Jumat, 06 Juli 2012

Beliau bilang namanya 'Profesional'

Sore itu, ketika bel tanda berakhirnya di hari jumat berbunyi. Ketika satu persatu rekan kerja sudah terburu-buru meninggalkan ruangan karena ingin segera pulang. Saya masih tinggal di ruangan bersama beberapa rekan lain. Saya juga ingin segera pulang, tapi karena pekerjaan di awal bulan yang memang banyak deadline itu memaksa saya sibuk di depan layar komputer samapi lupa kalau jam pulang hampir tiba dan saya shalat ashar dulu sebelum pulang.

Selesai shalat, saya segera membereskan meja kerja dan mematikan komputer. Hanya ada saya dan senior yang mejanya bersebelahan dengan saya. Jujur saat itu saya sedang ragu atau lebih tepatnya takut untuk bicara padanya yang juga sedang bersiap pulang, karena beberapa waktu sebelum pulang beliau sempat kesal dan bersuara agak keras karena masalah pekerjaan.dan saat itu hanya ada kami berdua, dia memanggil saya dan menanyakn sesuatu yang baru kali pertama ditanyakannya pada saya. Lalu dia mengatakan sesuatu yang lain yang juga sedikit membuat saya kaget dan membuat saya berpikir dan merenung. Kalimat-kalimatnya positif dan lebih membuka mata saya.

Sejujurnya sejak pertama kali bergabung dengan bagian akunting ini, saya selalu berusaha untuk bisa bekerja sama dengan siapapun. Hingga ledakan-ledakan muncul yang sempat membuat saya down bahkan berniat untuk resign. Namun saya selalu berusaha untuk selalu bertahan dan berusaha untuk menghadapi tantangan yang diberikan Allah yang saya selalu yakin memliki tujuan untuk membentuk saya menjadi pribadi yang kuat. Rasanya tak terhitung berapa tetes airmata yang saya jatuhkan karena bekerja di tempat ini, dan saya beruntung punya orang-orang yang selalu menguatkan saya.

Tak hanya ledakan-ledakan yang tercipta karena pekerjaan, tapi juga kadang dan bahkan hampir sering ledakan pribadi yang terseret dalam dunia pekerjaan. Ada beberapa orang yang tak suka pada orang lain, namun ketika bekerja perasaan tersebut juga dibawa. Terkadang mereka malah saling menjatuhkan, menikam dari belakang, dan tak bisa bekerjasama seperti yang seharusnya.

Saya tak bilang kalau saya bersih dari hal-hal seperti itu. Saya pun mengakui kalau sayapun memiliki banyak uneg-uneg tak enak tentang orang-orang di lingkungan kantor (siapa sih yang tak punya?!), tapi saya selalu berusaha untuk tidak mengaplikasikannya ke dalam pekerjaan seperti beberapa orang di sekitar saya itu. Ketika saya merasa dirugikan, disalahkan, 'dikerjain', 'dimanfaatkan', dibentak, atau hal lainnya yang menyakiti hati, saya selalu berusaha untuk menerimanya dan menyimpannya di hati selama itu tidak melewati batas. Ya meski tidak jarang saya berbagi itu pada bebrapa teman, sekedar untuk meringankan beban.

Menurut saya, tidak semua kejahatan dibalas kejahatan (memang seharusnya begitu!). Api dibalas api tak akan pernah berakhir baik, yang ada malah kerusakan yang lebih besar.
Saya hanya yakin, Allah gak akan meninggalkan saya. Satu hal penyemangat yang sejak dulu saya percayai ketika saya sedang 'jatuh', kalimat yang selalau saya katakan pada diri sendiri, "Sabar sabar sabar, pasti ada kejutan manis menati setelah rasa sakit ini!"

Saya merasa beruntung punya sifat 'nerimo'.. Saya hanya berusaha menjadi orang baik saja, mau berteman dengan siapa saja, berusaha ramah, dan intinya ya itu tadi, menjadi orang baik.

Kembali ke sore itu bersama senior. Beliau mengatakan satu hal yang ia sebut 'Profesional'. Well, itu benar sekali!. Beliau seperti menyentil saya dengan obrolannya sore itu sambil berjalan menuju loby kantor, seperti mengingatkan saya untuk tidak terbawa arus.
Mungkin bahasa saya selama ini terlalu sederhana. Cara sederhana saya hanya berusaha menjadi orang baik, menjadi air yang mengikis batu dan bukan menjadi sesuatu yang mudah terbawa arus. Tapi 'profesional' itu sepertinya lebih tepat digunakan.

