Tampilkan postingan dengan label #15haringeblogFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15haringeblogFF. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

testimoni #15HariNgeblogFF


#15HariNgeblogFF itu seru dan sangat menyenangkan sekali. Sukses bikin saya bisa nulis dengan judul yang udah ditentuin  + deadline.. Saya ini orangnya ga bisa dipaksa bikin tulisan yang udah dijudulin duluan (TADINYA!!) dan saya ini moody sekali buat nulis.. dan itu semua ga berlaku di #15HariNgeblogFF.. 

#15HariNgeblogFF ini bikin saya bisa nulis tanpa beban, ga mikirin gimana kata orang nanti, dan saya suka itu.. dan ternyata tulisan saya ga seburuk yang saya takutkan ya.. :D 

#15HariNgeblog juga bikin saya ga stress karena kerjaan yang buanyaak  plus UAS yang njelimet!! hahahhaaa.. Serasa ga punya beban aja gituh..

Seru bnaget nungguin judulnya diumumin tiap malem, nulis dan posting walopun  bolong tiga garagara sinyal yang menyebalkan ga ketulungan!! maklum rumah di pelosok.. :D

Apa lagii yahh?? 

Ahh kayaknya tadi banyak banget deh yang mau dikeluarin testimony buat #15HariNgeblogFF nya.. ini kenapa jadi speechless yah?? 

Pokoknya salut deh buat masmin dan yumin yang punya ide KEREN pake banget ini. . HHehehhee..
Kalian KEREN pake bangeett…!!

sayang masmo dan mba unge..

*hugs

Menikahlah Denganku - #FF15 (2)


Jam di kamarku sudah menunjukkan jam delapan malam. Aku menyisihkan diktat-diktat kuliahku dan menyalakan radio dari handphoneku. Malam ini adalah jadwal acara radio kesukaanku, atau lebih tepatnya penyiarnya adalah penyiar favoritku. Aku hampir tak pernah absen mendengarkannya siaran. Namanya  Hendry, penyiar  yang juga berstatus sebagai kekasihku.  
Suaranya mulai terdengar membuka acaranya malam ini. Dia dan temannya, Aldo, menyapa para pendengarnya dan memberikan sedikit info-info. Lalu diselingi lagu yang merupakan request dari pendengar. Aku tak ikut-ikutan mengirim request karena Hendry yang menginginkannya. Dia sedikit pemalu. Tapi sifatnya itu seperti tak berlaku jika ia sudah siaran. Beda sekali. Tapi aku mengerti, mungkin ia tak ingin aku mengganggu konsentrasinya dan tak mau jadi bahan ejekan teman-temannya. Ahh kadang dia itu lucu dan manja sekali.
Acara dilanjutkan kembali, dan Hendry berkata, “Selamat malam buat pendengar yang baru bergabung dan selamat malam buat Viana yang sedang sibuk dengan tumpukan diktat kuliahnya.”
Ahh, tumben sekali dia menyelipkan namaku dalam siarannya.
“Malam ini akan ada bintang tamu khusus yang bakal perform, tunggu ya habis satu lagu dari Bruno Mars dengan Just The Way You are, enjoy it,” kata Aldo.
Aku yang penasaran langsung mengirim pesan sngkat padanya.  Siapa sih bintang tamunya?
Tak lama kemudian balasannya masuk. Tungguin aja, pasti suka!
Pelit ih, awas ya kalo ternyata itu penyanyi favoritku!
Lalu tak ada balasan lagi sampai Just the way you are dari Bruno Mars pun berakhir. Lalu Aldo berkata,” Oke, sekarang kita sambut bintang tamu special kita, Hendry Dirgantara.”
Aku yang sedang meneguk susu coklat hangatku pun tersedak mendengarnya. Aku tak salah dengar kan? Barusan Aldo menyebut nama Hendry? Aku mengencangkan volume suara. Hening beberapa saat dan terdengar petikan gitar. Hendry pun bernyanyi.

Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia
Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku
Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata

Ijinkan aku memilikimu, mengasihimu, menjagamu, menyayangimu,
memberi cinta
memberi semua yang engkau inginkan
selama aku mampu aku akan berusaha
mewujudkan semua impian dan harapan
tuk menjadi kenyataan

Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang slalu ada di saat pagi ku membuka mata

Jadilah yang terakhir
Tuk jadi yang pertama
Tuk jadi selamanya...

