Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Menunggumu

pict from here



Pras meraihku cepat lalu menghempaskan tubuhku ke sudut ruangan. Aku jatuh berdebum. Kau bodoh jika bertanya bagaimana perasaanku. Hancur tentu saja. Hanya sebatas itukah cintanya? Ketika perempuan itu datang menemuinya tiga puluh menit lalu untuk mengakhiri kisah cinta mereka? Lalu melampiaskannya padaku.

Ya Tuhan, ingin rasanya kuhajar dia agar segera waras. Oh, aku lupa bahwa dia memang sudah gila. Benar-benar gila. Gila karena cintanya pada perempuan itu, Lolita.

Dasar pecundang kau, Pras!  

Lima tahun. Mereka berakhir setelah lima tahun sejak aku diserahkan pada Lolita. Akan kuceritakan bagaimana aku bisa berada di antara mereka. Tak tahu bagaimana mulanya mereka bertemu hingga akhirnya saling jatuh cinta, yang jelas aku dihadirkan oleh Pras lima tahun yang lalu.

Pras mendandaniku dengan cantik. Meletakkanku dengan hati-hati pada kotak beledu warna biru, seolah aku adalah hartanya yang paling berharga. Ia bahkan memberiku teman, segulung kertas kecil yang ditulisinya penuh harap. Diserahkannya aku pada Lolita sebagai hadiah pernikahan. Masih kuingat bagaimana reaksi Lolita ketika membukanya sembunyi-sembunyi beberapa jam setelahnya. Perempuan itu menggenggamku erat sambil matanya membaca beberapa deret aksara yang ditulis Pras.

Ketika di perjalanan kau merasakan ketakutan, aku masih menyediakan kata pulang. Dan akan kusediakan rindu dengan segala bentuk yang kau mau.

Lima tahun lalu adalah hari pernikahan Lolita. Dengan lelaki lain. Dan Pras menunggu perempuan itu pulang. Ke rumahnya.







Bogor, 28-10-2015

 Diikutkan dalam #nulisbarengalumni #kampusfiksi

Rabu, 11 Februari 2015

Ibuku (Tidak) Gila

Mereka bilang Ibuku gila. Mereka bilang Ibuku pembunuh.
Bukankah mereka mengatakannya hanya karena melihat apa yang sudah terjadi? Lantas apakah mereka tidak lebih jahat dari yang mereka katakan tentang Ibu?
Ibuku tidak gila. Dan ibuku bukan pembunuh. 

Ibu memelukku erat. Bahkan terlalu erat hingga aku nyaris sulit bernapas. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang makin mengencang. Aku tahu Ibu ketakutan, namun ia tak ingin menunjukkannya padaku. Semua baik-baik saja, itu yang terus ia katakan jika aku bertanya apa yang terjadi, hingga aku tak ingin lagi bertanya.

Dalam dekapnya ingatanku kembali ke masa beberapa jam sebelum aku duduk di sampingnya, di bus menuju kampung halaman Ibu di Solo. Ibu membangunkanku pagi tadi. Dengan suara pelan, ia mengatakan padaku untuk segera membuka mata  karena kami harus segera pergi dari rumah. Sepagi itu. Suara adzan yang selalu berkumandang pun belum terdengar dari  pengeras suara masjid. Kulirik jam kecil di nakas samping tempat tidurku. Dan memang belum waktunya suara adzan yang menjadi alarm bangunku itu berkumandang.

Ibu mengumpulkan rambut panjangku dan mengikatnya jadi satu. Lalu memakaikanku baju hangat dan sepatu. Semuanya Ibu lakukan dengan gerak cepat dan berusaha tak menimbulkan suara berisik. Aku berusaha menghentikannya, ingin bertanya mengapa ia harus melakukannya pagi-pagi buta. Ia meletakkan telunjukknya di depan bibir, menyuruhku untuk tetap diam. Dan aku menuruti perintahnya. Mendadak rasa takut menyelinap dalam diriku.

Satu tangannya menjinjing tas besar yang gemuk. Kutebak Ibu akan membawaku pergi jauh. Sementara satu tangannya yang bebas, meraih tangannku. Aku mengekor langkahnya yang keluar dari kamarku seperti maling. Hampir saja aku mengeluarkan jeritan jika Ibu tidak menutup mulutku yang sudah siap melepas teriakan. Entah apa yang terjadi di rumah ini ketika aku terlelap. Ada yang sudah mengacak-acak rumah kami. Kulihat banyak pecahan kaca tersebar di lantai ruang makan, kursi-kursi yang jatuh, dan tirai yang lepas dari kaitnya. Rumah kami tidak seperti rumah kami yang selalu rapi karena tangan Ibu.

Aku berusaha melepas pelukan Ibu. Kepalaku mendongak melihat wajah yang kini pucat dan dingin. Dan aku baru menyadari satu hal; kening Ibu terluka. Kurogoh tas kecil favoritku –yang untungnya tak dilupakan oleh Ibu ketika kami pergi tadi-- mengambil sebuah plester bergambar Mickey Mouse. Kepala Ibu berdarah, kataku sambil menutup lukanya dengan plester. Air matanya jatuh ketika ia mengucapkan terima kasih lalu mengecup pelan puncak kepalaku.

