Tampilkan postingan dengan label letters. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label letters. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

(Bukan) Teka-teki

Teruntuk kau,
di tempat bahagiamu.


Aku datang lagi. Kubawakan sekotak cerita untuk kau nikmati di penghujung harimu. Tentang aku. Kau masih belum bosan bila kukisahkan tentangku bukan? Pasti jawabanmu adalah tidak. Bila jawabanmu sebaliknya, aku akan tetap mengisahkannya padamu. Ya, aku memaksa.

Studio tiga, kursi nomor F-16. Kau tahu, aku bahkan baru menyadari nomor kursi itu sama dengan nama pesawat yang selalu kusebut pesawat gagah. Fighting Falcon F-16.  Dan aku mendapatkannya karena bertukar tiket dengan seorang bapak yang anaknya duduk di sebelahku. Namanya Keisha, gadis manis yang sangat dekat dengan ayahnya. Aku sangat tahu rasanya dekat dengan ayah. Dan aku juga tak akan bisa menikmati filmku jika harus duduk bersama orang asing. Karena itulah, aku menawarkan diri untuk bertukar kursi. Jika kau bertanya apa aku mengenal mereka, aku menjawab bahwa aku belum mengenal mereka sebelumnya. Dia tidak mendapat tiket pertunjukan, dan kami – teman-teman komunitas – mengajaknya ikut rombongan karena ada tiket lebih.

Ini semua karena CJR.

Ya, kau boleh menertawaiku sekarang. Aku benar-benar meninggalkan tumpukan buku dan tugas menulis mingguan karenanya. Untuk mewujudkan keinginan seorang ayah yang ingin mengajak anak-anaknya pergi ke gedung bioskop. Bukan ayah Keisha yang kuceritakan di sini ya. Aku dan teman-teman di satu komunitas yang kuikuti mengadakan acara nonton bareng dengan anak-anak panti asuhan. Tentu saja film harus kami sesuaikan dengan usia mereka. Jatuhlah pilihan kami pada film tentang trio remaja yang begitu dicintai penggemarnya.

Kau tahu betul bahwa aku akan memilih Kingsman dengan kisah secret service-nya atau Jupiter Ascending yang menghadirkan Channing Tatum. Jenis film yang menghadirkan teka-teki atau aksi yang membuatku begitu bersemangat. Menangkap ­petunjuk, menganalisis, merangkainya menjadi sebuah jawaban itu menyenangkan. Itulah mengapa koleksi film dan novelku banyak yang bertema seperti itu. Kurasa kau juga sudah pernah menengoknya beberapa.  

Kenyataannya, aku benar-benar duduk di studio tiga kursi F-16. Menonton film itu. Dan aku bingung sendiri, tentang bagaimana mereka bisa mencintai idolanya dengan sangat. Di awal-awal film disuguhi tangis-tangis penggemar yang tak ingin salah satu idolanya keluar dari grup. Kau tentu tahu, aku tidak fanatik pada suatu hal – entah itu penyanyi, penulis, aktor, aktris, atau karya-karyanya. Ah ya, aku melupakan satu – atau lebih dari satu – hal  yang kucintai dengan sangat. Apa? Kau ingin tahu? Sayangnya aku tak mau menjelaskannya di sini. Hei, aku tahu kau akan mengerucutkan bibir jika kujawab seperti itu. Dan kau akan berlagak ingin berhenti membaca suratku ini. Namun kau tak sungguh-sungguh dengan itu. Aku berani bertaruh.  

Lupakan tentang hal yang belum kau dapatkan jawabannya. Terkadang lebih baik membiarkannya mengambang tanpa jawaban. Menjadikannya teka-teki yang harus kau pecahkan. Setidaknya kau akan lebih berusaha. Pun belajar untuk lebih peka. Kau tahu, seseorang pernah mengatakan bahwa tidak semua hal harus kauketahui. Namun manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu. Dan kau – pun sama halnya denganku – harus belajar menjadi manusia yang lebih peka untuk mengetahui sebuah jawaban dari pertanyaan yang memenuhi isi kepala. Sesungguhnya, petunjuk-petunjuk bertebaran di sekitar kita.

Selamat malam dan selamat menangkap petunjuk.
Semoga kita menjadi lebih peka.




