Tampilkan postingan dengan label coretandedel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretandedel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Menunggumu

pict from here



Pras meraihku cepat lalu menghempaskan tubuhku ke sudut ruangan. Aku jatuh berdebum. Kau bodoh jika bertanya bagaimana perasaanku. Hancur tentu saja. Hanya sebatas itukah cintanya? Ketika perempuan itu datang menemuinya tiga puluh menit lalu untuk mengakhiri kisah cinta mereka? Lalu melampiaskannya padaku.

Ya Tuhan, ingin rasanya kuhajar dia agar segera waras. Oh, aku lupa bahwa dia memang sudah gila. Benar-benar gila. Gila karena cintanya pada perempuan itu, Lolita.

Dasar pecundang kau, Pras!  

Lima tahun. Mereka berakhir setelah lima tahun sejak aku diserahkan pada Lolita. Akan kuceritakan bagaimana aku bisa berada di antara mereka. Tak tahu bagaimana mulanya mereka bertemu hingga akhirnya saling jatuh cinta, yang jelas aku dihadirkan oleh Pras lima tahun yang lalu.

Pras mendandaniku dengan cantik. Meletakkanku dengan hati-hati pada kotak beledu warna biru, seolah aku adalah hartanya yang paling berharga. Ia bahkan memberiku teman, segulung kertas kecil yang ditulisinya penuh harap. Diserahkannya aku pada Lolita sebagai hadiah pernikahan. Masih kuingat bagaimana reaksi Lolita ketika membukanya sembunyi-sembunyi beberapa jam setelahnya. Perempuan itu menggenggamku erat sambil matanya membaca beberapa deret aksara yang ditulis Pras.

Ketika di perjalanan kau merasakan ketakutan, aku masih menyediakan kata pulang. Dan akan kusediakan rindu dengan segala bentuk yang kau mau.

Lima tahun lalu adalah hari pernikahan Lolita. Dengan lelaki lain. Dan Pras menunggu perempuan itu pulang. Ke rumahnya.







Bogor, 28-10-2015

 Diikutkan dalam #nulisbarengalumni #kampusfiksi

Kamis, 19 Februari 2015

(Bukan) Teka-teki

Teruntuk kau,
di tempat bahagiamu.


Aku datang lagi. Kubawakan sekotak cerita untuk kau nikmati di penghujung harimu. Tentang aku. Kau masih belum bosan bila kukisahkan tentangku bukan? Pasti jawabanmu adalah tidak. Bila jawabanmu sebaliknya, aku akan tetap mengisahkannya padamu. Ya, aku memaksa.

Studio tiga, kursi nomor F-16. Kau tahu, aku bahkan baru menyadari nomor kursi itu sama dengan nama pesawat yang selalu kusebut pesawat gagah. Fighting Falcon F-16.  Dan aku mendapatkannya karena bertukar tiket dengan seorang bapak yang anaknya duduk di sebelahku. Namanya Keisha, gadis manis yang sangat dekat dengan ayahnya. Aku sangat tahu rasanya dekat dengan ayah. Dan aku juga tak akan bisa menikmati filmku jika harus duduk bersama orang asing. Karena itulah, aku menawarkan diri untuk bertukar kursi. Jika kau bertanya apa aku mengenal mereka, aku menjawab bahwa aku belum mengenal mereka sebelumnya. Dia tidak mendapat tiket pertunjukan, dan kami – teman-teman komunitas – mengajaknya ikut rombongan karena ada tiket lebih.

Ini semua karena CJR.

Ya, kau boleh menertawaiku sekarang. Aku benar-benar meninggalkan tumpukan buku dan tugas menulis mingguan karenanya. Untuk mewujudkan keinginan seorang ayah yang ingin mengajak anak-anaknya pergi ke gedung bioskop. Bukan ayah Keisha yang kuceritakan di sini ya. Aku dan teman-teman di satu komunitas yang kuikuti mengadakan acara nonton bareng dengan anak-anak panti asuhan. Tentu saja film harus kami sesuaikan dengan usia mereka. Jatuhlah pilihan kami pada film tentang trio remaja yang begitu dicintai penggemarnya.

Kau tahu betul bahwa aku akan memilih Kingsman dengan kisah secret service-nya atau Jupiter Ascending yang menghadirkan Channing Tatum. Jenis film yang menghadirkan teka-teki atau aksi yang membuatku begitu bersemangat. Menangkap ­petunjuk, menganalisis, merangkainya menjadi sebuah jawaban itu menyenangkan. Itulah mengapa koleksi film dan novelku banyak yang bertema seperti itu. Kurasa kau juga sudah pernah menengoknya beberapa.  

Kenyataannya, aku benar-benar duduk di studio tiga kursi F-16. Menonton film itu. Dan aku bingung sendiri, tentang bagaimana mereka bisa mencintai idolanya dengan sangat. Di awal-awal film disuguhi tangis-tangis penggemar yang tak ingin salah satu idolanya keluar dari grup. Kau tentu tahu, aku tidak fanatik pada suatu hal – entah itu penyanyi, penulis, aktor, aktris, atau karya-karyanya. Ah ya, aku melupakan satu – atau lebih dari satu – hal  yang kucintai dengan sangat. Apa? Kau ingin tahu? Sayangnya aku tak mau menjelaskannya di sini. Hei, aku tahu kau akan mengerucutkan bibir jika kujawab seperti itu. Dan kau akan berlagak ingin berhenti membaca suratku ini. Namun kau tak sungguh-sungguh dengan itu. Aku berani bertaruh.  

Lupakan tentang hal yang belum kau dapatkan jawabannya. Terkadang lebih baik membiarkannya mengambang tanpa jawaban. Menjadikannya teka-teki yang harus kau pecahkan. Setidaknya kau akan lebih berusaha. Pun belajar untuk lebih peka. Kau tahu, seseorang pernah mengatakan bahwa tidak semua hal harus kauketahui. Namun manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu. Dan kau – pun sama halnya denganku – harus belajar menjadi manusia yang lebih peka untuk mengetahui sebuah jawaban dari pertanyaan yang memenuhi isi kepala. Sesungguhnya, petunjuk-petunjuk bertebaran di sekitar kita.

Selamat malam dan selamat menangkap petunjuk.
Semoga kita menjadi lebih peka.




Kota Hujan, 19-02-2015




Rabu, 11 Februari 2015

Ibuku (Tidak) Gila

Mereka bilang Ibuku gila. Mereka bilang Ibuku pembunuh.
Bukankah mereka mengatakannya hanya karena melihat apa yang sudah terjadi? Lantas apakah mereka tidak lebih jahat dari yang mereka katakan tentang Ibu?
Ibuku tidak gila. Dan ibuku bukan pembunuh. 

Ibu memelukku erat. Bahkan terlalu erat hingga aku nyaris sulit bernapas. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang makin mengencang. Aku tahu Ibu ketakutan, namun ia tak ingin menunjukkannya padaku. Semua baik-baik saja, itu yang terus ia katakan jika aku bertanya apa yang terjadi, hingga aku tak ingin lagi bertanya.

Dalam dekapnya ingatanku kembali ke masa beberapa jam sebelum aku duduk di sampingnya, di bus menuju kampung halaman Ibu di Solo. Ibu membangunkanku pagi tadi. Dengan suara pelan, ia mengatakan padaku untuk segera membuka mata  karena kami harus segera pergi dari rumah. Sepagi itu. Suara adzan yang selalu berkumandang pun belum terdengar dari  pengeras suara masjid. Kulirik jam kecil di nakas samping tempat tidurku. Dan memang belum waktunya suara adzan yang menjadi alarm bangunku itu berkumandang.

Ibu mengumpulkan rambut panjangku dan mengikatnya jadi satu. Lalu memakaikanku baju hangat dan sepatu. Semuanya Ibu lakukan dengan gerak cepat dan berusaha tak menimbulkan suara berisik. Aku berusaha menghentikannya, ingin bertanya mengapa ia harus melakukannya pagi-pagi buta. Ia meletakkan telunjukknya di depan bibir, menyuruhku untuk tetap diam. Dan aku menuruti perintahnya. Mendadak rasa takut menyelinap dalam diriku.

Satu tangannya menjinjing tas besar yang gemuk. Kutebak Ibu akan membawaku pergi jauh. Sementara satu tangannya yang bebas, meraih tangannku. Aku mengekor langkahnya yang keluar dari kamarku seperti maling. Hampir saja aku mengeluarkan jeritan jika Ibu tidak menutup mulutku yang sudah siap melepas teriakan. Entah apa yang terjadi di rumah ini ketika aku terlelap. Ada yang sudah mengacak-acak rumah kami. Kulihat banyak pecahan kaca tersebar di lantai ruang makan, kursi-kursi yang jatuh, dan tirai yang lepas dari kaitnya. Rumah kami tidak seperti rumah kami yang selalu rapi karena tangan Ibu.

