Kamis, 09 Januari 2014

Surat Untukmu

Teruntuk kamu, lelaki yang kelak akan datang..

Malam ini, hari kedelapan di bulan pertama tahun kesekian, aku menyempatkan diri tuk menuliskan sesuatu untukmu. Bukan surat cinta yang penuh kata rindu, bukan pula surat tentang harapan tuk cepat bertemu, hanya sebuah surat tentang impian kecilku. Kutuliskan sekarang agar kelak aku tak lupa tentang ini jika kita benar -benar sudah bertemu. Kelak.

Kau tahu, aku suka memandang langit sore dari balkon rumahku, rumah orang tuaku. Ketika mendapati langit kemerahan di atas sana, aku bergegas naik dengan ponselku. Ya, aku memotretnya. Hatiku berdecak kagum pada mahakarya di atas sana. Cantik.

Mungkin kau mulai bertanya-tanya apa sebenarnya impianku. Ini hanya sederhana. Jika kelak kita sudah bersama setelah hari itu, ketika kau mengucapkan ijab kabul meminangku, aku ingin kita meluangkan waktu 'tuk menikmati lukisan sore dengan dua cangkir teh atau kopi. Ah, aku tahu kau mungkin sibuk nantinya, tapi aku bisa menunggumu pulang di sana, di teras rumah kita.

Sayang, itu hanya satu dari sekian impian kecilku. Semoga itu sesederhana yang kuharap. Sederhana namun begitu berharga di tengah kesibukan kita masing-masing nantinya.

Selamat melangkah lagi, sayang. Aku masih merapal doa yang sama, semoga Allah selalu menguatkan kedua kakimu 'tuk terus melangkah, menujuku.

Kota Hujan,
Hari kedelapan di bulan pertama

Minggu, 05 Januari 2014

Sah (2)

Sah.
Tiga huruf itu nyaris membuat jantungku lolos dari tempatnya. Binar bahagia terpancar dari manik mata hitamnya serta bibir yang sukses mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas itu menyunggingkan senyum bahagianya.

Adegan pertengkaran sebulan lalu berputar cepat di kepalaku. Ketika rahasia itu sampai di telinganya hingga membuatnya murka, hubunganku dengan lelaki yang kini sedang menyematkan cincin yang kuimpikan untuk hari terhebatku.

Cincin bermata aquamarine itu melingkar di jari manisku. Seharusnya. Aku, bukan perempuan yang dua puluh tiga tahun lalu mengeluarkanku dari tempatku bertumbuh selama sembilan bulan sepuluh hari.

Jumat, 20 Desember 2013

Teruntuk Kamu

Teruntuk kamu,


Bagaimana cuaca di kotamu hari ini? Berapa derajat celcius panasnya? Berapapun itu, kuharap rangkaian aksara yang kau baca kali ini mampu memberikan sedikit kesejukan di hatimu itu.
Hari ini, satu hari sebelum hari kedua puluh satu di bulan keduabelas, aku mendadak rindu pada masa lalu yang seakan tak pernah henti mengikuti dan akhirnya membuatku luluh oleh sesuatu bernama rindu. Ya, aku rindu. Padamu.

Kamu sudah berjalan begitu jauh, bahkan terlalu jauh hingga aku terseok-seok dalam langkahku,mengikutimu yang tak lagi bisa ku kejar langkahnya.

Sabtu, 07 Desember 2013

Kembali ke Kotamu


Beberapa hari lalu aku diingatkan lagi oleh seseorang tentang sesuatu yang dulu begitu menggebu dalam diriku, mungkin juga dirimu, yang mau tak mau membuatku kembali mengingatmu yang satu paket dengan masa lalu. Tentang cita-cita mengunjungi kotamu, kota kita. Berawal dari sapaan yang ramah dibarengi dengan satu garis yang melengkung di bibirmu sore itu, di salah satu kursi di dalam gerbong kereta yang tengah melaju cepat di atas lintasan besinya. Membawa kita dan manusia-manusia lainnya ke kota yang begitu membuatku benar-benar jatuh cinta pada akhirnya.