Kota Hujan, 19-02-2015




Minggu, 08 Februari 2015

Dear Frogman


Dear Frogman, 
di tempat bahagiamu.


Seperti malam yang lalu, hujan turun lagi kali ini. Secangkir kopi, beberapa lagu, dan berlembar-lembar yang kuberi judul “Dear Frogman (Draft)”. Rasanya sudah cukup lama sejak kutinggalkan dalam folder dengan nama yang sama. Tiap kali aku membukanya dengan segenap keyakinan bahwa aku bisa melanjutkannya, adegan-adegan di waktu yang telah lalu pun menyeruak. Seakan-akan mereka berlomba untuk mendapatkan tempat yang harus kuingat dengan sangat baik. Lalu mereka – kenangan-- mengalahkan keyakinanku bahwa aku bisa menyambung bagian yang satu dengan lainnya dengan cepat. Kau boleh tertawa, karena nyatanya aku memang kalah cepat  dengan mereka. Masih saja begitu.


Diserbu kenangan itu menyebalkan, Frogman. Kau tahu, itu membuatku mendadak rindu. Ya, aku merindukan masa-masa ketika sepotong lagu Ariana Grande berdering di ponselku. Nama Pak Pos yang muncul di sana, bukan namamu -ah, aku lupa bahwa memang tak pernah ada namamu di daftar kontakku. Meski bukan namamu yang muncul, kau pasti ada di seberang sana. Kau mendengarkan dengan diiringi senyum, terkadang tawa tertahan, bahkan mungkin keningmu mengerut mendengar ocehanku. Apakah aku salah? Ah, harusnya kau memberiku satu kenangan lain ketika itu; mendengarmu menyahuti ocehanku. Atau hanya sekadar sapa pun tak apa. Pada akhirnya, hingga kau pergi pun aku tak mendapatkan keduanya. Kau menyebalkan bukan?

Oh, kau tidak menyebalkan, tapi sangat menyebalkan.


Menjelang 80 hari, kudoakan selalu kebahagiaan untukmu.  Kau tahu, Frogman, pada beberapa waktu aku masih saja merasa bahwa kau masih ada, masih bisa kulihat. Aku sungguh mengerti bahwa aku tak boleh seperti ini. Kau tentu tak ingin aku seperti ini. Kau tak perlu khawatir, Frogman, aku sudah jauh lebih pandai mengaturnya kini. Hanya sesekali saja tak apa bukan?


Kurasa aku harus kembali bekerja, Frogman. Kembali pada pekerjaan menyebalkan; mengorek kenangan,  menemukan potongan-potongan yang luput, lalu menyatukannya menjadi satu. Aku tahu bahwa aku sudah melewati hari ketujuh, pun keempat puluh. Betapa jahatnya aku jika sampai melewati hari keseratus.


Berbahagialah selalu di sana, Frogman. 






Menjelang 80 hari pada lembar keempat puluh
Kota Hujan, 08-02-2014










Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 04 Februari 2015

Kepada Tuan Penyair

Kepada Tuan Penyair,
di tempat bahagiamu


Aku menemukanmu dalam potongan berbeda. Jauh berbeda dari kali terakhir kulihat kau di salah satu senja. Tiga ratus hari yang telah lalu. Kau tahu, kau terlihat lebih baik. Hidupmu menyenangkan, Tuan?

Tempo hari, kau bertutur perihal hati yang kembali menemukan muara. Hatimu. Kurasa tak perlu aku mengeja semua rangkaian aksaramu. Aku --bahkan orang lain pun-- tahu bahwa kau sedang berbahagia. Kau selalu pandai membahasakan perasaan menjadi kata-kata yang indah.


Selamat jatuh cinta, Tuan Penyair.





Kota Hujan, 04-05-2015

Senin, 02 Februari 2015

Hai, Tuan Jupiter (4)



Hitunganku bukan lagi hari atau pekan. Pun sudah lewat hitungan keduabelas pada bulan. Mungkin aku tak pandai lagi menghitung, Tuan. Ia selalu kembali ke awal. Aku memulai lagi. Dan lagi. Terus saja begitu. Sedang kau, terus saja berjalan meninggalkan ceceran angkanya.