Aku berusaha melepas pelukan Ibu. Kepalaku mendongak melihat wajah yang kini pucat dan dingin. Dan aku baru menyadari satu hal; kening Ibu terluka. Kurogoh tas kecil favoritku –yang untungnya tak dilupakan oleh Ibu ketika kami pergi tadi-- mengambil sebuah plester bergambar Mickey Mouse. Kepala Ibu berdarah, kataku sambil menutup lukanya dengan plester. Air matanya jatuh ketika ia mengucapkan terima kasih lalu mengecup pelan puncak kepalaku.

**

Ibu duduk memeluk lutut di sudut kamarnya yang kecil. Rambut panjangnya dibiarkan jatuh menutupi wajahnya yang cantik. Bibirnya belum berhenti menyenandungkan lagu tidur untukku. Lagu selalu kudengar setiap malam. Ia tak menghentikan kebiasaan itu meski usiaku sudah duabelas.  Ingin rasanya aku datang pada Ibu, memeluknya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tapi aku bisa apa? Menyentuhnya pun aku tak mampu. Aku memang berada dekat dengannya, tapi sebenarnya kami sudah benar-benar jauh.

Bus yang kami tumpangi bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Kudengar jerit dari para penumpang yang mendadak ketakutan. Tak terkecuali denganku. Ibu masih di sampingku, melindungiku dalam dekapannya. Bibirnya terus mengucap takbir. Hingga bus masuk ke jurang, Ibu tak sekalipun melepaskan tangannya dariku. Ibu benar-benar ingin melindungiku. Ia tak ingin aku terluka. Dan itulah yang membuat Ibu terus menyalahkan dirinya sendiri; memukul Ayah dengan vas bunga dan mengajakku pergi.

Dengan langkahnya yang lemah, Ibu berjalan menuju jendela kamarnya. Berdiri dengan tatapan kosong ke luar kamarnya. Helai-helai rambutnya bergoyang tertiup angin, memperlihatkan wajahnya yang selalu ia sembunyikan. Bibirnya tersenyum. Lalu tertawa.
Dan ibuku tidak gila.


***

Peron Dua Stasiun Gondangdia



Aku menunggu di peron dua, Stasiun Gondangdia.

Beberapa dari mereka sudah tiba, lalu pergi. Pun dengan beberapa setelahnya. Dan aku masih di sini, belum beranjak dari kursi besi yang dingin. Yang kutunggu belum juga terdengar tanda kedatangannya yang biasanya diumumkan lewat pengeras suara. Kubuka lagi buku kumpulan cerita yang sudah kuberi tanda dengan pembatasnya di halaman seratus lima puluh enam. Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri, judul buku yang kubaca itu.

Aku baru saja sampai pada cerita tentang Ainun yang dikutuk karena membela Subairi, lelaki yang dicintainya. Lelaki itu dituduh melakukan perbuatan tak senonoh pada seorang gadis, lalu membunuhnya. Ia dihakimi oleh warga desa yang terbakar amarah.

Bakar! Bunuh! Laknat!

Barangkali takdir, begitu jawaban Subairi ketika Ainun menanyakan alasan Subairi berbohong padanya.  Kasihan sekali Ainun, pikirku. Ia harus menerima kutukan karena membela lelaki yang dicintainya. Ia bahkan tetap mencintainya, dan tak ada lelaki lain lagi, hingga usianya yang lebih dari satu abad. Dan ternyata, lelaki itu sudah berbohong padanya. Ia benar-benar melakukan perbuatan yang dituduhkan warga desa.

Barangkali takdir, seperti yang tertulis dalam buku ini.

Hingga pada detik yang membuatku hendak beranjak, kau muncul di sana, dari eskalator yang membawamu naik ke tempat yang sama denganku. Dengan seragam hijau kebangganmu, menggendong ransel kanvas warna beige. Aku mengenalimu, namun kau tidak. Kau tahu, bahwa hanya melihatmu saja sudah cukup membuatku bodoh. Aku mengabaikan yang sedari tadi kutunggu hingga bosan. Commuter line tujuan Bogor sudah berlalu. Meninggalkanku yang ingatannya terlempar lagi ke masa lalu.

Demi apapun aku merasa semakin bodoh karena membiarkan hatiku senang karenamu. Dan bibirku, sulit sekali membuatnya untuk tidak tersenyum. Alih-alih membiarkan diriku semakin terlihat bodoh dengan membiarkan mataku memandangimu atau kakiku ini melangkah mendekatimu, kubuka kembali buku yang belum tuntas tadi.

Aku tidak benar-benar membaca. Kepalaku terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan; apakah kau melihatku, masihkah mengenaliku, atau haruskah aku beranjak dan menyapamu? Ah, tidak akan kulakukan! Masa laluku tentangmu sudah cukup memalukan bagiku. Aku bukan lagi gadis remaja yang tak tahu malu menyatakan cinta pada teman abangnya. Ya, seperti itu.

**



 Aku menunggu di peron dua, Stasiun Gondangdia.

Mungkinkah hujan selalu datang satu paket dengan kenangan? Kurasa memang seringnya seperti itu. Aku melihatmu di sana, sedang duduk tertunduk. Pandanganmu jatuh pada lembar-lembar kertas kesukaanmu. Kau mencintai buku, kata seseorang padaku. Dulu.

Aku masih mengingat bagaimana binar matamu ketika aku datang menghadiahimu sebuah buku. Buku yang dipilihkan kekasihku untukku. Kau tahu sendiri bahwa aku tak terlalu suka membaca, terlebih buku yang tebal. Hingga aku teringat kau yang senang membaca dan memberikannya padamu, Majapahit: Sandyakala Rajasawangsa. Setidaknya ia akan dirawat lebih baik olehmu.

Ingin aku menghampirimu, menyapamu. Lalu malu rasanya ketika ingatanku kembali pada masa tiga tahun lalu – ketika seorang gadis mengatakan bahwa ia mencintaiku dan ingi jadi kekasihku. Dan bodohnya aku menertawakannya. Kau adalah adikku. Tak lebih dari itu. Namun seperti yang kukatakan tadi, aku terlalu bodoh karena tak menyadari bahwa kau terluka meski kau membalasku dengan tawa.
Suara dari pengeras suara memberitakan bahwa commuter line tujuan Bekasi akan segera tiba. Aku melangkah sampai garis batas. Melewatimu yang sekilas kulihat mendongakkan kepala. Seharusnya aku tak melaluimu begitu saja. Seharusnya aku bisa sekadar memberi sapa. Ya, seharusnya begitu.

Kereta yang kutunggu sudah tiba. Aku melangkah masuk ketika pintunya bergeser. Dari kursi besi itu, sepasang matamu mencari-cari sesuatu ke dalam gerbong. Aku bisa melihatmu dari balik bahu-bahu milik orang lain; kau tersenyum. Kau benar-benar melihatku ternyata.

***


Minggu, 08 Februari 2015

Dear Frogman


Dear Frogman, 
di tempat bahagiamu.


Seperti malam yang lalu, hujan turun lagi kali ini. Secangkir kopi, beberapa lagu, dan berlembar-lembar yang kuberi judul “Dear Frogman (Draft)”. Rasanya sudah cukup lama sejak kutinggalkan dalam folder dengan nama yang sama. Tiap kali aku membukanya dengan segenap keyakinan bahwa aku bisa melanjutkannya, adegan-adegan di waktu yang telah lalu pun menyeruak. Seakan-akan mereka berlomba untuk mendapatkan tempat yang harus kuingat dengan sangat baik. Lalu mereka – kenangan-- mengalahkan keyakinanku bahwa aku bisa menyambung bagian yang satu dengan lainnya dengan cepat. Kau boleh tertawa, karena nyatanya aku memang kalah cepat  dengan mereka. Masih saja begitu.


Diserbu kenangan itu menyebalkan, Frogman. Kau tahu, itu membuatku mendadak rindu. Ya, aku merindukan masa-masa ketika sepotong lagu Ariana Grande berdering di ponselku. Nama Pak Pos yang muncul di sana, bukan namamu -ah, aku lupa bahwa memang tak pernah ada namamu di daftar kontakku. Meski bukan namamu yang muncul, kau pasti ada di seberang sana. Kau mendengarkan dengan diiringi senyum, terkadang tawa tertahan, bahkan mungkin keningmu mengerut mendengar ocehanku. Apakah aku salah? Ah, harusnya kau memberiku satu kenangan lain ketika itu; mendengarmu menyahuti ocehanku. Atau hanya sekadar sapa pun tak apa. Pada akhirnya, hingga kau pergi pun aku tak mendapatkan keduanya. Kau menyebalkan bukan?

Oh, kau tidak menyebalkan, tapi sangat menyebalkan.


