Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juli 2014

Hujan Turun Lagi

picture from weheartit

Hujan turun lagi, Kirana.
Aku melihatmu dari balik jendela kamarku. Berlari-lari di bawah rinai hujan. Sesekali menari, berputar-putar sambil bergandeng tangan dengan temanmu. Kamu tahu Kirana, aku ingin sekali bisa keluar dari kehangatan kamarku dan berlari menujumu. Aku ingin menari di bawah hujan. Sepertimu. Namun kamu juga tentu tahu Kirana, Ibu tak akan membiarkanku melakukan itu. Aku harus tinggal di dalam kamar dan berselimut tebal. Dan tentu saja, aku hanya bisa memandang sedih ke luar jendela kamarku. Menyaksikan gadis-gadis berpesta.

Kamu menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasimu di balik jendela yang buram berembun. Aku menangkap senyummu. Senyum yang melengkung di bibir pucatmu. Seharusnya kamu cepat pulang dan menghangatkan tubuhmu yang menggigil itu, Kirana. Pulanglah... jangan membuat Ibu sedih jika kamu sakit karena terlalu lama bermain hujan. Jangan marah padanya jika ia banyak melarangmu ini itu. Ibu terlalu sayang padamu. Biar kuberitahu padamu, diam di dalam kamar dan hanya memandang iri pada hujan di luar sana sungguh menyebalkan, Kirana. Maka cepatlah pulang dan menurut pada apa yang Ibu katakan.

Pintu kamarku berdecit, membuatku mengabaikan dirimu. Ibu berjalan menuju ranjangku dengan membawa semangkuk sup buatannya. "Sudah waktunya makan, Kirana." Ibu duduk di sampingku, menyuapi anak gadisnya dengan sabar. Kamu tahu Kirana, aku sungguh menyesal ketika aku justru berlari membawa marah pada Ibu karena menyuruhku berhenti bermain hujan. Andai saja bisa mengulang waktu, aku akan segera pulang. Dan Kirana--aku atau kamu, sama saja--tak akan menghabiskan waktunya di atas ranjang sambil memandangi hujan dari balik jendela saja.







Kota Hujan, 26072014

Jumat, 02 November 2012

Ketika




Melupakan sesuatu itu tidak semudah ketika kita berucap. Butuh waktu adalah hal yang sudah pasti. Terkadang ingatan itu justru makin melekat ketika kita mati-matian untuk melupakan. Namun jika membiarkannya tetap hidup dalam ingatan, bagaimana kita bisa beranjak dari masa lalu sementara waktu terus saja berlalu tak mau tahu?

Hujan deras menahanku di tempat ini, stasiun Bogor. Sudah limabelas menit ku habiskan dengan suara hujan bak pisau tajam perlahan membelah ingatanku, berusaha mencari-cari luka yang masih tersisa. Luka itu pun tentu saja masih ada, membiru. Tak ada yang tahu bagaimana aku terlalu pandai menyimpannya bertahun-tahun. Hidup bersama luka itu terlalu menyakitkan.

“Kamu tak harus pergi,” katanya menahan lenganku.
Aku melepaskan tangannya. “Bukankah katamu aku harus berani melawan rasa sakit ini?”
“Ketika kamu siap, kataku.”
“Aku sudah siap!”
Ia menggeleng pelan. “Belum, kamu belum siap.”
Aku mengernyitkan keningku. “Aku akan tetap tinggal di rumah dengan sekotak tisu kalau aku belum siap saat ini.”
“Kamu hanya berpura-pura siap, tapi tidak benar-benar siap,” jawabnya tegas.
Aku terdiam. Kalimat yang baru saja diucapkannya terulang dan memenuhi kepalaku. Benarkah aku belum siap? Lalu mengapa aku berani melangkah jika ternyata aku benar-benar belum siap?
“Kamu masih punya waktu untuk kembali jika belum siap, kereta akan berangkat sepuluh menit lagi,” katanya mengingatkan.

Dress selutut warna biru muda yang kukenakan khusus untuk acara hari ini pun basah. Bukan basah karena air hujan yang deras, tapi air mataku yang mengalir deras. Aku menoleh ke arahnya yang masih duduk di sampingku.

