Kamis, 29 Maret 2012
kembali (dear MA)
Aku baru kembali, menjejak rerumah dan menunggu lagi..
Hei, aku kembali!
Ahh, kamu pasti tak peduli..
Kau datang ke beranda hanya untuk nya..
Membagi kata dan menyapa dia..
Andai kau tau dia siapa..
Masih kah kau menjaga rasa?
Aku disini..
Berharap celah ini kau isi..
Meski kamu tak pernah mengerti..
Aku belum mau menepi..
merebut rasa (dear MA)
aku menunggumu di beranda
sesering itu aku berharap kamu datang membagi kata
meski kadang aku harus siap pulang membawa setumpuk kecewa
dan sesekali jemariku ingin berbaur dengan kata-kata
berharap kamu merasa pesan-pesan yang terselip bersama nya
kamu, yang tak pernah terlintas sebelumnya
kamu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya
dan kamu, yang pelan-pelan mulai merebut rasa
bisakah aku merebut rasa mu juga?
Minggu, 11 Maret 2012
Takkan Ada Aku Lagi
“Kamu yakin cuma minta itu?” tanyamu dengan
nada tak percaya.
Aku
mengangguk. “Aku hanya minta kamu untuk meninggalkannya. Kamu tahu betul aku
tak pernah menyukainya.”
Aku
bisa melihat kamu tampak ragu untuk
menyetuj permintaanku. Kamu menunduk dan diam cukup lama.
“Pras,
ini bukan hal yang mustahil kan? Aku tahu kamu bisa meninggalkannya.”
Kamu
masih diam.
“Pras,
please look at me now,” kataku sambil memegang pundaknya. Ia menurut.
“Aku
tahu sulit rasanya meninggalkannya yang sudah terlalu lama menemani hidupmu,”
kataku lembut.
“Apa
kamu gak bisa menerima aku yang tak bisa jauh darinya?”
“Kamu
tentu sudah tahu jawabanku. Aku bisa menerimamu, tapi tidak dengannya.”
Kamu
menunduk dengan tangan menopang kening. “Apakah kamu tak bisa belajar
menerimanya?”
Aku
menghela nafas. “Aku akan belajar membiasakan diri dengan hidupmu, tapi tidak
dengan hal yang satu itu.”
“Bukankah
itu cuma masalah kecil? aku tak akan bersamanya jika sedang bersamamu,” ujar
Pras. “Tolonglah mengerti aku.”
“Kamu
juga harus mengerti aku. Kadang hal kecil yang kita anggap sepele bisa berbalik
menghancurkan kita.”
**
Sepagi
ini Pras begitu bersemangat mengajakku untuk jogging di taman. Ia terlihat
bahagia dan wajahnya terlihat makin tampan semenjak ia meninggalkannya. Ya,
akhirnya Pras memilih untuk meninggalkannya.
“Kenapa
kamu senyum-senyum begitu?” Tanya Pras ketika kamu duduk di bangku taman.
“Aku
seneng bisa jogging sama orang ganteng,” kataku iseng.
“Pastinya,”
kata Pras dan kami tertawa.
“Pras,”
panggilku. Ia menengok ke arahku. “Kamu tak akan kembali padanya kan?” tanyaku.
“Trust
me, takkan ada aku lagi..” Pras menggantung kalimatnya. “Takkan ada aku dengan
sesuatu bernama ROKOK.”
Sabtu, 18 Februari 2012
untuk kamu yang penuh cita-cita
Dear aku sepuluh
tahun lalu
Hai Desvian, gadis manis yang
namanya agak sulit disebut dengan cepat (banyak yang mengeluh begitu). Kamu
pasti kaget dan bertanya siapa aku yang sudah mengirimu surat dengan tulisan
yang tak serapi milikmu. Kamu juga pasti bingung dan tak merasa pernah mengenalku.
Ini adalah aku yang juga adalah kamu sepuluh tahun lagi. Tubuhku lebih kurus
sekarang dan aku rindu dengan pipi tembem dan rambut berponi milikmu itu.
Mungkin karena masalah yang muncul seiring usia, tak seperti kamu yang masih
senang bermain-main dengan teman sebayamu dan bisa tertawa lepas. Benar katamu,
hidup ini penuh kejutan.
Hei, kenapa kamu tak lagi
sering-sering bermain dengan anak tetangga? Bukankah kamu sangat suka bermain
lompat karet, tak umpet, monopoli, masak-masakan, galasin, dan permainan lain
yang mengasyikkan itu? Pergi main dan nikmatilah. Aku beri sedikit bocoran ya,
kamu pasti akan rindu permainan-permainan itu di masa depan nanti karena
permainan itu tak lagi populer bahkan cenderung tenggelam oleh kecanggihan
teknologi. Anak-anak seusiamu di masaku kini lebih suka main di warnet untuk
main game online ataupun bersosial media.
Aku rindu kamu yang punya banyak
cita-citadan suka sekali menggambar. Bukankah saat ini kamu sedang bercita-cita
untuk menjadi seorang arsitek? Hei, itu cita-cita yang keren lho. Aku tahu kamu
sedang suka menggambar banyak denah rumah, walaupun tak menggunakan hitungan
matematis, dan kamu sangat suka itu. Sudah berapa banyak yang kau gambar? Ah, kertas-kertas
itu seharusnya kamu rapikan menjadi satu dan kamu simpan untukku agar aku bisa
melihatnya.
Tapi satu atau dua tahun lagi
kamu akan berubah pikiran. Kertas-kertas gambar itu tak lagi tentang denah
rumah melainkan berbagai macam sketsa gaun. Ya, kamu akan bercita-cita menjadi
seorang designer! Kamu tahu tidak, ketika kamu berseragam putih biru nanti,
satu atau dua tahun lagi, kamu akan bercita-cita menjadi seorang penulis.
Ketika kamu SMP, novel-novel teenlit akan booming dan kamu yang uang sakunya
terbatas akan mengencangkan ikat pinggang demi membeli sebuah teenlit. Sejak
itu kamu yang sebenarnya kurang pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia akan
suka menulis. Kamu akan menghabiskan banyak buku tulis untuk kau isi dengan
cerita-cerita buatanmu. Kamu pintar karena telah menyimpan buku-buku itu
untukku. Aku juga masih suka membacanya. Gaya tulisanmu lucu dan sederhana.