Menjelang 80 hari, kudoakan selalu kebahagiaan untukmu.  Kau tahu, Frogman, pada beberapa waktu aku masih saja merasa bahwa kau masih ada, masih bisa kulihat. Aku sungguh mengerti bahwa aku tak boleh seperti ini. Kau tentu tak ingin aku seperti ini. Kau tak perlu khawatir, Frogman, aku sudah jauh lebih pandai mengaturnya kini. Hanya sesekali saja tak apa bukan?


Kurasa aku harus kembali bekerja, Frogman. Kembali pada pekerjaan menyebalkan; mengorek kenangan,  menemukan potongan-potongan yang luput, lalu menyatukannya menjadi satu. Aku tahu bahwa aku sudah melewati hari ketujuh, pun keempat puluh. Betapa jahatnya aku jika sampai melewati hari keseratus.


Berbahagialah selalu di sana, Frogman. 






Menjelang 80 hari pada lembar keempat puluh
Kota Hujan, 08-02-2014










Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 04 Februari 2015

Kepada Tuan Penyair

Kepada Tuan Penyair,
di tempat bahagiamu


Aku menemukanmu dalam potongan berbeda. Jauh berbeda dari kali terakhir kulihat kau di salah satu senja. Tiga ratus hari yang telah lalu. Kau tahu, kau terlihat lebih baik. Hidupmu menyenangkan, Tuan?

Tempo hari, kau bertutur perihal hati yang kembali menemukan muara. Hatimu. Kurasa tak perlu aku mengeja semua rangkaian aksaramu. Aku --bahkan orang lain pun-- tahu bahwa kau sedang berbahagia. Kau selalu pandai membahasakan perasaan menjadi kata-kata yang indah.


Selamat jatuh cinta, Tuan Penyair.





Kota Hujan, 04-05-2015

Minggu, 01 Februari 2015

Hai, Tuan Jupiter (3)


Kelak aku akan lebih sering mengunjunginya. Menunggumu kembali. Atau mengantarmu pergi.

Gerimis turun ketika kita melewati Jalan Nyi Raja Permas. Tanpa bicara, kau raih tanganku dan berjalan lebih cepat. Langkahku pun  mau tak mau mengikutimu. Kau menggenggamnya erat. Bahkan terlalu erat hingga terasa nyeri. Kau hanya ingin melindungiku. Aku tahu itu.

Aku mengelus sejenak di mana kau menggenggamku. Tak kuungkapkan padamu rasanya. Namun kau tahu apa yang kusembunyikan.

Maaf, katamu ketika kita berjalan di koridor menuju pintu masuk stasiun. Aku bertanya, permintaan maaf untuk apa. Lalu kau menjawab karena kau tak bisa romantis. Romantis seperti lelaki dalam kisah-kisah yang kutulis. Mendengar alasanmu itu membuatku tertawa. Ya, aku ingat bahwa kau pernah membaca beberapa.

Duniamu memang membuatmu menjadi sosok yang seperti itu. Sosok yang tak romantis katamu. Tak pandai membahasakan perasaan dengan kata-kata indah. Biar kukatakan padamu tentang sesuatu; kau memang benar tentang itu, tapi setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk membahasakannya. Dan kau –bagiku—romantis dengan caramu sendiri.

Kau mengelus pelan puncak kepalaku. Terima kasih, ucapmu sebelum berbalik pergi.




Semoga kita cepat berjumpa. Aku menunggu. 




Kota Hujan, 01-02-2015









Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 31 Januari 2015

Hai, Tuan Jupiter (2)



Kita duduk bersisian, menunggu layar besar di depan sana memutar filmnya. Sebuah film  sci-fi. Entah di menit ke berapa kamu mulai tak merespon komentarku tentang film itu. Hampir di paruh pertama film, sesuatu jatuh di pundak kananku. Kepalamu. Aku terkejut tentu saja. Kamu tertidur (lagi).

Kau tahu, itu bukan kali pertama kau bisa tertidur ketika film sedang berlangsung. Aku masih ingat, pada kali pertama atau kedua, aku marah dan kesal denganmu. Bagaimana bisa kau tidur senyenyak itu, dengan suara film yang terdengar sangat keras memenuhi ruangan? Kau membuatku terlihat bodoh; mengoceh sendiri sementara dirimu entah sudah sampai di alam mimpi yang mana lagi.

Tapi itu dulu. Mungkin aku sudah mulai memahamimu. Aku tak lagi kesal jika kau tertidur (lagi) di tengah pertunjukan film. Aku membiarkan kepalamu tetap di pundakku. Ya, sampai filmnya berakhir. Lampu studio tak lagi padam. Lalu aku akan melihat ekspresimu yang lucu ketika kubangunkan.

Maaf karena tertidur lagi, katamu kali itu. Terlihat sekali bahwa kau merasa bersalah.
Aku tertawa kecil. Bahkan hal seperti itu sudah sangat kumaklumi. Aku bilang padamu untuk tidak pergi nonton saja jika kamu teralalu lelah. Kita bisa tinggal di rumah. Akan kubiarkan kau tidur sementara aku di dapur. Aku akan membuatkanmu kue. Kau suka dengan bolu kopi buatanku.
Nanti kita duduk berdua di balkon rumah, menikmati bolu kopi dan secangkir teh hangat. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Kau menjawabnya; aku hanya ingin membuatmu senang. Lagipula, bukankah ini film yang kamu nantikan sejak beberapa pekan lalu?


Kau selalu mengingat hal-hal kecil seperti itu. Terima kasih.



Kota  Hujan, 31-01-2015






Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta



Jumat, 30 Januari 2015

Hai, Tuan Jupiter

  
Nanti akan ada masa ketika kamu harus pergi lebih cepat dari yang aku mau –mungkin juga kamu. Satu waktu kamu meninggalkan percakapan kita menggantung di ujung telepon, kadang menghadiahiku dengan dengkuran. Lain waktu percakapan kita tiba-tiba terputus. Lebih sering karena sulitnya sinyal di tempatmu, kadang juga panggilan tugas dari atasan. Berikutnya, kamu mengucapkan maaf padaku hingga berkali-kali. Seharusnya tak perlu kamu lakukan itu. Tentu aku sudah tahu bahwa akan lebih sering kujumpai keadaan semacam itu selama aku bersamamu.

Hujan sore itu seolah memberi kita sedikit waktu lagi untuk saling bicara. Kita duduk bersama di satu kedai kopi di pusat perbelanjaan kota Bogor. Kamu bertanya padaku tentang tempat mana lagi yang ingin kukunjungi bersamamu. Aku meletakkan cangkir kopiku di atas meja. Lalu aku memberikan senyum padamu yang sedang menunggu.

Menjawab pertanyaanmu beberapa detik sebelumnya, kukatakan bahwa aku akan menghabiskan sisa sore itu di sana saja. Berdua denganmu sambil menyesap kopi kita masing-masing. Kita membicarakan banyak hal. Sesekali disisipi tawa yang berderai. Kamu selalu pandai membuatku tertawa. Dan aku suka.

Aku mengikuti arah matamu, memandang ke luar sana.  Hujan sudah reda. Waktu berlalu begitu cepat bukan? 

Kuantar kamu pulang sekarang, katamu sambil meraih kantung belanja yang berisi buku-buku.
Lalu aku bertanya –lebih terdengar seperti merajuk— apakah aku bisa sedikit lebih lama bersamamu di sore itu. Kamu hanya menggeleng dan menarik lenganku. Ya, aku bahkan sudah tahu sebelum kamu menjawabnya dengan gelengan kepala.

Akan ada lebih banyak waktu untuk kita nanti, bisikmu pelan ketika kita meninggalkan kedai kopi.
Itu janjimu.

Sampai jumpa di waktu yang tepat.




Kota Hujan, 30-01-2015




Nona Penulismu




Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 03 Desember 2014

Setangkai Hati


Jevan melambaikan tangan pada Namira dan Ale --istri dan anaknya-- yang berada di atas kuda komidi putar yang mulai bergerak. Malam ini adalah akhir pekan, dan ia selalu mengkhususkan akhir pekannya untuk keluarga. Sambil menyilangkan tangan di dada, ia memilih untuk menunggu tak jauh dari wahana yang ada di pasar malam di alun-alun kota itu. Tiba-tiba seorang anak lelaki berambut keriting menarik-narik ujung jaketnya. Disodorkannya setangkai hati berwarna merah pada Jevan yang sedikit kebingungan. Ia berpikir mungkin anak itu sedang kehilangan orang tuanya. Ya, di tempat ramai seperti ini sudah sering terjadi hal seperti itu.
Ia membungkukkan badan agar lebih dekat dengan anak lelaki di depannya. “Ada apa, Dek?”
Anak itu tersenyum hingga terlihat deretan giginya yang rapi. “Ini hati pertama untuk Oom,” ujarnya.
Kening Jevan berkerut melihat setangkai gulali merah berbentuk hati yang disodorkan anak lelaki itu padanya. Dengan sedikit ragu, ia menerima gulali itu. Oh, bukan karena Jevan mencurigai anak lelaki itu, tapi kalimat yang diucapkannya. Kalimatnya mengingatkan Jevan pada seorang gadis dari masa lalu. Leya, cinta pertamanya.
Belum sempat Jevan bertanya, anak lelaki yang tadi memberikan gulali padanya sudah berlari ke arah lain. Ia hilang dalam kerumunan alun-alun kota yang luar biasa ramai di akhir pekan. Meninggalkan setangkai hati berwarna merah dan tanya yang mulai mengisi kepala.
Kaukah itu Leya? Yang memberikanku setangkai hati ini?

