Mengapa aku harus menghindar kalau ternyata hujan itu indah?
Karena aku tak pernah menyentuhnya sedalam ini..
Sampai aku menemukanmu kembali melalui hujan..
15.09.11
Sejak
siang tadi langit biru kesukaanku terlihat mulai gelap dan teduh.
Warnanya pun bertambah pekat menjelang pukul empat sore. Aku yang masih
membereskan sisa pekerjaan ku mulai gelisah melihat langit yang makin
gelap dan tak lama akan di temani dengan tetesan air yang perlahan mulai
membasahi kota Bogor ku tercinta yang rindu akan tetesannya. Aku
menghela nafas panjang dan mulai berpikir bagaimana aku bisa pulang
dengan keadaan hujan dan akupun lupa membawa jas hujan di motor
kesayanganku.
Bel berbunyi ketika jam menunjukkan tepat pukul
empat. Satu persatu penghuni kantor tempat ku bekerja mulai berlalu. Aku
tak punya pilihan lain selain ‘nekat’. Ya, aku segera merapatkan
cardigan abu-abuku dan berniat menerobos hujan yang masih malu-malu,
menuju tempat parkir motor yang letaknya lumayan jauh di belakang
gedung.
Tetes demi tetes air hujan menyentuh kulitku dan aku
merasa tetesan itu rasanya menyejukkan, bagaikan tanah kering tandus
yang dilanda kemarau panjang sekian lama. Aku menghentikan langkahku
sejenak, mencoba menikmati anugerah Allah sore ini. Aku berpikir mengapa
aku harus menggerutu tentang datangnya anugerah ini beberapa menit yang
lalu yang akhirnya sekarang aku malah menikmati setiap tetes yang
membasahi cardigan dan mulai meresap ke dalam menyentuh kulit.
Sembari kembali melanjutkan langkahku aku teringat ucapan teman satu kantor yang menanggapi gerutuanku sebelum hujan turun tadi.
“Ahh, gelap banget langitnya, jangan hujan dong,”gerutuku menanggapi warna langit yang makin pekat.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun dan semoga deras,” ucap Wiwin ketika air mulai turun perlahan.
Aku
memasang muka sebal karena hujan mulai turun. Melihat ekspresi wajahku,
Wiwin berkata, ”Lu harusnya bersyukur hujan turun, banyak daerah yang
kekeringan sampai susah dapat air bersih.”
Aku terdiam dan
kemudian mengiyakan kata-kata Wiwin barusan. Walaupun masih sedikit
sebal tapi aku mulai mencoba berpikir positif seperti Wiwin. Allah itu
memang benar-benar Maha Adil kan? Pasti sudah ada sesuatu yang baik
menunggu, pikirku.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung
membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu hujan pun
tak malu-malu lagi untuk menghapus rindu bumi yang lama tak tersentuh.
Aku kembali bersyukur dan menikmati sore yang dingin berhias tirai
hujan. Sambil menikmati pemandangan indah lewat kaca ruang tamu, aku
membuka facebook ku untuk sekedar membagi cerita atau membalas wall dari
teman. Sore ini aku saling berbalas wall dengan teman dekatku, April.
Dengannya aku berbagi cerita, mulai dari sekedar hal tak penting sampai
yang serius. Aku dan dia punya satu kesamaan, yaitu sama-sama punya
kisah tentang tentara. Kami sering bercerita mulai dari indahnya diberi
senyum, dikirimi pesan, bagaimana menyiksanya rindu, pedihnya tak
mengungkap rasa, sakitnya ditinggal pergi, dan segala hal tentang kisah
kami dengan mereka. Aku pernah menyimpulkan bahwa obrolan apapun yang
terjadi antara aku dan April pasti akan berujung pada hal-hal tentang
tentara dan aku menyebutnya ‘menghijau’.
Sore ini ketika
aku ‘menghijau’ bareng April di facebook, muncul pesan di akun facebook
dan kubuka saja. Aku yang awalnya biasa saja berubah sedikit histeris
ketika membaca nama akun yang mengirim pesan tersebut
. Hhah?! Ini beneran dia kirim pesan?