Saya harus berterima kasih pada senior saya itu. Beliau sudah mengingatkan saya dan membuat saya menemukan satu sisi positif lagi dari beliau. Meski kadang beliau bisa membuat saya mengkeret, tapi saya tahu beliau adalah sosok yang penyayang dan baik.
dan memang benar kata pepatah, "Tak Kenal Maka Tak Sayang"..

Terima kasih ya bu atas sore yang baik.



Btzrg.
July, 6th 2012

Senin, 02 Juli 2012

Rindu Tanpa Batas Waktu

Air Terjun Benang Kelambu-Lombok Tengah

Mereka selalu bilang kalau kesabaran itu selalu berbatas. Tapi kesabaranku untukmu masih belum menemukan ujungnya. Aku masih dengan rasa sabarku menunggumu dan memelihara rindu ini. Selalu berharap bisa menemukanmu di tempat ini, Air Terjun Benang Kelambu yang tersembunyi dengan segala keindahnnya di Lombok Tengah yang tak banyak terjamah.
Disinilah aku hari ini, di tempat yang sama seperti satu tahun setelah pertemuan kita yang singkat, terlalu singkat bahkan. Jangankan bisa saling mengetahui nama, sekedar menyapa pun tidak. Tepatnya aku yang tak menggunakan kesempatan untuk menyapamu karena aku terlalu takut. Aku takut mengusikmu yang begitu menikmati suasana air terjun sambil bermain-main air dengan beberapa teman-temanmu. Takut tak lagi bisa menikmati kecantikanmu yang begitu menyihirku hingga ku hanya memaku memandangimu dari kejauhan. Percikan air yang mengalir dengan cantik diantara tumbuhan hijau merambat itu seakan ikut memercikkan sesuatu jauh ke dalam hatiku.
Sejak saat itu hingga detik ini, aku masih tak bisa menamainya. Aku hanya selalu merasa ingin selalu kembali ke tempat ini, lagi dan lagi. Jatuh cinta. Ya, rasanya aku sudah jatuh cinta pada tempat ini, tempat yang selalu membuatku rindu seperti merindukanmu.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mereka terus bergulir dan meninggalkanku dengan rindu yang tumbuh makin subur, seperti aliran dari Rinjani yang membasahi kakiku. Langit mulai gelpa dan jarum di arlojiku pun sudah menuju angka enam. Aku harus pergi dan membawa pulang lagi rinduku.
“Samudra…” Kakiku baru berdiri dengan sempurna di atas batu besar yang tadi ku duduki ketika terdengar seseorang menyebut namaku. Aku tak yakin dengan suara tadi, mungkin hanya salah dengar.
Aku kemudian nyaris terpleset menuruni batu dan bersiap untuk berjalan meninggalkan air terjun benang kelambu, namun suara yang sama memanggil namaku lagi.  Aku berhenti dan mengedarkan pandanganku mencari sumber suara namun tak kudapati seorangpun dan tempat ini mulai sepi. Dan seseorang tiba-tiba sudah muncul di depan mataku ketika aku berbalik. Dia, perempuan yang kurindukan sejak setahun lalu.
Lagi-lagi aku hanya bisa terpaku dengan bibir seakan terkunci. Wajah bercahaya di depanku makin melumpuhkanku dengan senyum yang tercipta di bibirnya. “Samudra…”
Tangannya dengan lembut meraih tanganku dan mengajakku berjalan. “Mau kemana kita?” tanyaku ketika aku mulai merasa kalau kakiku dan kakiknya tak lagi menyentuh daratan. Terbang, kami sedang terbang!
Tangannya mengibaskan selendang sutera ungunya ke arah rinai air terjun. Aku terperanjat ketika air itu aliran air itu terbelah dua seperti kelambu yang dibuka.
“Muara rindumu yang tanpa batas itu kini di depan matamu,” katanya. Lalu pandanganku menjadi gelap dan kepalaku mulai terasa berat.

