Rabu, 01 Oktober 2014
3rd day : What are You Afraid Of?
Haii...
Sudah hari ketiga untuk tantangan ngeblog nih. Kali ini judulnya tentang hal yang gue takutkan.
Sudah pasti dari sekian ketakutan gue, yang ada di daftar paling atas adalah Sang Maha Pencipta. Gue sadar banget kok sebagai manusia masih banyak melakukan hal yang dilarang oleh-Nya, tapi gue selalu berusaha untuk menjalankan perintah-Nya. Selalu berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik dan taat.
Mati. Semua makhluk hidup pasti akan mati kan? Iya, gue tahu. Dan nggak ada yang tahu kapan waktu itu tiba kecuali Tuhan.
Takut kehilangan orang-orang tersayang, terutama keluarga. Ah, siapa sih yang mau kehilangan keluarga?
Ular. Ketakutan gue dengan hewan jenis ini emang gak parah-parah banget sih, malah pengen belajar megang (dan tetep belum berani juga!). Pernah waktu kecil (lupa umur berapa), ketika lagi di kamar mandi di rumah kakek-nenek gue tuh ada ular yang ngelilingin wc yg lagi gue pake. Dan gue cuma bisa teriak-teriak manggil mama. Sejak itu gue agak parno pake kamar mandi di rumah nenek gue itu dan takut tiba-tiba ada ular nongol di sana. Ahahaha
Apalagi ya? Banyak sih sebenarnya hal yang gue takutkan. Tapi gue gak menjadikan ketakutan gue itu sebagai hal yang harus gue takutkan dalam hidup. Kebanyakan gue malah belajar buat melawan ketakutan gue itu. Sok berani aja sih gue. Ahahahaaaa...
Jadi, mari belajar untuk menghadapi ketakutan yang kalian punya. Semangaaaattt....!!
Kota Hujan, 011014
Selasa, 30 September 2014
2nd day : 20 Facts About You
Allo....
Tantangan hari kedua ini adalah membeberkan 20 fakta tentang
gue. Yuk mari disimak fakta-fakta yang gaje ini. Ohohohohooo
- Jawa. Mungkin di hari pertama gue udah cerita tentang ini. Yep, gue keturunan Jawa yang sering dikira bukan orang jawa. Kebanyakan mereka mengira gue adalah orang sunda karena domisili gue di Bogor. Bahkan pernah ada yang ngira gue orang Aceh, Padang, atau Palembang. Oh!!
- Anak sulung dan perempuan satu-satunya membuat gue nggak punya saingan. Hahaha... karena dua adik gue semuanya laki-laki dan jarak usia gue dengan mereka agak jauh.
- Angka 9. Gue lahir di tanggal itu dan gue merasa itu adalah semacam nomor keberuntungan.
- Golongan darah gue B, dan gue baru tau ini beberapa bulan lalu. Diceknya sama Praka yang punya satu titik di ujung mata. Uwuwuwuww.... *toyor
- Ekspresif dan moody. Hehehehee....
- Jatuh cinta banget sama Yogyakarta dan punya mimpi bisa tinggal di kota itu sama keluarga gue kelak. XD
- Suka banget sama warna coklat. Sampe tiap beli baju, sepatu, atau sandal pun pasti yang dicari tuh warna coklatnya dulu.
- Gak suka jeruk. Paling gak suka sama buah yang satu ini. Jangankan makan, cium bau jeruk aja udah nggak suka. Kalau ada yang makan jeruk di dekat gue, pasti gue menyingkir atau kalaupun nggak bisa pergi ya... tutup hidung ajalah. Tapi Cuma jeruk buah yang oren-oren itu aja sih. Kalo lemon atau jeruk nipis sih masih oke.
- Lebih suka jalan sendirian. Iya sih kalau ada teman bisa ngobrol, tapi kadang suka nggak bebas, apalagi gue suka nggak enakan orangnya. Jadi kalau sendirian kan mau sampai kaki pegel pun puas. Tinggal teparnya aja di rumah. XD
- Seneng belanja buku (apalagi kalau diskonan), tapi dibacanya nggak tahu kapan. Hihihihiii
- Novel. Suka baca novel sejak SMP ketika teenlit lagi booming. Dan gue nggak fanatik sama satu genre aja sih.