**

Ibu duduk memeluk lutut di sudut kamarnya yang kecil. Rambut panjangnya dibiarkan jatuh menutupi wajahnya yang cantik. Bibirnya belum berhenti menyenandungkan lagu tidur untukku. Lagu selalu kudengar setiap malam. Ia tak menghentikan kebiasaan itu meski usiaku sudah duabelas.  Ingin rasanya aku datang pada Ibu, memeluknya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tapi aku bisa apa? Menyentuhnya pun aku tak mampu. Aku memang berada dekat dengannya, tapi sebenarnya kami sudah benar-benar jauh.

Bus yang kami tumpangi bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Kudengar jerit dari para penumpang yang mendadak ketakutan. Tak terkecuali denganku. Ibu masih di sampingku, melindungiku dalam dekapannya. Bibirnya terus mengucap takbir. Hingga bus masuk ke jurang, Ibu tak sekalipun melepaskan tangannya dariku. Ibu benar-benar ingin melindungiku. Ia tak ingin aku terluka. Dan itulah yang membuat Ibu terus menyalahkan dirinya sendiri; memukul Ayah dengan vas bunga dan mengajakku pergi.

Dengan langkahnya yang lemah, Ibu berjalan menuju jendela kamarnya. Berdiri dengan tatapan kosong ke luar kamarnya. Helai-helai rambutnya bergoyang tertiup angin, memperlihatkan wajahnya yang selalu ia sembunyikan. Bibirnya tersenyum. Lalu tertawa.
Dan ibuku tidak gila.


***

Peron Dua Stasiun Gondangdia



Aku menunggu di peron dua, Stasiun Gondangdia.

Beberapa dari mereka sudah tiba, lalu pergi. Pun dengan beberapa setelahnya. Dan aku masih di sini, belum beranjak dari kursi besi yang dingin. Yang kutunggu belum juga terdengar tanda kedatangannya yang biasanya diumumkan lewat pengeras suara. Kubuka lagi buku kumpulan cerita yang sudah kuberi tanda dengan pembatasnya di halaman seratus lima puluh enam. Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri, judul buku yang kubaca itu.

Aku baru saja sampai pada cerita tentang Ainun yang dikutuk karena membela Subairi, lelaki yang dicintainya. Lelaki itu dituduh melakukan perbuatan tak senonoh pada seorang gadis, lalu membunuhnya. Ia dihakimi oleh warga desa yang terbakar amarah.

Bakar! Bunuh! Laknat!

Barangkali takdir, begitu jawaban Subairi ketika Ainun menanyakan alasan Subairi berbohong padanya.  Kasihan sekali Ainun, pikirku. Ia harus menerima kutukan karena membela lelaki yang dicintainya. Ia bahkan tetap mencintainya, dan tak ada lelaki lain lagi, hingga usianya yang lebih dari satu abad. Dan ternyata, lelaki itu sudah berbohong padanya. Ia benar-benar melakukan perbuatan yang dituduhkan warga desa.

Barangkali takdir, seperti yang tertulis dalam buku ini.

Hingga pada detik yang membuatku hendak beranjak, kau muncul di sana, dari eskalator yang membawamu naik ke tempat yang sama denganku. Dengan seragam hijau kebangganmu, menggendong ransel kanvas warna beige. Aku mengenalimu, namun kau tidak. Kau tahu, bahwa hanya melihatmu saja sudah cukup membuatku bodoh. Aku mengabaikan yang sedari tadi kutunggu hingga bosan. Commuter line tujuan Bogor sudah berlalu. Meninggalkanku yang ingatannya terlempar lagi ke masa lalu.

Demi apapun aku merasa semakin bodoh karena membiarkan hatiku senang karenamu. Dan bibirku, sulit sekali membuatnya untuk tidak tersenyum. Alih-alih membiarkan diriku semakin terlihat bodoh dengan membiarkan mataku memandangimu atau kakiku ini melangkah mendekatimu, kubuka kembali buku yang belum tuntas tadi.

Aku tidak benar-benar membaca. Kepalaku terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan; apakah kau melihatku, masihkah mengenaliku, atau haruskah aku beranjak dan menyapamu? Ah, tidak akan kulakukan! Masa laluku tentangmu sudah cukup memalukan bagiku. Aku bukan lagi gadis remaja yang tak tahu malu menyatakan cinta pada teman abangnya. Ya, seperti itu.

**



 Aku menunggu di peron dua, Stasiun Gondangdia.

Mungkinkah hujan selalu datang satu paket dengan kenangan? Kurasa memang seringnya seperti itu. Aku melihatmu di sana, sedang duduk tertunduk. Pandanganmu jatuh pada lembar-lembar kertas kesukaanmu. Kau mencintai buku, kata seseorang padaku. Dulu.

Aku masih mengingat bagaimana binar matamu ketika aku datang menghadiahimu sebuah buku. Buku yang dipilihkan kekasihku untukku. Kau tahu sendiri bahwa aku tak terlalu suka membaca, terlebih buku yang tebal. Hingga aku teringat kau yang senang membaca dan memberikannya padamu, Majapahit: Sandyakala Rajasawangsa. Setidaknya ia akan dirawat lebih baik olehmu.