Aku jadi heboh sendiri membacanya. Aku senang campur kesal. Senang
karena dia yang sudah lama, bahkan terlalu lama mengacuhkanku akhirnya
menyapaku lagi walau sekedar lewat pesan di jejaring sosial. Kesalku
adalah karena dia kembali di saat aku mulai belajar untuk lepas dari
bayang-bayangnya.
Aku mengenalnya kurang lebih satu tahun
yang lalu lewat jejaring sosial facebook juga. Kami saling kirim pesan,
bertukar nomor handphone dan sms-an. Aku cukup senang dengan
kehadirannya di hidupku, setidaknya kehadirannya sedikit mampu menjadi
obat untuk hatiku yang merasa kehilangan seseorang yang hadir sebelum
sebelum dia.
Namun komunikasi kami jadi berubah setelah aku
menolak sesuatu yang pernah diutarakannya. Aku sungguh-sungguh
menghargai perasaanya dan andai saat itu ia tahu betapa dilemanya aku
memutuskan jawabannya. Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk berteman
saja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi setelah hari itu dia
seperti menghilang ditelan bumi dan tak ada kabar apapun. Kucoba kirim
sms ataupun pesan di facebook tapi tak ada tanggapan.
Setelah itu
aku pun merasa kehilangan seorang teman. Aku mencoba mengerti keadaan
dan berpikir positif tentangnya. Aku membiarkannya pergi namun tetap
membuka ruang untuknya jikalau suatu saat dia kembali. Hingga baru
sedikit kusesali beberapa bulan berikutnya, rasa kehilangan itu merubah
rasaku padanya.
I don’t know why, but it happen! Aku
merindukannya dan entah darimana rasa itu muncul awalnya. Sesekali aku
iseng mampir menengok akun facebooknya dan masih ada aktifitas, tapi tak
sekalipun ia membalas pesanku. Aku berpikir mungkin aku yang harus
sadar diri, apa masih mau seseorang berhubungan dengan orang yang sudah
menolak perasaannya? atau ini yang sesuatu yang bernama ‘karma’?
Entahlah.
Kembali pada cerita ketika aku membaca pesannya sore ini.
“Kenapa tho ndo’?” Begitulah isi pesannya yang ia tulis dengan bahasa jawa. Kuketik kalimat membalas pesannya.
“Mboten nopo-nopo, mas. Sampean isoh boso jowo tho mas?”
dan ku klik post. Walaupun sejujurnya aku sangat senang akhirnya dia
menyapaku lebih dulu, tapi aku berkata pada diriku sendiri untuk tak
terlalu berharap lebih dia akan membalasnya lagi. Aku belajar
menetralkan perasaan di hati dan pikiranku. Kembali kulanjutkan acara
menghijau dengan April di facebook dan sesekali mataku bandel melirik
ikon
messages di layar, tapi belum ada angka satu muncul. Aku semakin menguatkan hatiku untuk berhenti berharap dia akan membalasnya.
Menit demi menit pun berlalu tanpa terasa dan tetap tak ada pesan baru masuk.
“Stop to waitin’ for his reply!”
kataku pada diriku sendiri. Tapi ternyata pesan yang ditunggu itu
muncul juga. Segenap keteguhanku untuk tak mengharapkannya pun runtuh
seketika. Akhirnya kami malah saling berkirim pesan, dia juga meminta
nomor ponselku lagi dengan alasan ponselnya hilang dan akupun
memberikannya.
Setelah mengirimkan nomorku, aku langsung offline
dan segera berangkat kuliah. Langsung ku pacu motor ku dengan cepat
karena aku sudah terlambat sepertinya. Sekitar duapuluh menit kemudian
aku sampai di kampus dan kuparkir motor. Ketika ku lihat handphoneku,
bermaksud melihat sudah jam berapa saat aku sampai di kampus, ternyata
ada satu missed call dan sms masuk dari nomor baru. “Pasti dia!”
tebakku.