Kamu pasti tersenyum penasaran
dengan apa yang baru saja kuceritakan tentang cita-citamu yang seringkali
berganti-ganti dan kamu pasti tertarik untuk tahu apakah penulis adalah
cita-cita terakhir. Ya kamu benar cantik, akan banyak cita-cita yang muncul di
pikiranmu nantinya, tapi aku akan menceritakannya lagi nanti. Aku suka sekali
kamu yang penuh impian dan satu hal lagi, aku suka sifatmu yang selalu tak mau
kalah dalam hal nilai dan prestasi di sekolah. Well, kamu berhasil masuk kelas
unggulan kan sekarang? dan bocoran lagi dariku, nantinya kamu akan masuk salah
satu sekolah menengah pertama negeri favorit di Bogor dan masuk kelas unggulan
selama dua tahun terakhir disana. Sifatmu itu masih aku miliki hingga saat ini,
aku yang sudah berstatus sebagai mahasisiwi di Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Meski aku sangat rindu kamu lucu tapi aku mensyukuri hidupku saat ini. Pesanku
untukmu, tetaplah menjadi Desvian yang penuh semangat, penuh target, dan tak
mau kalah dalam hal prestasi. Ah ya gadis manis kamu tak perlu cemas karena
masih suka mengompol. Hahaha, itu akan berhenti dengan sendirinya kok nanti.
Tak percaya? Aku buktinya, percayalah dan tak perlu takut.
Oke cantik, sudah dulu ya cerita
dari masa depan ini. Sebenarnya aku masih punya banyak cerita menarik tentang
kamu, aku, atau lebih tepatnya kita. Aku akan menceritakannya lain waktu
padamu. Ingat pesanku, tetap semangat dan apa adanya, tak perlu minder dengan
keadaan. Rajin belajar ya agar targetmu tercapai. Selamat belajar dan sukses
untuk UAS!! Aku menunggumu di masa depan dan kita akan meraih target-target
besar kita bersama.
Go fightin’, cantik!
Bogor, 18 February 2012
Dari kamu sepuluh tahun lagi
Jumat, 03 Februari 2012
Cinnamon Hot Chocolate
Hujan turun lagi sore ini. Deras
dan berangin. Aku memilih untuk masuk ke café yang ada di depanku untuk sekedar
menunggu hujan reda sambil minum sesuatu. Aku belum tahu akan pesan apa. Kubuka
pintu kaca itu dan masuk ke dalam. Aroma khas kopi tercium begitu kuat di
hidungku ketika aku masuk. Aku berjalan menuju meja counter. Perempuan dengan
rambut pendek menyapaku dengan ramah dari balik meja. “Selamat sore, mau pesan
apa?” tanyanya ramah dengan senyumannya yang manis.
“Cinnamon hot chocolate dan
tiramisu ,” jawabku.
“Pesan berapa mba?” tanyanya
lagi.
“Saa.. eh dua saja,” kataku. Lalu
dia mengulangi pesananku dan menanyakan apa ada lagi yang ingin kupesan, aku
menjawabnya tidak dan aku memilih untuk menikmati pesananku di kursi kosong di
sudut ruangan.
“Kenapa mesti hot chocolate coba?”
gerutumu ketika hot chocolate pesananku tiba di meja dengan tiramisu. “Mendingan
tadi aku yang pesan sendiri,” katamu lagi.
Aku terkekeh. “Udah minum aja,
coklat itu bagus tau bisa bikin mood kamu jadi lebih baik,” kataku lalu
menyesap cinnamon hot chocolate yang masih hangat. Sementara laki-laki di depanku ini hanya
memandangi aneh cangkir di tangannya, seolah minuman itu tak layak minum.
“Cobain dulu baru komentar, pasti
nanti ketagihan,” kataku mencoba menggodanya.
“Aku pesen espresso aja ya,
cantik.” Dia mencoba merayuku. Aku menggeleng. Dia mengerucutkan bibirnya dan
dia lucu sekali.
“Perjanjian tetap perjanjian ya!”
kataku mengingatkannya. Aku dan dia memiliki perjanjian tentang sepakbola dan
karena tim jagoannya kalah telak, ia harus mentraktirku di café favorit kami
dan aku yang memilih menunya.
Dia selalu suka kopi dan segala
macamnya, sedangkan aku lebih suka coklat atau susu. Aku iseng saja memesan hot
chocolate untuknya. Biar lidahnya tak melulu dengan kopi. Dia masih saja
terlihat ragu-ragu untuk mendekatkan cangkir itu ke mulutnya. Aku yang gemas
dengannya, langsung mengambil sendok kecil di meja lalu menyendokkan cinnamon
hot chocolate ke mulutnya dengan paksa. Beberapa tetes tumpah ke meja. Raut
wajahnya terlihat aneh setelah hot chocolate itu menyentuh lidahnya. Mungkin ia
sedang mecari kata untuk mendeskripsikan rasanya.
“Gimana? manis dan enak kan?”
tanyaku.
Dia tersenyum. “Iya manis dan
hangat.. seperti kamu,” katanya sambil mengedipkan mata kirinya padaku.
“Hah gombal!” kataku sambil
melempar tisu ke wajahnya. Lalu kita saling melempar tawa.
Hujan di luar masih deras dan
cinnamon hot chocolate kita mulai dingin. Semua masih sama. Dua cangkir
cinnamon hot chocolate dan tiramisu tiap aku datang kesini, hanya saja tak ada
kamu sejak kecelakaan satu tahun lalu.
Bogor, tiga di bulan kedua
Bogor, tiga di bulan kedua
Minggu, 29 Januari 2012
A man in the bus
Langit sudah
mulai gelap ketika aku tiba di halte, menunggu bus kota jurusan Bogor.
Kupasang headshet di telingaku dan mulai memutar lagu-lagu yang bisa
menemaniku membunuh rasa sepi dan dingin karena harus menunggu bus tanpa
teman. Lagu-lagu dari penyanyi pop-rock, Avril Lavigne, sedikit mampu
mengusir rasa jenuh. Cukup lama juga aku menunggu kendaraan rakyat yang
murah meriah itu, sampai akhirnya yang kutunggu-tunggu bersama
orang-orang lainnya datang juga.
