Tampilkan postingan dengan label kampusfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampusfiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Menunggumu

pict from here



Pras meraihku cepat lalu menghempaskan tubuhku ke sudut ruangan. Aku jatuh berdebum. Kau bodoh jika bertanya bagaimana perasaanku. Hancur tentu saja. Hanya sebatas itukah cintanya? Ketika perempuan itu datang menemuinya tiga puluh menit lalu untuk mengakhiri kisah cinta mereka? Lalu melampiaskannya padaku.

Ya Tuhan, ingin rasanya kuhajar dia agar segera waras. Oh, aku lupa bahwa dia memang sudah gila. Benar-benar gila. Gila karena cintanya pada perempuan itu, Lolita.

Dasar pecundang kau, Pras!  

Lima tahun. Mereka berakhir setelah lima tahun sejak aku diserahkan pada Lolita. Akan kuceritakan bagaimana aku bisa berada di antara mereka. Tak tahu bagaimana mulanya mereka bertemu hingga akhirnya saling jatuh cinta, yang jelas aku dihadirkan oleh Pras lima tahun yang lalu.

Pras mendandaniku dengan cantik. Meletakkanku dengan hati-hati pada kotak beledu warna biru, seolah aku adalah hartanya yang paling berharga. Ia bahkan memberiku teman, segulung kertas kecil yang ditulisinya penuh harap. Diserahkannya aku pada Lolita sebagai hadiah pernikahan. Masih kuingat bagaimana reaksi Lolita ketika membukanya sembunyi-sembunyi beberapa jam setelahnya. Perempuan itu menggenggamku erat sambil matanya membaca beberapa deret aksara yang ditulis Pras.

Ketika di perjalanan kau merasakan ketakutan, aku masih menyediakan kata pulang. Dan akan kusediakan rindu dengan segala bentuk yang kau mau.

Lima tahun lalu adalah hari pernikahan Lolita. Dengan lelaki lain. Dan Pras menunggu perempuan itu pulang. Ke rumahnya.







Bogor, 28-10-2015

 Diikutkan dalam #nulisbarengalumni #kampusfiksi

Minggu, 21 September 2014

Just Give Her A Sign


Perempuan itu tersenyum. Lalu tertawa. Bahagia. Ingin rasanya kamu di sana. Menikmati manis senyumnya, renyah tawanya, dan tentu saja matanya yang katamu seperti telaga. Tapi kamu bisa apa? Hanya diam mengawasinya. Lalu hancur ketika lelaki lain datang. Mendapatkan yang kamu inginkan. Dan kamu mundur pelan-pelan seolah tak ingin jejakmu tertinggal.

Kamu menelanjangi dinding putih itu dari bingkai-bingkai kenangan. Semua. Tak satupun kamu biarkan tertinggal. Tidak juga hatimu yang sudah remuk. Kamu menyerah. Semudah itu.


Sedang di sana ia tahu kamu ada, mengawasinya. Ia melihat punggungmu yang menjauh. Dan ia bertanya-tanya, mungkinkah kamu sudah menyerah? Tanpa kamu tahu, ia sama remuknya denganmu. Ia ingin membagi tawanya denganmu. Mengulurkan tangannya untukmu dan membantumu menyembuhkan luka dalam hatimu. Ia tidak mengabaikanmu. Ia hanya sedang menunggu. Menunggumu. 









(Tulisan dengan 123 kata ini diikutkan dalam #Fiksilaguku @KampusFiksi
terinspirasi dari lagu Breaking Benjamin-Give Me a Sign )

Minggu, 11 Mei 2014

Aquamarine

“Suatu hari, kita akan kembali lagi ke tempat ini.”
"Tentu saja,” balasnya santai. “Tak perlu kata 'suatu hari', karena minggu depan kita juga akan bertemu lagi di sini, di tempat ini,” tambahnya sambil tersenyum padaku. Aku memaksakan kedua sudut bibirku naik, membalas senyumya. Harapanku, lebih dari sekedar itu.