Ingin aku menghampirimu, menyapamu. Lalu malu rasanya ketika ingatanku kembali pada masa tiga tahun lalu – ketika seorang gadis mengatakan bahwa ia mencintaiku dan ingi jadi kekasihku. Dan bodohnya aku menertawakannya. Kau adalah adikku. Tak lebih dari itu. Namun seperti yang kukatakan tadi, aku terlalu bodoh karena tak menyadari bahwa kau terluka meski kau membalasku dengan tawa.
Suara dari pengeras suara memberitakan bahwa commuter line tujuan Bekasi akan segera tiba. Aku melangkah sampai garis batas. Melewatimu yang sekilas kulihat mendongakkan kepala. Seharusnya aku tak melaluimu begitu saja. Seharusnya aku bisa sekadar memberi sapa. Ya, seharusnya begitu.

Kereta yang kutunggu sudah tiba. Aku melangkah masuk ketika pintunya bergeser. Dari kursi besi itu, sepasang matamu mencari-cari sesuatu ke dalam gerbong. Aku bisa melihatmu dari balik bahu-bahu milik orang lain; kau tersenyum. Kau benar-benar melihatku ternyata.

***


Sabtu, 26 Juli 2014

Hujan Turun Lagi

picture from weheartit

Hujan turun lagi, Kirana.
Aku melihatmu dari balik jendela kamarku. Berlari-lari di bawah rinai hujan. Sesekali menari, berputar-putar sambil bergandeng tangan dengan temanmu. Kamu tahu Kirana, aku ingin sekali bisa keluar dari kehangatan kamarku dan berlari menujumu. Aku ingin menari di bawah hujan. Sepertimu. Namun kamu juga tentu tahu Kirana, Ibu tak akan membiarkanku melakukan itu. Aku harus tinggal di dalam kamar dan berselimut tebal. Dan tentu saja, aku hanya bisa memandang sedih ke luar jendela kamarku. Menyaksikan gadis-gadis berpesta.

Kamu menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasimu di balik jendela yang buram berembun. Aku menangkap senyummu. Senyum yang melengkung di bibir pucatmu. Seharusnya kamu cepat pulang dan menghangatkan tubuhmu yang menggigil itu, Kirana. Pulanglah... jangan membuat Ibu sedih jika kamu sakit karena terlalu lama bermain hujan. Jangan marah padanya jika ia banyak melarangmu ini itu. Ibu terlalu sayang padamu. Biar kuberitahu padamu, diam di dalam kamar dan hanya memandang iri pada hujan di luar sana sungguh menyebalkan, Kirana. Maka cepatlah pulang dan menurut pada apa yang Ibu katakan.

Pintu kamarku berdecit, membuatku mengabaikan dirimu. Ibu berjalan menuju ranjangku dengan membawa semangkuk sup buatannya. "Sudah waktunya makan, Kirana." Ibu duduk di sampingku, menyuapi anak gadisnya dengan sabar. Kamu tahu Kirana, aku sungguh menyesal ketika aku justru berlari membawa marah pada Ibu karena menyuruhku berhenti bermain hujan. Andai saja bisa mengulang waktu, aku akan segera pulang. Dan Kirana--aku atau kamu, sama saja--tak akan menghabiskan waktunya di atas ranjang sambil memandangi hujan dari balik jendela saja.







Kota Hujan, 26072014

Sabtu, 15 Maret 2014

Rapuh

Kubanting dengan kasar pintu kayu bercat putih itu. Aku merosot hingga akhirnya jatuh terduduk di lantai dengan air mata yang belum jua reda. Pertengkaran beberapa menit lalu pun kembali berkelebat di pikiranku yang kacau, seolah-olah semakin menambah berat bebanku. Dadaku sesak akibat terlalu banyak menangis. Aku memukul-mukul dadaku, berharap nyeri itu berkurang, namun air mataku makin deras dan lebih menyakitkan.

Cerai. Kata itu meluncur begitu saja seperti sesuatu yang sudah tak tahan karena dipendam terlalu lama. Aku mungkin masih bisa memaafkan bila ia selalu pulang larut bahkan dalam keadaan mabuk berat, atau seringkali khilaf dengan memukuli diriku. Asal anak kami satu-satunya itu bahagia, tak terluka, aku siap menerima apapun perlakuan kasarnya. Tapi aku tetaplah seorang perempuan yang memiliki titik rapuh dalam hidupnya. Dan aku pun berada di titik itu, malam ini.

Aku masih terjaga sambil melawan kantuk yang menyerang. Jarum jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia belum pulang. Mataku nyaris memejam ketika suara pukulan kasar di pintu depan tertangkap indera pendengaranku. Aku bergegas untuk membukakan pintu.

Ia pulang. Mabuk lagi. Rasanya seperti ada yang meneteskan air garam di atas luka yang menganga ketika kulihat seorang perempuan dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu memapahnya dalam keadaan yang sama mabuk. Aku mencoba meraihnya. Ia menepis tanganku. Kasar.
Ini bukan sekali-dua kali ia membawa perempuan itu pulang ke rumah kami. Aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Kuputuskan untuk membiarkannya pergi, bahagia dengan pilihannya. Pun denganku, aku juga akan pergi darinya. Aku menatap sebotol cairan pembunuh serangga. Itu pilihanku. Mengakhiri kerapuhan hidupku.

