Untukmu Abu abu,,
Sesuatu yang sama memang tak akan terulang untuk kedua kali.
Lalu kamu mencoba mematahkannya dengan cara berbeda.
Kamu menarik, mengulur, dan tak berujung.
Kadang membiarkan mereka menari-nari lagi itu bukan tindakan yang tepat, tapi entah harmoni yang mana lagi kau gunakan yang mau tak mau menggoda mereka untuk menari (lagi).
Melenyapkan pelangi dan menempatkan dirimu yang abu-abu di atas langit.
Aku benci dan terkadang merutuki diri sendiri.
Mungkin aku harus menjadi kejam pada mereka, yang selalu kau sihir tuk menari.
Membunuhnya mungkin. Bagaimana menurutmu?
Kota Hujan,
21 Mei 2012
Senin, 21 Mei 2012
Senin, 14 Mei 2012
Cinderella and The Beast
“Cindy, cepat bawakan tas Prada
milikku!” teriak Stania dari dalam kamarnya yang kemudian disambung dengan
teriakan saudara perempuannya yang bertubuh gemuk, Alexa. “Cindy, jangan lupa
dengan high heels merahku!” teriak Alexa dari kamar yang satu lagi.
Sementara itu, Cindy, seorang
gadis yang berpakaian kumal dan sedikit berantakan terlihat sibuk sejak pagi
sampai matahari tak tampak lagi kini. Setelah mematikan kompor di dapur, ia
tergesa-gesa menuju ruang khusus untuk mengambil barang yang diminta oleh
kakak-kakak tirinya dan segera mengantarkannya ke kamar mereka.
Setelah selesai puas memoles
wajah mereka, Stania dan Alexa kemudian pergi meninggalkan rumah untuk pergi
pesta. Malam ini pesta dansa akan diadakan di istana dan tentu saja kedua kakak
tirinya sangat ingin ikut serta dalam pesta mewah tersebut. Kabarnya Pangeran
Henry ingin mencari seorang perempuan yang akan dijadikan istrinya. Sebenarnya Cindy
pun ingin ikut, namun ia tak mempunyai gaun yang pantas untuk dikenakan ke
pesta mewah itu.
Cindy yang malang duduk termenung
di loteng sempit yang juga telah menjadi kamarnya beberapa tahun ini. Tepatnya
sejak Ayahnya yang duda menikah lagi dengan seorang janda beranak dua yang kini
pun telah meninggal dunia. Setelah itu Ayahnya pergi berlayar untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya dan belum juga kembali hingga kini. Sebelum pergi
berlayar, ayah menanyakan barang apa yang paling anak-anaknya inginkan sebagai
hadiah jika ayah kembali dari pelayarannya. Stania meminta tas mewah seperti
Prada, Hermes, dan Louis Vuitton. Lalu Alexa meminta yang shoe fetish itu tentu
saja meminta sepatu mahal rancangan desainer terkenal seperti Christian Louboutin
ataupun Stuart Weitzman. Sedangkan Cindy, hanya ingin Ayahnya bisa kembali
dengan selamat dan setangkai mawar merah.
Gadis malang itu duduk seorang
diri di dekat jendela kecil yang juga sebagai satu-satunya sumber cahaya di ‘kamar’nya
yang sempit dan pengap. Bel rumah berbunyi berulang-ulang ketika Cindy sedang
terlarut dalam kenangannya. Dengan langkah gontai, Cindy turun untuk membukakan
pintu dan alangkah terkejutnya Cindy ketika ia tahu siapa yang sejak tadi
membunyikan bel rumah.
“Ayah?!” seru Cindy tak percaya
dan ia langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. “Ayah aku sangat rindu
padamu!”
“Begitupun aku, Cindy. Bagaimana
kabarmu?” Tanya Ayah. Mereka kemudian bercerita sambil berjalan menuju ruang
tengah.
“Lalu mengapa kau tak pergi ke
pesta dansa seperti kakak-kakakmu?” tanya Ayah.
Cindy tertunduk lesu. “Aku bahkan tak punya
gaun yang cantik, Ayah.”
Sedetik kemudian sang Ayah
membuka barang bawaannya, dibukanya tas besar yang ternyata berisi gaun yang
sangat cantik dan tentu saja ada sepasang sepatu kaca. Ayah menyuruh Cindy segera berganti pakaian
dan pergi ke pesta dansa dan dengan senang hati Cindy segera mengenakan gaun
dari ayahnya itu.