           
            Aroma khas kopi menguar dari segala penjuru, menyapa setiap indera penciuman manusia. Temasuk kita yang akhirnya tergoda untuk membuka pintu kaca yang tercetak logo berwarna hijau itu ketika hujan tak kunjung reda. Kita memesan secangkir double espresso dan segelas besar mocha frappuccino pada barista cantik berkuncir kuda.
Beruntung sudut favorit kita di cafe itu tak ada yang menempati lebih dulu. Sepasang sofa berwarna coklat tua yang dijeda meja bundar kecil warna senada. Kita berdua menikmati kopi masing-masing sembari membicarakan banyak hal. Lagu Secondhand Serenade, album terbaru Maliq 'n d'Essentials, buku-buku sci-fi koleksimu, dan entah apa lagi, masuk dalam obrolan kita.
Sesekali aku melirik ke luar sana. Beberapa anak lelaki yang kuyup dan kedinginan. Bibir mereka pucat, bergetar. Menawarkan payung-payung mereka pada pengunjung demi beberapa lembar rupiah.
“Buana, kau tak keberatan ‘kan kalau aku membagi donat-donat ini pada anak-anak itu?” tanyaku hati-hati. Telunjukku mengarah pada anak-anak lelaki yang sedari tadi kuperhatikan. Kulihat matamu mengikuti telunjukku.
            Kamu mengangguk. Senyum yang menghadirkan gelenyar aneh tiap aku melihatnya pun tak luput kau sisipkan.
Segera kuambil satu kotak berwarna kuning dari kantung belanja kami tadi. Tak sabar membagi sedikit kebahagiaan pada anak-anak itu.
**
            Iced Frappucinno dalam gelas besarku sudah sisa setengahya ketika aku membuka pesan singkat ketiga. Mataku memandang jauh ke luar pusat perbelanjaan di pusat kota ini. Sebuah tugu dengan replika senjata khas tanah Sunda di tengah kota pun masih sedikit tertangkap pandangan mata dari sini.
Tugu Kujang. Gagah berdiri meski dicumbu teriknya matahari, dibalut polusi. Bogor, mulai menjelma ibukota. Ah, itulah sebabnya aku lebih suka sepanjang jalan Ahmad Yani menuju Sudirman ataupun di sepanjang Jalan Padjajaran. Pepohonan besar dan hijau menaungi sepanjang jalan. Teduh. Sejuk. Lalu aku memindai kenangan ketika kamu menantangku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan itu.
Sudahlah. Itu masa lalu.
            Kulirik jam tangan warna cokelat yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sepuluh menit berlalu. Kamu terlambat, seperti biasa. Aku menghela napas sejenak. Lalu memutuskan untuk mengambil buku yang belum tamat kubaca.
“Ayla?” suara itu mengurungkan niatku untuk melanjutkan bacaanku.
Itu kamu, orang yang kutunggu. Ketika tubuhmu yang tinggi tegap itu tertangkap pandang mataku, sesuatu bergemuruh di dalam diriku. Rasanya nyaris sama seperti dulu, namun aku buru-buru mengenyahkannya.
Aku harus tahu diri.
Kutarik kedua sudut bibirku ke atas. Novel Laura Florand pun kututup kembali. Kamu kemudian duduk di seberangku. Meja kayu bundar menjadi sekat antara tubuh kita.  
            “Maaf terlambat lagi,” ujarmu sambil memamerkan senyum yang masih saja menghadirkan getaran yang sama, membuat jantungku berkali-kali lebih cepat detaknya. Hanya saja kali ini berbeda. Aku harus mengusirnya.