**

Kamu suka yang berbentuk hati. Selalu bentuk yang sama dan berwarna merah. Bukan bentuk dan warna yang lain. Aku pernah menanyakan tentang itu, tentang gulali kesukaanmu. Kamu hanya akan tersenyum. Tak pernah ada jawaban selain karena kamu menyukainya.
“Mengapa selalu berbentuk hati?” tanyaku ketika kita menunggu gulali pesananmu dibentuk oleh si penjual gulali langgananmu. “Bentuk bunga atau kupu-kupu juga cantik bukan?”
Sepasang mata cokelatmu memandangku sejenak sebelum kembali pada jemari kurus yang terampil membentuk hati pesananmu. “Karena aku menyukainya,” jawabmu singkat dengan mata yang seolah takut kehilangan momen bagaimana hatimu dibentuk.
“Hanya karena suka? Tidak ada alasan lain?” Aku masih penasaran. Ini adalah kali kesekian aku menemanimu membeli penganan gula kental yang manis itu.
“Apakah menyukai sesuatu harus selalu dengan alasan, Jevan?” Kamu mengakhirinya dengan senyum di bibirmu yang merah muda. Dan aku, diam.
Lelaki kurus itu menyerahkan setangkai hati pertama yang kamu sambut dengan mata yang berbinar. Kamu memandangi hasil karya lelaki itu beberapa jenak. Seolah meneliti sebuah karya seni yang langka. Plastik bening yang membungkus hatimu itu pun kamu rapikan. Lalu mengikat tali menjadi simpul berbentuk pita di bawahnya. Itu ritualmu setiap kali membeli gulali. “Hati pertama ini untukmu,” ujarnya. 

**

Gulali berbentuk hati dan berwarna merah. Langkahnya terus menyusuri alun-alun kota, mencari seseorang. Ia sangat yakin bahwa yang memberikan setangkai gulali itu adalah Leya. Perempuan yang dulu selalu memberikannya setangkai hati pertama tiap kali mereka membeli gulali bersama.
Wahana komidi putar sudah jauh darinya. Di kepalanya tak terpikirkan bagaimana jika Namira dan Ale kebingungan mencarinya nanti. Ia hanya ingin bertemu dengan Leya meski tak yakin juga apa yang akan dikatakannya nanti jika mereka bertemu.
Jevan menemukan seorang pedagang gulali yang sedang sibuk membentuk gula kental panas dari wajan kecilnya. Ia menghampirinya, berharap Leya ada di sana. Tak ada perempuan itu di antara para pembeli yang sedang menunggu gulali mereka. Leya mungkin sudah pergi.
Ia belum menyerah. Dilangkahkan lagi kakinya ke arah lain, ke mana saja karena ia pun tak punya arah. Lalu ia teringat tempat kesukaaan Leya jika ada festival atau acara seperti pasar malam seperti ini, kembang gula!
Tepat! Seorang perempuan berambut hitam sebahu dengan dress hijau floral selutut ada di sana. Senyum Jevan terkembang. Itu Leya!
Jarak mereka tidak jauh, hanya sekitar lima meter, namun tiba-tiba ada rombongan anak muda yang mengahalangi jalannya. Membuatnya terpaksa melambatkan langkah. Dengan tubuhnya yang tinggi, ia masih bisa melihat perempuan itu memegangi kembang gulanya. Perempuan itu tersenyum ke arahnya sebelum akhirnya melangkah pergi. Ia mempercepat langkahnya menuju stan kembang gula. Berkali-kali pula ia harus meminta maaf pada pengunjung yang tanpa sengaja tersenggol tubuhnya saat ia mencoba menerobos jalan.
Leya sudah pergi. Ia terlambat lagi.

**

“Aku akan menikah,” ujarmu pelan, bahkan sangat terlihat santai. Tanpa beban. Kamu mengucapkannya seolah sedang mengatakan kalau kamu ingin makan atau ingin pergi tidur. Sementara itu jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika kamu mengucapkannya beberapa detik lalu.
“Menikah?” ulangku terkejut. Ya, aku berharap kamu sedang bercanda tadi. Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku padamu dan sebentar lagi kamu akan jadi milik lelaki lain. Secepat itukah, Leya? Atau aku yang terlalu bodoh, membiarkan lima tahun berlalu begitu saja.
Kamu tersenyum dengan mata yang tak beralih dari hati kedua yang sedang dibentuk. “Kurasa kamu belum butuh pergi ke dokter THT, Jev.”
“Kamu akan menikah dan baru memberitahuku sekarang?” Aku masih mencecarnya soal pernikahan. “Bahkan kamu bisa begitu santai memberitahukannya padaku, seolah itu adalah kabar tak penting,” ujarku geleng-geleng kepala dan kusisipkan kekehan pelan yang kupaksa keluar. Menutupi lubang yang mulai menganga dalam hatiku.
“Kamu itu orang sibuk, Jev. Sulit menghubungimu,” jawabmu bergurau. “Dan kamu juga tahu bukan bahwa aku paling sebal jika menunggu terlalu lama?”
Ya, kamu betul Leya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berperang sendiri tentang perasaanku padamu hingga tanpa sadar telah membuatmu menunggu terlalu lama. Kamu pasti berpikir bahwa aku hanyalah Jevan, si pecundang yang bodoh.
“Jadi dengan siapa kamu akan menikah?”
Jemarimu merapikan hati kedua milikmu. “Dengan lelaki yang kepadanya akan kuberikan hati kedua ini,” jawabmu sambil menunjukkan gulali merah berbentuk hati yang sama dengan milikku.

**

“Ayah....” Dilihatnya tangan kecil Ale melambai ke arahnya, mencoba memberi tanda keberadaannya. Pun Namira yang berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama. Kini ia sedang berdiri di persimpangan. Terus berlari mencari Leya atau kembali pada Namira dan Ale.
“Kamu ke mana sih? Kita nyari kamu daritadi,” keluh Namira kesal.
Jevan mencoba tersenyum pada Namira, istrinya. “Maaf ya, tadi seperti melihat teman lama.”
“Siapa? Sudah ketemu?” Pertanyaan Namira dijawab dengan gelengan kepala olehnya. Tiba-tiba raut wajah Namira berubah sedih.
“Ayah, aku mau itu....” Ale menunjuk sesuatu yang ada di genggaman ayahnya.
“Hati pertama untukmu, Nak.” Senyum Jevan mengembang. Ale sangat antusias menerimanya.
Jevan menyadari wajah sedih istrinya itu lalu bertanya, “kamu kenapa, sayang?” Diusapnya rambut Namira dengan lembut.
“Barusan Vanya kabarin aku tentang Leya,” jawabnya sedikit ragu. Ia tak yakin Jevan akan baik-baik saja setelah mendengar kabar tentang teman lamanya ini. “Leya meninggal sore tadi di Amerika, jenasahnya akan tiba di Indonesia besok pagi.”
Bibir Jevan terkatup rapat. Kepalanya masih sulit mencerna kata-kata dari Namira. Istrinya pasti sedang bergurau. Tapi ia tak menangkapnya di wajah Namira. Ia benar-benar serius tentang Leya. Matanya langsung diarahkan ke atah stan kembang gula tempat terakhir melihat perempuan itu. Lalu beralih cepat ke arah hati yang ada di tangan Ale. Dadanya terasa sesak. Bibirnya tak mampu mengeluarkan apapun. Ia hanya diam memandang Namira yang sama sedihnya dengan dirinya.
Leya masih hidup. Ia ada di sini.

****

Rabu, 01 Oktober 2014

3rd day : What are You Afraid Of?





Haii...
Sudah hari ketiga untuk tantangan ngeblog nih. Kali ini judulnya tentang hal yang gue takutkan.
Sudah pasti dari sekian ketakutan gue, yang ada di daftar paling atas adalah Sang Maha Pencipta. Gue sadar banget kok sebagai manusia masih banyak melakukan hal yang dilarang oleh-Nya, tapi gue selalu berusaha untuk menjalankan perintah-Nya. Selalu berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik dan taat.