*****

Aroma Melati

Ketel yang kupakai untuk menjerang air pun menimbulkan bunyi ketika air di dalamnya sudah mendidih. Membangunkan aku dari lembaran album masa lalu. Aku beranjak, menyeduh teh dengan aroma melati. Kesukaanmu. Dulu. Aku masih suka membuatnya menjadi dua cangkir, sayang. Satu untukku, dan tentu saja satu cangkir lagi adalah untukmu.

Kita menikmati sisa sore hari itu dengan aroma melati menguar di udara, bercampur dengan aroma sehabis hujan. Hingga kuberanikan diri mengajakmu untuk menghabiskan hidup bersama, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku yang akan menemani tiap langkah perjuanganmu. Kamu tersipu. Dan kamu mau. 

Sudah hampir seperempat abad yang lalu sejak aku memintamu. Namun, kumohon maafkan aku, sayang. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu, memaksamu untuk selalu bersamaku. Aku hanya ingin hidup bersamamu. Selamanya. Tidakkah aroma teh melati ini sangat wangi, sayang? Mengalahkan aroma tubuhmu yang mulai membusuk sejak kutemukan kamu terbujur kaku. 

Tujuh hari lalu.

Rabu, 05 Maret 2014

Kursi Kayu

Katamu, kursi kayu yang mulai pudar warna coklatnya di bawah pohon tanjung inilah tempat kamu akan menungguku datang. Seraya menghisap beberapa batang rokok dan mendengarkan alunan musik dari sepasang earphone yang kuhadiahi untukmu. Lalu kamu buru-buru mematikan ujung rokokmu ketika matamu menangkap diriku yang semakin dekat dengan kursi kayu yang mulai pudar warna coklatnya, karena kamu tahu bibirku akan menceramahimu tentang kebiasaan burukmu. Membunuh bosan, katamu beralasan jika aku mulai memberikan pandangan menyelidik ke bawah sepatumu. Meski berulang kali aku mengeluhkan kebiasaanmu, tapi kamu tak mengeluhkanku. Sebuah senyum selalu kau jadikan senjata andalan untuk melumpuhkanku. Jemarimu yang hangat pun meraih jemariku, mengajakku pergi dan akhirnya meninggalkan kursi kayu yang tak pernah lelah menemani kita. Meski kursi kayu atau pohon tanjung itu tak lagi ada, kamu tetap akan menungguku. Ya. Katamu, kamu akan menunggu. Aku tahu itu.

Senja kelima, bulan ketiga. Kini aku menunggu di tempat yang sama ketika kamu menungguku datang dengan setumpuk buku. Aku merasai udara sore dengan matahari yang teduh. Tak ada langit kemerahan ataupun kicau burung hendak kembali ke sangkar. Kau tahu, pohon tanjung yang selalu menaungi kursi kayu kita tak lagi serindang dulu. Semua berubah. Pun kamu, yang kini tak lagi menungguku. Hanya kursi kayu yang mulai pudar warna coklatnya yang masih setia menungguku datang, memberikan tempat untukku melepas penat.  Entah sampai kapan aku berharap kamu akan kembali meski kursi kayu ini kadang menyadarkan aku tentang penantian yang sia-sia. Aku tak peduli. Di sinilah aku di setiap sore, menunggumu. Harusnya kamu tahu itu meski nisan itu telah tercetak namamu. Setahun lalu

Minggu, 12 Mei 2013

The Probability



“Namanya Sekar,” ujarku begitu mengetahui kemana lelaki disampingku ini mengarahkan kameranya. Sedari tadi ia sibuk di balik jendela bidiknya, berusaha menangkap objeknya dan mengabaikanku yang terus mengoceh tentang bagaimana menghitung probabilitas posterior.
“Kamu kenal dia?” tanyanya tanpa sesenti pun matanya beralih dari balik jendela bidiknya.
Aku menyendok es dawet hijau yang masih menempati setengah gelas, tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Siang ini, kami memutuskan untuk mampir di salah satu penjaja es dawet yang biasa berjualan di salah satu sudut pasar dekat stasiun di kota hujan, setelah berkelana mencari buku-buku di dekat stasiun. Kami menikmati es dawet sembari membahas materi kuliah dari dosen kami tentang analisis probabilitas yang diberikan tempo hari. Kemudian ia buru-buru mengeluarkan kameranya ketika matanya menangkap seorang gadis dalam balutan jilbab merah muda. Kulihat gadis itu duduk didepan ruko yang menjual aneka perabot rumah tangga sambil serius menekuni buku diantara lalu lalang pengunjung pasar tanpa terganggu.
Ia akhirnya menyerah dan mengalihkan pandangannya dari gadis berjilbab merah muda padaku ketika aku tak kunjung memberikan jawaban.  “Hei, kamu kenal dia?” tanyanya sekali lagi.
“Teman sekolahku dulu,” jawabku pelan tanpa  melihatnya.
“Single available-kah?”
Aku mengangkat bahu. “Maybe, belum pernah dengar dia menikah.”
“Menarik,” ujarnya yang kemudian meletakkan kameranya dan tak memotret lagi.
“Apanya yang menarik?” tanyaku penasaran.
Dia hanya tersenyum sok misterius.
“Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan? Menghampirinya dan berkenalan langsung atau meminta tolong padamu untuk mengenalkan?” tanyanya iseng.
Aku mengangkat bahu lagi. “Kamulah yang harus memutuskan,” jawabku terkekeh.
Ia terlihat lemas, mungkin sedang dilanda kebimbangan.
“Mungkin kita harus membuat pohon keputusan dan menganalisa probabilitasnya dulu, seperti yang diajarkan dosen kita kemarin,” godaku.
Dia menatapku dengan tatapan penuh semangat. “You’re right! Let’s make it!”
Aku hanya melongo mendengar kata-katanya, yang kemudian disambut dengan tawanya yang geli.
“Just kidding, hey!”