“Sudah lama?” tanyamu.
            Aku menggeleng. “Baru sepuluh menit,” jawabku datar. Raut wajahmu berubah mendengarnya.
            “Maaf, Ayla,” ujarmu terlihat menyesal.
Aku tersenyum hambar. Bukan karena memaklumi keterlambatanmu, namun mendengar caramu menyebutkan namaku. Kamu menyebutkannya dengan lengkap. Ayla. Bukan ‘Ay’ yang terkadang diucapkan dengan nada manja. Ah, lupakan itu. Aku tahu kamu tak akan lagi memanggilku seperti itu.
            “Tidak apa-apa.”
            “Terima kasih karena kamu mau menyempatkan waktu dan menyanggupi permintaan yang kukirim lewat email dua minggu lalu,” katamu. “Aku bahkan sempat takut kamu tak mau menanggapi emailku.”
            Lagi-lagi aku memaksakan diri untuk tersenyum, mencoba memberi tanda padamu kalau aku selalu baik-baik sejak perpisahan kita setahun lalu.
“Saya diharuskan untuk bersikap profesional untuk menanggapi customer,” jawabku kaku. “Menanggapi permintaan desain yang anda kirimkan via email dua minggu lalu pada kami, berikut saya bawakan beberapa contoh desain yang mungkin sesuai dengan permintaan anda,” ujarku dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. Kuputar komputer jinjingku agar klien-ku bisa melihat desain yang sudah kusiapkan dari Surabaya, tempatku bekerja. 
            “Ayla,” panggilmu pelan. Mengabaikan slide-slide yang tersaji di hadapanmu.
         "Untuk contoh gambar yang ini,” kataku sambil menunjukan gambar pertama.  “Cincin dengan material platina dan batu saphire.”
Jemariku berpindah ke gambar kedua. “Untuk yang ini cincin dengan material emas murni dengan bentuk hati. Klasik, sederhana, namun bisa tetap elegan.”
            Sementara aku terus menjelaskan detail-detail gambar cincin di slide selanjutnya, kamu hanya diam dan membiarkanku bicara, tak tahu apakah kamu benar-benar mendengarkan penjelasanku atau tidak. Pun selama itu, aku tak berani memandang matamu. Bahkan untuk sesekali mencuri lihat dimana sepasang manik mata warna hitam yang dulu begitu sering membuatku rindu pun aku tak berani.
            Andai kamu tahu bahwa aku rindu. Padamu.
**
            Aquamarine.
            Batu mulia berwarna biru yang cantik. Aku terinspirasi untuk menambahkan batu itu dalam desain cincin yang sedang kugambar. Dua hari lalu aku menemukannya dalam halaman kesekian dalam sebuah judul buku yang kubaca di perpustakaan universitas.
            Aku berhenti sejenak, menilik hasil goresan pensilku. Seporsi sirloin steak yang mulai dingin pun kuabaikan sejak pelayan Steak and Shake mengantarkannya ke meja ini. Senyumku mengembang ketika daya imajinasiku membayangkan wujud tiga dimensi dari desain yang baru selesai kugores.
            Cincin cantik bertahtakan aquamarine itu hancur tak sampai hitungan menit bersamaan dengan menggelapnya pandangan mataku. Aku menggeram sembari menyebutkan nama seorang lelaki, namamu. Detik berikutnya cahaya terang menyerbu pandanganku diiringi bunyi kikik tawa  yang terdengar menyenangkan.