Sore itu bus lumayan ramai dan penuh hingga aku terpaksa harus berdiri sampai ada tempat duduk kosong. Tangan kananku berpegangan pada besi yang ada di atas kepalaku dan tangan kiri mendekap erat tas kerjaku, satu tindakan kewaspadaan terhadap hal-hal kriminal yang kerap terjadi di angkutan umum. Di depanku berdiri seorang pria setengah baya dengan pakaian yang agak lusuh tapi satu yang membuatku ingin keluar dari bus yang sebenarnya sudah overload ini adalah bau badannya yang sangat menusuk hidung. “Ya ampun pengen muntah rasanya, udah ga mandi berapa hari sih ni orang?!” gerutuku dalam hati. Belum lagi kalau supir bus menginjak rem seenaknya sehingga tubuhku terpaksa condong ke depan, bahkan nyaris jatuh, dan aroma tak sedap itu makin membuat perutku mual. Tapi setiap kali itu terjadi, seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan tampan (menurutku) di belakangku dengan sigap memegangi pundakku agar aku tak jatuh. Aku melempar senyum dan berterima kasih padanya.
Beruntungnya aku tak perlu berlama-lama menikmati aroma yang sangat menusuk hidung ini, seorang wanita turun dan aku dengan sigap langsung menempati tempat duduk dekat jendela, bekas wanita tadi. Setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang. Air hujan mulai membasahi kaca jendela di samping kananku. Aku sesekali menengok ke arah laki-laki yang tadi membantuku. “Ganteng!” pujiku dalam hati dan akupun senyum-senyum sendiri tiap kali aku menengok ke arahnya. “Ya Tuhan, semoga orang yang duduk di sebelahku ini cepat turun biar si Mas Ganteng itu duduk di sebelahku,” kataku berdoa dalam hatiku dan aku tertawa kecil tentang doa yang agak konyol barusan. Hei, apa sih yang kupikirkan?!
Meski aku berusaha sedikit jaga image, tetap saja mataku ini bandel dan sesekali mencuri pandang kearahnya. Tubuhnya yang tinggi, rambut cepak, dan senyumnya yang hangat. Oh God!aku ini kenapa sih?. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kurogoh kantung tasku mencari benda kotak dan tipis, ipod ku yang tadi sempat kumasukkan kembali kedalam tas sebelum masuk bus. Aku memasang headshet di kedua telingaku dan memainkan lagu-lagu kesukaanku alih-alih memandangi laki-laki itu.
Aku memandangi suasana hujan lewat jendela yang mulai buram karena mengembun. Udara dingin dan rasa lelah karena kesibukanku di kantor hari ini membuatku mengantuk dan matakupun terpejam perlahan. Aku tertidur dan sudah masuk dunia mimpi yang mana lagi. Entah kenapa aku merasakan suatu keadaan yang sangat nyaman dan tidurku makin pulas. Entah sudah berapa lama aku tidur di bus, aku terbangun ketika seseprang mencoba membangunkanku dengan menepuk pundakku berkali-kali. Akupun tersadar dari lelapku dan aku baru tersadar kalau kepalaku sedang bersandar di bahu orang lain. Alangkah terkejutnya diriku ketika kedua mataku mendapati seseorang dengan wajah tampan dan senyum nan indah di sampingku. Ternyata dia adalah orang yang tadi kuharapkan duduk di sampingku. Aku jadi salah tingkah sendiri dan buru-buru minta maaf. “Maaf ya mas udah tidur di bahunya,” kataku dengan polosnya.
Dia tersenyum dan berkata, “Enggak apa-apa kok mba. Ngomong-ngomong mba mau turun dimana?”
Mendengar pertanyaannya, aku dengan refleks langsung melihat ke jendela, mencari tahu bus ini sudah sampai mana. Melihat aku yang panik, dia dengan cepat memberitahuku.”Baru sampai pasar Cibinong, mba,” katanya. Aku menghela nafas lega dan menyandarkan tubuhku di kursi karena tempat tujuanku belum terlewati.
“Emang mau turun dimana , mba?” tanyanya.
“Pajajaran. Terima kasih udah dibangunin ya,” jawabku. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Oh senyumnya..!!” seruku dalam hati.
Menit berikutnya kami sama-sama terdiam sampai akhirnya dia yang memecah keheningan dia antara kami. “Baru pulang kerja ya, mba?” tanyanya. Aku yang dari tadi hanya mampu menunduk malu karena tak tahan melihat senyumnya itu, menjawabnya dengan anggukan pelan. “Mas nya juga sama?” kataku balik tanya.
“Iya, saya juga baru pulang kerja.”
“Kerja dimana mas? Jakarta?”
“Iya mba,” jawabnya.
Aku terhanyut dalam obrolan kami sore itu di dalam bus kota yang tua ini. Kami bertukar cerita banyak hal. Kami seperti teman lama yang telah sekian lama berpisah dan baru dipertemukan saat ini, padahal aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Siapa sih dia sampai bisa membuatku sebahagiai ini? Well, aku menikmati saat-saat ini. Tuhan benar-benar mendengar doaku agar ia bisa duduk disampingku dan bahkan lebih dari itu, aku pun diberi kesempatan untuk berbicara dengannya!
Aku melihat tatapan matanya yang meneduhkan, senyumnya yang menghangatkan,dan rasanya aku bagai terbang diantara bunga-bunga yang indah dan merekah. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku untuk terbang lebih tinggi.
Seseorang menepuk pundakku berkali-kali dan aku membuka mataku. Seorang laki-laki yang ternyata adalah kernet bus ada di depanku. “Mba mau turun dimana? Sudah sampai terminal ini,” katanya dengan logat Medan yang kental dan aku bengong mendengar kata-katanya barusan. “Terminal?!” tanyaku setengah berteriak tidak percaya, aku berdiri dan melihat sekeliling dan kosong! Aku menepuk keningku dan kemudian berjalan keluar dari bus dengan lesu. Kepalaku rasanya pusing sekali, mungkin efek dari terbang dan jatuh begitu cepat. Terbang di alam mimpi karena bisa bersama dengan lelaki ganteng di bus, dan akhirnya harus jatuh dan ketika bangun ternyata sudah jauh dari tujuan dan ada di terminal. “Oh sial banget sih gue hari ini!” rutukku dalam hati. Gerimis masih turun dan aku terus berjalan keluar terminal tanpa payung, seorang diri.