“Danu…, “panggilku. Ia pun menoleh padaku, menunggu jawabanku. “Kamu benar, aku memang belum siap.”
Dia masih saja diam seperti tahu bahwa kalimatku masih belum selesai. “Aku belum siap untuk melupakan masa lalu dengan luka yang masih tersisa di sini,” kataku dengan isak.  “Tapi aku ingin bisa melakukannya…”
Digenggamnya tanganku pelan. “Aku tahu kamu pasti bisa, dan aku tahu kamu akan tetap pergi meskipun aku mencoba menahanmu.” Dia melepaskan tangannya kemudian. “Pergilah, aku akan siap menopangmu ketika kamu mulai rapuh dan hendak jatuh.”
Suara dari speaker besar memberitahukan kalau kereta akan segera berangkat. Danu, lelaki itu tersenyum padaku sekali lagi. “Sudah waktunya kamu untuk berangkat sekarang.”
Aku mengangguk. “Boleh aku memelukmu? Aku butuh kekuatan lebih untuk menghadapi beberapa jam kedepan.”
“Tentu.”

Aku pun merasakan aliran hangat mengalir di tubuhku, seolah Danu benar-benar mengirimkan energi-nya padaku agar aku tetap bisa berdiri menyaksikan seseorang di masa lalu bersanding dengan rona bahagia penuh cinta di pelaminan. Seseorang yang pernah jadi hal terindah dalam hidup hingga membuatku berani mempunyai mimpi-mimpi besar yang ingin kulalui bersamanya. Hingga pada kenyataanya, semua itu hanyalah sekedar mimpi yang harus dibunuh pelan-pelan oleh kejutan dalam sebuah undangan berwarna putih yang dikirim ke alamatku sepuluh hari yang lalu.

Masa lalu yang indah terkadang bisa menjadi musuh terbesar dalam hidup kita.  Tak peduli seberapa merdu suara hujan yang pernah jadi indah itu menjelma menjadi pisau yang makin merobek-robek lukaku, karena aku tahu sudah ada masa depan yang menantiku datang untuk mengobati sakit yang terlalu lama hidup.
***

Minggu, 29 Januari 2012

A man in the bus

           Langit sudah mulai gelap ketika aku tiba di halte, menunggu bus kota jurusan Bogor. Kupasang headshet di telingaku dan mulai memutar lagu-lagu yang bisa menemaniku membunuh rasa sepi dan dingin karena harus menunggu bus tanpa teman. Lagu-lagu dari penyanyi pop-rock, Avril Lavigne, sedikit mampu mengusir rasa jenuh. Cukup lama juga aku menunggu kendaraan rakyat yang murah meriah itu, sampai akhirnya yang kutunggu-tunggu bersama orang-orang lainnya datang juga.
           Sore itu bus lumayan ramai dan penuh hingga aku terpaksa harus berdiri sampai ada tempat duduk kosong. Tangan kananku berpegangan pada besi yang ada di atas kepalaku dan tangan kiri mendekap erat tas kerjaku, satu tindakan kewaspadaan terhadap hal-hal kriminal yang kerap terjadi di angkutan umum. Di depanku berdiri seorang pria setengah baya dengan pakaian yang agak lusuh tapi satu yang membuatku ingin keluar dari bus yang sebenarnya sudah overload ini adalah bau badannya yang sangat menusuk hidung. “Ya ampun pengen muntah rasanya, udah ga mandi berapa hari sih ni orang?!” gerutuku dalam hati. Belum lagi kalau supir bus menginjak rem seenaknya sehingga tubuhku terpaksa condong ke depan, bahkan nyaris jatuh, dan aroma tak sedap itu makin membuat perutku mual. Tapi setiap kali itu terjadi, seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan tampan (menurutku) di belakangku dengan sigap memegangi pundakku agar aku tak jatuh. Aku melempar senyum dan berterima kasih padanya.

            Beruntungnya aku tak perlu berlama-lama menikmati aroma yang sangat menusuk hidung ini, seorang wanita turun dan aku dengan sigap langsung menempati tempat duduk dekat jendela, bekas wanita tadi. Setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang. Air hujan mulai membasahi kaca jendela di samping kananku. Aku sesekali menengok ke arah laki-laki yang tadi membantuku. “Ganteng!” pujiku dalam hati dan akupun senyum-senyum sendiri tiap kali aku menengok ke arahnya. “Ya Tuhan, semoga orang yang duduk di sebelahku ini cepat turun biar si Mas Ganteng itu duduk di sebelahku,” kataku berdoa dalam hatiku dan aku tertawa kecil tentang doa yang agak konyol barusan. Hei, apa sih yang kupikirkan?!
            Meski aku berusaha sedikit jaga image, tetap saja mataku ini bandel dan sesekali mencuri pandang kearahnya. Tubuhnya yang tinggi, rambut cepak, dan senyumnya yang hangat. Oh God!aku ini kenapa sih?. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kurogoh kantung tasku mencari benda kotak dan tipis, ipod ku yang tadi sempat kumasukkan kembali kedalam tas sebelum masuk bus. Aku memasang headshet di kedua telingaku dan memainkan lagu-lagu kesukaanku alih-alih memandangi laki-laki itu.