            Kamu kemudian mengambil gerakan untuk duduk di sampingku setelah sebelumnya memberiku isyarat dengan tangan padaku untuk menggeser tubuhku ke sebelah kiri. Ruang yang kuberikan pun langsung saja ditempati oleh tubuhmu yang tentu saja lebih besar dariku.
“Gambar apa?” tanyamu sambil berusaha mencuri lihat sketch book-ku. Aku langsung mendekap erat bukuku dan tak ingin memberimu ksempatan untuk melihat cincin pernikahanku. Ah ya, walau baru sekedar angan-angan saja.   
            Bibirmu mengerucut. “Pelit.”
            “Biarin,” balasku. Kamu tidak akan memaksaku untuk memperlihatkan apa yang kubuat di lembaran benda kesayanganku ini karena kamu tahu aku sangat keras kepala dan tak suka dipaksa. Alih-alih memaksa, kamu mengalihkan pembicaraan.  
            “Jalan kaki sampai Istana Bogor, berani nggak?” tantangmu ketika aku hendak mengiris sirloin-ku.
            “Cuma sampai Istana? Sampai Surken juga dijabanin!”
            "Kalau kamu kalah, kasih aku lihat gambar yang tadi ya?" Mukaku memerah. Bukan soal gambar, tapi tulisan tanganku di bawahnya. Tentang harapan untuk mengenakannya di hari pernikahanku dengannya.   
**
            Seorang perempuan dengan kacamata hitam datang menginterupsi. Syal warna abu yang dililit di leher dan sisanya dibiarkan jatuh di depan dada makin membuatku iri. Kamu ternyata menghadiahi syal itu untuknya. Bukan untukku.
            Seulas senyum ia berikan padaku. “Hai,” sapanya ramah. Aku bisa melihat sorot matanya yang bersahabat ketika ia melepas kacamatanya.
            Hatiku mencelos. Lagi.
            “Nania.” Ia menyebutkan namanya, pelan. Tentu saja aku sudah tahu meski ia tak menyebutkannya. Memangnya siapa yang tak mengenalnya. Top model yang tahun lalu menjadi finalis ajang Miss Indonesia.
            “Ayla,” balasku.
            Nania yang cantik itu duduk di sisimu. Serasi. Seolah ada yang meneteskan air garam di atas lukaku ketika melihat kalian saling bicara.
            “Tapi aku suka yang desain aquamarine ini,” ujarnya setelah melihat-lihat slide yang tadi kujelaskan panjang lebar padamu. “Menurutmu gimana, sayang?”
            Kamu tersenyum. “Aku juga suka,” jawabmu dengan melirik aku di ujung kalimat.
            “Oke, kalau gitu kita pilih yang ini.” Ia mengambil keputusan dengan cepat dan mantap. Lalu menyerahkan sisanya pada asistennya. Berbeda denganmu yang terlalu lama menimbang-nimbang. Sama seperti ketika akhirnya kamu memilihnya  dan meninggalkanku.
            Kamu dan perempuanmu lalu pergi setelah berpamitan dan menjabat tanganku. Meninggalkanku berdua dengan perempuan muda yang tadi dikenalkan sebagai asistennya. Kulihat punggungmu menjauh bersamanya lalu hilang di balik kaca besar itu. Lamat-lamat kudengar suara Sara Bareilles mengalunkan lagu Gravity.
            Ah sial, mau membuatku semakin sedih saja rupanya.
            Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Darimu. Hanya satu kata. Maaf.
            Jemariku dengan cepat mengetikkan balasan.
            