Mataku mencari-cari angkot yang rutenya ke arah jalan Pajajaran. Ketika aku sedang serius dalam pencarianku, aku merasakan air hujan tak lagi menetes di atas kepalaku padahal hujan belum benar-benar berhenti. Aku menengok ke atas dan sebuah payung besar berwarna pelangi ada diatas kepalaku. Dengan cepat kepalaku menengok ke sekelilingku dan mendapati seseorang yang memayungiku berada di belakangku. “Hai!” kata orang itu.
Aku menutup kedua mataku dan berharap ketika kubuka kembali, aku sudah tersadar dari mimpi yang makin tak jelas. Tapi semuanya sia-sia karena orang tersebut tetap berdiri di depanku dan aku hanya mampu untuk membisu melihat seseorang yang kini tepat berada di depan mataku, sedekat ini. Rasanya lututku melemas, jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya.
Oh God! Makhluk darimana lagi ini?! Malaikat-Mu kah? Ahh, masih saja aku di alam mimpi, cepat bangun Andissa!!
>>>
Sore itu bus lumayan ramai dan penuh hingga aku terpaksa harus berdiri sampai ada tempat duduk kosong. Tangan kananku berpegangan pada besi yang ada di atas kepalaku dan tangan kiri mendekap erat tas kerjaku, satu tindakan kewaspadaan terhadap hal-hal kriminal yang kerap terjadi di angkutan umum. Di depanku berdiri seorang pria setengah baya dengan pakaian yang agak lusuh tapi satu yang membuatku ingin keluar dari bus yang sebenarnya sudah overload ini adalah bau badannya yang sangat menusuk hidung. “Ya ampun pengen muntah rasanya, udah ga mandi berapa hari sih ni orang?!” gerutuku dalam hati. Belum lagi kalau supir bus menginjak rem seenaknya sehingga tubuhku terpaksa condong ke depan, bahkan nyaris jatuh, dan aroma tak sedap itu makin membuat perutku mual. Tapi setiap kali itu terjadi, seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan tampan (menurutku) di belakangku dengan sigap memegangi pundakku agar aku tak jatuh. Aku melempar senyum dan berterima kasih padanya.
Beruntungnya aku tak perlu berlama-lama menikmati aroma yang sangat menusuk hidung ini, seorang wanita turun dan aku dengan sigap langsung menempati tempat duduk dekat jendela, bekas wanita tadi. Setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang. Air hujan mulai membasahi kaca jendela di samping kananku. Aku sesekali menengok ke arah laki-laki yang tadi membantuku. “Ganteng!” pujiku dalam hati dan akupun senyum-senyum sendiri tiap kali aku menengok ke arahnya. “Ya Tuhan, semoga orang yang duduk di sebelahku ini cepat turun biar si Mas Ganteng itu duduk di sebelahku,” kataku berdoa dalam hatiku dan aku tertawa kecil tentang doa yang agak konyol barusan. Hei, apa sih yang kupikirkan?!
Meski aku berusaha sedikit jaga image, tetap saja mataku ini bandel dan sesekali mencuri pandang kearahnya. Tubuhnya yang tinggi, rambut cepak, dan senyumnya yang hangat. Oh God!aku ini kenapa sih?. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kurogoh kantung tasku mencari benda kotak dan tipis, ipod ku yang tadi sempat kumasukkan kembali kedalam tas sebelum masuk bus. Aku memasang headshet di kedua telingaku dan memainkan lagu-lagu kesukaanku alih-alih memandangi laki-laki itu.
Aku memandangi suasana hujan lewat jendela yang mulai buram karena mengembun. Udara dingin dan rasa lelah karena kesibukanku di kantor hari ini membuatku mengantuk dan matakupun terpejam perlahan. Aku tertidur dan sudah masuk dunia mimpi yang mana lagi. Entah kenapa aku merasakan suatu keadaan yang sangat nyaman dan tidurku makin pulas. Entah sudah berapa lama aku tidur di bus, aku terbangun ketika seseprang mencoba membangunkanku dengan menepuk pundakku berkali-kali. Akupun tersadar dari lelapku dan aku baru tersadar kalau kepalaku sedang bersandar di bahu orang lain. Alangkah terkejutnya diriku ketika kedua mataku mendapati seseorang dengan wajah tampan dan senyum nan indah di sampingku. Ternyata dia adalah orang yang tadi kuharapkan duduk di sampingku. Aku jadi salah tingkah sendiri dan buru-buru minta maaf. “Maaf ya mas udah tidur di bahunya,” kataku dengan polosnya.
Dia tersenyum dan berkata, “Enggak apa-apa kok mba. Ngomong-ngomong mba mau turun dimana?”
Mendengar pertanyaannya, aku dengan refleks langsung melihat ke jendela, mencari tahu bus ini sudah sampai mana. Melihat aku yang panik, dia dengan cepat memberitahuku.”Baru sampai pasar Cibinong, mba,” katanya. Aku menghela nafas lega dan menyandarkan tubuhku di kursi karena tempat tujuanku belum terlewati.
“Emang mau turun dimana , mba?” tanyanya.
“Pajajaran. Terima kasih udah dibangunin ya,” jawabku. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Oh senyumnya..!!” seruku dalam hati.
Menit berikutnya kami sama-sama terdiam sampai akhirnya dia yang memecah keheningan dia antara kami. “Baru pulang kerja ya, mba?” tanyanya. Aku yang dari tadi hanya mampu menunduk malu karena tak tahan melihat senyumnya itu, menjawabnya dengan anggukan pelan. “Mas nya juga sama?” kataku balik tanya.
“Iya, saya juga baru pulang kerja.”
“Kerja dimana mas? Jakarta?”
“Iya mba,” jawabnya.
Aku terhanyut dalam obrolan kami sore itu di dalam bus kota yang tua ini. Kami bertukar cerita banyak hal. Kami seperti teman lama yang telah sekian lama berpisah dan baru dipertemukan saat ini, padahal aku baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Siapa sih dia sampai bisa membuatku sebahagiai ini? Well, aku menikmati saat-saat ini. Tuhan benar-benar mendengar doaku agar ia bisa duduk disampingku dan bahkan lebih dari itu, aku pun diberi kesempatan untuk berbicara dengannya!