Aku bukan orang yang mudah mencair dengan orang lain. Selalu butuh waktu untukku ikut hanyut dalam percakapan bersama orang yang baru kukenal, terlebih pada lelaki, namun kamu yang entah dengan sihir apa berhasil membuatku dengan mudahnya hanyut dalam aliran ceritamu. Sebuah perkenalan singkat namun begitu hangat. Kamu mengulurkan tangan lebih dulu dengan bersemangat sembari mengucapkan namamu yang kusambut dengan sedikit malas.

Kota itu, kota kelahiranmu yang menjadi obrolan seru kita di tengah suara deru kereta yang terus beradu dengan bisingnya suara dari penumpang sekitar kita. Kamu menceritakan beberapa tempat yang menurutmu sangat indah, bahkan kamu dengan penuh percaya diri berani bertaruh kalau aku akan jatuh cinta pada mereka. Aku tergelak. Pede benar orang ini, umpatku dalam hati. Detik berikutnya aku tetap mendengarkan dengan baik tiap kata yang keluar dari bibirmu, mengabaikan Sara Bareilles yang kupaksa berhenti menyanyikan King of Anything ketika kau menepuk pelan pundakku untuk memintaku memindahkan jaket double collar yang kuletakkan di bangku kosong sebelahku, yang ternyata adalah milikmu.

Obrolan kita terhenti ketika kamu beberapa kali menangkap basah aku yang menguap di tengah obrolan kita malam itu. Kamu mempersilahkan aku untuk memejamkan mata lebih dulu. Sempat terdengar tawa pelan ketika aku memiringkan badan ke arah jendela kecil di samping kiriku dan memejamkan mataku.

Perasaan kecewa menelusup dalam hatiku ketika kereta kita berhenti di tujuannya pagi itu. Seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan kita mencoba membangunkanku yang begitu pulas. Mataku dengan cepat menyesuaikan keadaan dengan cahaya matahari pagi dan aku tak mendapatimu ketika mataku mencari seorang lelaki yang penuh semangat menceritakan kotanya di sampingku kemarin. Kursi itu kosong tanpa menyisakan sesuatu pun. Ah, setidaknya kita menyempatkan diri untuk saling mengucapkan salam perpisahan.

Kedua kakiku sukses menginjak kotamu yang menyambut kali pertama kedatanganku dengan ramahnya, seolah tersenyum dan mengucapkan selamat datang padaku. Selamat datang di kota yang indah, ujar suara seseorang tepat di telinga kananku dari arah belakang. Aku dengan sigap membalikkan badan dan mendapatimu tepat di depan wajahku, dekat sekali hingga ujung indera pencium kita nyaris bersentuhan, menghadirkan getaran aneh yang tetiba menyerbu aliran darahku yang kemudian menyebarkannya hingga ke seluruh tubuh. Aku berinisiatif untuk mengambil satu langkah ke belakang, lalu kita sama-sama kikuk. Seperti sebelumnya, kamu selalu pandai mencairkan kekakuan suasana. Kamu menawariku sarapan bersamamu dengan makanan khas dari kotamu. Mungkin aku harus mengakui kehebatanmu karena lagi-lagi aku pun menyetujui gagasanmu untuk makan pagi bersama di salah satu sudut pemberhentian kereta yang mulai ramai.

Kamu membuatku menyadari sesuatu dan akhirnya membuatku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa lelaki yang baru kukenal tak sampai dua belas jam lalu ini begitu hebat karena mampu membuatku begitu akrab dengannya, seperti teman yang sudah bertahun-tahun bersama. Aku bahkan tak menyimpan sedikitpun rasa curiga padamu. Siapa sebenarnya kamu? Aku terpaksa menyimpan deretan pertanyaan dalam otakku ketika kamu menawarkan diri untuk menemaniku menikmati kota, menelusuri tiap sudutnya, hingga menemukan tempat yang kau bilang cantik dan indah. Lagi-lagi aku menyetujui gagasanmu itu. Kita membuat janji untuk bertemu lagi di Alun-alun Kidul malam hari nanti. Aku bergumam dalam hati kalau sepertinya liburanku kali ini tak sekedar mengunjungi Malioboro ataupun Parangtritis yang sudah sangat tekenal itu. Akan lebih hebat dari sekedar bayangan awal ketika aku dengan modal nekat mengunjungi kota yang selalu jadi destinasi liburan impianku sejak lama.