Seiring dengan berakhirnya lagu itu, ponselku berdering. Dari radio. Aku langsung mengangkatnya. Di akhir lagunya Hendry berkata, “Viana Maheswari, maukah kau menjadi pilihanku?.”
Aku menangis terharu. Suara-suara di seberang sana menyerukan agar aku menerimanya.
“Viana menikahlah denganku, “ kata Hendry lagi.
                “Ya aku mau,” jawabku yakin.  



Sah! - #FF15 (1)


                Cantik sekali wajah di seberang sana. Aku tak henti-hentinya menyadarkan diri bahwa akulah pemilik wajah di seberang itu. Sebenarnya aku sudah benar-benar menunggu saat ini cukup lama. Saat aku menggunakan kebaya warna putih gading dan kain batik yang cantik ini. Aku menitikkan sedikit air mata dan buru-buru menghapusnya takut riasan sahabatku yang seorang perias professional itu rusak begitu saja. Aku meyakinkan diri bahwa aku bisa melalui hari ini. Ya, aku bisa.
Lalu aku berjalan menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk acara akad dilangsungkan. Dekorasi yang indah dan cantik. Bunga-bunga lily putih terlihat di beberapa tempat. Menambah kesan manis dengan dekorasi wana putih dan hijau muda yang lembut. Persis seperti yang kubayangkan. Aku ingin menjatuhkan lagi air mata ini rasanya. Sepertinya kelopak mataku sudah tak sanggup untuk tidak membiarkannya jatuh. Aku menghapusnya dengan selembar tisu di tanganku.
Aku duduk di tempat yang sudah disiapkan. Aku memanadangi laki-laki yang duduk di depan penghulu yang akan menikahkannya. Aku menarik sudut bibirku membuat satu senyuman menyambutnya.Ia pun membalasnya. Ahh, sebentar lagi waktunya tiba. Pria paruh baya berpeci itu kemudian mengucapkan ijab dan laki-laki di depannya menjawabnya. “Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Syamira Putri binti Muhammad Akbar dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang senilai sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah tunai,” ucapnya dengan suaranya yang tegas dan lancar. Lalu para saksi berkata sah!
Sah! satu kata sederhana dan singkat itu membuat keteguhan hatiku runtuh bak dibombardir atom. Menjadikannya hancur merupa debu. Aku rapuh tak ada yang menopang. Aku tak mampu lagi untuk menahan air mata ini. Kubiarkan saja mereka mengalir. Sah, artinya kini ikatan suami istri telah resmi disandang. Ya statusnya telah berubah mulai kini. Aku menangis. “Kamu kenapa?” Tanya Dini sahabatku. “Terharu,”jawabku singkat.
Sungguh aku menangis bukan karena terharu menyaksikan serangkaian acara yang khidmat tadi. Aku menangis karena aku terlalu sakit melihatnya. Semua konsep pernikahan ini adalah impianku sejak lama. Semua! Termasuk pengantin pria yang disana. Harusnya aku yang duduk disampingnya, menjadi pengantin wanitanya. Harusnya namaku yang disebutnya. Kenapa harus aku yang mengalah. Bukankah seorang kakak yang semestinya mengalah untuk adiknya? Mengapa harus aku?


Rabu, 25 Januari 2012

Ini bukan judul terakhir #FF14

Aku menatap cermin di depanku. Memandangi wajah di seberang sana dengan sedih. Begitu banyak kata yang kuciptakan untukmu, tapi tak satupun yang mampu kusampaikan. Aku lalu menepis kertas-kertas putih yang ada di meja. Rasanya semua percuma saja. Aku mulai lelah dengan semua ini. Aku hanya ingin kamu mendengar satu saja. Tak bisakah?
                Mungkin aku yang seharusnya sadar diri, kamu tak mungkin tahu tempatku jadi mana mungkin kamu bisa datang dan mendengarku. Mendengarkan suaraku yang sudah mampu menyenangkan banyak orang. Seorang perempuan berambut pendek masuk ke ruangan, memberitahuku kalalu sudah waktunya aku untuk tampil. Aku menarik nafas sejenak, mencoba meninggalkan tentangmu yang sedari tadi berkelebat hebat di pikiranku.
                Aku meraih mikrofon di meja kecil itu. Aku mencoba menyapa semua orang yang ada di depanku dengan ramah meski sebenarnya hatiku sedang buruk. Akupun mulai menyanyikan lagu itu. Lagu yang sengaja kuciptakan untukmu. Pikiranku melayang dan merasa kalau semestinya aku mulai berhenti menuliskannya untukmu. Meski kadang aku merasa lelah, tapi sesekali aku seringakali berharap kalau ini bukanlah judul terakhir yang bisa kuciptakan.
                Sudut mataku menangkap satu sosok yang ada di sudut ruangan sana. Itu kamu. Aku melihat wajahmu dari jarak yang cukup dekat. Aku melihatmu begitu memperhatikanku. Andai kamu tahu lagu ini untukmu. Ingin rasanya aku menghampirimu dan menyapamu, sekali saja. Aku sudah terlalu lelah menyimpan kerinduan ini sejak lima tahun lalu.