Mati. Semua makhluk hidup pasti akan mati kan? Iya, gue tahu. Dan nggak ada yang tahu kapan waktu itu tiba kecuali Tuhan.
Takut kehilangan orang-orang tersayang, terutama keluarga. Ah, siapa sih yang mau kehilangan keluarga?

Ular. Ketakutan gue dengan hewan jenis ini emang gak parah-parah banget sih, malah pengen belajar megang (dan tetep belum berani juga!). Pernah waktu kecil (lupa umur berapa), ketika lagi di kamar mandi di rumah kakek-nenek gue  tuh ada ular yang ngelilingin wc yg lagi gue pake. Dan gue cuma bisa teriak-teriak manggil mama. Sejak itu gue agak parno pake kamar mandi di rumah nenek gue itu dan takut tiba-tiba ada ular nongol di sana. Ahahaha

Apalagi ya? Banyak sih sebenarnya hal yang gue takutkan. Tapi gue gak menjadikan ketakutan gue itu sebagai hal yang harus gue takutkan dalam hidup. Kebanyakan gue malah belajar buat melawan ketakutan gue itu. Sok berani aja sih gue. Ahahahaaaa...


Jadi, mari belajar untuk menghadapi ketakutan yang kalian punya. Semangaaaattt....!!







Kota Hujan, 011014

Selasa, 30 September 2014

2nd day : 20 Facts About You



Allo....

Tantangan hari kedua ini adalah membeberkan 20 fakta tentang gue. Yuk mari disimak fakta-fakta yang gaje ini. Ohohohohooo 

  1. Jawa. Mungkin di hari pertama gue udah cerita tentang ini. Yep, gue keturunan Jawa yang sering dikira bukan orang jawa. Kebanyakan mereka mengira gue adalah orang sunda karena domisili gue di Bogor. Bahkan pernah ada yang ngira gue orang Aceh, Padang, atau Palembang. Oh!!
  2. Anak sulung dan perempuan satu-satunya membuat gue nggak punya saingan. Hahaha... karena dua adik gue semuanya laki-laki dan jarak usia gue dengan mereka agak jauh.
  3. Angka 9. Gue lahir di tanggal itu dan gue merasa itu adalah semacam nomor keberuntungan.
  4. Golongan darah gue B, dan gue baru tau ini beberapa bulan lalu. Diceknya sama Praka yang punya satu titik di ujung mata. Uwuwuwuww.... *toyor
  5. Ekspresif dan moody. Hehehehee....
  6. Jatuh cinta banget sama Yogyakarta dan punya mimpi bisa tinggal di kota itu sama keluarga gue kelak. XD
  7. Suka banget sama warna coklat. Sampe tiap beli baju, sepatu, atau sandal pun pasti yang dicari tuh warna coklatnya dulu.
  8. Gak suka jeruk.  Paling gak suka sama buah yang satu ini. Jangankan makan, cium bau jeruk aja udah nggak suka. Kalau ada yang makan jeruk di dekat gue, pasti gue menyingkir atau kalaupun nggak bisa pergi ya... tutup hidung ajalah. Tapi Cuma jeruk buah yang oren-oren itu aja sih. Kalo lemon atau jeruk nipis sih masih oke.
  9. Lebih suka jalan sendirian. Iya sih kalau ada teman bisa ngobrol, tapi kadang suka nggak bebas, apalagi gue suka nggak enakan orangnya. Jadi kalau sendirian kan mau sampai kaki pegel pun puas. Tinggal teparnya aja di rumah. XD
  10. Seneng  belanja buku (apalagi kalau diskonan), tapi dibacanya nggak tahu kapan. Hihihihiii
  11. Novel. Suka baca novel sejak SMP ketika teenlit lagi booming. Dan gue nggak fanatik sama satu genre aja sih.
  12. Suka nge-craft, tapi masih yang gampang-gampang aja kayak flanel dan kertas. Seru dan bisa bikin lupa waktu. Gue kadang suka sayang ngeluarin duit buat beli sesuatu yang sebenarnya bisa dibikin sendiri, jadi kalau bisa bikin kenapa mesti beli? Nggak enaknya adalah ketika selesai berkreasi dan menyadari tempat lu udah kayak kapal pecah. XD
  13. Lebih suka nonton film action, spionase, atau adventure ketimbang romance. Bukan berarti gak suka nonton romance ya, koleksi dvd gue juga banyak kok romance-nya.
  14. Will Smith. Teman gue sampe heran kenapa gue suka sama bapaknya Jayden Smith ini. Bagi gue, dia itu keren. Anaknya juga! Ahahhaha..
  15. Sheila on 7. Sebagai generasi yang melewati tahun 90-an, gue juga merasakan bagaimana lagu-lagui dari grup yang satu ini menemani hidup gue. (Dulu) gue fanatik banget sama So7, sampai ngumpulin semua tentang mereka. Playlist gue pun masih didominasi oleh lagu-lagu mereka sampai sekarang.
  16. Gak suka kucing, tapi gak sampe histeris juga kalau ada kucing.
  17. Kalau ngendarain motor suka ngebut (katanya!). Iya, kata orang-orang gitu. Sampe ada yang kapok diboncengin sama gue, padahal gak ngebut-ngebut amat kok gue. :p Tapi kalau gue yang diboncengin juga suka ngeri  (nah, lho...) dan gue jadi mikir ‘jadi gini ya rasanya diboncengin ngebut?’. *toyor
  18. Anggota Gengges. Nama ini sebenarnya cuma asal ceplos aja waktu kumpul bareng sepupu-sepupu perempuan dari garis keturunan Mbah buyut Karsoredjo. Biasanya kita suka nonton dvd bareng atau kumpul-kumpul.
  19. Lango. (Buat yang belum tau apa itu lango, silahkan googling aja ya. :p ) Banyak yang bilang gue aneh atau konyol karena suka sama lango. Yateruss? Dan gue beruntung akhirnya menemukan satu teman yang gokil kalau udah ngomongin hal yang satu ini. Nulis novel dengan dunia lango adalah salah satu cita-cita gue juga. *wish
  20. Pengen banget bisa main voli. Ahahaha... Iya, mau belajar olahraga yang satu ini. *nyariguru

Udah ah, segitu aja yang gue bocorin tentang hidup gue (ya emang cuma 20 kalii tantangannya...). Besok kita jumpa lagi dengan tantangan berikutnya. Jangan kapok mampir sini yak... :D





Kota Hujan, 300914

Senin, 29 September 2014

1st day: Introduction


Haiii...
Yep, akhirnya gue memutuskan untuk ikutan 25 days challenges ini. Tertarik untuk ikutan setelah baca blognya Kak Rula dan kayaknya seru juga. Sekalian buat ngisi blog gue yang jarang banget diisi tulisan baru. Hehehe.... Baiklah mari kita mulai dan semoga gue konsisten ngeblog selama 25 hari ke depan.

Di hari pertama ini gue mesti memperkenalkan diri. Nama lengkap gue Desvian Trisna Sekar Wulan. Ketika gue memperkenalkan diri pada orang baru, gue biasanya pakai nama Desvian dan seringnya gue mesti menyebutkannya pelan-pelan atau mengulangnya. Dan nama gue ini bikin gue ngabisin waktu ketika ujian (u know what I mean, lah). Gue punya banyak nama panggilan mulai dari Desvi, Dedes, Dedel, Vian, Trisna, Isna, Wulan, dan beberapa teman gue punya nama panggilan khusus buat gue (meski aneh). XD

Lahir di kota yang tetanggaan sama kota yang bikin gue jatuh cinta. Kedua orang tua gue asli Jawa, tapi entah kenapa banyak orang yang ngira gue bukan orang Jawa. Emang sih gue tumbuh dan besar di kota Hujan, tapi gue juga gak pinter bahasa Sunda (bahasa Jawa juga gak pinter sih. Hahaha...). Lalu gue mikir di mana letak kurang Jawa-nya muka gue? Apa gue mesti mengeksotiskan(?) warna kulit dan ngomong lemah lembut plus kemayu? Hahahaa..*abaikan.

Saat ini gue masih tercatat (etdah tercatat...) sebagai karyawati di sebuah perusahaan tesktil di kota hujan. Pekerjaan gue di bidang keuangan. Dari dulu gue lebih suka angka-angka dan menghitung ketimbang teori dan hapalan. Meski begitu, gue suka banget nulis dan baca buku. Menurut gue nulis itu semacam terapi. Kadang ada beberapa hal yang ingin diungkapkan tapi nggak bisa diungkapkan secara langsung, dan gue milih nulis buat mengungkapkan. Gue suka nulis sejak SMP, tapi baru serius nulis sih beberapa tahun yang lalu. Belum punya novel solo sih, tapi beberapa tulisan gue masuk dalam beberapa antologi. Dan saat ini sedang merancang pilar-pilar calon ‘anak’ pertama. XD

Segitu dulu kali ya perkenalan kali ini. Salam kenal untuk kalian. Kalau pada takut kenalan sama gue karena ada yang bilang gue galak atau jutek abaikan saja, karena emang gitu kok (lho?!) :o

Boleh lho mampir buat denger kicauan gak penting gue di akun @desvianwulan (promo terselubung).XD

Sampai jumpa besok.