- Suka nge-craft, tapi masih yang gampang-gampang aja kayak flanel dan kertas. Seru dan bisa bikin lupa waktu. Gue kadang suka sayang ngeluarin duit buat beli sesuatu yang sebenarnya bisa dibikin sendiri, jadi kalau bisa bikin kenapa mesti beli? Nggak enaknya adalah ketika selesai berkreasi dan menyadari tempat lu udah kayak kapal pecah. XD
- Lebih suka nonton film action, spionase, atau adventure ketimbang romance. Bukan berarti gak suka nonton romance ya, koleksi dvd gue juga banyak kok romance-nya.
- Will Smith. Teman gue sampe heran kenapa gue suka sama bapaknya Jayden Smith ini. Bagi gue, dia itu keren. Anaknya juga! Ahahhaha..
- Sheila on 7. Sebagai generasi yang melewati tahun 90-an, gue juga merasakan bagaimana lagu-lagui dari grup yang satu ini menemani hidup gue. (Dulu) gue fanatik banget sama So7, sampai ngumpulin semua tentang mereka. Playlist gue pun masih didominasi oleh lagu-lagu mereka sampai sekarang.
- Gak suka kucing, tapi gak sampe histeris juga kalau ada kucing.
- Kalau ngendarain motor suka ngebut (katanya!). Iya, kata orang-orang gitu. Sampe ada yang kapok diboncengin sama gue, padahal gak ngebut-ngebut amat kok gue. :p Tapi kalau gue yang diboncengin juga suka ngeri (nah, lho...) dan gue jadi mikir ‘jadi gini ya rasanya diboncengin ngebut?’. *toyor
- Anggota Gengges. Nama ini sebenarnya cuma asal ceplos aja waktu kumpul bareng sepupu-sepupu perempuan dari garis keturunan Mbah buyut Karsoredjo. Biasanya kita suka nonton dvd bareng atau kumpul-kumpul.
- Lango. (Buat yang belum tau apa itu lango, silahkan googling aja ya. :p ) Banyak yang bilang gue aneh atau konyol karena suka sama lango. Yateruss? Dan gue beruntung akhirnya menemukan satu teman yang gokil kalau udah ngomongin hal yang satu ini. Nulis novel dengan dunia lango adalah salah satu cita-cita gue juga. *wish
- Pengen banget bisa main voli. Ahahaha... Iya, mau belajar olahraga yang satu ini. *nyariguru
Udah ah, segitu aja yang gue bocorin tentang hidup gue (ya
emang cuma 20 kalii tantangannya...). Besok kita jumpa lagi dengan tantangan
berikutnya. Jangan kapok mampir sini yak... :D
Kota Hujan, 300914
Senin, 29 September 2014
1st day: Introduction
Haiii...
Yep, akhirnya gue memutuskan untuk ikutan 25 days challenges
ini. Tertarik untuk ikutan setelah baca blognya Kak Rula dan kayaknya seru
juga. Sekalian buat ngisi blog gue yang jarang banget diisi tulisan baru.
Hehehe.... Baiklah mari kita mulai dan semoga gue konsisten ngeblog selama 25
hari ke depan.
Di hari pertama ini gue mesti memperkenalkan diri. Nama
lengkap gue Desvian Trisna Sekar Wulan. Ketika gue memperkenalkan diri pada
orang baru, gue biasanya pakai nama Desvian dan seringnya gue mesti
menyebutkannya pelan-pelan atau mengulangnya. Dan nama gue ini bikin gue
ngabisin waktu ketika ujian (u know what I mean, lah). Gue punya banyak nama panggilan
mulai dari Desvi, Dedes, Dedel, Vian, Trisna, Isna, Wulan, dan beberapa teman
gue punya nama panggilan khusus buat gue (meski aneh). XD
Lahir di kota yang tetanggaan sama kota yang bikin gue jatuh
cinta. Kedua orang tua gue asli Jawa, tapi entah kenapa banyak orang yang ngira
gue bukan orang Jawa. Emang sih gue tumbuh dan besar di kota Hujan, tapi gue
juga gak pinter bahasa Sunda (bahasa Jawa juga gak pinter sih. Hahaha...). Lalu
gue mikir di mana letak kurang Jawa-nya muka gue? Apa gue mesti mengeksotiskan(?)
warna kulit dan ngomong lemah lembut plus kemayu? Hahahaa..*abaikan.