Aroma minyak kayu putih yang begitu kuat menusuk hidungku. Dengan kepala yang terasa berat, aku memaksa membuka kedua mataku. Beberapa orang berada di sampingku. Mereka bilang kalau aku terjatuh di dekat bebatuan tadi.
“Udah sadar? Ini minum dulu,” ucap seseorang yang suaranya tak asing rasanya di telingaku.
Sebotol air mineral disodorkan padaku. Aku mendongak dan mendapati wajah yang sama yang mengajakku terbang dan membelah benang kelambu beberapa menit lalu. Ahh, sepertinya aku masih belum benar-benar terbangun dari tidurku.

***

 

Selasa, 26 Juni 2012

15# Mungkin (Takkan) Ada Lagi


Raja Ampat-Papua


Aku akhirnya memutuskan untuk menemuimu ke tanah Papua, di timur nusantara. Raja Ampat, tempat yang katamu indah bagai surga di dunia. Lima belas menit perjalanan dengan speedboat dari Kota Waisai ke Waiwo.
Ahh, apa yang kamu bilang padaku tentang Raja Ampat itu salah! Ini bukan hanya indah, tapi sangat-sangat indah! Tak heran kalau kamu ternyata betah dan tak ingin meninggalkan tempat seindah dan sekeren ini.
Aku nyaris tak mampu berkata-kata lagi. Hamparan laut biru yang bening bak kristal dengan airnya yang betul-betul tenang tak berombak sejauh mata memandang. Kayu-kayu jetty sebagai halte dan trotoar laut yang menjulur ke tengah perairan menjadi keanggunan pemandangan terdekat dengan darat yang tak ada di pusat kota besar lainnya di Indonesia yang pernah kukunjungi (bersamamu).
Seorang lelaki yang sudah siap dengan pakaian menyelamnya menghampiriku. Tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan dua tahun lalu, ketika kami terakhir kali bertemu sebelum dia memutuskan ke Raja Ampat. “Hai, Rum,” sapanya untuk pertama kali setelah dua tahun lalu. Aku tersenyum dan membalas sapaannya.
“Apa kabarmu?” tanyanya basa-basi dengan nada yang sedikit canggung.
“Kabarku baik, bagaimana denganmu anak laut?” tanyaku. Dia tertawa kecil mendengar panggilanku untuknya.
“Kabarku juga baik, nona fotografer,” balasnya dengan senyum mengembang dan memperlihatkan lesung pipinya.
Terdengar suara dive master memanggil namanya untuk segera bersiap-siap karena sebentar lagi para penyelam akan segera menceburkan dirinya untuk menikmati keindahan bawah laut yang tak tertandingi. Aku dan si anak laut pun segera bergabung dengan penyelam lainnya untuk menyelam.

Kami beristirahat sejenak setelah naik ke permukaan. Aku memilih untuk memisahkan diri tak jauh dari rombongan. Si anak laut yang menjadi alasan utamaku ke timur nusantara ini menghampiriku lagi. Kmai duduk bersisian di atas pasir yang bersih dan lembut.
“Gak kalah dengan Bali, Bunaken, ataupun Wakatobi, kan?” tanyanya dengan mata memandang lurus ke lautan biru.
“Ini lebih dari keren, juara!”
Dia tertawa kecil. Aku menoleh ke arahnya dan memandanginya dari sisi kirinya sampai akhirnya di tersadar sedang diperhatikan. “Kenapa ngeliatin kayak gitu?”
Aku tersenyum. “Aku Cuma lagi mikir aja, kenapa dulu kamu nggak bawa aku pergi ke tempat ini.”
Dia hanya diam memandangku.  
“Kamu tau nggak, sejak kamu menghilang tanpa kabar sampai detik ini pun aku masih sayang banget sama kamu, dan mungkin takkan ada lagi yang bisa ngisi hatiku selain kamu,” kataku setenang mungkin.
Dia mengalihkan pandangannya dariku. “Harum, kamu pun tau kalau aku nggak akan bisa bawa kamu pergi,” katanya.
Aku mengangguk kecewa. “Tapi maukah kamu pulang Desember nanti?” tanyaku.  “Sekali saja, Banyu. Untukku…”
Banyu hanya diam tak memberiku jawaban. 