            Aku memandangi suasana hujan lewat jendela yang mulai buram karena mengembun. Udara dingin dan rasa lelah karena kesibukanku di kantor hari ini membuatku mengantuk dan matakupun terpejam perlahan. Aku tertidur dan sudah masuk dunia mimpi yang mana lagi. Entah kenapa aku merasakan suatu keadaan yang sangat nyaman dan tidurku makin pulas. Entah sudah berapa lama aku tidur di bus, aku terbangun ketika seseprang mencoba membangunkanku dengan menepuk pundakku berkali-kali.  Akupun tersadar dari lelapku dan aku baru tersadar kalau kepalaku sedang bersandar di bahu orang lain. Alangkah terkejutnya diriku ketika kedua mataku mendapati seseorang dengan wajah tampan dan senyum nan indah  di sampingku. Ternyata dia adalah orang yang tadi kuharapkan duduk di sampingku. Aku jadi salah tingkah sendiri dan buru-buru minta maaf. “Maaf ya mas udah tidur di bahunya,” kataku dengan polosnya.
            Dia tersenyum dan berkata, “Enggak apa-apa kok mba. Ngomong-ngomong mba mau turun dimana?”
            Mendengar pertanyaannya, aku dengan refleks langsung melihat ke jendela, mencari tahu bus ini sudah sampai mana. Melihat aku yang panik, dia dengan cepat memberitahuku.”Baru sampai pasar Cibinong, mba,” katanya. Aku menghela nafas lega dan menyandarkan tubuhku di kursi karena tempat tujuanku belum terlewati.
“Emang mau turun dimana , mba?” tanyanya.
“Pajajaran. Terima kasih udah dibangunin ya,” jawabku. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Oh senyumnya..!!” seruku dalam hati.
Menit berikutnya kami sama-sama terdiam sampai akhirnya dia yang memecah keheningan dia antara  kami. “Baru pulang kerja ya, mba?” tanyanya. Aku yang dari tadi hanya mampu menunduk malu karena tak tahan melihat senyumnya itu, menjawabnya dengan anggukan pelan. “Mas nya juga sama?” kataku balik tanya.
“Iya, saya juga baru pulang kerja.”
“Kerja dimana mas? Jakarta?”
“Iya mba,” jawabnya.

Aku terhanyut dalam obrolan kami sore itu di dalam bus kota yang tua ini. Kami  bertukar cerita banyak hal. Kami seperti teman lama yang telah sekian lama berpisah dan baru dipertemukan saat ini, padahal aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Siapa sih dia sampai bisa membuatku sebahagiai ini? Well, aku menikmati saat-saat ini. Tuhan benar-benar mendengar doaku agar ia bisa duduk disampingku dan bahkan lebih dari itu, aku pun diberi kesempatan untuk berbicara dengannya! 
Aku melihat tatapan matanya yang meneduhkan, senyumnya yang menghangatkan,dan rasanya aku bagai terbang diantara bunga-bunga yang indah dan merekah. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku untuk terbang lebih tinggi.


With a smile and that`s how it all started

And you came right in time
When I needed someone
And we said hello suddenly my heart beating fast

So it`s you I`ve been waiting for so long
So it`s you where were you all along
Very special moments these will always be with me
We are here you and I, we belong
We touched and we felt more beautiful
At two hands reaching out
Filled with so much longing
It felt good inside
There is no denying I’m in love
We are here you and I, we belong