Kota Hujan, 290914

Kamis, 03 Juli 2014

Surat Untuk Abang di Tapal Batas #2

Teruntuk Abang, di tapal batas.


Ingin kubagi sedikit cerita yang membuatku masih saja menahan tawa ketika mengingatnya.
Sebuah pemberitahuan di akun sosial media membuatku mengalihkan jemariku dari lembar putih kosong itu. Lalu aku tertawa. Seorang adik sepupu bertanya tentang siapa sosok ‘abang di tapal batas’. Tentangmu. Entah bagaimana surat yang pernah kutulis untukmu itu membuatnya begitu percaya. Ya, ia percaya bahwa kamu adalah seseorang yang sungguh nyata dalam hidup kakak sepupunya ini.

Ia kemudian menanyakan tentang pertemuan kita, di mana dan bagaimana. Lagi-lagi aku tak kuasa menahan tawa. Menjelaskan bahwa tak pernah ada temu dan sekadar perkenalan, juga balasan surat itu pun kuceritakan apa adanya. Seperti sepupu-sepupuku di Gengges (itu nama geng kami, keluarga Mbah buyut Karso Redjo), ia malah semakin brutal menggodaku. Hahaha.... Ia bahkan menyamakan kita dengan sepasang tokoh dalam novel yang kusuka (karena profesi tokoh utama sih sebenarnya), Fly to The Sky. Sepasang tokoh utama yang saling mencari satu sama lain dengan berbekal informasi yang terlalu sedikit. Tentu saja jauh berbeda dengan kita. Tak ada yang saling mencari. Hanya aku, mengagumimu. Tidak denganmu.

Tak ada yang membuatku sedih tentang kita. Tentang temu dan sapa yang tak pernah nyata. Tidak satupun, Bang. Kau justru menumbuhkan senyum tiap wajahmu muncul di antara potret-potret dalam album acakku. Jika aku butuh semangat untuk menulis lagi, rekaman video tentangmu seolah membuatku harus kembali. Berlebihan. Memang. Namun begitulah dirimu.

Abang, kucukupkan di sini suratku kali ini. Jangan bosan jika kelak aku mengirimu surat lagi. Kuharap kamu hidup dengan baik di sana. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkahi tiap langkahmu.





Kota Hujan, 03072014



Desvian Wulan

Minggu, 11 Mei 2014

Aquamarine

“Suatu hari, kita akan kembali lagi ke tempat ini.”
"Tentu saja,” balasnya santai. “Tak perlu kata 'suatu hari', karena minggu depan kita juga akan bertemu lagi di sini, di tempat ini,” tambahnya sambil tersenyum padaku. Aku memaksakan kedua sudut bibirku naik, membalas senyumya. Harapanku, lebih dari sekedar itu.

           
            Aroma khas kopi menguar dari segala penjuru, menyapa setiap indera penciuman manusia. Temasuk kita yang akhirnya tergoda untuk membuka pintu kaca yang tercetak logo berwarna hijau itu ketika hujan tak kunjung reda. Kita memesan secangkir double espresso dan segelas besar mocha frappuccino pada barista cantik berkuncir kuda.
Beruntung sudut favorit kita di cafe itu tak ada yang menempati lebih dulu. Sepasang sofa berwarna coklat tua yang dijeda meja bundar kecil warna senada. Kita berdua menikmati kopi masing-masing sembari membicarakan banyak hal. Lagu Secondhand Serenade, album terbaru Maliq 'n d'Essentials, buku-buku sci-fi koleksimu, dan entah apa lagi, masuk dalam obrolan kita.
Sesekali aku melirik ke luar sana. Beberapa anak lelaki yang kuyup dan kedinginan. Bibir mereka pucat, bergetar. Menawarkan payung-payung mereka pada pengunjung demi beberapa lembar rupiah.
“Buana, kau tak keberatan ‘kan kalau aku membagi donat-donat ini pada anak-anak itu?” tanyaku hati-hati. Telunjukku mengarah pada anak-anak lelaki yang sedari tadi kuperhatikan. Kulihat matamu mengikuti telunjukku.
            Kamu mengangguk. Senyum yang menghadirkan gelenyar aneh tiap aku melihatnya pun tak luput kau sisipkan.
Segera kuambil satu kotak berwarna kuning dari kantung belanja kami tadi. Tak sabar membagi sedikit kebahagiaan pada anak-anak itu.
**
            Iced Frappucinno dalam gelas besarku sudah sisa setengahya ketika aku membuka pesan singkat ketiga. Mataku memandang jauh ke luar pusat perbelanjaan di pusat kota ini. Sebuah tugu dengan replika senjata khas tanah Sunda di tengah kota pun masih sedikit tertangkap pandangan mata dari sini.
Tugu Kujang. Gagah berdiri meski dicumbu teriknya matahari, dibalut polusi. Bogor, mulai menjelma ibukota. Ah, itulah sebabnya aku lebih suka sepanjang jalan Ahmad Yani menuju Sudirman ataupun di sepanjang Jalan Padjajaran. Pepohonan besar dan hijau menaungi sepanjang jalan. Teduh. Sejuk. Lalu aku memindai kenangan ketika kamu menantangku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan itu.
Sudahlah. Itu masa lalu.
            Kulirik jam tangan warna cokelat yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sepuluh menit berlalu. Kamu terlambat, seperti biasa. Aku menghela napas sejenak. Lalu memutuskan untuk mengambil buku yang belum tamat kubaca.
“Ayla?” suara itu mengurungkan niatku untuk melanjutkan bacaanku.
Itu kamu, orang yang kutunggu. Ketika tubuhmu yang tinggi tegap itu tertangkap pandang mataku, sesuatu bergemuruh di dalam diriku. Rasanya nyaris sama seperti dulu, namun aku buru-buru mengenyahkannya.
Aku harus tahu diri.
Kutarik kedua sudut bibirku ke atas. Novel Laura Florand pun kututup kembali. Kamu kemudian duduk di seberangku. Meja kayu bundar menjadi sekat antara tubuh kita.  
            “Maaf terlambat lagi,” ujarmu sambil memamerkan senyum yang masih saja menghadirkan getaran yang sama, membuat jantungku berkali-kali lebih cepat detaknya. Hanya saja kali ini berbeda. Aku harus mengusirnya.
“Sudah lama?” tanyamu.
            Aku menggeleng. “Baru sepuluh menit,” jawabku datar. Raut wajahmu berubah mendengarnya.
            “Maaf, Ayla,” ujarmu terlihat menyesal.
Aku tersenyum hambar. Bukan karena memaklumi keterlambatanmu, namun mendengar caramu menyebutkan namaku. Kamu menyebutkannya dengan lengkap. Ayla. Bukan ‘Ay’ yang terkadang diucapkan dengan nada manja. Ah, lupakan itu. Aku tahu kamu tak akan lagi memanggilku seperti itu.
            “Tidak apa-apa.”
            “Terima kasih karena kamu mau menyempatkan waktu dan menyanggupi permintaan yang kukirim lewat email dua minggu lalu,” katamu. “Aku bahkan sempat takut kamu tak mau menanggapi emailku.”
            Lagi-lagi aku memaksakan diri untuk tersenyum, mencoba memberi tanda padamu kalau aku selalu baik-baik sejak perpisahan kita setahun lalu.
“Saya diharuskan untuk bersikap profesional untuk menanggapi customer,” jawabku kaku. “Menanggapi permintaan desain yang anda kirimkan via email dua minggu lalu pada kami, berikut saya bawakan beberapa contoh desain yang mungkin sesuai dengan permintaan anda,” ujarku dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. Kuputar komputer jinjingku agar klien-ku bisa melihat desain yang sudah kusiapkan dari Surabaya, tempatku bekerja. 
            “Ayla,” panggilmu pelan. Mengabaikan slide-slide yang tersaji di hadapanmu.
         "Untuk contoh gambar yang ini,” kataku sambil menunjukan gambar pertama.  “Cincin dengan material platina dan batu saphire.”
Jemariku berpindah ke gambar kedua. “Untuk yang ini cincin dengan material emas murni dengan bentuk hati. Klasik, sederhana, namun bisa tetap elegan.”
            Sementara aku terus menjelaskan detail-detail gambar cincin di slide selanjutnya, kamu hanya diam dan membiarkanku bicara, tak tahu apakah kamu benar-benar mendengarkan penjelasanku atau tidak. Pun selama itu, aku tak berani memandang matamu. Bahkan untuk sesekali mencuri lihat dimana sepasang manik mata warna hitam yang dulu begitu sering membuatku rindu pun aku tak berani.
            Andai kamu tahu bahwa aku rindu. Padamu.
**
            Aquamarine.
            Batu mulia berwarna biru yang cantik. Aku terinspirasi untuk menambahkan batu itu dalam desain cincin yang sedang kugambar. Dua hari lalu aku menemukannya dalam halaman kesekian dalam sebuah judul buku yang kubaca di perpustakaan universitas.
            Aku berhenti sejenak, menilik hasil goresan pensilku. Seporsi sirloin steak yang mulai dingin pun kuabaikan sejak pelayan Steak and Shake mengantarkannya ke meja ini. Senyumku mengembang ketika daya imajinasiku membayangkan wujud tiga dimensi dari desain yang baru selesai kugores.
            Cincin cantik bertahtakan aquamarine itu hancur tak sampai hitungan menit bersamaan dengan menggelapnya pandangan mataku. Aku menggeram sembari menyebutkan nama seorang lelaki, namamu. Detik berikutnya cahaya terang menyerbu pandanganku diiringi bunyi kikik tawa  yang terdengar menyenangkan.
            Kamu kemudian mengambil gerakan untuk duduk di sampingku setelah sebelumnya memberiku isyarat dengan tangan padaku untuk menggeser tubuhku ke sebelah kiri. Ruang yang kuberikan pun langsung saja ditempati oleh tubuhmu yang tentu saja lebih besar dariku.
“Gambar apa?” tanyamu sambil berusaha mencuri lihat sketch book-ku. Aku langsung mendekap erat bukuku dan tak ingin memberimu ksempatan untuk melihat cincin pernikahanku. Ah ya, walau baru sekedar angan-angan saja.   
            Bibirmu mengerucut. “Pelit.”
            “Biarin,” balasku. Kamu tidak akan memaksaku untuk memperlihatkan apa yang kubuat di lembaran benda kesayanganku ini karena kamu tahu aku sangat keras kepala dan tak suka dipaksa. Alih-alih memaksa, kamu mengalihkan pembicaraan.  
            “Jalan kaki sampai Istana Bogor, berani nggak?” tantangmu ketika aku hendak mengiris sirloin-ku.
            “Cuma sampai Istana? Sampai Surken juga dijabanin!”
            "Kalau kamu kalah, kasih aku lihat gambar yang tadi ya?" Mukaku memerah. Bukan soal gambar, tapi tulisan tanganku di bawahnya. Tentang harapan untuk mengenakannya di hari pernikahanku dengannya.   
**
            Seorang perempuan dengan kacamata hitam datang menginterupsi. Syal warna abu yang dililit di leher dan sisanya dibiarkan jatuh di depan dada makin membuatku iri. Kamu ternyata menghadiahi syal itu untuknya. Bukan untukku.
            Seulas senyum ia berikan padaku. “Hai,” sapanya ramah. Aku bisa melihat sorot matanya yang bersahabat ketika ia melepas kacamatanya.
            Hatiku mencelos. Lagi.
            “Nania.” Ia menyebutkan namanya, pelan. Tentu saja aku sudah tahu meski ia tak menyebutkannya. Memangnya siapa yang tak mengenalnya. Top model yang tahun lalu menjadi finalis ajang Miss Indonesia.
            “Ayla,” balasku.
            Nania yang cantik itu duduk di sisimu. Serasi. Seolah ada yang meneteskan air garam di atas lukaku ketika melihat kalian saling bicara.
            “Tapi aku suka yang desain aquamarine ini,” ujarnya setelah melihat-lihat slide yang tadi kujelaskan panjang lebar padamu. “Menurutmu gimana, sayang?”
            Kamu tersenyum. “Aku juga suka,” jawabmu dengan melirik aku di ujung kalimat.
            “Oke, kalau gitu kita pilih yang ini.” Ia mengambil keputusan dengan cepat dan mantap. Lalu menyerahkan sisanya pada asistennya. Berbeda denganmu yang terlalu lama menimbang-nimbang. Sama seperti ketika akhirnya kamu memilihnya  dan meninggalkanku.
            Kamu dan perempuanmu lalu pergi setelah berpamitan dan menjabat tanganku. Meninggalkanku berdua dengan perempuan muda yang tadi dikenalkan sebagai asistennya. Kulihat punggungmu menjauh bersamanya lalu hilang di balik kaca besar itu. Lamat-lamat kudengar suara Sara Bareilles mengalunkan lagu Gravity.
            Ah sial, mau membuatku semakin sedih saja rupanya.
            Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Darimu. Hanya satu kata. Maaf.
            Jemariku dengan cepat mengetikkan balasan.
            