Oh no! Tak terbayang bila kami harus menghitung tingkat probabilitas dari tiap kemungkinan untuk memutuskan tindakan apa yang harus ia lakukan untuk bisa mengenal Sekar, gadis yang kini sudah pergi bersama bukunya dari ruko perabot rumah tangga di sudut pasar. 

*****


Kota Hujan,
110513








Note:
Dibuat karena rasa gemas melihat soal mata kuliah Teori Pengambilan Keputusan tentang Analisa Probabilitas. Semoga setelah FF ini publish, semangat dan ketajaman analisa pun muncul.. Hhahahaaa..  Mari minum es dawet.. ehhh??  mari menghitung..!!

Sabtu, 02 Maret 2013

Lima Tahun Lagi


nursasiseptarina.blogspot.com


Waktu yang sudah berlalu begitu cepat atau aku yang tak mau tahu hingga menyadari betapa mereka sudah jauh meninggalkan. Ya, mungkin aku yang tak lagi peduli tentang waktu sejak malam itu, ketika kita duduk bersama sambil menikmati wedang ronde di salah satu lesehan di alun -alun kidul Yogyakarta. Kita membicarakan banyak hal yang juga mampu membuat kita melupakan satu hal bernama waktu.

“Lima tahun lagi?” kataku bingung ketika kamu bertanya tentang mimpiku lima tahun lagi.
Kamu mengangguk pelan. “Iya, lima tahun dari sekarang. Apa mimpimu?”
Otakku bekerja dengan sangat cepat dan bibirku mengungkapkan apa yang ditemukan otakku tentang aku di lima tahun lagi. “Tentu saja menjadi seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang perancang busana pengantin,” jawabku bersemangat. Kamu hanya tersenyum dan memandangku dengan yakin.
“Jadi, apa mimpimu tentang lima tahun lagi?” tanyaku setelah kujawab pertanyaan yang sama darimu.
Kulihat kamu menunduk, memandang mangkuk ronde di meja. Aku menunggu.
“Mimpiku sederhana saja,” jawabmu pelan tanpa mengalihkan pandangan dari magkuk yang isinya tinggal setengah.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Bisa kembali mengunjungi kota ini lagi, duduk bersamamu dengan dua mangkuk ronde diantara kita, mendengar ceritamu tentang rancangan terbarumu, atau membahas sejarah seperti yang sering kita lakukan,” jawabmu dengan lancar.
Seperti katamu, sederhana. Aku tertegun dan hanya bisa tersenyum tanpa tahu harus berkata apa tentang mimpi yang katamu sederhana. Jauh di lubuk hati, aku pun berharap mimpi yang sama denganmu.
Entahlah apa yang akan terjadi dengan lima tahun lagi karena segalanya bisa saja berubah, pikirku.


Wedang ronde diantarkan oleh bapak penjual ronde yang sama seperti lima tahun lalu. Ada kecanggungan yang datang bersamaan dengan perginya si bapak penjual ronde. Aku menyendok wedang ronde milikku lebih dulu dan diikuti kamu. Wedang ronde ini masih sama dengan wedang ronde lima tahun lalu, namun lain halnya dengan kita.
“Bagaimana kabarmu?” Entah kenapa pertanyaan itu yang meluncur dari bibirku.
“Baik, kamu sendiri bagaimana?” tanyamu.
“Seperti yang kamu lihat,” jawabku lalu tertawa, hambar. Kamu pun sama, memaksakan sebuah tawa untuk keluar dari bibirmu.
“Kamu sudah sukses jadi desainer sekarang, beritamu sudah kemana-mana.”
“Berlebihan,” kataku.
“Itu kenyataannya ‘kan? Karena itu kami memutuskan memilihmu,” ucapmu yang lalu memandang seorang perempuan cantik dalam balutan jilbab biru muda yang duduk disampingmu. Ia tersenyum tulus padaku. Perempuan yang anggun dan sederhana, tentu saja jauh lebih baik dariku. Setidaknya aku tak perlu merasa bersalah karena lebih memilih seorang pria yang memintaku untuk menjadi istrinya dua tahun lalu.  
Malam ini, apa yang pernah kita obrolkan tentang mimpi kita benar-benar menjadi kenyataaan. Aku sudah menjadi seorang istri, seorang ibu, dan perancang busana. Lalu kamu sudah mewujudkan mimpimu untuk duduk kembali menikmati wedang ronde bersamaku dan tentu saja bersamanya, mendengarkan rencana rancangan terbaruku untuk pernikahanmu, pernikahan kalian.
Waktu memang berlalu dengan segala perubahannya, namun tempat ini, rasa wedang ronde ini, masih saja sama seperti lima tahun lalu.