Cepat atau lambat, kita akan menemukan persimpangan. Kita --aku dan kau-- harus memilih satu. Pada persimpangan itu, kelak kita akan semakin  berjarak. Pun dengan hati. Nanti, ketika masa itu tiba, kita kembali menjadi dua orang asing. Kita berjalan masing-masing. Mungkin di salah satu kelokan, kita akan berpapasan. Bisa saja kita saling bertukar sapa, tak mustahil pula sebaliknya.

Jika akhirnya masa itu menghampiri kita, cukup sebutan 'kita' saja yang berubah. Bukan benar-benar menjelma orang asing. Masih ada sapa, atau sekadar senyum jika kita bertemu. Kuharap begitu.


Semoga kau selalu hidup dengan baik.




Kota Hujan, 02-02-2015

Minggu, 01 Februari 2015

Hai, Tuan Jupiter (3)


Kelak aku akan lebih sering mengunjunginya. Menunggumu kembali. Atau mengantarmu pergi.

Gerimis turun ketika kita melewati Jalan Nyi Raja Permas. Tanpa bicara, kau raih tanganku dan berjalan lebih cepat. Langkahku pun  mau tak mau mengikutimu. Kau menggenggamnya erat. Bahkan terlalu erat hingga terasa nyeri. Kau hanya ingin melindungiku. Aku tahu itu.

Aku mengelus sejenak di mana kau menggenggamku. Tak kuungkapkan padamu rasanya. Namun kau tahu apa yang kusembunyikan.

Maaf, katamu ketika kita berjalan di koridor menuju pintu masuk stasiun. Aku bertanya, permintaan maaf untuk apa. Lalu kau menjawab karena kau tak bisa romantis. Romantis seperti lelaki dalam kisah-kisah yang kutulis. Mendengar alasanmu itu membuatku tertawa. Ya, aku ingat bahwa kau pernah membaca beberapa.

Duniamu memang membuatmu menjadi sosok yang seperti itu. Sosok yang tak romantis katamu. Tak pandai membahasakan perasaan dengan kata-kata indah. Biar kukatakan padamu tentang sesuatu; kau memang benar tentang itu, tapi setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk membahasakannya. Dan kau –bagiku—romantis dengan caramu sendiri.

Kau mengelus pelan puncak kepalaku. Terima kasih, ucapmu sebelum berbalik pergi.




Semoga kita cepat berjumpa. Aku menunggu. 




Kota Hujan, 01-02-2015









Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 31 Januari 2015

Hai, Tuan Jupiter (2)



Kita duduk bersisian, menunggu layar besar di depan sana memutar filmnya. Sebuah film  sci-fi. Entah di menit ke berapa kamu mulai tak merespon komentarku tentang film itu. Hampir di paruh pertama film, sesuatu jatuh di pundak kananku. Kepalamu. Aku terkejut tentu saja. Kamu tertidur (lagi).

Kau tahu, itu bukan kali pertama kau bisa tertidur ketika film sedang berlangsung. Aku masih ingat, pada kali pertama atau kedua, aku marah dan kesal denganmu. Bagaimana bisa kau tidur senyenyak itu, dengan suara film yang terdengar sangat keras memenuhi ruangan? Kau membuatku terlihat bodoh; mengoceh sendiri sementara dirimu entah sudah sampai di alam mimpi yang mana lagi.

Tapi itu dulu. Mungkin aku sudah mulai memahamimu. Aku tak lagi kesal jika kau tertidur (lagi) di tengah pertunjukan film. Aku membiarkan kepalamu tetap di pundakku. Ya, sampai filmnya berakhir. Lampu studio tak lagi padam. Lalu aku akan melihat ekspresimu yang lucu ketika kubangunkan.

Maaf karena tertidur lagi, katamu kali itu. Terlihat sekali bahwa kau merasa bersalah.
Aku tertawa kecil. Bahkan hal seperti itu sudah sangat kumaklumi. Aku bilang padamu untuk tidak pergi nonton saja jika kamu teralalu lelah. Kita bisa tinggal di rumah. Akan kubiarkan kau tidur sementara aku di dapur. Aku akan membuatkanmu kue. Kau suka dengan bolu kopi buatanku.
Nanti kita duduk berdua di balkon rumah, menikmati bolu kopi dan secangkir teh hangat. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Kau menjawabnya; aku hanya ingin membuatmu senang. Lagipula, bukankah ini film yang kamu nantikan sejak beberapa pekan lalu?