Dua mangkuk ronde menemani obrolan kita malam itu, mengobrolkan banyak hal dan mendengarkanmu bercerita tentang kotamu hingga rencana perjalanan kita esok. Ya, aku menerimamu untuk menjadi pemanduku selama liburanku yang hanya dua hari.  Esok paginya, kamu menungguku di depan tempatku menginap di daerah Malioboro, sesuai janjimu semalam di Alun-alun. Aku tersenyum mantap untuk memulai perjalananku, bersamamu. Aku masih ingat betul ketika kamu menjabarkan dengan menggebu tentang menyusuri sungai bawah tanah Goa Pindul yang akan membuatku terkesan dengan keindahan di dalam goanya yang masih aktif dengan stalaktit dan stalagmitnya. Lepas itu kamu mengajakku mengunjungi pantai Indrayanti kemudian pantai Sadranan yang tak kalah indah dari pantai-pantai lainnya. Katamu lagi, pantai-pantai di Gunung Kidul itu luar biasa cantik dan masih banyak yang tersembunyi. Jalan menuju ke sana pun tak mudah, namun semuanya akan terbayar dengan kecantikan pantainya, debur ombak yang putih, dan pasirnya yang bersih.

Hari sudah sore ketika sepeda motor yang kau pinjam dari temanmu itu membawa kita pulang menuju Malioboro. Kamu menawariku untuk sejenak mampir di tempat yang disebut Bukit Bintang. Seperti Puncak di Cisarua, komentarku ketika kita duduk bersisian sembari menikmat jagung bakar. Kamu hanya terkekeh mendengarnya dengan pandangan mata menatap landscape kota yang berkelip sejauh mata memandang, seperti bintang di langit malam. Kemudian kamu bertanya sesuatu padaku, mengapa aku mau ikut dalam perjalananmu dan bersama orang yang baru dikenal di kereta dari stasiun Pasar Senen. Entah, aku pun tak tahu mengapa aku begitu mudah percaya padamu, mungkinkah karena kebetulan saja? Tak ada yang disebut kebetulan, katamu. Aku mengalihkan pandanganku dari kerlip lampu di bawah sana padamu, menunggu kalimatmu selanjutnya. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu dan melakukan perjalanan ini bersama, kamu bisa saja mengabaikanku ketika di dalam kereta, menolak ajakanku untuk sarapan di Lempuyangan, ataupun menolak pertemuan kita di Alun-alun yang akhirnya menelurkan rencana yang ternyata sudah kita jalani hari ini, jelasmu lagi.

Aku tersenyum mendengar jawabanmu. Menurutmu apa kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, begitu tanyaku. Kamu balik memandangku, mengatakan padaku kalau kamu tak tahu dan jika nanti kita bertemu lagi, biarkan itu menjadi kejutan untuk kita. Jika kamu merindukan aku, maka kembalilah ke kota ini, ia akan menyambutmu dengan senyuman hangat yang sulit kau lupakan, begitu katamu dengan yakin dan tawa yang begitu lepas. Aku pun tertawa mendengarnya. Memang siapa yang akan merindukanmu, kataku geli. Lalu kamu dengan nada penuh keyakinan mengatakan kalau aku boleh saja tak merindukanmu, namun aku akan merindukan perjalanan ini dan tentu saja kota ini. Aku hanya bisa terkekeh mendengar kata-kata yang selalu keluar dengan nada yang penuh percaya diri darimu. Kembalilah jika kamu rindu, katamu yang terakhir sebelum kita meninggalkan bukit itu.

