali mencuri pandang kearahnya. Tubuhnya yang tinggi, rambut cepak, dan senyumnya yang hangat. Oh God!aku ini kenapa sih?. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kurogoh kantung tasku mencari benda kotak dan tipis, ipod ku yang tadi sempat kumasukkan kembali kedalam tas sebelum masuk bus. Aku memasang headshet di kedua telingaku dan memainkan lagu-lagu kesukaanku alih-alih memandangi laki-laki itu.

            Aku memandangi suasana hujan lewat jendela yang mulai buram karena mengembun. Udara dingin dan rasa lelah karena kesibukanku di kantor hari ini membuatku mengantuk dan matakupun terpejam perlahan. Aku tertidur dan sudah masuk dunia mimpi yang mana lagi. Entah kenapa aku merasakan suatu keadaan yang sangat nyaman dan tidurku makin pulas. Entah sudah berapa lama aku tidur di bus, aku terbangun ketika seseprang mencoba membangunkanku dengan menepuk pundakku berkali-kali.  Akupun tersadar dari lelapku dan aku baru tersadar kalau kepalaku sedang bersandar di bahu orang lain. Alangkah terkejutnya diriku ketika kedua mataku mendapati seseorang dengan wajah tampan dan senyum nan indah  di sampingku. Ternyata dia adalah orang yang tadi kuharapkan duduk di sampingku. Aku jadi salah tingkah sendiri dan buru-buru minta maaf. “Maaf ya mas udah tidur di bahunya,” kataku dengan polosnya.
            Dia tersenyum dan berkata, “Enggak apa-apa kok mba. Ngomong-ngomong mba mau turun dimana?”
            Mendengar pertanyaannya, aku dengan refleks langsung melihat ke jendela, mencari tahu bus ini sudah sampai mana. Melihat aku yang panik, dia dengan cepat memberitahuku.”Baru sampai pasar Cibinong, mba,” katanya. Aku menghela nafas lega dan menyandarkan tubuhku di kursi karena tempat tujuanku belum terlewati.
“Emang mau turun dimana , mba?” tanyanya.
“Pajajaran. Terima kasih udah dibangunin ya,” jawabku. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Oh senyumnya..!!” seruku dalam hati.
Menit berikutnya kami sama-sama terdiam sampai akhirnya dia yang memecah keheningan dia antara  kami. “Baru pulang kerja ya, mba?” tanyanya. Aku yang dari tadi hanya mampu menunduk malu karena tak tahan melihat senyumnya itu, menjawabnya dengan anggukan pelan. “Mas nya juga sama?” kataku balik tanya.
“Iya, saya juga baru pulang kerja.”
“Kerja dimana mas? Jakarta?”
“Iya mba,” jawabnya.

Aku terhanyut dalam obrolan kami sore itu di dalam bus kota yang tua ini. Kami  bertukar cerita banyak hal. Kami seperti teman lama yang telah sekian lama berpisah dan baru dipertemukan saat ini, padahal aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Siapa sih dia sampai bisa membuatku sebahagiai ini? Well, aku menikmati saat-saat ini. Tuhan benar-benar mendengar doaku agar ia bisa duduk disampingku dan bahkan lebih dari itu, aku pun diberi kesempatan untuk berbicara dengannya! 
Aku melihat tatapan matanya yang meneduhkan, senyumnya yang menghangatkan,dan rasanya aku bagai terbang diantara bunga-bunga yang indah dan merekah. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku untuk terbang lebih tinggi.


With a smile and that`s how it all started

And you came right in time
When I needed someone
And we said hello suddenly my heart beating fast

So it`s you I`ve been waiting for so long
So it`s you where were you all along
Very special moments these will always be with me
We are here you and I, we belong
We touched and we felt more beautiful
At two hands reaching out
Filled with so much longing
It felt good inside
There is no denying I’m in love
We are here you and I, we belong