_Christian Bautista – So it’s you_

            Seseorang menepuk pundakku berkali-kali dan aku membuka mataku. Seorang laki-laki yang ternyata adalah kernet bus ada di depanku. “Mba mau turun dimana? Sudah sampai terminal ini,” katanya dengan logat Medan yang kental dan aku bengong mendengar kata-katanya barusan. “Terminal?!” tanyaku setengah berteriak tidak percaya, aku berdiri dan melihat sekeliling dan kosong! Aku menepuk keningku dan kemudian berjalan keluar dari bus dengan lesu.  Kepalaku rasanya pusing sekali, mungkin efek dari terbang dan jatuh begitu cepat. Terbang di alam mimpi karena bisa bersama dengan lelaki ganteng di bus, dan akhirnya harus jatuh dan ketika bangun ternyata sudah jauh dari tujuan dan ada di terminal. “Oh sial banget sih gue hari ini!” rutukku dalam hati. Gerimis masih turun dan aku terus berjalan keluar terminal tanpa payung, seorang diri.
            Mataku mencari-cari angkot yang rutenya ke arah jalan Pajajaran. Ketika aku sedang serius dalam pencarianku, aku merasakan air hujan tak lagi menetes di atas kepalaku padahal hujan belum benar-benar berhenti. Aku menengok ke atas dan sebuah payung besar berwarna pelangi ada diatas kepalaku. Dengan cepat kepalaku menengok ke sekelilingku dan mendapati seseorang yang memayungiku berada di belakangku. “Hai!” kata orang itu.
            Aku menutup kedua mataku dan berharap ketika kubuka kembali, aku sudah tersadar dari mimpi yang makin tak jelas. Tapi semuanya sia-sia karena orang tersebut tetap berdiri di depanku dan aku hanya mampu untuk membisu melihat seseorang yang kini tepat berada di depan mataku, sedekat ini. Rasanya lututku melemas, jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya.

Oh God! Makhluk darimana lagi ini?! Malaikat-Mu kah? Ahh, masih saja aku di alam mimpi, cepat bangun Andissa!!

>>>

September Rainy



Mengapa aku harus menghindar kalau ternyata hujan  itu indah?
Karena aku tak pernah menyentuhnya sedalam ini..
Sampai aku menemukanmu kembali melalui hujan..

15.09.11
Sejak siang tadi langit biru kesukaanku terlihat mulai gelap dan teduh. Warnanya pun bertambah pekat menjelang pukul empat sore. Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan ku mulai gelisah melihat langit yang makin gelap dan tak lama akan di temani dengan tetesan air yang perlahan mulai membasahi kota Bogor ku tercinta yang rindu akan tetesannya. Aku menghela nafas panjang dan mulai berpikir bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan hujan dan akupun lupa membawa jas hujan di  motor kesayanganku.
Bel berbunyi ketika jam menunjukkan tepat pukul empat. Satu persatu penghuni kantor tempat ku bekerja mulai berlalu. Aku tak punya pilihan lain selain ‘nekat’. Ya, aku segera merapatkan cardigan abu-abuku dan berniat menerobos hujan yang masih malu-malu, menuju tempat parkir motor yang letaknya lumayan jauh di belakang gedung.
Tetes demi tetes air hujan menyentuh kulitku dan aku merasa tetesan itu rasanya menyejukkan, bagaikan tanah kering tandus yang dilanda kemarau panjang sekian lama. Aku menghentikan langkahku sejenak, mencoba menikmati anugerah Allah sore ini. Aku berpikir mengapa aku harus menggerutu tentang datangnya anugerah ini beberapa menit yang lalu yang akhirnya sekarang aku malah menikmati setiap tetes yang membasahi cardigan dan mulai meresap ke dalam menyentuh kulit.
Sembari kembali melanjutkan langkahku aku teringat ucapan teman satu kantor yang menanggapi gerutuanku sebelum hujan turun tadi.
“Ahh, gelap banget langitnya, jangan hujan dong,”gerutuku menanggapi warna langit yang makin pekat.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun dan semoga deras,” ucap Wiwin ketika air mulai turun perlahan.
Aku memasang muka sebal karena hujan mulai turun. Melihat ekspresi wajahku, Wiwin berkata, ”Lu harusnya bersyukur hujan turun, banyak daerah yang kekeringan sampai susah dapat air bersih.”
Aku terdiam dan kemudian mengiyakan kata-kata Wiwin barusan. Walaupun masih sedikit sebal tapi aku mulai mencoba berpikir positif  seperti Wiwin. Allah itu memang benar-benar Maha Adil kan? Pasti sudah ada sesuatu yang baik menunggu, pikirku.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu hujan pun tak malu-malu lagi untuk menghapus rindu bumi yang lama tak tersentuh. Aku kembali bersyukur dan menikmati sore yang dingin berhias tirai hujan. Sambil menikmati pemandangan indah lewat kaca ruang tamu, aku membuka facebook ku untuk sekedar membagi cerita atau membalas wall dari teman. Sore ini aku saling berbalas wall dengan teman dekatku, April. Dengannya aku berbagi cerita, mulai dari sekedar hal tak penting sampai yang serius. Aku dan dia punya satu kesamaan, yaitu sama-sama punya kisah tentang tentara. Kami sering bercerita mulai dari indahnya diberi senyum, dikirimi pesan, bagaimana menyiksanya rindu, pedihnya tak mengungkap rasa, sakitnya ditinggal pergi, dan segala hal tentang kisah kami dengan mereka. Aku pernah menyimpulkan bahwa obrolan apapun yang terjadi antara aku dan April pasti akan berujung pada hal-hal tentang tentara dan aku menyebutnya ‘menghijau’.