Aku selalu rindu pada kotamu, juga kamu. Kabarmu tak lagi kudapat sejak sepuluh bulan lalu, satu tahun setelah pertemuan kita. Surat elektronik, media kita saling bertukar sapa, tak lagi darimu di barisan atasnya.

Dear Sekar,

Hari ini, tepat di hari ketiga di bulan kesembilan, satu tahun setelah perjalanan kita. Seharusnya hari ini aku sedang menunggumu di stasiun tempat kita pertama kali makan pagi bersama, Lempuyangan, sesuai janji kita setahun lalu. Dua piring nasi yang masih panas dengan gudeg, serta dua gelas teh beraroma melati mungkin sudah menanti di warung makan itu. Jujur, aku tak mampu menikmati rasa nikmat yang sama seperti yang kamu rasakan ketika nasi dan gudeg itu menyentuh lidahmu. Aku terlalu sibuk menikmati kamu, wajahmu dari sisi kirimu. Wajah yang beberapa tahun lalu hanya bisa aku lihat dari kejauhan.
Perpustakaan, menjadi tempat favoritku menghabiskan waktu ketika masih menyandang status pelajar berseragam putih abu-abu. Bukan karena buku-buku yang berjejer rapi di setiap rak di ruangan itu,  namun karena kamu. Dari sudut favoritku, di ujung ruang perpustakaan yang sepi, mengawasimu dari balik kaca jendelanya. Melihat tawamu yang begitu menggelitik hatiku, berharap kamu tak menangkap basah aku yang mengawasimu dari perpustakaan ini agar aku bisa lebih lama melihat tawa yang begitu renyah. Satu semester saja perpustakaan menjadi sahabatku, karena setelahnya aku harus ikut orang tuaku ke Surakarta, meninggalkan kamu di kota yang berada di selatan ibukota negara tercinta. 
Aku percaya Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu kelak, dan jaket double collar yang membuatku kesal awalnya itu ternyata adalah jalan yang diberikan untukku. Semalam suntuk kita membicarakan Yogya. Aku bersyukur karena kamu tak mengenaliku sebagai seseorang yang pernah satu sekolah beberapa tahun lalu.
Maaf karena aku tak akan bisa lebih sering mengirimu surat lagi. Kewajibanku sebagai abdi negara akan banyak mengambil waktu yang sebenarnya ingin kuberikan padamu. Tanah di timur nusantara sudah menungguku.  Kamu tentu sudah mendengar kabar tentang gejolak yang terjadi di tanahnya, tempat aku berpijak untuk waktu yang cukup lama.
Sampaikan rinduku pada kota cantik kita, Yogya.

Di Timur Nusantara, 03 September 2013
Pranatha Nayottama

Surat terakhir yang kuterima itu masih terekam dengan baik di salah satu file memori otakku sebelum akhirnya berita dari berbagai media menyelipkan namamu sebagai korban dari penembakan di tanah Papua.  Aku menghela nafas dalam-dalam, menenangkan diri sendiri. Rangkaian gerbong kereta menjadi pemandanganku siang ini. Disesaki dengan banyaknya manusia dan bisingnya suara mesin yang beradu dengan suara dari pengeras suara di atas sana, pun dilengkapi dengan terik matahari yang sukses meneteskan peluh. Lagu Come Home dari  One Republic dan Sara Bareilles mengalun pelan di telingaku. Otakku memindai kembali pertemuan kita di gerbong itu dengan cepat. Kedua sudut bibirku melengkung ke atas, melihatmu tersenyum di sana, di tempat yang tak bisa ku jangkau. Sekali lagi aku membenarkan letak ransel canvas warna beige yang kugendong di pundakku seraya memantapkan hati menuju kotamu, yang kamu bilang akan selalu membuatku jatuh cinta dan akhirnya rindu untuk kembali, Yogyakarta.