“Jadi apa mimpimu lima tahun lagi?” Kudengar pertanyaan itu keluar dari bibirmu.
Aku yang tengah merapikan sketsa rancanganku, mendongak dan melihatmu dengan tatapan menantang yang sama seperti lima tahun lalu. 

Kamis, 28 Februari 2013

Kembali


Terlalu banyak hal yang mampu melenyapkan rasa sedih dalam relung hati ketika kedua kakiku menjejak di kota yang selalu membuatku rindu pulang., Yogyakarta. Kota yang memiliki banyak cerita dari setiap manusia yang pernah mennginjak tanahnya, menyimpan kenangan pahit manis mereka di setiap sudutnya, menanamkan rasa rindu agar segera kembali menjumpainya lagi. Kota yang ramah dan hangat layaknya rumah yang seharusnya.
Hingga disinilah aku berada, satu tahun setelah perjumpaan kita yang terakhir, di kota yang kau sebut sebagai rumah. Alun-alun kidul Yogyakarta selalu ramai ketika malam hari. Beberapa penjaja sewa penutup mata menghampiriku dan menawari penutup mata yang mereka punya untuk mencoba permainan yang sangat terkenal di alun-alun. Pohon beringin kembar itu masih saja menunggu untuk ditaklukan.
Aku berdiri sembari menikmati suasana alun-alun dan menonton orang-orang yang mencoba peruntungannya agar bisa melewati pohon kembar dengan sempurna. Senyum kecil mengembang di bibirku.
“Ini…,” ucapnya pelan sambil menyodorkan penutup mata yang ia sewa dari penjaja keliling.
Aku tertawa. “Kamu mau aku nyoba permainan ini?” tanyaku.
“Kenapa? Nggak berani?!” tantangnya dengan penuh percaya diri.
“Nggak berani? Enak aja kalau ngomong!” balasku. “Tapi ini Cuma permainan konyol aja.”
“Hei, nggak ada salahnya kan mencoba?”
Aku mengangguk pelan.
“Mitosnya hanya orang yang berhati bersih yang bisa melewati pohon itu.”
“Cuma mitos ‘kan?” kataku meremehkan.
Ia tahu kalau aku tak percaya dengan mitos, karena itu ia langsung menutup mataku denga penutup mata yang tadi ia berikan padaku. Aku mencoba menghalangi aksinya itu tapi ia sangat sigap dan menjadi lebih galak seperti ayah yang sedang menghukum anaknya dan membuatku menurut. Sekali-kali menyenangkan hatinya, pikirku.
“Semoga berhasil,” bisiknya pelan di telinga kananku lalu mendorong tubuhku perlahan. Kakiku melangkah dan hanya terus melangkah dalam hitamnya pandanganku.
Hitamnya langit malam di atas sana kembali membuka hitamnya rindu dalam hatiku dan membuatku berharap laki-laki dengan jaket abu-abu itu menghampiriku. Laki-laki yang setahun lalu datang menyapaku dengan suaranya yang menghangatkan hatiku yang terlalu dingin karena masa lalu. Membuatku larut dalam tiap untaian kata yang keluar dari mulutnya, menceritakan tentang tiap sudut kota Yogyakarta yang indah. Laki-laki yang membuatku jatuh cinta pada Yogya dalam satu hari kebersamaan kami ketika itu
Kututup mataku dengan penutup mata yang kusewa dengan harga ribuan rupiah dan kemudian melangkahkan kakiku seperti setahun lalu.

Aku menunggumu kembali, menceritakanku sejarah sambil menyesap hangatnya ronde di alun-alun kidul Yogyakarta. 

Kamis, 24 Januari 2013

Tunggu Disitu, Aku Sedang Menujumu




Rindu. Lima huruf itu yang terus memenuhi hatiku hingga sesak sejak tiga bulan lalu. Menunggu bulan keempat tiba hingga aku dapat kembali mencium aromanya, membiarkan dinginnya membelai mesra kulitku, dan tentu saja bisa tidur di pangkuannya. Aku pun tak membuang kesempatan kala kabar baik itu datang padaku. Vinni, sahabatku, mengabarkan kalau bulan April ia akan pergi mengunjunginya. Segera kuambil cuti beberapa hari dari pekerjaanku jauh-jauh hari dan sengaja tak kuberitahu kekasihku tentang rencana kepergianku ini. Aku tahu ia tak akan membiarkanku pergi.

Ponsel hitam dalam saku sweatshirt abu-abuku sudah bernyanyi berkali-kali sejak tadi. Aku menyerah dan akhirnya kutekan tombol answer.

“Kamu dimana?” Tanya laki-laki diseberang sana dengan nada tinggi begitu kudekatkan ponsel hitam itu ke telingaku, bahkan ia tak memberiku bicara terlebih dulu. “Kamu dimana sekarang?” Ia mengulang pertanyaannya ketika aku tak kunjung menjawabnya.
“Terminal Baranangsiang,” jawabku ketus.
“Terminal?” ulangnya. “Mau kemana?”
“Gede,” jawabku singkat.
“Gede?!” serunya. Bisa kupastikan ia panik bukan main mendengar jawabanku barusan.
“Tunggu disitu, aku akan menyusul.”
“Nggak perlu….”
“Pokoknya tunggu disitu, aku sedang menujumu!” perintahnya tegas dengan memberi penekanan pada tiap kata.
“Aku bil….”