 **

Sebuah kotak biru tua berpita masih tergeletak di meja kamarku sejak satu minggu lalu. Tak kusentuh sama sekali sejak perempuan yang kupangiil nona fotografer itu memberikannya padaku di resort Raja Ampat. Tanganku ragu menyentuhnya, namun kata-kata terakir Harum menggerakkan hatiku.
Selembar foto kami ketika kami masih berstatus sepasang kekasih, foto yang diambil di Bromo tiga tahun lalu. Lalu selembar foto lagi, ia yang tampak cantik dalam balutan kebaya dan aku lengkap dengan beskap Jawa, kami duduk di samping sepasang pengantin. Ibunya dan Ayahku menikah dan kami memilih untuk memutuskan hubungan kami sejak itu dan aku meninggalkan pulau Jawa menuju Papua.
Letaknya di dasar kotak, sebuah undangan pernikahan. Dia jauh-jauh mengunjungiku ke timur hanya untuk meyerahkan undangan pernikahannnya dengan lelaki yang dijodohkan dengannya ke tanganku sendiri. 

Banyu, sekali saja kembalilah ke rumah. Meski bukan demi aku, datanglah sebagai kakak untuk adikmu. Mungkin tak akan ada lagi kisah si anak laut dan nona fotografer, tapi masih ada cerita Mas Banyu dan adiknya, Harum.  





Btzrg. June 26th 2012

Sabtu, 23 Juni 2012

12# Memori Tentangmu

Pura Besakih-Bali



Tak terasa waktu berjalan cepat sekali. Dua tahun lalu, aku meninggalkan pulau ini dan memilih untuk menerima tawaran pekerjaan di Jakarta. Sebenarnya bukan karena alasan pekerjaan yang menggiurkan, melainkan untuk memulai hidupku tanpanya. Tapi sinilah aku sekarang, kembali ke tanah kelahiranku yang juga pernah menumbuhkan kenangan tentangnya. Kenangan yang tak bisa lenyap tanpa bersisa di memori otakku. Selalu saja mereka mencuri-curi celah untuk menyelinap masuk ke otakku dan memutar memori tentang kita-tentangmu.
Setelah keluar dari Bandara Ngurah Rai, aku naik taksi menuju the Mother Temple, Pura Besakih. Tempat yang penuh kenangan bagiku, dan di tempat ini pula aku akan mengakhirinya. Kugendong ransel yang berisi beberapa keperluanku selama di Bali. Kakiku baru akan menginjak anak tangga pertama ketika seseorang memanggilku. “Oka…!!”
Aku menoleh dan mencari sumber suara. Terlihat seorang perempuan dengan kebaya dan kain khas Bali melambaikan tangannya padaku dari kejauhan. Kurasakan jantungku kini berdetak sangat cepat  tak beraturan. Ingin rasanya aku berlari padanya dan memeluknya penuh rindu, tapi Besakih yang suci ini memaku kakiku untuk tetap diam di tempatku berdiri  saat ini.
Utari, perempuan itu sedikit berlari ke arahku. “Oka, kenapa tak beri kabar kalau mau datang hari ini?” tanyanya dengan wajahnya yang berbinar. Aku hanya memaksakan sebuah senyum di bibirku menjawabnya.
“Apa kabarmu, Ka? Sudah lama sekali kamu tak pulang, Aji dan Ibu sangat rindu padamu,” katanya lagi dengan penuh semangat. Ahh, perempuan ini masih sama seperti dulu. Penuh semangat dan selalu ceria, yang selalu menjadi matahariku.
“Kau mau berdoa di pura?” tanyanya dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
Dia tersenyum senang padaku. “Kalau begitu tunggu kakakmu sebentar ya, nanti kita berdoa bersama-sama di sana, seperti dulu.” Lalu matanya mencari-cari kakakku dia antara pengunjung pura.
Berdoa bersama-sama seperti dulu. Aku teringat ketika masih kecil dulu, kamu yang paling bersemangat tiap kali kita akan ke Besakih. Kamu dengan wajahmu yang manis itu, selalu memilih untuk berada di antara aku dan kakakku. Kamu selalu bilang kalau kamu adalah tuan putri yang selalu dijaga oleh dua pengawalnya. Aku tersenyum ketika potongan memori tentangmu menggodaku.
“Akhirnya kamu datang, lihat siapa yang bersamaku,” ucapan Utari barusan membuyarkan pikiranku. Lelaki yang ditunggunya sudah ada di sampingnya kini. Aku melihat lengan Utari merangkul lengannya.
“Oka..,” panggil lelaki itu dengan nada yang sedikit canggung.
**
Mataku dengan awas mengamati suasana di depan kompleks Besakih yang tidak terlalu ramai hari ini. Tiga jam lalu aku baru turun dari pesawat dan langsung menuju pura yang disebut The Mother Temple, Pura Besakih. Semua peralatanku sudah dalam keadaan siap, begitupun aku. Pekerjaan ini sudah biasa bagiku, dan bekerja dalam keadaan ramai pun adalah keahlianku. Lelaki itu tidak salah sudah membayarku untuk melakukan pekerjaan ini.
Sesuai intruksi yang diberikannya beberapa jam yang lalu, perempuan Bali itu muncul dan menghampirinya, mengobrol cukup lama. Aku masih menunggu target utamanya. Lelaki berbaju putih dan kain khas Bali muncul menghampiri mereka.
Aku meraih senjata api yang kusimpan di balik jaket kulit coklatku lalu menarik pelatuk dan mengarahkanny pada lelaki itu.
DOORRR…!!
Sebuah peluru dengan sukses menembus tubuh lelaki itu. Besakih gempar dan beberapa orang panik. Tapi tunggu dulu, itu bukan targetku!
Aku harus segera meninggalkan tempat ini!