Beberapa waktu kemudian Cindy
kembali dengan gaun dan sepatu kacanya. Ayahnya pun mengantar sendiri putri cantiknya
ke istana Pangeran. Sesampainya di depan
istana, ayahnya berpesan pada Cindy. “Putriku, ini mawar merah yang kau pinta
sebelum aku berangkat berlayar dulu,” kata Ayah sambil menyerahkan setangkai
mawar merah yang merekah kepada Cindy.
“Terima kasih, Ayah,” kata Cindy
kemudian mencium pipi ayahnya.
“Sebelum kau turun, aku hanya
ingin memberitahumu satu hal, pemilik mawar ini adalah seseorang yang telah
menolongku dalam perjalanan pulang, ia mengijinkanku memetik mawarnya untuk
diberikan padamu namun ia mengajukan syarat padaku,” cerita ayah.
“Syarat? Syarat apa itu?” Tanya Cindy
tak mengerti.
“Ia ingin agar anak gadisku yang
meminta mawar ini datang ke kastilnya malam ini selepas jam duabelas malam,”
jawab Ayah. “Jadi aku harap kau jangan terlambat, kastilnya kearah utara dari
istana ini, Jika kau terlambat maka ia akan menghancurkan rumah kita dan semuanya.”
Cindy mengangguk. “Aku akan
datang, Ayah.”
Putri cantikpun turun dari kereta
kencananya dan memukau seisi istana. Pangeran pun terpesona dengan kecantikan
Cindy dan merekapun berdansa. Waktu begitu cepat berlalu, Cindy melihat jam dinding
yang berlapis emas itu sudah hampir menunjuk ke angka duabelas.
“Maaf pangeran, aku harus segera
pergi,” pamit Cindy namun pangeran menahannya.
“Tapi beritahu aku siapa namamu.”
“Ehmm… Cin..Cinderella.”
Cindy segera berlari dan sepatu
kacanya tertinggal satu di tangga istana. Di luar istana, Ayah sudah menunggu
dengan keretanya. Cindy segera masuk dan mereka pergi menuju kastil di utara.
Sang pemilik kastil yang ternyata
hidup seorang diri di kastil yang besar itu sudah menyiapkan makan malam yang
banyak di meja makan. Ia sudah menunggu seorang gadis yang dijanjikan oleh
seorang lelaki tua yang tempo hari ketahuan ingin mencuri mawar merahnya.
Pria buruk rupa itu meminta Cindy
untuk menikah dengannya, namun Cindy menolaknya dan pria itu tidak marah
asalkan Cindy mau menemaninya tinggal di kastilnya. Cindy setuju asalkan ia
diijinkan dulu malam itu dan akan kembali lagi besok malam.
**
Pangeran dan pengawalnya
mendatangi rumah-rumah untuk mencari Cinderella. Ketika tiba giliran rumah
kerumah Cindy, kedua kakaknya pun dengan yakin mencoba sepatu kaca itu namun
tak ada yang cocok. Cindy pun mencobanya dan pas di kakinya.
“Tidak mungkin!” Pangeran tak
percaya. “Tak mungkin Cinderella adalah seorang gadis kumal sepertimu!”
“Tapi aku punya pasangannya,
pangeran,” kata Cindy menunjukkan sebelah lagi sepatu kacanya. “
Ayah Cindy pun tak bisa meyakinkan
pangeran.
“Kau pasti mencurinya dari
Cinderella!” kata pangeran dengan sombong. “Pengawal, ayo kita pergi!”
Pangeran yang sombong itu pergi
dan membuat Cindy sedih dan ia pun memutuskan untuk tinggal di kastil si buruk
rupa. Disana ia menemani pria itu dengan tulus dan memabantunya mengurus
kastilnya. Hati Cindy yang terluka karena Pangeran sombong itu pun perlahan
mulai terobati oleh kebaikan hati si buruk rupa. Cindy pun menyadari bahwa ia
merasa bahwa cintanya tumbuh untuk pria itu.
Cindy mengatakan bersedia untuk
menikah dengannya. Tentu saja si buruk rupa sangat bahagia hatinya karena
berhasil menemukan wanita yang tulus padanya. Kemudian wajah si buruk rupa
berubah menjadi tampan melebihi pangeran sombong. Ternyata ia adalah Pangeran
Christo, saudara Pangeran Henry, yang dikutuk menjadi buruk rupa hingga ada
seorang wanita yang mencintainya setulus hatinya yang bisa menghilangkan
kutukan itu dengan cinta kasihnya.