      Aku sudah menepati janjiku, memperlihatkan hasil goresanku karena aku kalah. Cincin aquamarine itu.


****


Kamis, 08 Mei 2014

Surat Untuk Abang di Tapal Batas


"Ibu, tugasku sebagai tentara adalah menjaga kedaulatan wilayah negara. Tapi, aku tak bisa tinggal diam ketika ketertinggalan ada di depan mata. Sebab tak hanya musuh yang harus kita taklukan. Perang sesungguhnya adalah bagaimana memajukan kualitas masyarakat. Sekecil apapun kontribusi yang diberikan akan berpengaruh pada kekuatan Indonesia di masa depan."
 -Serda Deka Prayoga-

Dear Abang,  di tapal batas.                             

Tempo hari aku tak sengaja menemukan surat yang kau tulis di atas kertas, untuk ibu pertiwi tercinta. Jujur, aku tergerak untuk mengetahuinya. Ah, maafkan adik ya, Bang, sudah lancang ingin tahu apa yang ingin kau kabarkan.

Dalam surat itu kau mengabarkan pada beliau, tentangmu dan kawan-kawan seperjuangan di tanah perbatasan. Tugas negaralah yang membawamu jauh hingga Entikong yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Menjaga kedaulatan negeri di daerah yang jauh dari hingar bingar modernisasi. Kau dan kawan-kawan harus menyusuri hutan Kalimantan untuk melakukan patroli patok. Ya, hanya patok sederhana yang menjadi tanda perbatasan antara dua negara. Tujuan patroli tersebut tentu saja untuk memastikan bahwa patok-patok itu tidak bergeser, baik karena ulah manusia maupun gejala alam. Meski peluh terus jatuh, kau terus menyemangati mereka. Ah, andai aku bisa menyemangatimu seperti itu, Bang.

Lalu kau mengisahkan sulitnya hidup di tapal batas. Hidup dalam keterbatasan yang katamu membuat kalian tangguh dan saling mendukung satu sama lain. Ya, kehidupan tentara seringkali mengharuskan kalian bisa bertahan dalam keadaan apapun bukan? Dan aku kagum akan itu. Tak banyak yang tahu -pun termasuk aku- bahwa kehidupan saudara-saudara kita di sana sesulit itu.

“Jiwa raganya NKRI, tapi perutnya Malaysia.” Begitu ungkapmu ketika mengisahkan tentang penduduk di perbatasan. Lapangan pekerjaan yang sulit di Indonesia, khususnya daerah perbatasan, membuat mereka mencari uang di negara tetangga yang lebih mudah. Bahkan anak-anak di bawah umur pun banyak yang ikut orang tuanya bekerja di sana, menjadi buruh perkebunan kelapa sawit. Miris. Anak-anak yang seharusnya belajar harus bekerja demi memenuhi perut mereka.

Di desa Sei Beruang, tempatmu bertugas,  air bisa begitu langka hingga kau dan yang lain harus berlomba-lomba menuju genangan air di tepi sawah untuk mandi. Tunggu, katamu mandi di genangan air di tepi sawah? Abang, jika air bersih saja begitu sulit, tentu akan berdampak pada masalah kesehatan ‘kan? Katamu, puskesmas di sana letaknya sangat jauh hingga pos kesehatan Yonif 143-lah yang menjadi harapan bagi penduduk setempat.

Tugas tentara di perbatasan bukan sekedar menjaga dan melakukan patroli patok semata. Ada beberapa tentara yang juga menjadi guru karena jumlah guru di sana yang tak mencukupi. Tak hanya soal guru, fasilitas dan sarana pendidikan pun sangat terbatas. Satu ruangan digunakan untuk beberapa kelas. Tanpa sekat. Tak terbayang bagaimana riuhnya ruangan itu. Bahkan konsentrasi belajar pun akan sulit didapat bila keadaannya seperti itu. Namun semangat belajar anak-anak itu mengalahkan segala keterbatasan.