Aku melihat tatapan matanya yang meneduhkan, senyumnya yang menghangatkan,dan rasanya aku bagai terbang diantara bunga-bunga yang indah dan merekah. Lalu ia meraih tanganku dan mengajakku untuk terbang lebih tinggi.
With a smile and that`s how it all started
And you came right in time
When I needed someone
And we said hello suddenly my heart beating fast
So it`s you I`ve been waiting for so long
So it`s you where were you all along
Very special moments these will always be with me
We are here you and I, we belong
We touched and we felt more beautiful
At two hands reaching out
Filled with so much longing
It felt good inside
There is no denying I’m in love
We are here you and I, we belong
_Christian Bautista – So it’s you_
Seseorang menepuk pundakku berkali-kali dan aku membuka mataku. Seorang laki-laki yang ternyata adalah kernet bus ada di depanku. “Mba mau turun dimana? Sudah sampai terminal ini,” katanya dengan logat Medan yang kental dan aku bengong mendengar kata-katanya barusan. “Terminal?!” tanyaku setengah berteriak tidak percaya, aku berdiri dan melihat sekeliling dan kosong! Aku menepuk keningku dan kemudian berjalan keluar dari bus dengan lesu. Kepalaku rasanya pusing sekali, mungkin efek dari terbang dan jatuh begitu cepat. Terbang di alam mimpi karena bisa bersama dengan lelaki ganteng di bus, dan akhirnya harus jatuh dan ketika bangun ternyata sudah jauh dari tujuan dan ada di terminal. “Oh sial banget sih gue hari ini!” rutukku dalam hati. Gerimis masih turun dan aku terus berjalan keluar terminal tanpa payung, seorang diri.
Mataku mencari-cari angkot yang rutenya ke arah jalan Pajajaran. Ketika aku sedang serius dalam pencarianku, aku merasakan air hujan tak lagi menetes di atas kepalaku padahal hujan belum benar-benar berhenti. Aku menengok ke atas dan sebuah payung besar berwarna pelangi ada diatas kepalaku. Dengan cepat kepalaku menengok ke sekelilingku dan mendapati seseorang yang memayungiku berada di belakangku. “Hai!” kata orang itu.
Aku menutup kedua mataku dan berharap ketika kubuka kembali, aku sudah tersadar dari mimpi yang makin tak jelas. Tapi semuanya sia-sia karena orang tersebut tetap berdiri di depanku dan aku hanya mampu untuk membisu melihat seseorang yang kini tepat berada di depan mataku, sedekat ini. Rasanya lututku melemas, jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya.
Oh God! Makhluk darimana lagi ini?! Malaikat-Mu kah? Ahh, masih saja aku di alam mimpi, cepat bangun Andissa!!
>>>
September Rainy
Mengapa aku harus menghindar kalau ternyata hujan itu indah?
Karena aku tak pernah menyentuhnya sedalam ini..
Sampai aku menemukanmu kembali melalui hujan..
15.09.11
Sejak siang tadi langit biru kesukaanku terlihat mulai gelap dan teduh. Warnanya pun bertambah pekat menjelang pukul empat sore. Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan ku mulai gelisah melihat langit yang makin gelap dan tak lama akan di temani dengan tetesan air yang perlahan mulai membasahi kota Bogor ku tercinta yang rindu akan tetesannya. Aku menghela nafas panjang dan mulai berpikir bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan hujan dan akupun lupa membawa jas hujan di motor kesayanganku.
Bel berbunyi ketika jam menunjukkan tepat pukul empat. Satu persatu penghuni kantor tempat ku bekerja mulai berlalu. Aku tak punya pilihan lain selain ‘nekat’. Ya, aku segera merapatkan cardigan abu-abuku dan berniat menerobos hujan yang masih malu-malu, menuju tempat parkir motor yang letaknya lumayan jauh di belakang gedung.
Tetes demi tetes air hujan menyentuh kulitku dan aku merasa tetesan itu rasanya menyejukkan, bagaikan tanah kering tandus yang dilanda kemarau panjang sekian lama. Aku menghentikan langkahku sejenak, mencoba menikmati anugerah Allah sore ini. Aku berpikir mengapa aku harus menggerutu tentang datangnya anugerah ini beberapa menit yang lalu yang akhirnya sekarang aku malah menikmati setiap tetes yang membasahi cardigan dan mulai meresap ke dalam menyentuh kulit.
Sembari kembali melanjutkan langkahku aku teringat ucapan teman satu kantor yang menanggapi gerutuanku sebelum hujan turun tadi.
“Ahh, gelap banget langitnya, jangan hujan dong,”gerutuku menanggapi warna langit yang makin pekat.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun dan semoga deras,” ucap Wiwin ketika air mulai turun perlahan.
Aku memasang muka sebal karena hujan mulai turun. Melihat ekspresi wajahku, Wiwin berkata, ”Lu harusnya bersyukur hujan turun, banyak daerah yang kekeringan sampai susah dapat air bersih.”
Aku terdiam dan kemudian mengiyakan kata-kata Wiwin barusan. Walaupun masih sedikit sebal tapi aku mulai mencoba berpikir positif seperti Wiwin. Allah itu memang benar-benar Maha Adil kan? Pasti sudah ada sesuatu yang baik menunggu, pikirku.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu hujan pun tak malu-malu lagi untuk menghapus rindu bumi yang lama tak tersentuh. Aku kembali bersyukur dan menikmati sore yang dingin berhias tirai hujan. Sambil menikmati pemandangan indah lewat kaca ruang tamu, aku membuka facebook ku untuk sekedar membagi cerita atau membalas wall dari teman. Sore ini aku saling berbalas wall dengan teman dekatku, April. Dengannya aku berbagi cerita, mulai dari sekedar hal tak penting sampai yang serius. Aku dan dia punya satu kesamaan, yaitu sama-sama punya kisah tentang tentara. Kami sering bercerita mulai dari indahnya diberi senyum, dikirimi pesan, bagaimana menyiksanya rindu, pedihnya tak mengungkap rasa, sakitnya ditinggal pergi, dan segala hal tentang kisah kami dengan mereka. Aku pernah menyimpulkan bahwa obrolan apapun yang terjadi antara aku dan April pasti akan berujung pada hal-hal tentang tentara dan aku menyebutnya ‘menghijau’.