_The End_
Sabtu, 12 Mei 2012
Weizi si Kancil Nakal
Weizi adalah seekor
kancil yang terkenal di seluruh penjuru hutan Lande. Ia terkenal karena
kenakalan dan ulahnya yang sering membuat penduduk hutan kesal. Bapak dan Ibu
Weizi pun sudah tak tahu bagaimana cara menasihati Weizi. Setiap hari selalu
saja ada penduduk hutan yang datang dan
melaporkan ulah si kancil kecil itu, mulai dari berkelahi dengan temannya atapun mengusili penduduk hutan. Jika dinasihati Weizi hanya sekedar
mendengar tapi tak pernah dilakukan dan berusaha berbuat baik.
Di pagi yang
cerah hari ini, Weizi seperti biasanya berjalan-jalan di hutan Lande yang
hijau. Sambil terus berjalan, ia memikirkan kejahilan apa lagi yang akan
dilakukannya hari ini. Di tengah perjalanan, seekor ular yang malang berteriak
meminta tolong. Weizi berhenti ketika ia mendengar teriakan itu. Ia
mencari-cari sumber suara dan akhirnya ia menemukan seekor ular terjebak di
bawah batang pohon yang baru saja tumbang. Weizi menghampiri ular tersebut. “Hei
ular jelek, apa yang sedang kau lakukan di bawah pohon itu?”
“Tolong aku
Weizi, aku kesakitan karena pohon ini menimpa tubuhku,” jawab ular itu
merintih.
“Kalau aku
membantumu, apa yang akan kau berikan padaku?”
Ular itu diam
mendengarnya, ia tak tahu apa yang bias ia berikan pada Weizi jika ia
benar-benar menolongnya dari pohon itu. “Hei Ular jelek, kau tidak punya
apa-apa untuk diberikan padaku?” Tanya Weizi sedikit kesal karena ular itu
hanya diam lama sekali.
“Ya sudah, aku
pergi saja. Tak ada ruginya juga untukku jika aku tak membantu ular jelek
sepertimu,” cibir Weizi lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan meninggalkan
si ular yang terus merintih kesakitan.
Hari itu Weizi
merasa bosan dengan hutan Lande yang selalu ia jelajahi hampir setiap hari.
Tiba-tiba ia terpikir untuk bermain-main di kebun manusia. Ia pun melangkah
menuju kebun yang letaknya tidak terlalu
jauh dari hutan. Sebenarnya penduduk hutan dilarang untuk memasuki
wilayah manusia oleh si Raja Hutan, namun Weizi tak mempedulikannya meski ia
tahu larangan itu. “Aku hanya ingin main sebentar saja dan tak ada yang tahu,
aku kan Weizi si kancil yang pintar,” kata Weizi dengan sombongnya.
Hanya beberapa
menit perjalanan, sampailah Weizi di kebun milik seorang lelaki bertubuh besar.
Weizi mengintip dari balik rerumputan yang tinggi dan lebat, terlihat olehnya
sayuran-sayuran segar yang tumbuh di kebun lelaki yang sudah masuk ke dalam
rumahnya. Weizi yang merasa lapar pun berniat untuk mencicipi sedikit saja
sayuran di kebun. Lalu ia mengendap-endap masuk ke dalam area kebun yang subur.
Awalnya ia memakan buah yang kebetulan jatuh dari pohonnya. Ia sangat menikmati
makan siangnya hari ini. Ternyata Weizi yang nakal tak puas hanya mencicipi
satu buah saja, wortel yang ditanam lelaki itu pun dimakannya begitupun sayuran
dan buahyang lainnya di kebun itu dimakan oleh Weizi. Karena makan terlalu
banyak, Weizi yang kekenyangan pun terlelap di samping kebun.
Sore harinya si
lelaki keluar dari rumahnya dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati kebunnya
yang berantakan. Matanya berkeliling mengamati kebun kesayangannya dan
mendapati seekor kancil sedang terlelap. Lelaki pemilik kebun yang marah pun
mengambil kayu untuk segera member hukuman bagi kancil nakal itu. Namun Weizi
segera tersadar dari tidurnya sebelum si lelaki berhasil memukulnya. Weizi
segera berlari dengan cepat menuju hutan sementara di belakangnya lelaki besar
terus mengejarnya dengan penuh amarah.
Di dekat sungai
kecil di dalam hutan Lande, lelaki itu berhasil menangkap Weizi. Lelaki itu
tertawa puas karena berhasil menangkap kancil nakal itu. “Kau sudah mengacaukan
kebunku, kali ini tak akan kulepaskan dan akan kumasak kau jadi sop untuk makan
malamku!”
“Siapa saja yang
mendengarku, tolong aku!” teriak Weizi di dalam cengkeraman lelaki besar itu.
“Inilah balasan
untukmu kancil nakal!” kata lelaki itu sambil membawa Weizi keluar hutan Lande.