Lalu aku tersenyum, sesekali tertawa perihal kawanmu yang membawa kebiasaan di militer untuk mendidik anak-anak muridnya. Aku bahkan bisa menghapal lagu seperti yang dinyanyikan anak-anak sekolah dasar itu lho, Bang. Kelak aku akan menyanyikannya untukmu, entah kapan. Dan ternyata, kau pun ditugaskan di PAUD yang ada di daerah Bantan, tiga kali seminggu. Bergabung dengan anak-anak kecil yang butuh perhatian lebih. Abang, kau terlihat keren di sini. (Uupss...) Aku tahu bahwa bukan hal mudah untuk mengatur anak-anak kecil seperti itu. Betapa sabarnya dirimu, Bang. Tapi kurasa kau sangat bahagia dengan dunia mereka. Kau bahkan mengatakan bahwa mereka bisa membuatmu tersenyum ketika sedang bad mood, bisa kembali ke pos dengan senyuman lagi. 


Abang, kurasa aku harus segera mengakhiri suratku, karena tak akan cukup dalam satu-dua lembar saja yang ingin kutulis di sini. Semoga Tuhan memberikan kesehatan, kesabaran, dan semangat yang tak henti untukmu dan semua prajurit negara di manapun. Menjaga ibu pertiwi dengan segenap jiwa raga.

Tetap semangat, Abang!



Kota hujan, 08.03.2014





Ditulis karena terinspirasi  Surat dari tapal batas

Selasa, 06 Mei 2014

Last Minute


            “Kau tidak mengenalku?” Perempuan berambut mahogani menggeleng pelan ketika seorang lelaki asing menanyakan itu padanya.
            “Carmel, semudah itukah kamu melupakanku?” Laki-laki dengan jaket hitam itu terlihat frustasi. Jawaban perempuan bernama Carmel itu jauh dari yang diharapkannya.  “Aku Bill. Brilliant Miller.”
            “Maaf Bill -atau siapapun namamu- aku tak pernah merasa pernah mengenalmu, jadi menyingkirlah dari sini dan biarkan aku pergi. Ok?!” Gadis itu mengeluarkan kalimatnya nyaris tanpa jeda. Seperti menumpahkan sesuatu yang terlalu lama disimpan.
            Brilliant Miller menggeser pelan langkahnya beberapa ke samping, memberi celah untuk Carmel. Sepasang mata hazel milik Carmel menatap sinis pada Bill sebelum kedua tungkainya melangkah. Kentara sekali bila ia tak menyukai Bill. Carmel pergi. Meninggalkannya. Lagi.
            Bill menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu taman itu. Otaknya masih mencari tahu mengapa Carmel tak bisa mengenalinya.
            “Pasti ada yang salah!” Bill berujar penuh keyakinan.
            **
            “Ben selingkuh lagi!”
            Lelaki itu, Bill, memutar bola matanya. Kasus yang sama untuk kesekian kalinya meluncur dari bibir gadis di depannya. “Kau saja yang bodoh,” komentarnya. “Sudah tahu brengsek tapi masih saja kau jadikan pacar.”
            Perempuan itu menggeram. “Bill! Aku butuh saran, bukan ocehanmu yang sama sekali tak membantu!”
Langkah Carmel berhenti mengikuti Bill.
“Saran?! Kau pikir semua saran pernah yang kuberikan tentang hubunganmu dengan si brengsek itu bisa kau lakukan, hah?” Emosi Bill jelas terlihat. Kesal.
“Kau menyebalkan!”
“Kau lebih menyebalkan! Gadis bodoh!”
Sepasang hazel milik Carmel menatap tajam penuh kemarahan pada laki-laki di hadapannya. Carmel memutar arah tubuhnya, langkah kakinya melangkah cepat, meninggalkan Bill yang masih tak mengerti dengan sikap gadis bersurai mahogani itu.
            “Carmel!” Suara Bill yang terdengar keras pun tak dihiraukan gadis itu. Carmel semakin mempercepat langkahnya. Perempuan itu terlalu mudah tersinggung. Bill masih bergeming di tempatnya, memandang punggung itu menjauh.
**
            Kakinya memutar balik ke arah restoran milik Paman Ed. Sebuah restoran tua di daerah Buenau.  Pintunya berderit ketika Bill mendorongnya masuk. Restoran itu sepi pengunjung.  Tujuan Bill kembali ke restoran Paman Ed adalah sebuah brankas besar yang ada di ruang kerjany. Lemari besi yang membawanya kembali ke Buenau, menemui Carmel untuk menebus kesalahannya dulu.
            Bill menyibak kain putih yang menutupi brankas yang tingginya hampir setinggi pundaknya. Brankas yang sama dengan yang disimpan Paman Ed di gudang rumahnya di Paris.  Ia meneliti lagi angka-angka yang tertera di putaran kuncinya.
“Sial!” Bill mendengus kesal. Ia salah memutar angka-angka itu. Pantas saja Carmel tak mengenalinya. Seharusnya ia datang satu tahun lebih awal dari yang seharusnya, ketika Carmel meninggalkannya di lorong universitas mereka.
Waktunya hanya tersisa dua puluh menit.
**
“Sebelum pergi, Carmel menitipkannya untukmu, Bill.” Mom menyodorkan sebuah surat pada Bill. Lelaki itu menerimanya dan segera meninggalkan Mom untuk masuk ke dalam kamarnya, membaca surat dari Carmel.
Bill membaca tiap kalimatnya pelan-pelan seakan takut akan terlewat satu kata saja bila ia membaca terlalu cepat.
Seketika penyesalan tumbuh dalam hatinya. Ia menyadari kebodohannya dengan membiarkan Carmel bersama Ben hingga akhir hidupnya. Meninggal dalam pelukan Ben. Andai ia tahu perasaan yang selama ini disimpan gadis itu untuknya. Cinta. Ya, Carmel hanya mencintai lelaki yang pernah menyebutnya gadis bodoh karena masih berpacaran dengan Ben.
“Gadis bodoh,” lirih Ben. “Kenapa harus pacaran dengan si brengsek itu jika kau mencintaiku?” Suaranya tertahan di antara isak.
Mesin waktu.
Ide itu terlintas begitu saja di kepala Bill. Ia segera bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya. Paman Ed adalah tujuannya. Lelaki tua yang pernah bercerita tentang brankas yang bisa membawanya melintas waktu. Tak ada lagi yang tahu soal itu selain Bill kecil yang penuh rasa ingin tahu dan pamannya yang berbeda dengan paman dan bibinya yang lain.

“Sekarang putar kunci-kunci itu ke waktu yang kau inginkan,” perintah Paman Ed di depan brankas yang masih disimpannya di gudang bawah tanah rumahnya. Ia pernah menggunakannya. Dulu.
Bill dengan hati-hati memutarnya sambil diawasi Paman Ed. Kepalanya mengangguk ketika jemarinya selesai mengatur waktu. Ia sudah siap.
“Ingat, waktumu hanya empat puluh menit. Lebih dari itu, satu menit dihitung dengan satu harimu di masa sekarang akan hilang,” jelas Paman Ed serius.
**
“Carmel...”
Pemilik nama yang dipanggil menoleh, mencari-cari sumber suara yang sudah meneriakkan namanya begitu keras.
“Hah? Kau lagi?” Carmel mendengus kesal begitu lelkai yang memanggilnya sampai di hadapannya. “Bukankah sudah kubilang kalau aku tak mengenalmu, hah?”
Napas Bill belum teratur, dadanya masih naik turun. “Carmel, bisa beri aku waktu lima sampai sepuluh menit?”
Hazel kembar itu memutar. “Lima menit, oke?”
Kepala Bill dengan cepat mengangguk. Lima menit lebih baik daripada tidak sama sekali, pikirnya. “Oke. Lima menit.”
“Carmel, aku hanya ingin meminta maaf padamu atas kebodohan yang pernah kulakukan padamu. Maaf jika aku terlalu bodoh dan lambat untuk menyadari perasaanku.” Gadis itu memandang Bill dengan tatapan aneh.
“Kau memang belum mengenalku sekarang. Tapi kau harus mengingat ini, satu tahun lagi kau akan bertemu denganku, Brilliant Miller, di sebuah restoran tua di Buenau. Akan banyak cerita tentang kita di sana.”
Carmel masih menyimak tanpa minat.
Je’t aimee, Carmellia Manhattan,” ujar Bill akhirnya.
Oke, five minutes has gone, Man.” Gadis itu memberi tahu sebelum akhirnya melenggang pergi dengan wajah sedikit ketakutan.
**
Paman Ed berdiri di depan pintu brankas dengan wajah cemas ketika Bill melangkah keluar dari brankas tua miliknya. “Kau baik-baik saja ‘kan, Bill?” tanyanya cemas.
Bill menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lesu. Ia gagal.
“Kita memang tak bisa mengubah masa lalu, tapi setidaknya kau sudah berusaha, Bill,” ujar Paman Ed sambil menepuk pundak keponakannya itu.
Bill tertunduk, merenungi kebodohannya sendiri. Carmel sudah meninggal. Tak ada gunanya juga ia kembali ke masa lalu. Ya, Paman Ed benar. Masa lalu memang tak akan bisa diubah. Oleh mesin waktu sekalipun.

***