_Christian Bautista – So it’s you_

            Seseorang menepuk pundakku berkali-kali dan aku membuka mataku. Seorang laki-laki yang ternyata adalah kernet bus ada di depanku. “Mba mau turun dimana? Sudah sampai terminal ini,” katanya dengan logat Medan yang kental dan aku bengong mendengar kata-katanya barusan. “Terminal?!” tanyaku setengah berteriak tidak percaya, aku berdiri dan melihat sekeliling dan kosong! Aku menepuk keningku dan kemudian berjalan keluar dari bus dengan lesu.  Kepalaku rasanya pusing sekali, mungkin efek dari terbang dan jatuh begitu cepat. Terbang di alam mimpi karena bisa bersama dengan lelaki ganteng di bus, dan akhirnya harus jatuh dan ketika bangun ternyata sudah jauh dari tujuan dan ada di terminal. “Oh sial banget sih gue hari ini!” rutukku dalam hati. Gerimis masih turun dan aku terus berjalan keluar terminal tanpa payung, seorang diri.
            Mataku mencari-cari angkot yang rutenya ke arah jalan Pajajaran. Ketika aku sedang serius dalam pencarianku, aku merasakan air hujan tak lagi menetes di atas kepalaku padahal hujan belum benar-benar berhenti. Aku menengok ke atas dan sebuah payung besar berwarna pelangi ada diatas kepalaku. Dengan cepat kepalaku menengok ke sekelilingku dan mendapati seseorang yang memayungiku berada di belakangku. “Hai!” kata orang itu.
            Aku menutup kedua mataku dan berharap ketika kubuka kembali, aku sudah tersadar dari mimpi yang makin tak jelas. Tapi semuanya sia-sia karena orang tersebut tetap berdiri di depanku dan aku hanya mampu untuk membisu melihat seseorang yang kini tepat berada di depan mataku, sedekat ini. Rasanya lututku melemas, jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya.

Oh God! Makhluk darimana lagi ini?! Malaikat-Mu kah? Ahh, masih saja aku di alam mimpi, cepat bangun Andissa!!

>>>

September Rainy



Mengapa aku harus menghindar kalau ternyata hujan  itu indah?
Karena aku tak pernah menyentuhnya sedalam ini..
Sampai aku menemukanmu kembali melalui hujan..

15.09.11
Sejak siang tadi langit biru kesukaanku terlihat mulai gelap dan teduh. Warnanya pun bertambah pekat menjelang pukul empat sore. Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan ku mulai gelisah melihat langit yang makin gelap dan tak lama akan di temani dengan tetesan air yang perlahan mulai membasahi kota Bogor ku tercinta yang rindu akan tetesannya. Aku menghela nafas panjang dan mulai berpikir bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan hujan dan akupun lupa membawa jas hujan di  motor kesayanganku.
Bel berbunyi ketika jam menunjukkan tepat pukul empat. Satu persatu penghuni kantor tempat ku bekerja mulai berlalu. Aku tak punya pilihan lain selain ‘nekat’. Ya, aku segera merapatkan cardigan abu-abuku dan berniat menerobos hujan yang masih malu-malu, menuju tempat parkir motor yang letaknya lumayan jauh di belakang gedung.
Tetes demi tetes air hujan menyentuh kulitku dan aku merasa tetesan itu rasanya menyejukkan, bagaikan tanah kering tandus yang dilanda kemarau panjang sekian lama. Aku menghentikan langkahku sejenak, mencoba menikmati anugerah Allah sore ini. Aku berpikir mengapa aku harus menggerutu tentang datangnya anugerah ini beberapa menit yang lalu yang akhirnya sekarang aku malah menikmati setiap tetes yang membasahi cardigan dan mulai meresap ke dalam menyentuh kulit.
Sembari kembali melanjutkan langkahku aku teringat ucapan teman satu kantor yang menanggapi gerutuanku sebelum hujan turun tadi.
“Ahh, gelap banget langitnya, jangan hujan dong,”gerutuku menanggapi warna langit yang makin pekat.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun dan semoga deras,” ucap Wiwin ketika air mulai turun perlahan.
Aku memasang muka sebal karena hujan mulai turun. Melihat ekspresi wajahku, Wiwin berkata, ”Lu harusnya bersyukur hujan turun, banyak daerah yang kekeringan sampai susah dapat air bersih.”
Aku terdiam dan kemudian mengiyakan kata-kata Wiwin barusan. Walaupun masih sedikit sebal tapi aku mulai mencoba berpikir positif  seperti Wiwin. Allah itu memang benar-benar Maha Adil kan? Pasti sudah ada sesuatu yang baik menunggu, pikirku.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu hujan pun tak malu-malu lagi untuk menghapus rindu bumi yang lama tak tersentuh. Aku kembali bersyukur dan menikmati sore yang dingin berhias tirai hujan. Sambil menikmati pemandangan indah lewat kaca ruang tamu, aku membuka facebook ku untuk sekedar membagi cerita atau membalas wall dari teman. Sore ini aku saling berbalas wall dengan teman dekatku, April. Dengannya aku berbagi cerita, mulai dari sekedar hal tak penting sampai yang serius. Aku dan dia punya satu kesamaan, yaitu sama-sama punya kisah tentang tentara. Kami sering bercerita mulai dari indahnya diberi senyum, dikirimi pesan, bagaimana menyiksanya rindu, pedihnya tak mengungkap rasa, sakitnya ditinggal pergi, dan segala hal tentang kisah kami dengan mereka. Aku pernah menyimpulkan bahwa obrolan apapun yang terjadi antara aku dan April pasti akan berujung pada hal-hal tentang tentara dan aku menyebutnya ‘menghijau’.