      Aku sudah menepati janjiku, memperlihatkan hasil goresanku karena aku kalah. Cincin aquamarine itu.


****


Selasa, 06 Mei 2014

Last Minute


            “Kau tidak mengenalku?” Perempuan berambut mahogani menggeleng pelan ketika seorang lelaki asing menanyakan itu padanya.
            “Carmel, semudah itukah kamu melupakanku?” Laki-laki dengan jaket hitam itu terlihat frustasi. Jawaban perempuan bernama Carmel itu jauh dari yang diharapkannya.  “Aku Bill. Brilliant Miller.”
            “Maaf Bill -atau siapapun namamu- aku tak pernah merasa pernah mengenalmu, jadi menyingkirlah dari sini dan biarkan aku pergi. Ok?!” Gadis itu mengeluarkan kalimatnya nyaris tanpa jeda. Seperti menumpahkan sesuatu yang terlalu lama disimpan.
            Brilliant Miller menggeser pelan langkahnya beberapa ke samping, memberi celah untuk Carmel. Sepasang mata hazel milik Carmel menatap sinis pada Bill sebelum kedua tungkainya melangkah. Kentara sekali bila ia tak menyukai Bill. Carmel pergi. Meninggalkannya. Lagi.
            Bill menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu taman itu. Otaknya masih mencari tahu mengapa Carmel tak bisa mengenalinya.
            “Pasti ada yang salah!” Bill berujar penuh keyakinan.
            **
            “Ben selingkuh lagi!”
            Lelaki itu, Bill, memutar bola matanya. Kasus yang sama untuk kesekian kalinya meluncur dari bibir gadis di depannya. “Kau saja yang bodoh,” komentarnya. “Sudah tahu brengsek tapi masih saja kau jadikan pacar.”
            Perempuan itu menggeram. “Bill! Aku butuh saran, bukan ocehanmu yang sama sekali tak membantu!”
Langkah Carmel berhenti mengikuti Bill.
“Saran?! Kau pikir semua saran pernah yang kuberikan tentang hubunganmu dengan si brengsek itu bisa kau lakukan, hah?” Emosi Bill jelas terlihat. Kesal.
“Kau menyebalkan!”
“Kau lebih menyebalkan! Gadis bodoh!”
Sepasang hazel milik Carmel menatap tajam penuh kemarahan pada laki-laki di hadapannya. Carmel memutar arah tubuhnya, langkah kakinya melangkah cepat, meninggalkan Bill yang masih tak mengerti dengan sikap gadis bersurai mahogani itu.
            “Carmel!” Suara Bill yang terdengar keras pun tak dihiraukan gadis itu. Carmel semakin mempercepat langkahnya. Perempuan itu terlalu mudah tersinggung. Bill masih bergeming di tempatnya, memandang punggung itu menjauh.
**
            Kakinya memutar balik ke arah restoran milik Paman Ed. Sebuah restoran tua di daerah Buenau.  Pintunya berderit ketika Bill mendorongnya masuk. Restoran itu sepi pengunjung.  Tujuan Bill kembali ke restoran Paman Ed adalah sebuah brankas besar yang ada di ruang kerjany. Lemari besi yang membawanya kembali ke Buenau, menemui Carmel untuk menebus kesalahannya dulu.
            Bill menyibak kain putih yang menutupi brankas yang tingginya hampir setinggi pundaknya. Brankas yang sama dengan yang disimpan Paman Ed di gudang rumahnya di Paris.  Ia meneliti lagi angka-angka yang tertera di putaran kuncinya.
“Sial!” Bill mendengus kesal. Ia salah memutar angka-angka itu. Pantas saja Carmel tak mengenalinya. Seharusnya ia datang satu tahun lebih awal dari yang seharusnya, ketika Carmel meninggalkannya di lorong universitas mereka.
Waktunya hanya tersisa dua puluh menit.
**
“Sebelum pergi, Carmel menitipkannya untukmu, Bill.” Mom menyodorkan sebuah surat pada Bill. Lelaki itu menerimanya dan segera meninggalkan Mom untuk masuk ke dalam kamarnya, membaca surat dari Carmel.
Bill membaca tiap kalimatnya pelan-pelan seakan takut akan terlewat satu kata saja bila ia membaca terlalu cepat.
Seketika penyesalan tumbuh dalam hatinya. Ia menyadari kebodohannya dengan membiarkan Carmel bersama Ben hingga akhir hidupnya. Meninggal dalam pelukan Ben. Andai ia tahu perasaan yang selama ini disimpan gadis itu untuknya. Cinta. Ya, Carmel hanya mencintai lelaki yang pernah menyebutnya gadis bodoh karena masih berpacaran dengan Ben.
“Gadis bodoh,” lirih Ben. “Kenapa harus pacaran dengan si brengsek itu jika kau mencintaiku?” Suaranya tertahan di antara isak.
Mesin waktu.
Ide itu terlintas begitu saja di kepala Bill. Ia segera bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya. Paman Ed adalah tujuannya. Lelaki tua yang pernah bercerita tentang brankas yang bisa membawanya melintas waktu. Tak ada lagi yang tahu soal itu selain Bill kecil yang penuh rasa ingin tahu dan pamannya yang berbeda dengan paman dan bibinya yang lain.