Saat ini gue masih tercatat (etdah tercatat...) sebagai
karyawati di sebuah perusahaan tesktil di kota hujan. Pekerjaan gue di bidang
keuangan. Dari dulu gue lebih suka angka-angka dan menghitung ketimbang teori
dan hapalan. Meski begitu, gue suka banget nulis dan baca buku. Menurut gue
nulis itu semacam terapi. Kadang ada beberapa hal yang ingin diungkapkan tapi
nggak bisa diungkapkan secara langsung, dan gue milih nulis buat mengungkapkan.
Gue suka nulis sejak SMP, tapi baru serius nulis sih beberapa tahun yang lalu. Belum
punya novel solo sih, tapi beberapa tulisan gue masuk dalam beberapa antologi.
Dan saat ini sedang merancang pilar-pilar calon ‘anak’ pertama. XD
Segitu dulu kali ya perkenalan kali ini. Salam kenal untuk
kalian. Kalau pada takut kenalan sama gue karena ada yang bilang gue galak atau
jutek abaikan saja, karena emang gitu kok (lho?!) :o
Boleh lho mampir buat denger kicauan gak penting gue di akun
@desvianwulan (promo terselubung).XD
Sampai jumpa besok.
Kota Hujan, 290914
Minggu, 21 September 2014
Just Give Her A Sign
Perempuan itu tersenyum. Lalu tertawa. Bahagia. Ingin
rasanya kamu di sana. Menikmati manis senyumnya, renyah tawanya, dan tentu saja
matanya yang katamu seperti telaga. Tapi kamu bisa apa? Hanya diam mengawasinya.
Lalu hancur ketika lelaki lain datang. Mendapatkan yang kamu inginkan. Dan kamu
mundur pelan-pelan seolah tak ingin jejakmu tertinggal.
Kamu menelanjangi dinding putih itu dari bingkai-bingkai
kenangan. Semua. Tak satupun kamu biarkan tertinggal. Tidak juga hatimu yang
sudah remuk. Kamu menyerah. Semudah itu.
Sedang di sana ia tahu kamu ada, mengawasinya. Ia melihat
punggungmu yang menjauh. Dan ia bertanya-tanya, mungkinkah kamu sudah menyerah?
Tanpa kamu tahu, ia sama remuknya denganmu. Ia ingin membagi tawanya denganmu.
Mengulurkan tangannya untukmu dan membantumu menyembuhkan luka dalam hatimu. Ia
tidak mengabaikanmu. Ia hanya sedang menunggu. Menunggumu.
(Tulisan dengan 123 kata ini diikutkan dalam #Fiksilaguku @KampusFiksi
terinspirasi dari lagu Breaking Benjamin-Give Me a Sign )
Minggu, 07 September 2014
10 Books That Affected Me
Awalnya ditag seorang teman di facebook tentang buku-buku yang mempengaruhi hidupnya. Sempat minder dengan bacaan saya yang ringan-ringan ini. Seringan kapas yang ditiup lalu terbang terbawa angin. Hahahahahaa.... Jadi, ini kesepuluh buku versi saya.