**

Amarah yang memenuhi mataku mendadak mencair melihat mata yang berkaca-kaca di hadapanku. Aku rindu dan sungguh-sungguh rindu padanya, kakak lelakiku . Aku sangat tahu seseorang sedang mengincarnya dari jauh yang selalu siap menngirimkan peluru ke tubuh kakakku.
Aku melihat mata Utari yang menatap penuh cinta padanya. Rasanya aku akan menjadi lelaki paling jahat jika menyakiti matahariku, Utari. Sinar di mata Utari menggerakkan hatiku untuk meraih tubuh kakakku dan memeluknya erat, menghalangi peluru yang beberapa detik  lagi akan menembus tubuhnya. Meski aku tahu dialah yang telah membuat hidupku merapuh sejak ia mengutarakan padaku kalau ia mencintai Utari, perempuan yang juga kucintai. Membuatku tersingkir dan akhirnya memilih pergi.
 “Aku sangat rindu padamu. Jaga Utari, Bli” bisikku dengan sisa nafasku.
Aku merasakan pelukannya mengencang dan sesuatu yang hangat mengalir di tubuhku.
***






Btzrg, June 23rd 2012

Selasa, 19 Juni 2012

8# Ramai



Jl. Malioboro-Yogyakarta


Kulepas earphone-ku yang menyuarakan lagu a twist in my story milik Secondhand Serenade dari i-pod ku karena aku lebih tertarik mendengarkan suara musisi jalanan yang sedang menyanyikan lagu Yogyakarta ketika aku lewat di dekat Pasar Beringharjo. Aku berhenti sejenak, menikmati suguhan musik mereka yang menggunakan alat-alat musik tradisional dan bagiku itu keren,  sambil aku mengambil beberapa gambar dengan kameraku.
Yogyakarta, disinilah aku sekarang. Kembali ke kota yang selalu membuatku rindu pulang. Siang ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati Yogyakarta-ku tercinta. Kota ini tak banyak berubah sejak beberapa tahun aku pergi merantau ke kota hujan di selatan ibukota. Setelah selesai menyusuri pasar Beringharjo, aku melangkahkan kakiku menyebrang jalan menuju arcade sepanjang Malioboro yang selalu ramai.
Banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya sepanjang arcade. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu, juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Aku berjalan dengan tenang menikmati ramainya Malioboro dan tetap sesekali memotret.
Kakiku berhenti dan melihat-lihat di salah satu pedagang yang menjual miniature dari kayu. Terdengar suara yang pernah kukenal sebelumnya, namun aku ragu menebaknya. Kubalikkan badanku dan mendapati seorang perempuan yang kutahu pasti bukan dari tanah Jawa. Dialeknya dan cara dia bicara.. Ahh, aku lupa! Aku memejamkan mataku dan berusaha mengingat-ingat lagi siapa pemilik suara yang ada di seberangku ini.