“Sekarang putar kunci-kunci itu ke waktu yang kau inginkan,” perintah Paman Ed di depan brankas yang masih disimpannya di gudang bawah tanah rumahnya. Ia pernah menggunakannya. Dulu.
Bill dengan hati-hati memutarnya sambil diawasi Paman Ed. Kepalanya mengangguk ketika jemarinya selesai mengatur waktu. Ia sudah siap.
“Ingat, waktumu hanya empat puluh menit. Lebih dari itu, satu menit dihitung dengan satu harimu di masa sekarang akan hilang,” jelas Paman Ed serius.
**
“Carmel...”
Pemilik nama yang dipanggil menoleh, mencari-cari sumber suara yang sudah meneriakkan namanya begitu keras.
“Hah? Kau lagi?” Carmel mendengus kesal begitu lelkai yang memanggilnya sampai di hadapannya. “Bukankah sudah kubilang kalau aku tak mengenalmu, hah?”
Napas Bill belum teratur, dadanya masih naik turun. “Carmel, bisa beri aku waktu lima sampai sepuluh menit?”
Hazel kembar itu memutar. “Lima menit, oke?”
Kepala Bill dengan cepat mengangguk. Lima menit lebih baik daripada tidak sama sekali, pikirnya. “Oke. Lima menit.”
“Carmel, aku hanya ingin meminta maaf padamu atas kebodohan yang pernah kulakukan padamu. Maaf jika aku terlalu bodoh dan lambat untuk menyadari perasaanku.” Gadis itu memandang Bill dengan tatapan aneh.
“Kau memang belum mengenalku sekarang. Tapi kau harus mengingat ini, satu tahun lagi kau akan bertemu denganku, Brilliant Miller, di sebuah restoran tua di Buenau. Akan banyak cerita tentang kita di sana.”
Carmel masih menyimak tanpa minat.
Je’t aimee, Carmellia Manhattan,” ujar Bill akhirnya.
Oke, five minutes has gone, Man.” Gadis itu memberi tahu sebelum akhirnya melenggang pergi dengan wajah sedikit ketakutan.
**
Paman Ed berdiri di depan pintu brankas dengan wajah cemas ketika Bill melangkah keluar dari brankas tua miliknya. “Kau baik-baik saja ‘kan, Bill?” tanyanya cemas.
Bill menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lesu. Ia gagal.
“Kita memang tak bisa mengubah masa lalu, tapi setidaknya kau sudah berusaha, Bill,” ujar Paman Ed sambil menepuk pundak keponakannya itu.
Bill tertunduk, merenungi kebodohannya sendiri. Carmel sudah meninggal. Tak ada gunanya juga ia kembali ke masa lalu. Ya, Paman Ed benar. Masa lalu memang tak akan bisa diubah. Oleh mesin waktu sekalipun.

***

Sabtu, 19 April 2014

a Candle

from: here


Kau tahu rasanya jatuh cinta?
Iya, aku pun begitu. Padamu. Seharusnya kita saling jujur tentang rasa yang pernah menelusup ke dalam hati. Maaf, mungkin aku yang terlalu bodoh. Menganggap remeh soal waktu. Kupikir akan ada lebih banyak waktu untuk kita. Dulu.
Ternyata aku salah. Aku kalah, Claire. Aku sakit ketika kau memilih dia meski kau sendiri tahu hatimu adalah untukku.

Kau tahu, Claire, kau selalu cantik dalam balutan apapun, terlebih gaun putih yang melekat di tubuhmu itu. Ah Claire, harusnya kau kenakan itu ketika bersanding denganku. Bukan dia.
Kini kau mendadak terkenal. Banyak orang yang ingin bertemu dengan kekasihku, pengantin yang hilang. Tujuh hari lalu. Kali ini aku tak akan membiarkanmu pergi. Tidak lagi.


Parafin yang kubakar sudah cukup panas untuk mengabadikanmu. Untukku.




...................................
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti tantangan dari @KampusFiksi yaitu  #FiksiLaguku yang harus 123 kata. :o
Terinspirasi, eh nggak terinspirasi juga sih, tepatnya karena seharian ini dicekoki lagunya Ariana Grande ft Nathan Skyes - Almost is Never Enough. Hhihihihiiii...


Kota Hujan,
19042014

Rabu, 16 April 2014

Dalam Pelukan

Sudah lewat tengah malam. Anak lelaki dengan kaus kebesaran itu belum juga terlelap. Duduk mendekap lututnya di pojok ruangan sempit itu. Tak berkawan. Bagai virus yang harus dijauhi dari radius beberapa kilometer.
Matanya menerawang jauh, coba meraih senyum-senyum yang datang membelai ingatannya. Dadanya bergemuruh seperti gunung yang akan erupsi. Tangannya menyeka beberapa bulir air mata yang lolos. Karena rindu.

“Kamu harus percaya kalau kebaikan itu menular.”

“Menular? Maksudnya?” Seorang anak perempuan bertanya dengan dahi berkerut.

“Setiap kebaikan yang kita lakukan akan menciptakan kebaikan-kebaikan lainnya,” jelasnya dengan sabar pada anak perempuan di sampingnya.

“Termasuk sama Bapak yang suka mukulin kita? Atau preman yang suka malak kita itu?”

Anak lelaki itu tersenyum. “Berbuat baik itu nggak boleh pilih-pilih. Kita harus baik sama semua orang, termasuk bapak atau preman-preman itu.”