Weizi terus berteriak meminta tolong namun tak ada yang menyelamatkannya. Belum
sampai keluar hutan, lelaki yang membawa Weizi itu berteriak kesakitan dan
akhirnya terjatuh. Weizi pun terbebas dari cengkeraman lelaki yang kemudian lari terbirit-birit.
Di balik
kegelapan, Weizi melihat seekor ular yang tadi siang ia tinggalkan ketika ular
itu meminta pertolongannya. “Apakah kau ular yang tadi siang tertimpa pohon
itu?” Tanya Weizi.
“Ya, aku Pitto
si ular yang tadi kau tinggalkan,”jawabnya.
“Mengapa kau
begitu baik padaku setelah apa yang kulakukan tadi siang?”
“Kejahatan tak
harus dibalas dengan kejahatan, Weizi.”
“lalu bagaimana
dengan manusia itu? Bukankah kau melukainya?”
“Aku melukainya
sedikit untuk melepaskanmu, tapi ia akan baik-baik saja karena aku tak berbisa.”
“Terima kasih
Pitto, sekarang kita berteman?” Tanya Weizi mendekat ke arah Pitto.
“Tentu saja
asalkan kau tidak berbuat nakal dan mengganggu penduduk hutan lagi,” kata Pitto
mengajukan syarat.
Weizi mengangguk
setuju. Sejak saat itu Weizi tak lagi menjadi kancil yang nakal dan ia bersahabat
baik dengan Pitto.
Sabtu, 28 April 2012
Harum
“Harum!”
Teriakan
seseorang dari kejauhan membuatku harus membalikkan badan mencari sumber suara.
Hanya sedetik saja aku menemukan si pemilik suara dan aku langsung melanjutkan
lariku yang tadi sempat terhenti oleh teriakan tadi. Aku menerobos padatnya jalanan
pasar satu-satunya di desa tempatku tinggal. Rok coklat panjangku kuangkat
sedikit agar tak terinjak sandal jepitk. Aku terus mempercepat langkahku dengan
sedikit berlari untuk menghindari kejaran laki-laki tua di belakang sana.
Tidak butuh
waktu lama untuk aku bisa keluar dari pasar yang becek dan bau itu. Aku
menengok ke belakang sekali lagi dan memastikan bahwa laki-laki tua yang
mengejarku tak berada dalam jarak dekat denganku. Rencanaku setelah ini adalah
naik bus menuju terminal Tirtonadi. Seseorang meraih tanganku dengan sedikit
kasar dan memaksaku untuk ikut dengannya.
**
Burung-burung
dalam sangkar yang digantung di beranda rumah saling sahut-menyahut di pagi
yang cerah kali ini. Hangatnya matahari telah sampai ke kulitku. Ibu, perempuan
paruh baya dengan kebaya dan kain batiknya sedang menyiram tanaman di halaman
rumah kami yang tidak terlalu besar.
“Bu, aku pergi dulu ya,” pamitku
pada Ibu dan mencium punggung tangannya.
“Jangan lupa nanti di pasar
mampir ke tokonya Bude Sari, ambil jahitan kebaya,” pesan Ibu.
“Iya, nanti aku mampir,” jawabku.
“Aku berangkat sekarang ya, keburu siang.”
Aku mengambil
sepeda yang kuparkir di depan rumah dan mengayuhnya meninggalkan rumah. Laju sepeda tua ini agak cepat dengan suara
berisik dari besi-besi sepeda yang mulai rusak. Sengaja aku mengayuhnya dengan
cepat agar aku bisa bertemu dengan seseorang yang pasti sudah menungguku di
pasar.
Mas Rizki,
laki-laki yang sejak lima tahun lalu mengisi ruang hatiku. Seorang pemilik warung
kecil di sudut pasar. Hubungan kami tidak direstui oleh kedua orang tuaku.
Mereka menganggap kalau Mas Rizki tidak memiliki masa depan yang bagus untukku.
Ia bukan dari keluarga berada dan usahanya juga tak sebesar juragan-juragan
besar yang ingin dijodohkan Bapak denganku, tapi aku memilihnya dan bukan yang
lain. Mas Rizki pernah datang untuk melamarku, namun ditolak mentah-mentah oleh
Bapak.
Keluargaku memang bukan keluarga
dengan keturunan darah biru ataupun keluarga tak berada, namun kedua orang
tuaku-terutama Bapak-punya standar hidup yang tinggi dan ia menjadikan
anak-anaknya sebagai salah satu cara untuk meningkatkan derajat keluarga. Mbak Sekar
misalnya, kakak perempuan pertamaku itu dipaksa menikah dan menjadi istri
ketiga seorang pengusaha kaya dari Semarang di usia tujuh belas tahun. Lalu Mas
Gagah yang dipaksa masuk akademi militer oleh Bapak, karena menjadi seorang
militer adalah impian Bapak dulu, padahal Mas-ku itu sangat berbakat menjadi
seniman handal.