Awas agek ado Antu Banyu….
“Jingga!” seruku sambil membuka mata. Senyum yang satu detik lalu merekah di bibirku pun lenyap begitu tahu perempuan yang kukenal di ujung senja itu pun lenyap dari pandanganku. Kuedarkan pandanganku mencarinya. Hanya punggung-punggung dan wajah tak kukenal yang muncul sepanjang pandanganku. Kuputuskan menyusuri arcade untuk mengejarnya, dan aku memilih ke arah Vredeburg.
Kaus hijau dan celana pendek coklat, hanya itu yang kuingat sebagai petunjukku. Ahh, Malioboro ini terlalu ramai dan padat, bagaimana aku bisa menemukannya?! Tapi aku belum akan berhenti sampai ujung Malioboro, bahkan kalau perlu aku akan menyusuri lagi arah sebaliknya.
“Jingga, akhirnya kita bisa bertemu lagi,” kataku dalam hati.
Sebelumnya aku belum bisa menggantikan Disha sampai akhirnya Jingga yang kutemui di ujung Senja di tepian Musi satu tahun lalu lah yang membuatku jatuh hati lagi. Sekilas aku melihat perempuan mirip Jingga masuk menyebrang dan masuk ke Beringharjo. Tanpa pikir panjang pun aku segera mengikutinya masuk pasar. Ahh, tapi sialnya aku kehilangan jejaknya karena Beringharjo pun sama ramainya dengan Malioboro.
“Permisi,” kata seseorang . Aku pun menyingkir dan memberi jalan pada orang di belakangku. Beberapa orang yang salah satuya berkaus hijau dan bercelana coklat. Wajahku yang tadi sempat lesu karena putus asa pun kembali cerah.
“Jingga!” panggilku dan perempuan itu benar-benar menoleh. Ia berhenti dan aku menghampirinya.  
“Siapa ya?” tanyanya bingung.
“Banyu, satu tahun lalu di sungai Musi, sudah lupa ya?”
Ia nampak berpikir.  “Ah ya, antu banyu itu kah?”
Aku mengangguk dengan semangat. “Tapi Banyu di depanmu ini bukan antu ya.”
Dia dan teman-temannya tertawa. “Apa kabar? Sedang liburan disini kah?” tanyanya.
“Liburan sekalian pulang kampung, kau liburan juga?” tanyaku.
“Oh ya, aku liburan dengan teman-temanku,” katanya lalu mengenalkanku pada tiga orang di sampingnya.
“Ini temanku Isha dan Doni, lalu yang di sampingku ini Fahmi, tunanganku,” katanya lagi. Aku tersenyum dan menyalami mereka satu persatu.
Tunggu dulu,  siapa orang yang terakhir dia kenalkan tadi? Tunangan?
Aku melongo tak percaya. Tak terdengar suara keramaian di telingaku.  Kemudian seseorang menepuk pundakku.
“Mas, mas,” panggilnya. Aku pun tersadar dan membuka mataku. “Sampun tekan Jogja, mas,” katanya lagi. 





Btzrg, June 19th 2012



Note: ff ini ngebut, ga direncanakan, ga mateng.. 
ahh.. pulang kerja langsung cpet2 ngetik sebelum ngampus..!
dan ga bagus kayak yang lain.. :(