****

Rabu, 06 November 2013

Mati


Aku mendapatimu tak lagi bernyawa sore tadi. Kamu sudah terdiam di dasar sana ketika aku hendak menyapamu sepulang ku dari bekerja, seperti yang biasa ku lakukan. Aku mendapati sesuatu yang aneh ketika kamu hanya diam ketika satu teman hidupmu asyik kesana-kemari seakan tak peduli bahwa temannya sudah mati. Aku mengetuk-ngetuk kaca pemisah kita, berharap kamu mendengar dan segera bangun dari tidurmu. Tak ada gerakan. Kuketuk sekali lagi dengan sedikit lebih keras. Lagi-lagi tak ada jawaban darimu. Aku akhirnya menyadari bahwa kamu sudah tak bernyawa lagi. Kamu mati.

Kamu meninggalkanku. Selamanya. Seperti tuanmu, yang memberikanmu padaku.  Aku masih ingat betul ketika ia datang sore itu, entah beberapa bulan lalu, membawakanku sebuah wadah seperti mangkuk besar yang sudah berisi kamu dan pasanganmu. Malang benar nasib pasanganmu kini, seperti halnya aku yang tak jauh berbeda darinya. Ia, tuanmu, meninggalkanku ketika sebutir peluru dengan sukses menembus dadanya yang pernah jadi tempat yang nyaman untukku bersandar sembari mendengar detak jantungnya. Meninggalkanku yang sedang menunggunya pulang untuk menyematkan cincin itu di jari manisku di hari yang sama ketika ia mengucap janji, sehidup semati. Ia meninggalkanku. Kamu pun meninggalkanku.







Kota Hujan,
06112013

Kamis, 31 Oktober 2013

Dear You:Welcome To November

pict from weheartit.com


Dear you...
Oktober di tahun ini sebentar lagi berlalu, adakah kamu tahu sudah berapa banyak tumpukan rindu yang tak sempat kukepak untukmu? Entahlah, rasanya aku pun tak mampu untuk menghitung mereka dengan jemariku. Tak jarang aku mengikatnya dengan simpul mati agar tak lagi lolos menelusup ke dalam bilik yang pernah kau tinggali. Kenyataannya, aku tertipu. Terjebak oleh kamuflase yang seringkali atau bisa juga disebut selalu berhasil membuatku nyaris tak mampu mengenalinya. Sama tertipunya aku seperti ketika aku menonton Players. Semua begitu rapi dan tak sesiapapun yang menyadari bahwa Spider begitu pandai mengecoh timnya, walau pada akhirnya memang tetap  Charlie Mascharenas yang berhasil satu langkah di depannya dan merebut kembali emas-emas Rusia mereka.

Dear you...
November tahun ini akan tiba dalam hitungan jam saja, adakah kamu tahu seberapa besar harapan yang tersisa tentangmu? Entahlah, rasanya aku pun harus mulai menyaipkan diri dengan segala kemungkinan buruk itu. Ahh, bukankah keadaan yang buruk itu memang sudah terjadi? Ya, aku sadar betul dengan harapan yang seharusnya sudah kubunuh sejak waktu lalu. Mungkin harusnya aku membenamkannya jauh ke dalam lautan. Oh tidak, itu terlalu dekat. Atau aku bisa menitipkannya pada pesawat ulang-alik Europa One yang dipiloti William Xu dan Rossa Dasque yang membawa mereka ke salah satu bulan milik Jupiter, Europa, lalu membenamkannya bersama makhluk exstra terrestrial yang menghuni Europa. Andai bisa. But, that's just sci-fi film that I've watched.

Dear you...
Selamat menyambut November-mu...




Kota Hujan
31102013

Kamis, 05 September 2013

Luluh #TheParagraph



Kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri. Kurasa aku menyetujui gagasan ini. Selama ini aku terlalu sibuk dengan pikiranku tentang mereka yang tak terlalu suka dengan pilihanku hingga membuatku menjatuhkan diri dalam ruang kesedihan yang kuciptakan sendiri. Aku melihatnya tersenyum di sana pun sudah menumbuhkan kebahagiaan dalam hatiku. Andai aku bisa lebih mendekatkan langkahku kesana sekedar ikut merasakan kehangatan itu, sayangnya aku tak ingin merusaknya. Senyum yang satu dibalas dengan senyuman yang lebih hangat. Bahagia, sesederhana itu.