Sore ini ketika aku ‘menghijau’ bareng April di facebook, muncul pesan di akun facebook dan kubuka saja. Aku yang awalnya biasa saja berubah sedikit histeris ketika membaca nama akun yang mengirim pesan tersebut. Hhah?! Ini beneran dia kirim pesan? Aku jadi heboh sendiri membacanya. Aku senang campur kesal. Senang karena dia yang sudah lama, bahkan terlalu lama mengacuhkanku akhirnya menyapaku lagi walau sekedar lewat pesan di jejaring sosial. Kesalku adalah karena dia kembali di saat aku mulai belajar untuk lepas dari bayang-bayangnya.
Aku mengenalnya kurang lebih satu tahun yang lalu lewat jejaring sosial facebook juga. Kami saling kirim pesan, bertukar nomor handphone dan sms-an. Aku cukup senang dengan kehadirannya di hidupku, setidaknya kehadirannya sedikit mampu menjadi obat untuk hatiku yang merasa kehilangan seseorang yang hadir sebelum sebelum dia.
Namun komunikasi kami jadi berubah setelah aku menolak sesuatu yang pernah diutarakannya. Aku sungguh-sungguh menghargai perasaanya dan andai saat itu ia tahu betapa dilemanya aku memutuskan jawabannya. Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk berteman saja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi setelah hari itu dia seperti menghilang ditelan bumi dan tak ada kabar apapun. Kucoba kirim sms ataupun pesan di facebook tapi tak ada tanggapan.
Setelah itu aku pun merasa kehilangan seorang teman. Aku mencoba mengerti keadaan dan berpikir positif tentangnya. Aku membiarkannya pergi namun tetap membuka ruang untuknya jikalau suatu saat dia kembali. Hingga baru sedikit kusesali beberapa bulan berikutnya, rasa kehilangan itu merubah rasaku padanya. I don’t know why, but it happen! Aku merindukannya dan entah darimana rasa itu muncul awalnya. Sesekali aku iseng mampir menengok akun facebooknya dan masih ada aktifitas, tapi tak sekalipun ia membalas pesanku. Aku berpikir mungkin aku yang harus sadar diri, apa masih mau seseorang berhubungan dengan orang yang sudah menolak perasaannya? atau ini yang sesuatu yang bernama ‘karma’? Entahlah.
Kembali pada cerita ketika aku membaca pesannya sore ini. “Kenapa tho ndo’?” Begitulah isi pesannya yang ia tulis dengan bahasa jawa. Kuketik kalimat membalas pesannya. “Mboten nopo-nopo, mas. Sampean isoh boso jowo tho mas?” dan ku klik post. Walaupun sejujurnya aku sangat senang akhirnya dia menyapaku lebih dulu, tapi aku berkata pada diriku sendiri untuk tak terlalu berharap lebih dia akan membalasnya lagi. Aku belajar menetralkan perasaan di hati dan pikiranku. Kembali kulanjutkan acara menghijau dengan April di facebook dan sesekali mataku bandel melirik ikon messages di layar, tapi belum ada angka satu muncul. Aku semakin menguatkan hatiku untuk berhenti berharap dia akan membalasnya.
Menit demi menit pun berlalu tanpa terasa dan tetap tak ada pesan baru masuk. “Stop to waitin’ for his reply!” kataku pada diriku sendiri. Tapi ternyata pesan yang ditunggu itu muncul juga. Segenap keteguhanku untuk tak mengharapkannya pun runtuh seketika. Akhirnya kami malah saling berkirim pesan, dia juga meminta nomor ponselku lagi dengan alasan ponselnya hilang dan akupun memberikannya.
Setelah mengirimkan nomorku, aku langsung offline dan segera berangkat kuliah. Langsung ku pacu motor ku dengan cepat karena aku sudah terlambat sepertinya. Sekitar duapuluh menit kemudian aku sampai di kampus dan kuparkir motor. Ketika ku lihat handphoneku, bermaksud melihat sudah jam berapa saat aku sampai di kampus, ternyata ada satu missed call dan sms masuk dari nomor baru. “Pasti dia!” tebakku.
Setelah sms terakhir dariku, tak ada lagi sms masuk darinya hingga aku masuk kelas dan akhirnya keluar kelas selesai kuliah. Sepulang dari kuliah, aku menerima ajakan teman untuk makan bersama dengan teman-teman yang lain dalam rangka ulang tahunnya. Setelah menentukan tempat, kami berangkat dengan menggunakan mobil teman yang lain. Di perjalanan aku iseng sms. Aku hanya ingin memastikan kalau itu benar-benar dia, karena aku merasa agak sedikit aneh saja dia yang dulu berubah menjadi tak peduli dan mengacuhkanku sekian lama tiba-tiba kembali saat aku mulai belajar mengabaikannya.
Aku mencari kamu dalam hujan
Aku bertanya tentang kamu pada hujan
Kutitipkan pesanku melalui hujan
Berharap kamu kembali saat hujan
Mengajakku menari bersama hujan..
Setelah hari itu, kami pun kembali menjalin komunikasi yang dulu sempat kupikir telah benar-benar berakhir. Walaupun tidak sering tetapi entah mengapa aku merasa cukup senang ketika melihat ada sms masuk darinya. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya hingga mau menyapaku lagi. Apakah benar-benar tulus atau ada yang lain? Entahlah, aku juga tak ingin berprasangka dan biar saja nanti jawaban itu akan datang dengan caranya sendiri.
Untuk sementara aku bisa menyingkirkan semua perasaan takutku itu. Akupun bersikap lebih hati-hati dalam setiap pembicaraan kami. Entah aku benar atau tidak, tapi kadang aku menangkap maksud lain dari kata-katanya. Maksud seperti satu tahun yang lalu ketika dia mencoba menjadi bagian dari ruang hatiku. Tapi seperti kataku tadi, aku bersikap lebih hati–hati dan tidak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Hujan mencoba menyampaikan sesuatu padaku
Seperti malam ini ketika dalam obrolan kami terselip kata-kata yang menurutku akan mengarah ke pembicaraan seperti setahun yang lalu tapi semuanya kuanggap hanya sebagai gurauan. Walaupun dia tak mengatakan secara langsung, tapi aku menangkap maksudnya yang menyiratkan bahwa ia masih memiliki perasaan padaku. Tapi aku tetap tenang dan menanggapinya dengan santai dan sebagai bahan bercandaan. Entah apa yang dipikirkannya tentangku, tapi yang jelas aku tak mau begitu saja luluh padanya. Aku hanya pelu waktu untuk meyakinkan.