Sore ini ketika aku ‘menghijau’ bareng April di facebook, muncul pesan di akun facebook dan kubuka saja. Aku yang awalnya biasa saja berubah sedikit histeris ketika membaca nama akun yang mengirim pesan tersebut. Hhah?! Ini beneran dia kirim pesan? Aku jadi heboh sendiri membacanya. Aku senang campur kesal. Senang karena dia yang sudah lama, bahkan terlalu lama mengacuhkanku akhirnya menyapaku lagi walau sekedar lewat pesan di jejaring sosial. Kesalku adalah karena dia kembali di saat aku mulai belajar untuk lepas dari bayang-bayangnya.

Aku mengenalnya kurang lebih satu tahun yang lalu lewat jejaring sosial facebook juga. Kami saling kirim pesan, bertukar nomor handphone dan sms-an. Aku cukup senang dengan kehadirannya di hidupku, setidaknya kehadirannya sedikit mampu menjadi obat untuk hatiku yang merasa kehilangan seseorang yang hadir sebelum sebelum dia.
Namun komunikasi kami jadi berubah setelah aku menolak sesuatu yang pernah diutarakannya. Aku sungguh-sungguh menghargai perasaanya dan andai saat itu ia tahu betapa dilemanya aku memutuskan jawabannya. Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk berteman saja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi setelah hari  itu dia seperti menghilang ditelan bumi dan tak ada kabar apapun. Kucoba kirim sms ataupun pesan di facebook  tapi tak ada tanggapan.
Setelah itu aku pun merasa kehilangan seorang teman. Aku mencoba mengerti keadaan dan berpikir positif tentangnya. Aku membiarkannya pergi namun tetap membuka ruang untuknya jikalau suatu saat dia kembali. Hingga baru sedikit kusesali beberapa bulan berikutnya, rasa kehilangan itu merubah rasaku padanya. I don’t know why, but it happen! Aku merindukannya dan entah darimana rasa itu muncul awalnya. Sesekali aku iseng mampir menengok akun facebooknya dan masih ada aktifitas, tapi tak sekalipun ia membalas pesanku. Aku berpikir mungkin aku yang harus sadar diri, apa masih mau seseorang berhubungan dengan orang yang sudah menolak perasaannya? atau ini yang sesuatu yang bernama ‘karma’? Entahlah.

Kembali pada cerita ketika aku membaca pesannya sore ini. “Kenapa tho ndo’?” Begitulah isi pesannya yang ia tulis dengan bahasa jawa. Kuketik kalimat membalas pesannya. “Mboten nopo-nopo, mas. Sampean isoh boso jowo tho mas?” dan ku klik post. Walaupun sejujurnya aku sangat senang akhirnya dia menyapaku lebih dulu, tapi aku berkata pada diriku sendiri untuk tak terlalu berharap lebih dia akan membalasnya lagi. Aku belajar menetralkan perasaan di hati dan pikiranku. Kembali kulanjutkan acara menghijau dengan April di facebook dan sesekali mataku bandel melirik ikon messages di layar, tapi belum ada angka satu muncul. Aku semakin menguatkan hatiku untuk berhenti berharap dia akan membalasnya.