Minggu, 17 Juni 2012

7# Biru, Jatuh Hati


Pangandaran Beach


Biru, aku jatuh hati. 
Mungkin kata-kata itulah yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Kupejamkan mata dan kurentangkan kedua tanganku dan menikmati angin yang dengan bebas memainkan rambutku yang panjang tergerai. Kurasakan seseorang di belakangku memegangi kedua tanganku seperti adegan Jack dan Rose di anjungan kapal Titanic. Aku yang kaget langsung membuka mata dan menurunkan tanganku lalu berbalik menghadap lelaki berkacamata hitam di depanku kini.
“Huh, gak lucu tauukk..!!” teriakku kesal.
Lelaki di depanku tertawa sambil melepas kacamata hitamnya. “Lagian siapa yang bilang lucu coba? Yang barusan itu emang gak lucu tapi romantis,” jawabnya.
“Idih, romantis darimana coba? Ngarang aja kamu!”
“Kan mirip Jack sama Rose di titanic,” katanya lagi.
“Tapi kita ini bukan Jack dan Rose di film itu, Banyu…,” balasku kesal. “Dan kita gak perlu seperti mereka, karena kita…” Kalimatku belum selesai keluar karena Banyu meletakkan telunjuknya di depan bibirku. Aku diam. Dia mengusap rambutku yang tak beraturan tertiup angin Pangandaran. “Iya, iya.. kita emang bukan mereka,” jawabnya sabar. “Dan kita bisa romantis dengan cara kita sendiri, itu kan yang mau kamu bilang?”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Banyu sepertinya sudah hafal betul dengan kalimat yang sering kuucapkan ketika ia mencoba untuk romantis seperti orang lain.
Banyu kemudian mengajakku duduk di tempat yang agak teduh tak jauh dari bibir pantai. Kami duduk bersisian di atas pasir. “Jadi apa jawabanmu, Sha?” tanyanya tanpa melihatku. Aku menoleh dan melihatnya sedang memandang lurus ke lautan biru di depan kami.
“Jawaban tentang apa?” tanyaku.
“Tentang yang kuungkapkan di konser Jakarta dua bulan lalu,” jawabnya masih tak melihatku.
Aku sebenarnya ingat betul dengan apa yang dilakukannya setelah kami selesai menonton konser Secondhand Serenade di Tennis Indoor Senayan, April lalu. Ia melamarku dan itu bukan kali pertama ia melakukannya. Kita sudah berteman sejak masih berseragam putih abu dan kami punya banyak hal yang sama-sama kita sukai, salah satunya band indie yang kita tonton konsernya April lalu yang akhirnya membuat kita makin dekat. Masa pacaran kami pun sudah cukup lama, umur kamipun bertambah tua. Tapi bagiku menikah itu bukan soal usia, melainkan menemukan orang yang benar-benar tepat.
Kami masih saling diam. Banyu pun masih memandang lautan biru itu dengan tenang. Cukup lama kebisuan ini membalut kebersamaan kami sampai akhirnya Banyu bersuara. Ia tidak menagih jawabanku, melainkan menyanyikan lagu yang sudah kukenal. Aku tersenyum lalu ikut bernyanyi bersamanya.

Slow down, the world isn't watching us break down
It's safe to say we are alone now, we're alone now
Not a whisper, the only noise is the receiver
I'm counting the seconds until you break the silence
So please just break the silence

The whispers turn to shouting
The shouting turns to tears
Your tears turn into laughter
And it takes away our fears

So you see, this world doesn't matter to me
I'll give up all I had just to breathe
The same air as you till the day that I die
I can't take my eyes off of you…

Banyu menghentikan lagunya. “Aku gak akan maksa kamu, Sha,” katanya.
“Banyu,” panggilku. Ia menoleh padaku, matanya yang hitam dan teduh itu memandangku dengan penuh kelembutan.
“Kau tahu kan apa yang sudah membuatku jatuh hati?”
“Laut, kamu selalu bilang kalau kamu jatuh hati pada birunya laut,” jawabnya.
“Biru, aku jatuh hati pada biru,” kataku.
“Jadi, tak ada lagi ruang di hatimu selain Biru?” tanyanya.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Samudera Banyu Biru, ruang ini milikmu.”
Ia memandangku tak percaya ketika aku menyebut namanya. Aku mengangguk meyakinkannya dan ia memelukku. “This’s a twist in my story, Sha,’ katanya.
Aku melepas pelukannya dan memukul bahunya. “Heh itu kan judul lagunya Secondhand serenade, ga kreatif banget sih kamu!” ejekku lalu berlari menghambur ke biru yang selalu membuatku jatuh hati. 





Btzrg, June 17th 2012

Sabtu, 16 Juni 2012

5# Sepanjang Jalan Braga

Jl. Braga-Bandung (West Java)