Setelah sms terakhir dariku, tak ada lagi sms masuk
darinya hingga aku masuk kelas dan akhirnya keluar kelas selesai kuliah.
Sepulang dari kuliah, aku menerima ajakan teman untuk makan bersama
dengan teman-teman yang lain dalam rangka ulang tahunnya. Setelah
menentukan tempat, kami berangkat dengan menggunakan mobil teman yang
lain. Di perjalanan aku iseng sms. Aku hanya ingin memastikan kalau itu
benar-benar dia, karena aku merasa agak sedikit aneh saja dia yang dulu
berubah menjadi tak peduli dan mengacuhkanku sekian lama tiba-tiba
kembali saat aku mulai belajar mengabaikannya.
Aku mencari kamu dalam hujan
Aku bertanya tentang kamu pada hujan
Kutitipkan pesanku melalui hujan
Berharap kamu kembali saat hujan
Mengajakku menari bersama hujan..
Setelah
hari itu, kami pun kembali menjalin komunikasi yang dulu sempat kupikir
telah benar-benar berakhir. Walaupun tidak sering tetapi entah mengapa
aku merasa cukup senang ketika melihat ada sms masuk darinya. Kadang aku
bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya
hingga mau menyapaku lagi. Apakah benar-benar tulus atau ada yang lain?
Entahlah, aku juga tak ingin berprasangka dan biar saja nanti jawaban
itu akan datang dengan caranya sendiri.
Inginku kuingkari perasaanku ini
Mengapa harus kuakui ku suka padanya
Mungkin memangnya salahku
Yang tak pernah mengerti cinta tak mengenal arti sebuah keangkuhan
(Sherine - Arti Sebuah Keangkuhan)
Untuk
sementara aku bisa menyingkirkan semua perasaan takutku itu. Akupun
bersikap lebih hati-hati dalam setiap pembicaraan kami. Entah aku benar
atau tidak, tapi kadang aku menangkap maksud lain dari kata-katanya.
Maksud seperti satu tahun yang lalu ketika dia mencoba menjadi bagian
dari ruang hatiku. Tapi seperti kataku tadi, aku bersikap lebih
hati–hati dan tidak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Hujan mencoba menyampaikan sesuatu padaku
Seperti malam ini ketika dalam obrolan kami terselip kata-kata yang
menurutku akan mengarah ke pembicaraan seperti setahun yang lalu tapi
semuanya kuanggap hanya sebagai gurauan. Walaupun dia tak mengatakan
secara langsung, tapi aku menangkap maksudnya yang menyiratkan bahwa ia
masih memiliki perasaan padaku. Tapi aku tetap tenang dan menanggapinya
dengan santai dan sebagai bahan bercandaan. Entah apa yang dipikirkannya
tentangku, tapi yang jelas aku tak mau begitu saja luluh padanya. Aku
hanya pelu waktu untuk meyakinkan.
Kita hanya berputar-putar tanpa menemukan titik temu kita..
Satu bicara, satu tak peka
Satu memberi, satu mengabaikan
Satu menarik, satu mengulur..
Kini
aku mulai mengerti jalan cerita antara aku dan dia. Entah ini benar
atau tidak, tapi yang ku tangkap dari sudut pandang dan cara pikirku,
kami berdua sebenarnya saling memiliki rasa tetapi tak ada yang berani
menyatakan atau istilahnya gengsi. Tapi aku tak akan pernah melakukannya
karena bagiku itu adalah harga diri seorang wanita. Walaupun tak bisa
kupungkiri setan dalam diriku sangat sering menggoda untuk melupakan
soal sesuatu yang bernama harga diri itu. Beruntung aku masih bisa
bertahan dan berusaha berjuang melawan diriku sendiri.
Jika kau butuh, katakan butuh..
Jika kau cinta, katakan cinta..
Jika berpisah, pisahlah saja..
Sakit dan perih hanya sementara..
(Dewiq – Katakan yang Sebenarnya)