                Kamu menghampiriku di belakang panggung. “Hei, “ sapamu. Aku hanya tersenyum.
                “Namaku Arbi,” katamu lagi. Ya aku sudah tahu namamu lima tahun lalu.
                “Ada apa ya?” tanyaku mencoba lebih datar.
                “Tadi aku mendengarkan suaramu, bagus sekali dan apakah itu lagu ciptaan sendiri,” Tanya Arbi.
                “Ya, itu ciptaanku untuk seseorang, Ada masalah?”
              “Aku tertarik dengan lagumu. Aku ingin mengajakmu bekerja sama, dan ini kartu namaku,” katamu sambil menyodorkan kartu namamu. “Aku tertarik untuk membeli lagumu.”
                Aku hanya diam memandangi kartu nama yang ada di tanganku. Arbiandra, SE. , general manager dari salah satu perusahan rekaman.
                “Apakah itu artinya aku masih harus menciptakan lagu lagi?” tanyaku.
                “Aku harap begitu.”
                Tentu saja ini bukanlah judul terakhir dan aku harus memulai judul baru tentangmu karena masih akan banyak judul lagi yang akan tercipta. 




 

Selasa, 24 Januari 2012

Kalau odol jatuh cinta - #FF13


Kalau odol jatuh cinta? Aku sendiripun bingung bagaimana membayangkannya. Lalu pada siapa odol akan menambatkan hatinya. Memang sih tak ada yang salah jika odol jatuh cinta pada siapa dan bagaimana ia bisa jatuh cinta. Tapi aku sedikit berpikir alangkah beruntungnya dia yang mendapatkan cinta odol. Menurutku sih begitu, bagaimana tidak beruntung, odol siap memberikan perlindungan pada kekasihnya selama dua puluh empat jam! Bahkan ia pun bisa mengerti jika ternyata kekasihnya itu sensitif.
Semua pun dibuat kebingungan dengan kejadian akhir-akhir ini. Namanya Orizeta Diani Okto Lukmansyah atau aku lebih suka memanggilnya ODOL, singakatan dari namanya yang sampe empat gerbong itu. Pagi-pagi buta sudah terdengar suara berisik di dapur. Aku yang masih memakai piyama kuningku mencoba melihat apa yang terjadi. “jangan-jangan maling!” seruku panik.
Ternyata si odol yang lagi sibuk masak. “Lu ngapain pagi-pagi buta gini udah nongkrong di dapur?” tanyaku heran. “Tumben banget lu bisa bangun pagi.
“Emangnya elu, perawan jam segini belum mandi,” balas Odol mengejekku dan aku lagsung menoyor kepalanya.


Hari-hari selanjutnya pun berlalu tak biasa. Odol itu anak bontot, manjanya minta ampun. Akupun iseng-iseng membicarakan ini dengan Mami. “Mi, si Odol berubah yah?” tanyaku.
Mami menurunkan bukunya dan ganti memandangku serius. “Iya Mor, jadi lebih cewek ya sekarang, jangan-jangan…” Mami menggantung kalimatnya.
“Odol jatuh cinta!” pekikku dan Mami hampir bersamaan.
“Pantes sekarang dia jadi rajin mandi dua kali sehari, biasanya kan sehari sekali malah ga mandi kali tuh kalo libur,” kataku sambil tertawa.
“SEkarang dia juga rajin bangun pagi, masak, rapiin kamar, pokoknya rajin banget, Mor,” tambah Mami. Aku mengiyakan.
“Tapi merugikan aku, Mi,” sanggahku. Mami mengernyitkan keningnya bingung. “Kok ngerugiin kamu?”
“Gimana ga rugi, tiap hari parfum, bedak, lotion, banyak deh,” kataku.
“Biarlah, berarti anak mami tuh emang cewek bener, ga ada lagi deh Odol yang pake jeans robek, kaus belel, sepatu dekil, rambut acak-acakan lagi.”
“Tetep aja Mi,”
“kenapa lagi?”
“Aku kan belum punya pacar Mi,” kataku sedih.