Tut… tut… tut…

Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku ketika ia menutup teleponnya. “Nggak sopan, seenak jidat aja nutup telepon!” rutukku kesal.

“Jendra?” tebak Vinni yang kini sudah duduk disampingku setelah selesai bicara dengan temannya yang sesama pendaki. Aku mengangguk malas.
“Kenapa lagi dia?”
“Dia panik begitu gue bilang lagi di terminal mau ke Gede,” jawabku santai.
Vinni tertawa. “Gila lu! Yaiyalah panik, seminggu lagi mau lamaran malah naik gunung,” ujar Vinni. Aku terkekeh mendengarnya.

Lamaran. Aku tentu tak lupa acara itu. Satu minggu lagi keluarga Jendra akan datang untuk melamarku. Seperti kata Vinni, gila, disaat perempuan lain sibuk bolak-balik salon atau butik menjelang hari lamarannya, aku malah di berada terminal dengan tas berat. Aku sudah terlanjur rindu untuk naik gunung, mendaki hingga ke puncak, lalu bermalam di Mandalawangi yang cantik dengan hamparan bunga abadinya.

Tunggu aku disitu, aku sedang menujumu Gede Pangrango,” ucapku dalam hati, memakai kalimat Jendra yang kuabaikan.

Ponselku berbunyi lagi, pesan singkat dari Jendra. Tunggu disitu! Aku sedang menujumu!

Bersamaan dengan itu, Vinni memberitahuku kalau kami harus segera naik kendaraan yang akan membawa kami ke Cibodas sebelum ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
**

Rabu, 23 Januari 2013

Percaya Padaku




weheartit.com
Jendra membatalkan makan malam setelah bertemu Elka di parkiran restoran semalam. Ia meminta maaf dan mengantarku pulang. Setelah itu, aku belum mendapatkan kabarnya lagi hingga siang ini. Kupandangi layar ponselku sembari berharap ia akan menghubungiku atau sekedar mengirimiku pesan singkat. Berkali-kali pula kubuka contact list dan hendak menghubunginya terlebih dulu, namun kali itu juga aku mengurungkan niatku.

Siang ini aku sedang berada di toko buku yang ada di pusat perbelanjaan. Melakukan sesuatu untuk meringankan pikiranku dari masalah yang membuatku nyaris tidak bisa tidur setiap malam. Kulangkahkan kakiku menyusuri barisan rak dan mencari buku yang bisa menarik perhatianku untuk kubawa pulang.

“Diana.” Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Novel yang sedang kupegang nyaris lepas dari tanganku. Aku menoleh dan mendapati lelaki itu ada di depan mataku. Ia tersenyum padaku. “Syukurlah aku tidak salah orang.”

“Natha?” Ia terlihat berbeda sekali dengan ia di tujuh tahun yang lalu. Menurutku raut wajahnya terlihat lebih dewasa sekarang, dengan kacamata frame less dan rambut yang disisir rapi, lalu kemeja panjang warna biru yang digulung bagian lengannya hingga siku dan celana hitam panjang.

“Sedang cari buku apa?” tanyanya sambil mencoba melihat buku yang kupegang. Aku segera meletakkan buku itu kembali bersama teman-temannya.

Aku menghiraukannya dan berjalan pelan ke rak buku yang lain. Natha mengikutiku dan menyejajarkan langkahnya denganku. “Di, kamu tak ingin menanyakan kabarku atau apalah, kita sudah lama nggak ketemu 'kan...?” ujarnya.

“Oke, apa kabarmu Nath?” tanyaku malas tanpa melihatnya dan tetap menyusuri barisan buku.

“Kabar baik setelah menjejakkan kaki di kota ini lagi.”
“Baguslah, setidaknya aku tahu kau baik-baik saja setelah perpisahan kita.”
Natha menghela nafas pendek. “Ahh, perpisahan... bodohnya aku dulu ketika memutuskan hubungan kita.”
“Baru sadar kalau kamu itu bodoh?” balasku.
“Ya, aku sadar kalau aku ini bodoh karena harusnya keputusanku untuk meninggalkanmu itu tak pernah ada, Di.”
“Kamu menyesal meninggalkanku?” kataku terkekeh. Ternyata kini ia merasakan rasa sakitku dulu.
“Aku sangat menyesal, Di.”
“Kamu tak pernah berubah, Nath. Selalu saja terlambat.”
“Apa tak ada sedikitpun celah agar aku bisa kembali di hatimu?” tanyanya sambil melihatku.
Deg. Aku benar-benar terkejut mendengar kalimatnya.

Mengapa dunia harus sesempit ini, Tuhan?!

**

Diana terlihat sangat terkejut mendengarku. Novel yang dipegangnya pun sudah jatuh ke lantai. Aku tahu ia pasti tak begitu saja percaya kata-kataku beberapa detik lalu, tapi aku harus membuatnya percaya. Apakah aku egois, Tuhan?

“Tidak semudah itu, Nath,” jawabnya.