Sore ini ketika aku ‘menghijau’ bareng April di facebook, muncul pesan di akun facebook dan kubuka saja. Aku yang awalnya biasa saja berubah sedikit histeris ketika membaca nama akun yang mengirim pesan tersebut. Hhah?! Ini beneran dia kirim pesan? Aku jadi heboh sendiri membacanya. Aku senang campur kesal. Senang karena dia yang sudah lama, bahkan terlalu lama mengacuhkanku akhirnya menyapaku lagi walau sekedar lewat pesan di jejaring sosial. Kesalku adalah karena dia kembali di saat aku mulai belajar untuk lepas dari bayang-bayangnya.

Aku mengenalnya kurang lebih satu tahun yang lalu lewat jejaring sosial facebook juga. Kami saling kirim pesan, bertukar nomor handphone dan sms-an. Aku cukup senang dengan kehadirannya di hidupku, setidaknya kehadirannya sedikit mampu menjadi obat untuk hatiku yang merasa kehilangan seseorang yang hadir sebelum sebelum dia.
Namun komunikasi kami jadi berubah setelah aku menolak sesuatu yang pernah diutarakannya. Aku sungguh-sungguh menghargai perasaanya dan andai saat itu ia tahu betapa dilemanya aku memutuskan jawabannya. Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk berteman saja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi setelah hari  itu dia seperti menghilang ditelan bumi dan tak ada kabar apapun. Kucoba kirim sms ataupun pesan di facebook  tapi tak ada tanggapan.
Setelah itu aku pun merasa kehilangan seorang teman. Aku mencoba mengerti keadaan dan berpikir positif tentangnya. Aku membiarkannya pergi namun tetap membuka ruang untuknya jikalau suatu saat dia kembali. Hingga baru sedikit kusesali beberapa bulan berikutnya, rasa kehilangan itu merubah rasaku padanya. I don’t know why, but it happen! Aku merindukannya dan entah darimana rasa itu muncul awalnya. Sesekali aku iseng mampir menengok akun facebooknya dan masih ada aktifitas, tapi tak sekalipun ia membalas pesanku. Aku berpikir mungkin aku yang harus sadar diri, apa masih mau seseorang berhubungan dengan orang yang sudah menolak perasaannya? atau ini yang sesuatu yang bernama ‘karma’? Entahlah.

Kembali pada cerita ketika aku membaca pesannya sore ini. “Kenapa tho ndo’?” Begitulah isi pesannya yang ia tulis dengan bahasa jawa. Kuketik kalimat membalas pesannya. “Mboten nopo-nopo, mas. Sampean isoh boso jowo tho mas?” dan ku klik post. Walaupun sejujurnya aku sangat senang akhirnya dia menyapaku lebih dulu, tapi aku berkata pada diriku sendiri untuk tak terlalu berharap lebih dia akan membalasnya lagi. Aku belajar menetralkan perasaan di hati dan pikiranku. Kembali kulanjutkan acara menghijau dengan April di facebook dan sesekali mataku bandel melirik ikon messages di layar, tapi belum ada angka satu muncul. Aku semakin menguatkan hatiku untuk berhenti berharap dia akan membalasnya.