Sebenarnya buku ini bukanlah sebuah buku yang utuh dan lengkap, tanpa kover dan beberapa bagian buku yang hilang (dan nggak tahu kenapa bisa begitu). Saya temukan nggak sengaja di bawah meja tamu di rumah Pakde saya yang tentara, waktu saya masih SD (sekitar kelas 4 atau 5). Mengisahkan tentang proses penculikan para pahlawan revolusi sampai pengangkatan mayat-mayat di Lubang Buaya. Karena halaman yang nggak lengkap, saya sampai nyari di gudang rumah Pakde, dan nggak ketemu! Sedih. Buku inilah yang membuat saya jadi suka sama pelajaran sejarah, sampai dapat nilai 9 koma di rapor dan seneng banget waktu itu. XD
Sebuah biografi dari pebasket nasional. Awalnya beli buku ini karena kesengsem banget sama Koko Densu, lalu saya menemukan sesuatu ketika mulai membaca tiap lembar kisah hidupnya. Hidup yang tidak mudah, keras, dan penuh perjuangan. Didikan keras dari ibunya yang orang tua tunggal membentuknya menjadi pribadi yang keras pula, mudah emosi, namun berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah. Beberapa bagian membuat saya ingin menangis saja rasanya (emang cengeng sih. XD ). Melalui buku ini saya jadi menyadari bahwa hidup saya masih lebih mudah dari kisah-kisahnya, yang membuat saya lebih bersyukur.
Salah satu teenlit yang booming banget jamannya saya SMP. Sejak itu saya jadi keranjingan baca novel, mulai dari minjem teman (ngantri pula) sampai harus nabung buat beli. Dari hobi baca teenlit macam itu saya jadi kepengen punya karya seperti itu, jadi saya mulai nulis cerita-cerita saya di buku tulis (waktu itu belum punya komputer) yang kemudian dikonsumsi sama teman-teman terdekat dan bikin saya senang ketika mereka menagih lanjutannya. Momen sederhana itu yang bikin saya mulai suka nulis sampai menghabiskan banyak buku tulis.
Buku ini yang akhirnya membuat saya jatuh cinta sama tulisannya Kak Moemoe lainnya, Fly to the sky (tepatnya sama Ardian-nya). Awal beli ini sih memang karena Bangkok-nya, tapi akhirnya lewat novel ini membuat saya belajar bagaimana membuat tulisan deskriptif yang lebih baik (ngomong apa sih). :D
Sebenarnya bisa dibilang telat gaul juga pas baca ini. Mungkin yang lain sudah sampai Partikel bahkan nunggu Gelombang keluar, saya baru mulai dengan KPBJ. Hehehe.... Karya-karya ibu suri emang jempolan. Sains yang dipadankan dengan fiksi, penokohan yang kuat, dan banyak kejutan. Keren pake banget! Dan saya jadi kepingin beli seri selanjutnya.
Idenya membuat benang merah yang menyatukan keempatnya itu bagus. Gaya tulisan Ilana Tan dalam cinta empat musimnya itu yang banyak mempengaruhi gaya tulisan saya beberapa tahun lalu (sekarang juga masih sih).
Saya juga merasakan bagaimana hanyut dalam dunia sihirnya Tante Rowling seperti teman-teman saya yang lain waktu SMP. Membuat saya nggak sadar bahwa novel itu lebih tebal dari teenlit yang biasa saya baca.
Suka juga sama filmnya. Tentang persahabatan dan cerita cinta yang realistis. Saya suka endingnya. Akhirnya.... *ketawajahat
Tentang semangat dan perjuangan seorang Matari untuk kuliah di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Semangat yang sama juga terbit kembali dalam diri saya ketika membaca kisahnya.
Saya suka dengan pesan singkat yang dituliskannya pada halaman awal novelnya untuk saya. Dari tokoh yang diciptakannya itu saya jadi belajar untuk berani “mengumpat” dalam tulisan. Sebuah perubahan. Ahahahahaa....