Aku membungkuk untuk mengambil novel yang dijatuhkannya. “Segalanya butuh proses. Itu 'kan yang mau kau katakan?”
Diana hanya diam menerima novelnya. Sepertinya aku sudah salah mengira, perempuan ini jauh lebih kuat sekarang. “Aku hanya ingin kamu percaya padaku, Di,” kataku sambil menyodorkan novel itu padanya dan melangkah pergi. 

Selasa, 22 Januari 2013

Jangan kemana-mana, di hatiku saja!



Aku baru saja keluar restoran dengan Natha ketika kulihat Jendra keluar dari mobilnya, bersama Diana. Entahlah, aku sudah terlalu hancur kali ini. Kutarik tangan Natha untuk segera ke mobilnya.
“Ada apa sih, El?” Tanya Natha kebingungan sambil mengikuti langkah cepatku.
Terlambat. Jendra melihatku dan mengejar aku dan Natha sebelum kami berhasil menemukan mobil Natha. “Elka….” Terdengar Jendra berteriak memanggilku.
Natha menahan langkahku. “Kenapa sih, El?” Tanya Natha terdengar marah. Aku hanya menunduk berusaha menahan air mataku.
Jendra sudah sampai di tempat kami ketika Natha hendak membuka suara lagi. “El,” panggil Jendra sambil meraih tanganku. “Jangan pergi, El.”
Aku memandang Natha dengan tatapan memohon. Ia mengangguk dan meninggalkan kami berdua.
“Kamu ini bego atau apa sih, Jen?!” teriakku. Mungkin ini saatnya aku meledak.
“El…” Jendra menarikku ke pelukannya. Hangat. Aku selalu berharap pelukannya bisa menjadi rumah untuk hatiku kelak, namun kini?
“Biarkan aku saja yang pergi kalau memang Diana itu pilihanmu,” kataku terisak dalam pelukannya.
Jendra makin mendekapku erat. “Aku nggak mau kamu pergi, El,” ucapnya ketakutan.
“Lepasin aku, Jen. Mungkin akan lebih baik kalau kita akhiri semua ini, biarin aku pergi. ”
“Please El, jangan pergi kemanapun, tinggallah di hatiku.”
“Hati kamu bukan lagi jadi rumahku, Jen.”

**

“Dia itu ‘calon suamimu’?” tanyaku begitu ia masuk mobilku dengan wajah basah oleh air mata. Elka hanya diam, ia tak berniat menjawab pertanyaanku.
“El,” panggilku pelan.
Ia mendongak dan melihatku sebentar. “Aku hanya ingin pergi.”
Aku mengangguk mengerti. Kunyalakan mesin mobil dan membawanya pergi kemanapun ia mau.
“Kemanapun, asal jangan pergi ke hati lelaki itu lagi.  Jangan kemana-mana El, di hatiku saja….di hatiku...”

**
weheartit.com

Jodoh



weheartit.com 




“Dunia memang sempit ya, El” ujar Natha, teman kuliahku yang baru pindah tugas ke rumah sakit yang sama denganku. Malam ini ia mengajakku makan malam di restoran yang tak jauh dari rumah sakit untuk merayakan pertemuan kami kembali.

“Iya, udah hampir lima tahun kita nggak ketemu sejak wisuda itu, eh malah ketemu lagi di rumah sakit,” kataku.
“Mungkin kita berjodoh, El.”
Aku terkekeh. Natha masih saja belum berubah rupanya. Ia selalu suka mengatakan kalimat itu dulu.
“Itu sih maumu!”
Natha tertawa. “Memangnya kamu nggak mau?” tanyanya dengan pandangan isengnya yang khas.
Aku menahan tawa mendengar pertanyannya. “Aku? Siapa yang mau berjodoh dengan playboy kampus sepertimu?!” balasku.
“Hey, look at me,” ucapnya sambil menarik tanganku agar aku melihatnya. Mata coklatnya, mengingatkanku pada Jendra. Ahh, aku jadi teringat video kirimannya tempo hari. Seriuskah ia?
“El….!” Aku melihat Natha mengerak-gerakkan tanganya di depan wajahku. “Masih sadar ‘kan, El?”
Aku jadi salah tingkah. Natha tertawa melihatku yang menunduk malu. “Jangan bilang kamu mulai terpikat dengan wajah dokter ganteng ini.”
Kulempar tisu ke arahnya. “Idih males banget terpikat sama kamu!”
Natha mendecakkan lidah lalu berkata dengan gaya sok serius, “Kita ini berjodoh, El. Jadi aku tahu kamu sudah mulai terpikat denganku.”
“Hei, aku ini calon istri orang!” balasku sebelum ia melantur lagi.
“Oh, jadi aku datang terlambat?” tanyanya terkejut. “Siapa lelaki yang berani medahuluiku itu, El?”tanyanya lagi dengan ekspresi sok seriusnya seperti biasa.
“Ra-ha-si-a…” jawabku.
“Aaahhh, kau membuatku penasaran, El.” Katanya kesal. “Setidaknya kau harus mengajakku bertemu dengan sainganku itu.”
“Dia orang sibuk!” Aku tersenyum puas karena Natha mulai penasaran. “Yang pasti ia lebih baik darimu,” tukasku.

Benarkah yang kukatakan barusan?
Benarkah aku ini calon istri Jendra?
Benarkah Jendra  jodohku?
Lalu Diana?
Ahh, mengapa wanita itu harus muncul?