Aku sudah
memasuki pasar dan menuju tempat penitipan sepeda. Setelah selesai menitipkan
sepeda di tempat Pak Waluyo, aku segera melangkahkan kakiku menuju tempat Bude
Sari untuk mengambil jahitan, namun belum sampai kakiku di tempat tujuan,
seseorang memanggilku. “Harum!”
Kakiku berhenti
di dekat penjual kembang dan menncari sumber suara. Laki-laki berkaus biru
dengan celana hitam panjang yang selalu ingin kutemui, Mas Rizki. Tanpa pikir
panjang, aku segera menghampirinya. “Hai Mas,” kataku dengan wajah bahagia bisa
menemuinya lebih cepat. Namun aku tak melihat senyumnya seperti biasa di
wajahnya seperti biasanya ketika kami bertemu. Wajahnya terlihat serius dan
tegang. Ia tak menjawabku dan langsung menarik tanganku ke tempat lain dengan
langkah yang sedikit cepat. Aku bertanya apa yang telah terjadi namun tak ada
jawaban yang keluar dari bibirnya. Kami berhenti di belakang pasar. “Rum, kamu
dengar baik-baik ya, “ kata Mas Rizki mulai bersuara.
“Kenapa tho, Mas?” tanyaku.
“Anak buah Pak Rono tadi dateng
ke warungku, mereka udah ngacak-acak semua dan ngancem aku buat pergi ninggalin
kamu,” jawab Mas Rizki dengan nada serius. “Mereka ndak akan berhenti buat misahin kita, dan aku pasti akan terus jadi
inceran mereka.”
“Terus aku mesti piye, Mas?” tanyaku.
“Opo kita kabur aja?”
Ide itu
terlintas begitu saja di otakku. Sepertinya itu jalan satu-satunya agar aku
bisa terhindar dari perjodohan dengan Pak Rono dan aku yakin Mas Rizki juga
pasti setuju.
“Piye Mas, kabur aja kita?”
tanyaku lagi ketika tak ada jawaban dari Mas Rizki.
Lelaki itu menggeleng. “Kabur
ndak akan menyelesaikan masalah, tapi malah nambah masalah baru buat kita.”
Aku tak percaya dengan
jawabannya. “Kamu udah nyerah buat memperjuangkan kita?”
“Aku bukannya nyerah, Rum. Aku
mau dateng lagi buat ngelamar kamu.”
“Kamu yakin? Bapak udah pernah
nolak kamu, Mas,” kataku.
“Karena itu aku mau
memperjuangkan kamu, aku ndak mau menikahi kamu tanpa restu orang tuamu dan
kabur itu bukan jalan keluar karena itu tindakan pengecut,” jawabnya mantap.
Meski aku melihat keyakinan di matanya, aku tetap merasa takut karena aku tahu
Bapak sangat sulit untuk merubah keputusannya.
**
Sanggul besar
terpasang di kepalaku dengan roncean melati yang wangi. Kebaya putih dan kain
batik coklat aku kenakan di hari ini. Aku akan segera menikah hari ini. Ya, aku
akan menikah! Suasana di luar kamar begitu riuh karena kesibukan untuk merayakan
hari ini. Di kamar yang kecil ini aku sedang sendirian, menatap diriku yang
terpantul dari kaca besar di depanku.
“Kamu terlihat
sangat cantik dengan kebaya itu dan sebentar lagi kamu akan menikah, kamu pasti
bahagia kan?” tanyaku pada bayanganku sendiri. Aku menggeleng dan jawaban
sebenarnya memang ‘tidak’. Aku tidak bahagia dengan pernikahan ini.
Kusambar tas
dan kujejali dengan pakaian sekenanya, lalu kuganti selop-ku dengan sandal
jepit merah-ku. Aku akan kabur dari pernikahan ini. Kabur memang tindakan
pengecut, tapi aku tidak akan menghabiskan sisa hidupku dengan menjadi istri
dari laki-laki yang tidak aku cintai. Kubuka jendela kamarku dan melompat keluar. Aku mengamati sejenak
suasana sekitar, lalu mengendap-endap lewat kebun belakang dan pergi
meninggalakan rumah.