Tiba-tiba Odol muncul dan duduk di sampingku. “Tenang ya Chimory, kakakku tersayang, Odol Cuma lagi jatuh cinta bukan mau nikah dalam waktu dekat tau,” katanya dengan wajah lucunya.
“bener ya, awas kalo ngelangkahin gue.”
“Makanya jadi perempuan seutuhnya dong, rajin masak rajin bangun pagi, daaannn…” katanya menggantung kalimatnya sambil bangun dari sisiku.
“Apa?” tanyaku.
“Jangan suka kentut sembarangan..” teriaknya sambil berlari.
“ODOOOOOLLLL…”

Kalau Odol jatuh cinta? Biarkan saja!
Toh semua berhak jatuh cinta pada siapapun juga.

Senin, 23 Januari 2012

Merindukanmu itu seru! #FF12


Merindukanmu itu seru. Aku bisa jadi apa saja yang tak pernah kubayangkan. Aku bisa jadi pelukis yang bisa menggambarkan bagaimana rupa wajahmu. Menjadi pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah tentang kita. Atau menjadi penulis yang bisa menceritakan tentang rinduku hingga menyimpannya dalam satu folder khusus di laptopku.
Merindukanmu itu sakit. Menahan perih karena tak kunjung bersua denganmu. Merindukanmu itu pahit. Terkadang saat bertemu denganmu tak selalu manis seperti yang kubayangkan. Hingga kadang aku berharap rindu itu tak pernah ada. Aku hanya ingin rindu itu yang mencariku, merindukanku.
Merindukanmu itu seperti menikmati secangkir kopi. Pahit tapi tak pernah membuatku menggantinya dengan yang lain. Kamu seperti candu. Kadang membuatku sakit tapi tak jua membuatku berhenti merindumu.
Aku melangkahkan kedua kakiku dengan penuh rasa percaya diri. Rasa bahagia yang melambung tinggi membuat rasa rinduku padamu makin bergejolak hebat. Hari ini kita akan bertemu di senja yang cerah,.Persis seperti dugaanku, kamu memilih coffee shop sebagai tempat dimana aku bisa melebur rinduku. Aku memilih duduk di tempat favoritku, di sudut ruangan dekat kaca. Aku membuka laptopku, mengetik beberapa baris tentang kamu. Seakan tak pernah habis kata-kata tentangmu.
Aku begitu asyik dengan laptopku sampai tak menyadari kehadiranmu. Kamu datang lalu mencium kening dan mengatakan maaf karena terlambat datang. Lalu kamu bicara, entah tentang apa. Maaf aku tak memperhatikan ceritamu karena kedua mataku terlalu terpaut pada kedua matamu. Memandangimu pun terasa sudah mampu melebur rinduku.
Lalu kamu diam cukup lama. Aku menunggu. Sebuah kotak kecil kamu sodorkan sembari berkata, “Menikahlah denganku.”
Diam. Aku tak mampu berkata-kata. Kemana kata-kata yang biasanya mengalir deras tentangmu. Mereka menghilang dariku. Meninggalkanku dan membiarkan aku mencari-cari sendiri kepingan kata yang terserak entah dimana. Kamu menunggu jawabannya dengan wajah was-was. Sementara aku masih terlalu sibuk mempertahankan diriku untuk tetap sadar. Dan wajahmu yang tampan itu berbinar campur haru lalu menyematkan cincin cantik itu. Aku menangis tanpa kusadari. Lalu kamu mencium keningnya. Ya, keningnya bukan keningku.

Merindukanmu itu sakit. Merindukanmu itu pahit. Tapi merindukanmu itu seru meski kau tak pernah jadi milikku. Meski kamu tak mengenalku dan merasakan rinduku.
Merindukanmu itu seru!




(special to Serda Hendri, whereever you are)

Minggu, 22 Januari 2012

Tentangmu yang selalu manis #FF11


Kamu begitu gembira begitu bulan Desember telah tiba. Setiap hari kamu selalu membicarakan tentang hari yang kamu selalu tunggu-tunggu. Kamu selalu sibuk mengingat berapa hari lagi hari itu tiba. Dengan wajah polosmu, kamu kadang merengek manja pada ku ataupun lelaki yang kau panggil Ayah. Hampir setiap hari pula kau mengingatkan kami hadiah yang kau inginkan pada hari itu, hari ulang tahunmu. Ketika hari itu tiba kamu selalu bangun lebih awal dari kami. Pernah suatu waktu kamu membangunkan kami pagi-pagi buta untuk mengatakan bahwa itu adalah hari ulang tahunmu lalu kita berdoa bersama untukmu, gadis kecil kami.  