Aku sengaja mampir ke taman kanak-kanak tempat gadis kecilku bersekolah ketika aku keluar sebentar untuk urusan kantor. Amabel tertawa ketika perempuan itu menggelitik pinggangnya. Disamping mereka yang sedang larut dalam tawa bahagia, berdiri Adriana dan juga Sinta, pengasuh Amabel. Bibirku membentuk senyum dibarengi dengan perasaan bahagia yang memenuhi hatiku. Adriana benar-benar berhasil membuat hati Mam tergerak untuk menemui cucu yang belum pernah ia gendong sejak gadisku itu lahir lima tahun lalu.
Jemariku dengan cepat mengetik sesuatu di ponsel kemudian menekan kirim ke nomor Adriana. Di sana ku lihat Adriana mencari-cari arah, mencariku. Ia bahkan tahu aku berada tak jauh darinya walau aku tak memberitahukannya. Kemudian sebuah pesan masuk ke nomorku, dari Adriana.
**
Amabel membiarkan es krim dalam mangkuknya mulai mencair tanpa sekalipun disentuhya sejak pelayan meletakkannya di meja kami. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah cemberut. Hujan menahan kami sore ini dan itu tak sesuai dengan keinginannya. Seharusnya sore ini kami pergi ke rumah Mam karena sejak pertemuan Amabel dan Mam serta Adriana kemarin sore itu membuat Amabel tak sabar untuk mengunjunginya. Aku ingin sekali mengabulkan keinginannya, namun aku masih terlalu ragu dengan Mam. Mungkinkah ia benar-benar melunak perasaannya sekarang?
“Permisi, boleh ikut menunggu hujan bersama di meja ini?” tanya sesorang yang membuatku tersentak dari segala pertanyaan yang berputar di dalam kepalaku. Aku menoleh ke sumber suara, begitupun Amabel. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan jaket warna coklat tua berdiri menunggu jawaban kami. Aku mengangguk pelan.
Lelaki itu tersenyum senang lalu memilih duduk di samping Amabel yang juga tersenyum pada orang yang baru dikenalnya. “Hai cantik,” sapanya pada gadis kecilku.
“Hai, Om...,” balas Amabel dengan wajah senang sementara aku mengerutkan kening, bertanya –tanya sejak kapan mereka saling mengenal karena sepertinya mereka terlihat akrab.
“Hans,” panggilku padanya. Hans mengailhkan pandangannya ke arahku yang masih butuh penjelasan. “Ini karena kamu tak pernah mengenalkanku padanya, jadi aku mencoba berkenalan dengannya sendiri.”
“Oke. Sejak kapan?” tanyaku langsung.
“Sebulan lalu di toko buku,” jawabnya dengan mata yang kembali pada Amabel. Aku mencoba mengingat-ingat kapan aku melepaskan Amabel di toko buku sebulan lalu hingga memberi lelaki ini kesempatan untuk berkenalan dengan gadis kecilku. “Ketika kamu sibuk mencari novel terjemahan dan membiarkan si cantik ini membaca buku dongeng Disney.” Hans lagi-lagi menjawab pertanyaan yang tak keluar dari bibirku. Aku jadi bertanya-tanya apa dia ini bisa membaca pikiran orang?
“Kok, es krimnya dibiarin meleleh gitu, cantik?” tanya Hans lembut pada Amabel dan gadis itu kembali ke perasaan kesalnya.
“Aku nggak mau makan karena nggak jadi ke rumah nenek gara-gara Ibu,” ceritanya sambil memandang kesal padaku. Mata Hans mengikuti arah matanya dan tersenyum tertahan.
“Di luar hujan, sayang,” sanggahku.
“Iya, tapi kalau Ibu nggak lama-lama di toko buku , kita bisa sampai di rumah nenek daritadi.” Kali ini ia memalingkan wajah ke arah jendela yang mulai mengembun.