Kau selalu mengingat hal-hal kecil seperti itu. Terima kasih.



Kota  Hujan, 31-01-2015






Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta



Jumat, 30 Januari 2015

Hai, Tuan Jupiter

  
Nanti akan ada masa ketika kamu harus pergi lebih cepat dari yang aku mau –mungkin juga kamu. Satu waktu kamu meninggalkan percakapan kita menggantung di ujung telepon, kadang menghadiahiku dengan dengkuran. Lain waktu percakapan kita tiba-tiba terputus. Lebih sering karena sulitnya sinyal di tempatmu, kadang juga panggilan tugas dari atasan. Berikutnya, kamu mengucapkan maaf padaku hingga berkali-kali. Seharusnya tak perlu kamu lakukan itu. Tentu aku sudah tahu bahwa akan lebih sering kujumpai keadaan semacam itu selama aku bersamamu.

Hujan sore itu seolah memberi kita sedikit waktu lagi untuk saling bicara. Kita duduk bersama di satu kedai kopi di pusat perbelanjaan kota Bogor. Kamu bertanya padaku tentang tempat mana lagi yang ingin kukunjungi bersamamu. Aku meletakkan cangkir kopiku di atas meja. Lalu aku memberikan senyum padamu yang sedang menunggu.

Menjawab pertanyaanmu beberapa detik sebelumnya, kukatakan bahwa aku akan menghabiskan sisa sore itu di sana saja. Berdua denganmu sambil menyesap kopi kita masing-masing. Kita membicarakan banyak hal. Sesekali disisipi tawa yang berderai. Kamu selalu pandai membuatku tertawa. Dan aku suka.

Aku mengikuti arah matamu, memandang ke luar sana.  Hujan sudah reda. Waktu berlalu begitu cepat bukan? 

Kuantar kamu pulang sekarang, katamu sambil meraih kantung belanja yang berisi buku-buku.
Lalu aku bertanya –lebih terdengar seperti merajuk— apakah aku bisa sedikit lebih lama bersamamu di sore itu. Kamu hanya menggeleng dan menarik lenganku. Ya, aku bahkan sudah tahu sebelum kamu menjawabnya dengan gelengan kepala.

Akan ada lebih banyak waktu untuk kita nanti, bisikmu pelan ketika kita meninggalkan kedai kopi.
Itu janjimu.

Sampai jumpa di waktu yang tepat.




Kota Hujan, 30-01-2015




Nona Penulismu




Diikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 09 Juli 2014

Senja Kesembilan Bulan Ketujuh


Teruntuk kalian, teman-teman tersayang.
(Icha, Rina, Ani, Lina, Selvi, dan Halida. )



Semua lebur menjadi satu saat kita berjumpa. Pun sudah termasuk dengan rindu di dalamnya . Sebuah pertemuan hangat di hari kesembilan bulan ketujuh pada satu senja . Duduk bertujuh di mana mengalirlah mimpi, canda, tawa, serta rangkaian cerita antara kita.

Masing-masing dari kita tentu tahu, tak mudah mencari waktu di mana kita bisa berkumpul bersama.  Hari kerja dan hari libur yang berbeda menjadi masalah kita. Namun Tuhan selalu baik bukan? Hingga kita selalu disediakan hari untuk bertemu muka, melepas rindu, membagi cerita.

Terima kasih untuk kalian yang sudah mau meluangkan waktu hari ini. Meski hanya dengan acara sederhana di salah satu sisi kota hujan tercinta. Dibalut dengan canda, tawa, dan lelucon konyol membuatnya lebih dari kata sederhana. Terasa kaya akan cinta. Hangat seperti pelukan bunda.



Terima kasih sudah membuatku lupa akan usia. Pun membuatku lupa akan suara. Hingga ia berubah, karena bersama dengan kalian selalu banyak tawa tercipta.  Tingkah kita ketika mengabadikan kenangan seperti remaja di bawah usia. Oh, tentu kita belum tua, hanya sedikit lebih dewasa dibanding mereka. Potret-potret itu akan membuat kalian tersenyum dan menahan tawa  hingga ingin kembali ke masa sebelumnya. Ya, aku juga.