Aku selalu suka saat menyisir rambutmu yang hitam dan panjang seperti milikku, sekedar menguncirnya dengan pita warna-warni ataupun mengepangnya dengan cantik. Lalu kamu selalu memberi kami kecupan di kedua pipi kami dengan rona wajah bahagia dan selalu bersemangat. Ahh kamu selalu manis, sayang. Kami beruntung Tuhan menitipkan kamu pada kami. 

Kamu pun tumbuh menjadi gadis remaja yang manis dan cantik. Kamu mulai nyaman untuk berbagi cerita dengan temanmu dibandingkan dengan kami. Lebih senang menghabiskan waktu dengan teman-temanmu. Kamu pun tak lagi suka aku yang menyisir rambutmu. “Aku bisa menyisir sendiri, Bu. Aku bukan anak TK lagi,” katamu dengan nada kesal padaku. Aku memahamimu, gadis manisku.

Lalu kamu telah menjadi gadis manis kami yang dewasa. Kamu memilih tinggal jauh dari kami. Kami kesepian tanpamu. Tak ada rengekan manja, tawa riang dari bibirmu, teriakanmu ketika kamu marah. ataupun tangis karena teman atau pacar. Tapi kami tak pernah lupa untuk selalu menyelipkan namamu dalam tiap doa kami. Berharap kamu selalu bahagia dan dapat hidup baik tanpa kami serta bisa segera kembali ke rumah kita yang penuh kenangan tentangmu yang selalu manis untuk kami.


Sekarang kamu benar-benar telah dewasa, sayang. Kamu benar-benar cantik dan dewasa. Kami bangga padamu. Kamu tak mengecewakan kami dan mampu menjaga kepercayaan yang kami beri. Kamu benar-benar sudah kembali. Aku memelukkmu erat seakan tak ingin kamu pergi lagi. Tapi kami tahu suatu saat kamu benar-benar akan mengatakan itu, pergi untuk menjalani hidupmu bersama orang yang kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu.
Hari ini kamu begitu cantik dengan kebaya putih di hari bahagiamu. Aku memandangi wajahmu yang sangat bahagia. Tanpa kusadari, sesuatu yang hangat jatuh dari pelupuk mataku. Lalu kamu memelukku erat. Lama sekali.
“Aku sayang sama Ibu dan Ayah,” katamu sambil memelukku. “Sangat sayang dan selalu sayang. Ayah dan Ibu adalah orang tua terbaik, aku sangat bahagia bisa terlahir sebagai putri Ayah dan Ibu,” katamu lagi dan mencium kedua pipiku.
Ahh, kamu manis sekali sayang. Kami tak akan pernah bisa lupa semua tentangnu yang selalu manis.

Sabtu, 21 Januari 2012

senyum untukmu yang lucu_FF10

Kamu memandangi boneka beruang coklat yang terpajang di etalase toko yang ada di depanmu.  Menyentuh kaca etalase berharap jari-jarimu bisa menyentuh boneka beruang di dalamnya. Menatapnya penuh harap untuk dapat menukarnya dengan sejumlah uang dan segera membawanya pulang. Kamu terlihat ragu untuk masuk ke dalam toko. Aku memperhatikanmu cukup lama. Entah mengapa aku lebih tertarik untuk mengamati gerak-gerikmu. Sesekali kamu terlihat berani untuk masuk ke dalam, lalu akhirnya membatalkan dengan wajah ragu.  
Kamu menyingkir dari toko itu dan berjalan meninggalkan boneka beruang cantik yang kamu ingini. Aku masih mengikutimu, menjaga jarak darimu. Lalu kamu duduk di tangga dekat pintu masuk pusat perbelanjaan ini. Tanganmu merogoh kantung celanamu lalu mengeluarkan lembaran-lembaran uang. Memandanginya sedih.
Lalu datang seorang gadis yang usianya lebih muda darimu. Cantik. Buru-buru kamu memasukkan uangmu ke saku celanamu lagi ketika perempuan itu datang. Dia terlihat manja padamu dan mengajakmu pergi dari tempat ini. Aku tersenyum kecil melihatmu dan perempuan itu. Lucu, kalian lucu dan manis. Aku suka kalian.