Menit demi menit pun berlalu tanpa terasa dan tetap tak ada pesan baru masuk. “Stop to waitin’ for his reply!” kataku pada diriku sendiri. Tapi ternyata pesan yang ditunggu itu muncul juga. Segenap keteguhanku untuk tak mengharapkannya pun runtuh seketika. Akhirnya kami malah saling berkirim pesan, dia juga meminta nomor ponselku lagi dengan alasan ponselnya hilang dan akupun memberikannya.
Setelah mengirimkan nomorku, aku langsung offline dan segera berangkat kuliah. Langsung ku pacu motor ku dengan cepat karena aku sudah terlambat sepertinya. Sekitar duapuluh menit kemudian aku sampai di kampus dan kuparkir motor. Ketika ku lihat handphoneku, bermaksud melihat sudah jam berapa saat aku sampai di kampus, ternyata ada satu missed call dan sms masuk dari nomor baru. “Pasti dia!” tebakku.
Setelah sms terakhir dariku, tak ada lagi sms masuk darinya hingga aku masuk kelas dan akhirnya keluar kelas selesai kuliah. Sepulang dari kuliah, aku menerima ajakan teman untuk makan bersama dengan teman-teman yang lain dalam rangka ulang tahunnya. Setelah menentukan tempat,  kami berangkat dengan menggunakan mobil teman yang lain. Di perjalanan aku iseng sms. Aku hanya ingin memastikan kalau itu benar-benar dia, karena aku merasa agak sedikit aneh saja dia yang dulu berubah menjadi tak peduli dan mengacuhkanku sekian lama tiba-tiba kembali saat aku mulai belajar mengabaikannya.

Aku mencari kamu dalam hujan
Aku bertanya tentang kamu pada hujan
Kutitipkan pesanku  melalui hujan
Berharap kamu kembali saat hujan
Mengajakku menari bersama hujan..


Setelah hari itu, kami pun kembali menjalin komunikasi yang dulu sempat kupikir telah benar-benar berakhir. Walaupun tidak sering tetapi entah mengapa aku merasa cukup senang ketika melihat ada sms masuk darinya. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya hingga mau menyapaku lagi. Apakah benar-benar tulus atau ada yang lain? Entahlah, aku juga tak ingin berprasangka dan biar saja nanti jawaban itu akan datang dengan caranya sendiri.

Inginku kuingkari perasaanku ini
Mengapa harus kuakui ku suka padanya
Mungkin memangnya salahku
Yang tak pernah mengerti cinta tak mengenal arti sebuah keangkuhan
(Sherine - Arti Sebuah Keangkuhan)

Untuk sementara aku bisa menyingkirkan semua perasaan takutku itu. Akupun bersikap lebih hati-hati dalam setiap pembicaraan kami. Entah aku benar atau tidak, tapi kadang aku menangkap maksud lain dari kata-katanya. Maksud seperti satu tahun yang lalu ketika dia mencoba menjadi bagian dari ruang hatiku. Tapi seperti kataku tadi, aku bersikap lebih hati–hati dan tidak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Hujan mencoba menyampaikan sesuatu padaku

            Seperti malam ini ketika dalam obrolan kami terselip kata-kata yang menurutku akan mengarah ke pembicaraan seperti setahun yang lalu tapi semuanya kuanggap hanya sebagai gurauan. Walaupun dia tak mengatakan secara langsung, tapi aku menangkap maksudnya yang menyiratkan bahwa ia masih memiliki perasaan padaku. Tapi aku tetap tenang dan menanggapinya dengan santai dan sebagai bahan bercandaan. Entah apa yang dipikirkannya tentangku, tapi yang jelas aku tak mau begitu saja luluh padanya.  Aku hanya pelu waktu untuk meyakinkan.

Kita hanya berputar-putar tanpa menemukan titik temu kita..
Satu bicara, satu tak peka
Satu memberi, satu mengabaikan
Satu menarik, satu mengulur..


Kini aku mulai mengerti jalan cerita antara aku dan dia. Entah ini benar atau tidak, tapi yang ku tangkap dari sudut pandang dan cara pikirku, kami berdua sebenarnya saling memiliki rasa tetapi tak ada yang berani menyatakan atau istilahnya gengsi. Tapi aku tak akan pernah melakukannya karena bagiku itu adalah harga diri seorang wanita. Walaupun tak bisa kupungkiri setan dalam diriku sangat sering menggoda untuk melupakan soal sesuatu yang bernama harga diri itu. Beruntung aku masih bisa bertahan dan berusaha berjuang melawan diriku sendiri.

Jika kau butuh, katakan butuh..
Jika kau cinta, katakan cinta..
Jika berpisah, pisahlah saja..
Sakit dan perih hanya sementara..
(Dewiq – Katakan yang Sebenarnya)