Teman-teman tersayang,
Terkadang kita menyadari sesuatu tentang usia. Akan ada waktunya untuk perlahan menjauh dari  kebersamaan kita. Satu persatu akan mengikuti langkah imamnya, membina rumah tangga. Ia—yang lebih dulu—tak akan mudah mengiyakan janji temu yang terencana. Ya, satu persatu akan menyandang gelar barunya sebagai nyonya. Lalu menggoda yang masih nona tentang kapan akan menyusulnya.
Jadi, siapa yang pertama akan jadi nyonya di antara kita?




Kota hujan, 090714
Dengan penuh cinta,



Desvian Wulan



Kamis, 03 Juli 2014

Surat Untuk Abang di Tapal Batas #2

Teruntuk Abang, di tapal batas.


Ingin kubagi sedikit cerita yang membuatku masih saja menahan tawa ketika mengingatnya.
Sebuah pemberitahuan di akun sosial media membuatku mengalihkan jemariku dari lembar putih kosong itu. Lalu aku tertawa. Seorang adik sepupu bertanya tentang siapa sosok ‘abang di tapal batas’. Tentangmu. Entah bagaimana surat yang pernah kutulis untukmu itu membuatnya begitu percaya. Ya, ia percaya bahwa kamu adalah seseorang yang sungguh nyata dalam hidup kakak sepupunya ini.

Ia kemudian menanyakan tentang pertemuan kita, di mana dan bagaimana. Lagi-lagi aku tak kuasa menahan tawa. Menjelaskan bahwa tak pernah ada temu dan sekadar perkenalan, juga balasan surat itu pun kuceritakan apa adanya. Seperti sepupu-sepupuku di Gengges (itu nama geng kami, keluarga Mbah buyut Karso Redjo), ia malah semakin brutal menggodaku. Hahaha.... Ia bahkan menyamakan kita dengan sepasang tokoh dalam novel yang kusuka (karena profesi tokoh utama sih sebenarnya), Fly to The Sky. Sepasang tokoh utama yang saling mencari satu sama lain dengan berbekal informasi yang terlalu sedikit. Tentu saja jauh berbeda dengan kita. Tak ada yang saling mencari. Hanya aku, mengagumimu. Tidak denganmu.

Tak ada yang membuatku sedih tentang kita. Tentang temu dan sapa yang tak pernah nyata. Tidak satupun, Bang. Kau justru menumbuhkan senyum tiap wajahmu muncul di antara potret-potret dalam album acakku. Jika aku butuh semangat untuk menulis lagi, rekaman video tentangmu seolah membuatku harus kembali. Berlebihan. Memang. Namun begitulah dirimu.

Abang, kucukupkan di sini suratku kali ini. Jangan bosan jika kelak aku mengirimu surat lagi. Kuharap kamu hidup dengan baik di sana. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkahi tiap langkahmu.





Kota Hujan, 03072014



Desvian Wulan

Kamis, 08 Mei 2014

Surat Untuk Abang di Tapal Batas


"Ibu, tugasku sebagai tentara adalah menjaga kedaulatan wilayah negara. Tapi, aku tak bisa tinggal diam ketika ketertinggalan ada di depan mata. Sebab tak hanya musuh yang harus kita taklukan. Perang sesungguhnya adalah bagaimana memajukan kualitas masyarakat. Sekecil apapun kontribusi yang diberikan akan berpengaruh pada kekuatan Indonesia di masa depan."
 -Serda Deka Prayoga-

Dear Abang,  di tapal batas.                             

Tempo hari aku tak sengaja menemukan surat yang kau tulis di atas kertas, untuk ibu pertiwi tercinta. Jujur, aku tergerak untuk mengetahuinya. Ah, maafkan adik ya, Bang, sudah lancang ingin tahu apa yang ingin kau kabarkan.