Esok harinya kamu kembali ke toko boneka yang sama. Aku melihat kekecewaan di wajahmu ketika mendapati tempat boneka yang kau ingini telah digantikan oleh boneka yang lain. Kamu terlihat sedih dan seperti ingin menangis. Lalu kaki kecilmu melangkah keluar. Tapi kamu tetap tersenyum ketika gadis yang sama menarikmu pergi.
Aku kemudian pergi ke tempat biasa kita bertemu. Sekolah untuk anak yang kurang mampu. Sudah setahun ini aku bergabung dengan sekolah ini. Kebanyakan dari mereka yang ikut sekolah ini adalah anak-anak jalanan yang kurang mampu dari segi financial untuk sekolah. Aku beruntung bisa bertemu mereka. Selalu ada tawa dari tingkah lucu mereka dan aku bangga pada mereka yang masih punya semangat untuk maju dan ingin belajar.
Aku melihatmu duduk di sudut ruangan dengan wajah tertunduk lesu. Aku tahu kamu sedih karena boneka itu telah jadi milik orang lain. Seusai pelajaran selesai, aku yang mendekatimu.
“Hai Den,  ga semangat sekali pelajaran kakak hari ini,” kataku. “Pelajarannya membosankan ya?” tanyaku. Kamu melihatku sebentar dengan senyum yang aku tahu sengaja kamu paksa untukku sambil menggelengkan kepalamu.
Kamu hanya diam tanpa melihatku. Aku makin tak tega melihatmu yang biasanya selalu ada dengan senyum dan tawanya yang lucu. “Ini hadiah buat Denni,” kataku akhirnya sambil menyodorkan boneka beruang coklat kecil yang diinginkannya.
Wajahnya berbinar saat melihat boneka impiannya ada di depan mata. “Ini buat Denni?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. “Iya ini buat kamu, senyum untukmu yang lucu.”
Denni memlukku dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Lalu dia pamit untuk dapat segera memberikan boneka itu pada adik perempuannya yang bisu.

Jumat, 20 Januari 2012

Sepucuk surat (bukan) dariku #FF7


Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu. Aku juga sudah membersihkan kamarmu yang berantakan. Ahh aku merasa seperti sudah menjadi istrimu saja. Kini aku menunggumu pulang dari tempatmu bekerja. Aku duduk di teras rumah kecilmu dengan secangkir teh hangat. Menatap senja yang terang.
Kamu pun datang akhirnya dan aku menyambutmu dengan satu pelukan. Kamu terlihat terkejut dengan kedatanganku yang sengaja tak kukabarkan lebih dulu. Aku sengaja ingin memberikan kejutan kecil untukmu.
                “Happy birthday sayang,” ucapku lalu mengecup pipimu.
                Kamu tersenyum memamerkan lesung pipimu. “Thanks cantik.”
             Lalu aku mengajakmu masuk untuk menunjukkan kejutan selanjutnya. Kamu terlihat senang dengan rumahmu yang bersih dan rapi lalu makanan kesukaanmu sudah tersedia di meja makan.
                “Kamu yang lakukan semua ini buat aku, cantik”
                “Ya, aku yang kerjain semuanya for you, my lovely,” kataku. “sekarang kamu mandi dulu ya, udah bau banget. hehee..”
                Kamu mencubit pipiku dan kemudian pergi mandi. Aku hendak memindahkan tas kerjamu dan ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah kertas yang sedikit keluar dari kantung tasmu. Rasa penasaranku ternyata sangat besar hingga aku mencoba membaca isinya.

Cepatlah pulang, si kecil sudah rindu sekali sama ayahnya. Dia ingin bermain bersama ayahnya seperti teman-temannya yang lain. DIa sedang sakit sekarang, rindu kamu. Pulanglah..

Sebaris kalimat yang begitu menarik perhatianku. Air mataku terjatuh tanpa aku bisa menahannya. Lalu kamu melihatku dengan sepucuk surat bukan dariku. Rasanya aku tak ingin melanjutkan lagi mimpi ini.
                “Cantik..” panggilmu.
                “Terima kasih buat semua mimpi yang kamu berikan, tapi rasanya lebih baik aku pergi. Ini terlalu menyakitkan,” kataku dalam isak yang kutahan. Lalu kamu meraihku dan mendekapku erat. Sangat erat.