- G30S-PKI (Nggak tahu judul tepatnya)
Sebenarnya buku ini bukanlah sebuah buku yang utuh dan lengkap, tanpa kover dan beberapa bagian buku yang hilang (dan nggak tahu kenapa bisa begitu). Saya temukan nggak sengaja di bawah meja tamu di rumah Pakde saya yang tentara, waktu saya masih SD (sekitar kelas 4 atau 5). Mengisahkan tentang proses penculikan para pahlawan revolusi sampai pengangkatan mayat-mayat di Lubang Buaya. Karena halaman yang nggak lengkap, saya sampai nyari di gudang rumah Pakde, dan nggak ketemu! Sedih. Buku inilah yang membuat saya jadi suka sama pelajaran sejarah, sampai dapat nilai 9 koma di rapor dan seneng banget waktu itu. XD
- Biografi Denny Sumargo
Sebuah biografi dari pebasket nasional. Awalnya beli buku ini karena kesengsem banget sama Koko Densu, lalu saya menemukan sesuatu ketika mulai membaca tiap lembar kisah hidupnya. Hidup yang tidak mudah, keras, dan penuh perjuangan. Didikan keras dari ibunya yang orang tua tunggal membentuknya menjadi pribadi yang keras pula, mudah emosi, namun berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah. Beberapa bagian membuat saya ingin menangis saja rasanya (emang cengeng sih. XD ). Melalui buku ini saya jadi menyadari bahwa hidup saya masih lebih mudah dari kisah-kisahnya, yang membuat saya lebih bersyukur.
- Fairish – Esti Kinasih
Salah satu teenlit yang booming banget jamannya saya SMP. Sejak itu saya jadi keranjingan baca novel, mulai dari minjem teman (ngantri pula) sampai harus nabung buat beli. Dari hobi baca teenlit macam itu saya jadi kepengen punya karya seperti itu, jadi saya mulai nulis cerita-cerita saya di buku tulis (waktu itu belum punya komputer) yang kemudian dikonsumsi sama teman-teman terdekat dan bikin saya senang ketika mereka menagih lanjutannya. Momen sederhana itu yang bikin saya mulai suka nulis sampai menghabiskan banyak buku tulis.
- Bangkok (Journey)- Moemoe Rizal
Buku ini yang akhirnya membuat saya jatuh cinta sama tulisannya Kak Moemoe lainnya, Fly to the sky (tepatnya sama Ardian-nya). Awal beli ini sih memang karena Bangkok-nya, tapi akhirnya lewat novel ini membuat saya belajar bagaimana membuat tulisan deskriptif yang lebih baik (ngomong apa sih). :D
- Supernova – KPBJ
Sebenarnya bisa dibilang telat gaul juga pas baca ini. Mungkin yang lain sudah sampai Partikel bahkan nunggu Gelombang keluar, saya baru mulai dengan KPBJ. Hehehe.... Karya-karya ibu suri emang jempolan. Sains yang dipadankan dengan fiksi, penokohan yang kuat, dan banyak kejutan. Keren pake banget! Dan saya jadi kepingin beli seri selanjutnya.
- Season Series – Ilana Tan
Idenya membuat benang merah yang menyatukan keempatnya itu bagus. Gaya tulisan Ilana Tan dalam cinta empat musimnya itu yang banyak mempengaruhi gaya tulisan saya beberapa tahun lalu (sekarang juga masih sih).
- Harry Potter – J.K Rowling
Saya juga merasakan bagaimana hanyut dalam dunia sihirnya Tante Rowling seperti teman-teman saya yang lain waktu SMP. Membuat saya nggak sadar bahwa novel itu lebih tebal dari teenlit yang biasa saya baca.
- You’re the apple in my eyes
Suka juga sama filmnya. Tentang persahabatan dan cerita cinta yang realistis. Saya suka endingnya. Akhirnya.... *ketawajahat
- 9 Matahari – Adenita
Tentang semangat dan perjuangan seorang Matari untuk kuliah di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Semangat yang sama juga terbit kembali dalam diri saya ketika membaca kisahnya.
- Alles Liebe – Farrahnanda
Saya suka dengan pesan singkat yang dituliskannya pada halaman awal novelnya untuk saya. Dari tokoh yang diciptakannya itu saya jadi belajar untuk berani “mengumpat” dalam tulisan. Sebuah perubahan. Ahahahahaa....
Sabtu, 26 Juli 2014
Hujan Turun Lagi
| picture from weheartit |
Hujan turun lagi, Kirana.