Dalam surat itu kau mengabarkan pada beliau, tentangmu dan kawan-kawan seperjuangan di tanah perbatasan. Tugas negaralah yang membawamu jauh hingga Entikong yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Menjaga kedaulatan negeri di daerah yang jauh dari hingar bingar modernisasi. Kau dan kawan-kawan harus menyusuri hutan Kalimantan untuk melakukan patroli patok. Ya, hanya patok sederhana yang menjadi tanda perbatasan antara dua negara. Tujuan patroli tersebut tentu saja untuk memastikan bahwa patok-patok itu tidak bergeser, baik karena ulah manusia maupun gejala alam. Meski peluh terus jatuh, kau terus menyemangati mereka. Ah, andai aku bisa menyemangatimu seperti itu, Bang.

Lalu kau mengisahkan sulitnya hidup di tapal batas. Hidup dalam keterbatasan yang katamu membuat kalian tangguh dan saling mendukung satu sama lain. Ya, kehidupan tentara seringkali mengharuskan kalian bisa bertahan dalam keadaan apapun bukan? Dan aku kagum akan itu. Tak banyak yang tahu -pun termasuk aku- bahwa kehidupan saudara-saudara kita di sana sesulit itu.

“Jiwa raganya NKRI, tapi perutnya Malaysia.” Begitu ungkapmu ketika mengisahkan tentang penduduk di perbatasan. Lapangan pekerjaan yang sulit di Indonesia, khususnya daerah perbatasan, membuat mereka mencari uang di negara tetangga yang lebih mudah. Bahkan anak-anak di bawah umur pun banyak yang ikut orang tuanya bekerja di sana, menjadi buruh perkebunan kelapa sawit. Miris. Anak-anak yang seharusnya belajar harus bekerja demi memenuhi perut mereka.

Di desa Sei Beruang, tempatmu bertugas,  air bisa begitu langka hingga kau dan yang lain harus berlomba-lomba menuju genangan air di tepi sawah untuk mandi. Tunggu, katamu mandi di genangan air di tepi sawah? Abang, jika air bersih saja begitu sulit, tentu akan berdampak pada masalah kesehatan ‘kan? Katamu, puskesmas di sana letaknya sangat jauh hingga pos kesehatan Yonif 143-lah yang menjadi harapan bagi penduduk setempat.

Tugas tentara di perbatasan bukan sekedar menjaga dan melakukan patroli patok semata. Ada beberapa tentara yang juga menjadi guru karena jumlah guru di sana yang tak mencukupi. Tak hanya soal guru, fasilitas dan sarana pendidikan pun sangat terbatas. Satu ruangan digunakan untuk beberapa kelas. Tanpa sekat. Tak terbayang bagaimana riuhnya ruangan itu. Bahkan konsentrasi belajar pun akan sulit didapat bila keadaannya seperti itu. Namun semangat belajar anak-anak itu mengalahkan segala keterbatasan.

Lalu aku tersenyum, sesekali tertawa perihal kawanmu yang membawa kebiasaan di militer untuk mendidik anak-anak muridnya. Aku bahkan bisa menghapal lagu seperti yang dinyanyikan anak-anak sekolah dasar itu lho, Bang. Kelak aku akan menyanyikannya untukmu, entah kapan. Dan ternyata, kau pun ditugaskan di PAUD yang ada di daerah Bantan, tiga kali seminggu. Bergabung dengan anak-anak kecil yang butuh perhatian lebih. Abang, kau terlihat keren di sini. (Uupss...) Aku tahu bahwa bukan hal mudah untuk mengatur anak-anak kecil seperti itu. Betapa sabarnya dirimu, Bang. Tapi kurasa kau sangat bahagia dengan dunia mereka. Kau bahkan mengatakan bahwa mereka bisa membuatmu tersenyum ketika sedang bad mood, bisa kembali ke pos dengan senyuman lagi. 


Abang, kurasa aku harus segera mengakhiri suratku, karena tak akan cukup dalam satu-dua lembar saja yang ingin kutulis di sini. Semoga Tuhan memberikan kesehatan, kesabaran, dan semangat yang tak henti untukmu dan semua prajurit negara di manapun. Menjaga ibu pertiwi dengan segenap jiwa raga.

Tetap semangat, Abang!



Kota hujan, 08.03.2014





Ditulis karena terinspirasi  Surat dari tapal batas.