Jarak antara
rumah dengan pasar lumayan jauh, tapi aku sedang beruntung karena bertemu
dengan Rasmi yang tak lain adalah sahabatku. Aku memintanya untuk
mengantarkanku ke pasar. Ia memang bisa diandalkan, dengan sepeda motornya
akhirnya aku bisa sampai di pasar dengan cepat. Aku berhutang banyak padanya
kali ini.
“Ras, aku terima
kasih banyak lho sama kamu,”kataku begitu aku turun dari motornya di depan
pasar.
“Iya Rum, kamu
hati-hati ya, cepetan pergi sebelum ada yang menyusulmu,” jawab Rasmi. Aku
mengangguk dan memeluk sahabatku.
Warung Mas
Rizki adalah tujuanku. Kakiku melangkah masuk pasar diiringi tatapan aneh
orang-orang di pasar. Aku tak mempedulikan mereka dan pikiranku hanya tentang
kabur dari pernikahan ini. Tempat yang kutuju dalam keadaan tertutup. Aku
bertanya pada pedagang sebelah, “Mba, kenapa warungnya Mas Rizki ndak buka ya?”
“Udah seminggu
gak buka, Mba. Katanya Mas Rizki mau pindah ke Malang,” jawab Mbak Siyem, si
penjual kue di samping warung Mas Rizki.
Malang, kota
yang menjadi tujuanku sekarang. Aku tahu betul di Malang bagian mana lelaki
yang kucari itu berada dan akau akan segera menyusulnya ke sana. Kuucapkan
terima kasih pada Mbak Siyem dan langsung melangkahkan kakiku untuk segera
meninggalkan pasar ini.
“Harum!”
Teriakan
seseorang dari kejauhan terdengar ketika aku baru beberapa langkah dari warung.
Aku menoleh dan melihat laki-laki tua yang sangat kukenal, Bapak. Rok batik
coklat panjangyang kupakai ini kuangkat
sedikit agar tak terinjak sandal jepitku dan memudahkan langkahku. Aku terus
mempercepat langkahku dengan sedikit berlari untuk menghindari kejaran Bapak.
Memang tak butuh
waktu lama untuk keluar dari pasar. Aku menoleh ke belakang dan tak menemukan
Bapak dalam pandanganku. lalu mataku mencari angkutan umum yang bisa
mengantarku sampai Tirtonadi. Seseorang meraih tanganku dari belakangku dengan
kasar. Ia menarikku dengan paksa lalu menyuruhku untuk ikut dengannya. Dia
adalah Mas Rizki! Aku tahu dia tak benar-benar meninggalkanku sendiri untuk
menghadapi ini. Dia pasti menjemputku untuk pergi dari tempat ini.
“Kamu harus kembali, Harum!”
Aku melepaskan
tanganku darinya. “Apa kamu tak merasakan perjuanganku untuk pergi dari
pernikahan hanya untuk memperjuangkan kita?!” kataku dengan nada tinggi. “Aku
hanya mencintaimu dan hanya ingin menikah denganmu, Mas.”
“Aku juga
mencintaimu dan sangat menyayangimu, Rum,”
katanya dengan nada yang sama sedihnya. “Jika kita memang berjodoh, Tuhan pasti
akan mempersatukan cinta kita meski bukan dibawah ikatan pernikahan.”
“Kita pergi
saja dari sini dan memulai hidup yang baru. Bawa aku pergi, Mas,” kataku
memohon. Dia menggeleng. “Aku harus mengembalikanmu pada orang tuamu,”
jawabnya.
“Harum!!” Suara
Bapak yang keras sudah sampai di telingaku. Aku berlari menghindari Bapak yang
sedang menuju ke arah kami sambil menggenggam tangan Mas Rizki.
Ia melepaskan
tangannya dari tanganku. “Harum, aku tak mau melakukan ini, kamu harus pulang!”
Aku menangis. “Aku
akan tetap pergi, dengan atau tanpamu, Mas,” kataku dan kemudian meninggalkannya.
“HARUUUMM…!!”
Teriakan Mas
Rizki yang sangat keras masih terdengar jelas di telingaku sebelum mobil hitam
yang melaju dengan kecepatan tinggi menyentuh tubuhku dengan keras dan
menumpahkan noda merah darah di kebaya putihku. Tubuhku terseret beberapa meter
dan pandangan mataku mulai gelap ketika nafasku tak lagi bisa kurasa.
***
Sabtu, 14 April 2012
maaf, aku sibuk! - #FFHore
“Satu jam lagi aku berangkat,” ucap Trisa dengan nada sedih.
“Ya ampun aku lupa kalau hari ini kamu mau pergi,” jawab Rio
datar.
“Masih ada cukup waktu untuk bertemu kalau kamu mau.”