Mendengar penjelasan itu, anak perempuan berambut tipis lantas mendengus kesal. “Mereka kan jahat sama kita, kenapa juga harus dibaikin!”

“Kamu ingat nggak yang Ibu bilang ke kita bahwa nggak ada kebaikan yang sia-sia?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan anggukan kecil si anak perempuan. “Nah, lain kali kalau anak-anak itu mengejekmu, jangan dibalas dengan kekerasan ya. Apalagi sampai melempar batu ke kepalanya.”

“Maaf ya, Bang.” Suaranya terdengar sangat pelan. Ia menunduk merasa bersalah.

Lampu di atas tiang telah berwarna merah. Ia buru-buru beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan anak perempuan di sampingnya. “Udah merah, ayo ngamen dulu.”
**
Tangisnya pecah di atas gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. Barisan huruf dan angka pada nisannya pun mulai pudar, tapi ia masih hapal dengan apa yang tertulis di sana. Napasnya memburu. Debar jantungnya mengencang luar biasa. Peluhnya jatuh bercampur air mata, membuat wajahnya basah. Ia ketakutan.

Dalam isak tangis, ia memanggil-manggil yang sudah terkubur di bawah sana. Berharap yang dipanggilnya datang dan memberikannya.
“I-bu....”

Wajahnya jatuh di atas tanah. Tangan kecilnya berusaha menjangkau gundukannya. Memeluk makam ibunya. Langit di atasnya semakin pekat, namun tak dihiraukannya. Ia merasa berada dalam pelukan hangat ibunya di tiap malam. Melantunkan doa sambil mengelus kepalanya sampai ia tertidur. Ia terlelap. Di atas pusara ibunya.
**
“Siapa yang membunuh adikku?!” Suaranya tak pernah setinggi ini jika sedang berbicara pada orang lain, termasuk bapaknya yang sering memukuli jika ia pulang dengan jumlah recehan yang tak banyak. “Siapaaa...!!”

Seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar menggebrak papan catur yang sedang dimainkannya. Preman yang sering meminta jatah dari hasil ia mengamen di lampu merah. Rokok yang belum habis dihirup pun dibuang dengan kasar. Preman bertato naga itu tertawa.

“Aku,” jawabnya enteng. “Aku yang sudah membunuh bocah ingusan itu. Lalu kau mau apa?” tantangnya pada anak lelaki yang matanya sedang berapi-api.

“Kalau adikmu yang bodoh itu tidak mencoba memukulku dengan botol, pasti ia masih hidup sekarang. Dasar bocah tolol.” Kali ini preman dengan tato macan di bisep kirinya yang berbicara. Lalu disambut dengan tawa preman bertato naga.

Anak lelaki itu makin berapi-api melihat wajah-wajah itu tertawa. Tanpa rasa dosa. Setan-setan sedang menguasai mereka. Berpesta pora.

Darah segar mengucur deras dari perut lelaki bertato naga, membasahi kaus tipis hitamnya. Seketika tawa yang begitu membahana pun lenyap meninggalkan gema. Sebuah pisau dapur berbalut amarah setan telah ditancapkan anak lelaki itu.

Tetiba ketakutan menelusup dengan cepat ke dalam hati anak lelaki itu ketika melihat preman bertato naga limbung.

“Dasar bocah brengsek!” Preman satunya menggeram marah sambil berusah menahan tubuh temannya.

Anak lelaki itu mundur perlahan. Wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kian kencang. Tak sampai hitungan detik, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit kumal itu mengambil langkah meninggalkan kedua preman itu.
Ia berlari. Terus berlari.
**
Belum pernah ia merasakan ketakutan yang seperti ini sebelumnya. Ia benar-benar kasihan. Hidupnya menyedihkan. Sendirian.
Masih dalam posisi yang sama sejak sipir melewati selnya, ia membuka kedua telapak tangannya. Dipandanginya lekat-lekat tangan itu. Sudah dua anak satu selnya yang harus dilarikan ke klinik karena ulahnya.

“Apa tangan ini hanya bisa menciptakan kejahatan, Ibu?”

Air matanya lolos lagi. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya yang menutup wajahnya pun basah air mata. Tetiba ia merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya yang berguncang karena tangis. Seperti pelukan Ibu.
**
w