Menit demi menit pun berlalu tanpa terasa dan tetap tak ada pesan baru masuk. “Stop to waitin’ for his reply!” kataku pada diriku sendiri. Tapi ternyata pesan yang ditunggu itu muncul juga. Segenap keteguhanku untuk tak mengharapkannya pun runtuh seketika. Akhirnya kami malah saling berkirim pesan, dia juga meminta nomor ponselku lagi dengan alasan ponselnya hilang dan akupun memberikannya.
Setelah mengirimkan nomorku, aku langsung offline dan segera berangkat kuliah. Langsung ku pacu motor ku dengan cepat karena aku sudah terlambat sepertinya. Sekitar duapuluh menit kemudian aku sampai di kampus dan kuparkir motor. Ketika ku lihat handphoneku, bermaksud melihat sudah jam berapa saat aku sampai di kampus, ternyata ada satu missed call dan sms masuk dari nomor baru. “Pasti dia!” tebakku.
Setelah sms terakhir dariku, tak ada lagi sms masuk darinya hingga aku masuk kelas dan akhirnya keluar kelas selesai kuliah. Sepulang dari kuliah, aku menerima ajakan teman untuk makan bersama dengan teman-teman yang lain dalam rangka ulang tahunnya. Setelah menentukan tempat,  kami berangkat dengan menggunakan mobil teman yang lain. Di perjalanan aku iseng sms. Aku hanya ingin memastikan kalau itu benar-benar dia, karena aku merasa agak sedikit aneh saja dia yang dulu berubah menjadi tak peduli dan mengacuhkanku sekian lama tiba-tiba kembali saat aku mulai belajar mengabaikannya.

Aku mencari kamu dalam hujan
Aku bertanya tentang kamu pada hujan
Kutitipkan pesanku  melalui hujan
Berharap kamu kembali saat hujan
Mengajakku menari bersama hujan..


Setelah hari itu, kami pun kembali menjalin komunikasi yang dulu sempat kupikir telah benar-benar berakhir. Walaupun tidak sering tetapi entah mengapa aku merasa cukup senang ketika melihat ada sms masuk darinya. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya hingga mau menyapaku lagi. Apakah benar-benar tulus atau ada yang lain? Entahlah, aku juga tak ingin berprasangka dan biar saja nanti jawaban itu akan datang dengan caranya sendiri.

Inginku kuingkari perasaanku ini
Mengapa harus kuakui ku suka padanya
Mungkin memangnya salahku
Yang tak pernah mengerti cinta tak mengenal arti sebuah keangkuhan
(Sherine - Arti Sebuah Keangkuhan)

Untuk sementara aku bisa menyingkirkan semua perasaan takutku itu. Akupun bersikap lebih hati-hati dalam setiap pembicaraan kami. Entah aku benar atau tidak, tapi kadang aku menangkap maksud lain dari kata-katanya. Maksud seperti satu tahun yang lalu ketika dia mencoba menjadi bagian dari ruang hatiku. Tapi seperti kataku tadi, aku bersikap lebih hati–hati dan tidak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Hujan mencoba menyampaikan sesuatu padaku

            Seperti malam ini ketika dalam obrolan kami terselip kata-kata yang menurutku akan mengarah ke pembicaraan seperti setahun yang lalu tapi semuanya kuanggap hanya sebagai gurauan. Walaupun dia tak mengatakan secara langsung, tapi aku menangkap maksudnya yang menyiratkan bahwa ia masih memiliki perasaan padaku. Tapi aku tetap tenang dan menanggapinya dengan santai dan sebagai bahan bercandaan. Entah apa yang dipikirkannya tentangku, tapi yang jelas aku tak mau begitu saja luluh padanya.  Aku hanya pelu waktu untuk meyakinkan.

Kita hanya berputar-putar tanpa menemukan titik temu kita..
Satu bicara, satu tak peka
Satu memberi, satu mengabaikan
Satu menarik, satu mengulur..


Kini aku mulai mengerti jalan cerita antara aku dan dia. Entah ini benar atau tidak, tapi yang ku tangkap dari sudut pandang dan cara pikirku, kami berdua sebenarnya saling memiliki rasa tetapi tak ada yang berani menyatakan atau istilahnya gengsi. Tapi aku tak akan pernah melakukannya karena bagiku itu adalah harga diri seorang wanita. Walaupun tak bisa kupungkiri setan dalam diriku sangat sering menggoda untuk melupakan soal sesuatu yang bernama harga diri itu. Beruntung aku masih bisa bertahan dan berusaha berjuang melawan diriku sendiri.

Jika kau butuh, katakan butuh..
Jika kau cinta, katakan cinta..
Jika berpisah, pisahlah saja..
Sakit dan perih hanya sementara..
(Dewiq – Katakan yang Sebenarnya)