“Maaf sayang, aku sibuk sekali hari ini.”
“Aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama, apa kamu tak
mau menemuiku sebentar saja sebelum aku pergi?” tanya Trisa.
“Trisa, kita masih bisa komunikasi, jangan manja seperti
itu.” Jawaban Rio membuat Trisa sangat sedih dan kecewa, ia mulai menitikkan
air matanya. “Maaf, aku sibuk, nanti aku telepon kamu lagi.”
“Oke,” kata Trisa penuh kecewa. Ia menutup ponselnya dan
memandanginya cukup lama. Ia kemudian mengetik sebuah pesan singkat untuk orang
yang baru saja dihubunginya beberapa menit lalu.
**
Hujan sedari pagi
masih enggan berhenti, rintik-rintik kecil menghiasi dengan udara yang dingin.
Rio melangkahkan kakinya tanpa payung untuk melindunginya dari hujan. Ia
berjalan menuju tempat yang selalu ia kunjungi tiap hari selama seminggu
terakhir ini. Ia duduk di sisinya dan mulai menyapa, “Hai Trisa, aku datang
hari ini.”
Lalu ia terdiam cukup lama dan ketika air matanya mulai
turun, ia segera menyeka dan tertawa. “Aku cengeng sekarang, Trisa,” katanya.
“Aku sedang tidak sibuk, jadi aku bisa menemuimu dan aku
akan berusaha menyempatkan waktu untuk mengunjungimu setiap hari.”
Rio menhela nafas dan mengatur perasaannya. “Trisa, maafkan
aku. Aku menyesal telah beralasan sibuk dan tidak menemuimu terakhir kali sebelum
kamu ke Paris.”
Sudah seminggu terakhir ini Rio selalu mengunjungi Trisa dan
meminta maaf atas kebodohannya. Ia menyesal dan berharap Trisa menjawabnya,
namun yang ia dapatkan hanya sebuah kebisuan, hening.
**
“Aku sudah memafkanmu,Rio,” ucap Trisa lirih. Ingin rasanya
ia berlari menyambut Rio dengan sebuah pelukan ketika laki-laki yang
dicintainya itu datang mengunjunginya.
“Seandainya satu minggu yang lalu kamu tidak sibuk dan bisa
menemuiku,” kata Trisa mengandai-andai sendiri. “Mungkin saja kau yang akan
mengantarku ke bandara dan aku tidak perlu naik taksi sialan yang sudah membuat
tubuhku harus terpental sekian meter, lalu membentur pembatas jalan hingga
sekujur tubuhku penuh darah dan mati…”
***
Selasa, 10 April 2012
It's just like a simulation!
“Menikah?!”pekikku
dan aku nyaris tersedak spaghetti aglio olio yang sedang kusantap sore ini di Trattoria. Beberapa orang di sekitar mejaku menengok ke arahku dengan
pandangan aneh. Aku bertaruh kalau wajahku memerah seperti kepiting rebus.
Damon, pria yang duduk di hadapanku itu menahan tawa. Aku mencondongkan wajahku
ke arah Damon. “Idemu itu sama sekali tidak lucu!” kataku dengan suara pelan.
Damon ikut
mencondongkan wajahnya ke arahku hingga jarak antara kami hanya beberapa senti
hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. “It’s just like a simulation,
Bel,” balasnya santai.
Aku
menarik tubuhku dan bersandar di sofa putih Trattoria yang nyaman
sedangkan Damon duduk dengan santai sambil meneguk red wine dari gelasnya.
Aku yang selalu takut dengan kehidupan pernikahan mendadak harus dibuat tak
karuan dengan sesuatu yang bernama pernikahan ditambah ide gila Damon. Ia
adalah boss sekaligus sahabatku yang sukses dan termasuk tipe pria idaman
wanita. “Kenapa Ayah begitu ngotot ingin
aku segera menikah sih?!” kataku dalam hati.
Aku masih
ingat betul kata-kata teman SMA-ku dua minggu lalu. “You must kidding me! 30
tahun dan masih sendiri?” katanya dengan nada yang sama sekali tak nyaman di
telinga. Aku yang kesal pun langsung menyanggahnya, “I’ve married, Amartha!”
“Hei, jadi
gimana? still single or married?” tanya Damon membuyarkan lamunanku.
Aku
menghela nafas pendek. “Menikah itu penuh resiko, gak semudah itu.”
“Ini gak
seperti pernikahan sungguhan kok, walaupun memang menikah dengan sah.”
“Jadi apa
bedanya dengan pernikahan sungguhan?”