“Oke, Ibu minta maaf ya, nanti kalau hujan reda, kita ke rumah nenek?” usulku mencoba mencairkan kekesalannya. Amabel hanya diam tak menjawabku dengan wajah yang masih menatap jendela.
“Sayang...,” panggilku mencoba meraihnya yang ada di seberangku. Hans memandangku sedih.
“Cantik,” panggil Hans, sepertinya ia ingin membantu. Amabel mulai mengalihkan padangannya dari jendela dingin itu padaku dan kemudian pada Hans. Kenapa ia merespon Hans lebih baik dariku? Bukankah Hans hanya orang yang baru dikenalnya?
“Beneran nanti kita ke rumah nenek kalau hujannya reda?” tanya Amabel kembali bersemangat. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaanya. “Om Hans boleh ikut ‘kan?”
Lalu apa lagi ini? Kenapa Amabel berharap Hans bisa ikut ke rumah Mam? Aku memandang Hans yang berusaha menghindari mataku. Ia memandang Amabel sambil memasang wajah menyesal lalu berkata, “Maaf cantik...”
“Om Hans boleh ikut kalau tidak sibuk, bagaimana Om Hans?” Kataku buru-buru memotong kalimatnya. Sebuah senyum terbit di bibirnya dan itu ditujukan padaku. Ah sial, apakah aku benar-benar mengatakan kalau Hans bisa ikut kami?
“Uhm, oke...,” ucapnya dengan senyum yang masih mengembang padaku. Aku kikuk dan buru-buru mengalihkan diri pada Amabel yang juga terlihat lebih senang. Ini hanya untuk gadi kecilmu, Alliana, ujarku dalam hati.
“Asyik, Om Hans ikut ke rumah nenek...,” seru Amabel sambil memeluk lengan Hans yang terlihat... kekar. Oh, please Alliana!
**
Pintu kayu yang tadi ku ketuk beberapa kali kini terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan kaca mata yang betengger manis di hidungnya terlihat terkejut melihatku yang ternyata sudah mengusik sorenya yang biasa ia habiskan dengan membaca buku di teras belakang rumah.
“Mam,” ucapku tertahan. Untuk pertama kalinya, sejak lima tahun lalu, bibir Mam tersenyum padaku.
“Alliana,” balas Mam.
“Nenek...” panggil Amabel. Mam segera menyambut cucunya dengan pelukan dan ciuman yang banyak pada kening dan kedua pipinya sambil menggendongnya. Kemudian Mam menyadari ada seseorang lagi bersama kami.
“Assalamualaikum, Tante,” sapa Hans dengan sikap sopannya. “Saya Hans, teman Alliana.”
“Waalaikumsalam,” balas Mam kemudian memandangku. Matanya seolah bertanya siapa lelaki  di sampingku ini. “Temannya Alli?” tanya Mam memastikan.
Aku buru-buru menambahkan, “Teman kerja.”
Mam tersenyum. “Oh, mari masuk,” ajak Mam. Dibukanya pintu itu lebih lebar dan Mam berjalan lebih dulu dengan Amabel di gendongannya, diikuti aku dan kemudian Hans di belakangku.
Samar-samar telingaku menangkap bunyi suara Mam yang mencoba menengahi dua anak gadisnya yang berebut remote televisi. Lalu disambung dengan suara gadis yang berteriak mengadu pada Mam karena beberapa pakaiannya hilang dari lemarinya karena diambil tanpa izin oleh gadis tomboi yang sedang jatuh cinta. Suara-suara itu adalah kenangan yang bahkan masih terekam dengan baik di kepalaku.
Rupanya hujan sore ini sudah menumbuhkan sesuatu dalam hatiku dan aku tak tahu apa itu yang sudah tumbuh di dalam sana. Ia pun mampu melelehkan kebekuan yang hidup begitu lama, seperti semangkuk es krim yang meleleh dalam mangkuk tak tersentuh namun rasanya tetap manis. Apapun itu, ia mampu membuat bibirku tak berhenti menarik kedua sudutnya ke atas. Aku bahagia.
**