Kita hanya berputar-putar tanpa menemukan titik temu kita..
Satu bicara, satu tak peka
Satu memberi, satu mengabaikan
Satu menarik, satu mengulur..
Kini aku mulai mengerti jalan cerita antara aku dan dia. Entah ini benar atau tidak, tapi yang ku tangkap dari sudut pandang dan cara pikirku, kami berdua sebenarnya saling memiliki rasa tetapi tak ada yang berani menyatakan atau istilahnya gengsi. Tapi aku tak akan pernah melakukannya karena bagiku itu adalah harga diri seorang wanita. Walaupun tak bisa kupungkiri setan dalam diriku sangat sering menggoda untuk melupakan soal sesuatu yang bernama harga diri itu. Beruntung aku masih bisa bertahan dan berusaha berjuang melawan diriku sendiri.
Karena aku tak pernah menyentuhnya sedalam ini..
Sampai aku menemukanmu kembali melalui hujan..
15.09.11
Sejak siang tadi langit biru kesukaanku terlihat mulai gelap dan teduh. Warnanya pun bertambah pekat menjelang pukul empat sore. Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan ku mulai gelisah melihat langit yang makin gelap dan tak lama akan di temani dengan tetesan air yang perlahan mulai membasahi kota Bogor ku tercinta yang rindu akan tetesannya. Aku menghela nafas panjang dan mulai berpikir bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan hujan dan akupun lupa membawa jas hujan di motor kesayanganku.
Bel berbunyi ketika jam menunjukkan tepat pukul empat. Satu persatu penghuni kantor tempat ku bekerja mulai berlalu. Aku tak punya pilihan lain selain ‘nekat’. Ya, aku segera merapatkan cardigan abu-abuku dan berniat menerobos hujan yang masih malu-malu, menuju tempat parkir motor yang letaknya lumayan jauh di belakang gedung.
Tetes demi tetes air hujan menyentuh kulitku dan aku merasa tetesan itu rasanya menyejukkan, bagaikan tanah kering tandus yang dilanda kemarau panjang sekian lama. Aku menghentikan langkahku sejenak, mencoba menikmati anugerah Allah sore ini. Aku berpikir mengapa aku harus menggerutu tentang datangnya anugerah ini beberapa menit yang lalu yang akhirnya sekarang aku malah menikmati setiap tetes yang membasahi cardigan dan mulai meresap ke dalam menyentuh kulit.
Sembari kembali melanjutkan langkahku aku teringat ucapan teman satu kantor yang menanggapi gerutuanku sebelum hujan turun tadi.
“Ahh, gelap banget langitnya, jangan hujan dong,”gerutuku menanggapi warna langit yang makin pekat.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun dan semoga deras,” ucap Wiwin ketika air mulai turun perlahan.
Aku memasang muka sebal karena hujan mulai turun. Melihat ekspresi wajahku, Wiwin berkata, ”Lu harusnya bersyukur hujan turun, banyak daerah yang kekeringan sampai susah dapat air bersih.”
Aku terdiam dan kemudian mengiyakan kata-kata Wiwin barusan. Walaupun masih sedikit sebal tapi aku mulai mencoba berpikir positif seperti Wiwin. Allah itu memang benar-benar Maha Adil kan? Pasti sudah ada sesuatu yang baik menunggu, pikirku.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama setelah itu hujan pun tak malu-malu lagi untuk menghapus rindu bumi yang lama tak tersentuh. Aku kembali bersyukur dan menikmati sore yang dingin berhias tirai hujan. Sambil menikmati pemandangan indah lewat kaca ruang tamu, aku membuka facebook ku untuk sekedar membagi cerita atau membalas wall dari teman. Sore ini aku saling berbalas wall dengan teman dekatku, April. Dengannya aku berbagi cerita, mulai dari sekedar hal tak penting sampai yang serius. Aku dan dia punya satu kesamaan, yaitu sama-sama punya kisah tentang tentara. Kami sering bercerita mulai dari indahnya diberi senyum, dikirimi pesan, bagaimana menyiksanya rindu, pedihnya tak mengungkap rasa, sakitnya ditinggal pergi, dan segala hal tentang kisah kami dengan mereka. Aku pernah menyimpulkan bahwa obrolan apapun yang terjadi antara aku dan April pasti akan berujung pada hal-hal tentang tentara dan aku menyebutnya ‘menghijau’.
Sore ini ketika aku ‘menghijau’ bareng April di facebook, muncul pesan di akun facebook dan kubuka saja. Aku yang awalnya biasa saja berubah sedikit histeris ketika membaca nama akun yang mengirim pesan tersebut. Hhah?! Ini beneran dia kirim pesan? Aku jadi heboh sendiri membacanya. Aku senang campur kesal. Senang karena dia yang sudah lama, bahkan terlalu lama mengacuhkanku akhirnya menyapaku lagi walau sekedar lewat pesan di jejaring sosial. Kesalku adalah karena dia kembali di saat aku mulai belajar untuk lepas dari bayang-bayangnya.
Aku mengenalnya kurang lebih satu tahun yang lalu lewat jejaring sosial facebook juga. Kami saling kirim pesan, bertukar nomor handphone dan sms-an. Aku cukup senang dengan kehadirannya di hidupku, setidaknya kehadirannya sedikit mampu menjadi obat untuk hatiku yang merasa kehilangan seseorang yang hadir sebelum sebelum dia.
Namun komunikasi kami jadi berubah setelah aku menolak sesuatu yang pernah diutarakannya. Aku sungguh-sungguh menghargai perasaanya dan andai saat itu ia tahu betapa dilemanya aku memutuskan jawabannya. Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk berteman saja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi setelah hari itu dia seperti menghilang ditelan bumi dan tak ada kabar apapun. Kucoba kirim sms ataupun pesan di facebook tapi tak ada tanggapan.