“Kita
tetap menikah secara agama maupun hukum, dan kita jalani saja kehidupan kita
seperti sekarang. Kau dengan hidupmu dan aku dengan hidupku, “ kata Damon. “Oh
ya, kita juga harus tinggal serumah seperti pasangan suami istri sungguhan,”
tambahnya.
“Serumah?”
tanyaku sedikit takut mendengar yang terakhir itu. “No, itu terlalu beresiko,
kau bisa saja melakukan itu padaku.”
“Melakukan
apa?” tanya Damon dengan nada menggoda.
“Kamu
pasti taulah apa yang dilakukan suami istri di ranjang mereka.”
Damon
tertawa. “Pikiranmu terlalu jauh, ini hanya seperti kuliah tentang pernikahan,
praktek lebih tepatnya.”
“Tetap
saja beresiko, dan aku belum siap dengan resiko pernikahan,” kataku. “Lagipula
kau sendiri belum pernah menikah, bagaimana kau akan menjadi ‘dosen’ku?”
“Mabel, hidup memang penuh resiko, tergantung
bagaimana kita mengatasinya,” katanya menatapku dalam. “Jangan jadi pengecut
yang selalu menghindari resiko. Aku memang belum menikah, jadi kita bisa
sama-sama belajar kan? ”
“Arghh,sepertinya
aku tak punya pilihan lain,” kataku mulai putus asa.
“Selalu
ada pilihan dan kamu selalu bisa memilih.”
“Ya, dan
sepertinya aku memilih untuk ‘menikah’ denganmu,”kataku akhirnya.
Sebuah
senyum kemenangan terukir di bibir Damon. “Ok, mungkin aku ga seromantis pria
di sana yang melamar kekasihnya dengan cincin di replica pesawat itu, tapi
tetap saja aku harus melamarmu kan?” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak
kecil berwarna biru.
Lagi-lagi
aku tertawa. “Damon, bukankah ini pernikahan kita hanya kuliah, haruskah kau
melamarku?” tanyaku.
“Hei
my Mabel, ini juga bagian dari kuliah. Dimana-mana kalo mau nikah itu pasti ada
acara melamar,” jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Sok
romantis!” ejekku.
“Ah
udah deh bercandanya, sekarang mau dilanjutin gak kuliahnya?”
Aku
mengangguk sambil menahan tawa melihat aksi ‘dosen’ di depanku.
“Mabella Evanthe, menikahlah denganku.”
Entah
mengapa tawaku lenyap oleh tatapan mata Damon yang menatap penuh keseriusan dan
tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku.
Kuliah pertama tentang pernikahan di Trattoria,
sebuah lamaran.
***
Minggu, 08 April 2012
Menikah (beresiko)
Sebuah kotak kecil berwarna biru kamu sodorkan padaku sore
itu. Kotak itu kau buka dan sebuah cincin emas di dalamnya. “Menikahlah
denganku,” katamu saat itu.
Menikah. Terlalu banyak yang harus kupikirkan tentang hal
yang satu itu. Aku tak menyangkal kalau aku pun ingin merasakannya. Tapi yang
kupikirkan bukanlah tentang pernikahannya, melainkan kehidupan setelah
pernikahan. Menikah denganmu, hidup bersama, memiliki anak-anak, dan
menghabiskan masa tua bersamamu pun pernah ada dalam khayalanku. Tapi kau pun
tahu sendiri bahwa kenyataan tak semudah yang kita bayangkan. Seperti yang
pernah kukatakan, segala sesuatu itu beresiko. Menikah denganmu pun sudah pasti
beresiko.
Pernahkah kamu memikirkan hal itu? Menikah denganku pun
beresiko. Tidakkah kau risau dengan resiko yang mungkin muncul nanti sedangkan
kau pun tahu selalu ada resiko tak terduga yang bisa terjadi kapan saja, dalam
bentuk apapun.
Menikah itu beresiko. Sudahkah kita siap dengan semua resiko
itu? Bisakah kita mengatasi setiap resiko yang akan menghampiri kita? Akankah
kau selalu menggenggam tanganku bahkan ketika badai besar sekalipun?
“Masihkah kau memikirkan resiko?” tanyamu ketika aku aku tak
kunjung bersuara. “Diammu cukup lama dan
aku bisa merasakan ketakutanmu akan resiko itu.”
“Aku bukan takut, tapi aku harus lebih hati-hati tentang
pilihan,” kataku.
“Lalu apa pilihanmu?”
Tentu saja aku punya pilihan. Menikah denganmu pun adalah
sebuah pilihan. Apakah aku akan memilih menikah denganmu dan menghadapi semua
resikonya atau memilih pilihan lain yang juga punya resiko berbeda.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