Braga - West Java


Henry terus mengejarku sepanjang jalan yang kini bernama Braga ini. Dia tak henti-hentinya memanggil namaku sambil  terus menyuruhku berhenti. Hari sudah malam ketika itu, dan jalanan tak terlalu ramai seperti siang hari. Tidak ada pedati yang lewat untuk mengangkut kopi ataupun penduduk yang lalu lalang, jalanan pun becek dan gelap. Sampai akhirnya tubuhku menabrak seseorang di sudut jalan itu. Tubuhnya kurus dan bau dan aku mengenalinya. Namanya Saiful, tukang kebun di rumahku.
“Saiful, kau harus menolong saya,” pintaku dengan nafas memburu. Lelaki di depanku itu berusaha tenang.
“Tenang non, apa yang terjadi?” tanyanya.
“Henry, dia sudah membunuh keluargaku, semuaaa..” Air mataku pun jatuh ketika menceritakannya.
Saifu dengan cepat menarik tanganku. “Sepertinya kita harus segera pergi, non. Suara Tuan Henry sudah mulai terdengar,” ajaknya.
“Bella, dimana kamu?!”
Aku terus berlari mengikuti langkah kaki Saiful dengan cepat. Sampai akhirnya Saiful mengajakku bersembunyi di dekat pedati yang diparkir pemiliknya tak jauh dari Braga.
Terdengar suara sepatu mendekat. “Itu pasti Henry!”
“Ssstt, jangan keras-keras,” kata Saiful mengingatkanku. “Jangan sampai dia menemukan kita.” Aku hanya mengangguk mengerti, keringat yang jatuh pun bercampur air mata ketakutan.
Aku benar-benar tak menyangka kalau lelaki itu akan senekat ini karena aku menolaknya. Ia tega membunuh Daddy, Mommy, dan Stevan kakakku. Aku ingat ketika ia mencoba mencekikku di rumah tadi sebelu aku berhasil kabur. Ia bilang, “Kalau aku tak bisa memilikimu, tidak juga orang lain, Bella!”
Mata Saiful dengan awas mengamati keadaan sekitar kami. Lelaki kurus dan tak pernah bersekolah ini, yang seringkali kuhina kini menjadi penolongku, ia membantuku lari dari kejaran Henry yang adalah seorang berpendidikan tinggi. Selama ini mataku telah salah menilai orang, tidak selalu orang tak punya seperti tukang kebunku ini tak layak berkawan dengan orang seperti keluargaku.
“Tuan Henry sudah pergi, non,” ujarnya yang membuatku tersadar dari renunganku.
“Benarkah itu?” tanyaku dengan nada yang sedikit lebih tenang. Saiful menganggukkan kepalanya sopan.
Aku menghela nafas lega. Lalu Saiful mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
“Terima kasih,” ucapku sambil menerima uluran tangannya yang kasar. Dia tersenyum dan aku merasakan ketulusan disana.
“Lalu apa rencana nona sekarang?” tanyanya dengan hati-hati.
Aku diam sejenak. “Saya punya rencana kembali ke Belanda, ke tempat nenek saya,” jawabku. “Tapi maukah kamu membantu  saya lagi?”
“Budak akan mengikuti perintah majikannya, nona.”
“Bantu saya kembali ke rumah, ada yang tertinggal dan harus kuambil.”
“Tidakkah itu berbahaya?” tanyanya ragu.
“karena itulah saya minta bantuan kamu.”
Saiful terlihat berpikir sebelum akhirnya mengaggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu kami kembali menyusuri jalan Braga yang sepi dengan mata telinga yang selalu waspada. Lalu terdengar suara tembakan berkali-kali dari kejauhan. Saiful yang berada di sampingku roboh tak berdaya.
“Saiful..!!!” teriakku ketika melihatnya sudah terkapar di jalan.
“Larii..!!” kata Saiful dengan sisa tenaga dan suaranya. Aku tak mungkin meninggalkannya sendirian di Braga. Aku berusaha memapahnya.
Sementara itu Henry semakin mendekat ke arah kami. “Kamu tak akan bisa pergi kemanapun, Bella!” teriak Henry yang kemudian meletakkan ujung pistolnya tepat di kepalaku.
Saiful memandangku sedih tak berdaya. Aku tak bergerak.
**

Namanya Bella, seorang noni Belanda yang meninggal di salah satu jalan yang ada di kota kembang ini. Jalan Braga yang punya kisah tersendiri baginya, begitupun aku. Jalan dengan beberapa bangunannya yang khas eropa ini punya kisah tersendiri bagiku dan lelaki itu, Banyu. Akhirnya ia kembali ke kota ini untuk mengunjungi rumahku.
“Jadi lelaki di ujung jalan ini adalah Banyu kekasihmu?” tanya Bella dengan gaun warna putih gading lengakap dengan topi khas noni Belanda.
Aku tersenyum padanya yang sudah puluhan tahun tinggal di jalan Braga yang tak pernah usai ceritanya. Lalu ia merangkulku dan mengajakku terbang sepanjang jalan Braga.






Btzrg, June 16th 2012