Aku melihatmu dari balik jendela kamarku. Berlari-lari di bawah rinai hujan. Sesekali menari, berputar-putar sambil bergandeng tangan dengan temanmu. Kamu tahu Kirana, aku ingin sekali bisa keluar dari kehangatan kamarku dan berlari menujumu. Aku ingin menari di bawah hujan. Sepertimu. Namun kamu juga tentu tahu Kirana, Ibu tak akan membiarkanku melakukan itu. Aku harus tinggal di dalam kamar dan berselimut tebal. Dan tentu saja, aku hanya bisa memandang sedih ke luar jendela kamarku. Menyaksikan gadis-gadis berpesta.
Kamu menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasimu di balik jendela yang buram berembun. Aku menangkap senyummu. Senyum yang melengkung di bibir pucatmu. Seharusnya kamu cepat pulang dan menghangatkan tubuhmu yang menggigil itu, Kirana. Pulanglah... jangan membuat Ibu sedih jika kamu sakit karena terlalu lama bermain hujan. Jangan marah padanya jika ia banyak melarangmu ini itu. Ibu terlalu sayang padamu. Biar kuberitahu padamu, diam di dalam kamar dan hanya memandang iri pada hujan di luar sana sungguh menyebalkan, Kirana. Maka cepatlah pulang dan menurut pada apa yang Ibu katakan.
Pintu kamarku berdecit, membuatku mengabaikan dirimu. Ibu berjalan menuju ranjangku dengan membawa semangkuk sup buatannya. "Sudah waktunya makan, Kirana." Ibu duduk di sampingku, menyuapi anak gadisnya dengan sabar. Kamu tahu Kirana, aku sungguh menyesal ketika aku justru berlari membawa marah pada Ibu karena menyuruhku berhenti bermain hujan. Andai saja bisa mengulang waktu, aku akan segera pulang. Dan Kirana--aku atau kamu, sama saja--tak akan menghabiskan waktunya di atas ranjang sambil memandangi hujan dari balik jendela saja.
Kota Hujan, 26072014
Rabu, 09 Juli 2014
Senja Kesembilan Bulan Ketujuh
Teruntuk kalian, teman-teman tersayang.
(Icha, Rina, Ani, Lina, Selvi, dan Halida. )
Semua lebur menjadi satu saat kita berjumpa. Pun sudah termasuk
dengan rindu di dalamnya . Sebuah pertemuan hangat di hari kesembilan bulan
ketujuh pada satu senja . Duduk bertujuh di mana mengalirlah mimpi, canda,
tawa, serta rangkaian cerita antara kita.
Masing-masing dari kita tentu tahu, tak mudah mencari waktu
di mana kita bisa berkumpul bersama.
Hari kerja dan hari libur yang berbeda menjadi masalah kita. Namun Tuhan
selalu baik bukan? Hingga kita selalu disediakan hari untuk bertemu muka, melepas
rindu, membagi cerita.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mau meluangkan waktu
hari ini. Meski hanya dengan acara sederhana di salah satu sisi kota hujan
tercinta. Dibalut dengan canda, tawa, dan lelucon konyol membuatnya lebih dari
kata sederhana. Terasa kaya akan cinta. Hangat seperti pelukan bunda.
Terima kasih sudah membuatku lupa akan usia. Pun membuatku
lupa akan suara. Hingga ia berubah, karena bersama dengan kalian selalu banyak
tawa tercipta. Tingkah kita ketika mengabadikan
kenangan seperti remaja di bawah usia. Oh, tentu kita belum tua, hanya sedikit
lebih dewasa dibanding mereka. Potret-potret itu akan membuat kalian tersenyum
dan menahan tawa hingga ingin kembali ke
masa sebelumnya. Ya, aku juga.
Teman-teman tersayang,
Terkadang kita menyadari sesuatu tentang usia. Akan ada waktunya
untuk perlahan menjauh dari kebersamaan kita.
Satu persatu akan mengikuti langkah imamnya, membina rumah tangga. Ia—yang lebih
dulu—tak akan mudah mengiyakan janji temu yang terencana. Ya, satu persatu akan
menyandang gelar barunya sebagai nyonya. Lalu menggoda yang masih nona tentang
kapan akan menyusulnya.
Jadi, siapa yang pertama akan jadi nyonya di antara kita?
Kota hujan, 090714
Dengan penuh cinta,
Desvian Wulan
Langganan:
Postingan (Atom)