Setelah itu aku pun merasa kehilangan seorang teman. Aku mencoba mengerti keadaan dan berpikir positif tentangnya. Aku membiarkannya pergi namun tetap membuka ruang untuknya jikalau suatu saat dia kembali. Hingga baru sedikit kusesali beberapa bulan berikutnya, rasa kehilangan itu merubah rasaku padanya. I don’t know why, but it happen! Aku merindukannya dan entah darimana rasa itu muncul awalnya. Sesekali aku iseng mampir menengok akun facebooknya dan masih ada aktifitas, tapi tak sekalipun ia membalas pesanku. Aku berpikir mungkin aku yang harus sadar diri, apa masih mau seseorang berhubungan dengan orang yang sudah menolak perasaannya? atau ini yang sesuatu yang bernama ‘karma’? Entahlah.
Kembali pada cerita ketika aku membaca pesannya sore ini. “Kenapa tho ndo’?” Begitulah isi pesannya yang ia tulis dengan bahasa jawa. Kuketik kalimat membalas pesannya. “Mboten nopo-nopo, mas. Sampean isoh boso jowo tho mas?” dan ku klik post. Walaupun sejujurnya aku sangat senang akhirnya dia menyapaku lebih dulu, tapi aku berkata pada diriku sendiri untuk tak terlalu berharap lebih dia akan membalasnya lagi. Aku belajar menetralkan perasaan di hati dan pikiranku. Kembali kulanjutkan acara menghijau dengan April di facebook dan sesekali mataku bandel melirik ikon messages di layar, tapi belum ada angka satu muncul. Aku semakin menguatkan hatiku untuk berhenti berharap dia akan membalasnya.
Menit demi menit pun berlalu tanpa terasa dan tetap tak ada pesan baru masuk. “Stop to waitin’ for his reply!” kataku pada diriku sendiri. Tapi ternyata pesan yang ditunggu itu muncul juga. Segenap keteguhanku untuk tak mengharapkannya pun runtuh seketika. Akhirnya kami malah saling berkirim pesan, dia juga meminta nomor ponselku lagi dengan alasan ponselnya hilang dan akupun memberikannya.
Setelah mengirimkan nomorku, aku langsung offline dan segera berangkat kuliah. Langsung ku pacu motor ku dengan cepat karena aku sudah terlambat sepertinya. Sekitar duapuluh menit kemudian aku sampai di kampus dan kuparkir motor. Ketika ku lihat handphoneku, bermaksud melihat sudah jam berapa saat aku sampai di kampus, ternyata ada satu missed call dan sms masuk dari nomor baru. “Pasti dia!” tebakku.
Setelah sms terakhir dariku, tak ada lagi sms masuk darinya hingga aku masuk kelas dan akhirnya keluar kelas selesai kuliah. Sepulang dari kuliah, aku menerima ajakan teman untuk makan bersama dengan teman-teman yang lain dalam rangka ulang tahunnya. Setelah menentukan tempat, kami berangkat dengan menggunakan mobil teman yang lain. Di perjalanan aku iseng sms. Aku hanya ingin memastikan kalau itu benar-benar dia, karena aku merasa agak sedikit aneh saja dia yang dulu berubah menjadi tak peduli dan mengacuhkanku sekian lama tiba-tiba kembali saat aku mulai belajar mengabaikannya.
Aku mencari kamu dalam hujan
Aku bertanya tentang kamu pada hujan
Kutitipkan pesanku melalui hujan
Berharap kamu kembali saat hujan
Mengajakku menari bersama hujan..
Setelah hari itu, kami pun kembali menjalin komunikasi yang dulu sempat kupikir telah benar-benar berakhir. Walaupun tidak sering tetapi entah mengapa aku merasa cukup senang ketika melihat ada sms masuk darinya. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya hingga mau menyapaku lagi. Apakah benar-benar tulus atau ada yang lain? Entahlah, aku juga tak ingin berprasangka dan biar saja nanti jawaban itu akan datang dengan caranya sendiri.
Inginku kuingkari perasaanku ini
Mengapa harus kuakui ku suka padanya
Mungkin memangnya salahku
Yang tak pernah mengerti cinta tak mengenal arti sebuah keangkuhan
(Sherine - Arti Sebuah Keangkuhan)
Untuk sementara aku bisa menyingkirkan semua perasaan takutku itu. Akupun bersikap lebih hati-hati dalam setiap pembicaraan kami. Entah aku benar atau tidak, tapi kadang aku menangkap maksud lain dari kata-katanya. Maksud seperti satu tahun yang lalu ketika dia mencoba menjadi bagian dari ruang hatiku. Tapi seperti kataku tadi, aku bersikap lebih hati–hati dan tidak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Hujan mencoba menyampaikan sesuatu padaku
Seperti malam ini ketika dalam obrolan kami terselip kata-kata yang menurutku akan mengarah ke pembicaraan seperti setahun yang lalu tapi semuanya kuanggap hanya sebagai gurauan. Walaupun dia tak mengatakan secara langsung, tapi aku menangkap maksudnya yang menyiratkan bahwa ia masih memiliki perasaan padaku. Tapi aku tetap tenang dan menanggapinya dengan santai dan sebagai bahan bercandaan. Entah apa yang dipikirkannya tentangku, tapi yang jelas aku tak mau begitu saja luluh padanya. Aku hanya pelu waktu untuk meyakinkan.
Kita hanya berputar-putar tanpa menemukan titik temu kita..
Satu bicara, satu tak peka
Satu memberi, satu mengabaikan
Satu menarik, satu mengulur..
Kini aku mulai mengerti jalan cerita antara aku dan dia. Entah ini benar atau tidak, tapi yang ku tangkap dari sudut pandang dan cara pikirku, kami berdua sebenarnya saling memiliki rasa tetapi tak ada yang berani menyatakan atau istilahnya gengsi. Tapi aku tak akan pernah melakukannya karena bagiku itu adalah harga diri seorang wanita. Walaupun tak bisa kupungkiri setan dalam diriku sangat sering menggoda untuk melupakan soal sesuatu yang bernama harga diri itu. Beruntung aku masih bisa bertahan dan berusaha berjuang melawan diriku sendiri.
Jika kau butuh, katakan butuh..
Jika kau cinta, katakan cinta..
Jika berpisah, pisahlah saja..
Sakit dan perih hanya sementara..
(Dewiq – Katakan yang Sebenarnya)
Langganan:
Postingan (Atom)
