Teruntuk yang tersayang, para kurcaci
@devidwidy31, Tari, Anita, & Dhety.
Masa lalu memang tak pernah habis untuk dikenang. Pun deretan waktu yang pernah sama-sama kita lalui, banyak kisah tertinggal di sana. Aku mencoba mengurai kisah kita, sekedar tuk menghapus sedikit rindu akan pertemuan yang sulit kita temui.
Kalian tentu ingat dengan baik bagaimana tiga tahun dengan seragam abu-abu kita lalui hanya sekedar sebagai teman sekelas biasa. Kelas kita mengelompokkan diri menjadi beberapa bagian, dan kita masing-masing tak dalam satu yang sama. Melepaskan status pelajar dan mencari lembaran rupiah di sebuah perusahaan dengan seragam biru, kita lakukan bersama. Tanpa sadar, satu lingkungan membuat kita menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Mungkin karena kita sama-sama satu almamater, begitu pikirku ketika itu. Kenyataannya, kita menjadi sangat dekat jika aku bisa menyebutnya sahabat. Lalu kita dipertemukan dengan seorang baru di sana, Dhety. Dari sekian banyak manusia, Tuhan memilih kita untuk saling mengenal dan mendekatkan kita.
Kita berlima menjalin sebuah hubungan pertemanan yang kita rajut dengan banyak kisah. Bersama. Tentu saja tak melulu bahagia. Ada kalanya kita saling menjauh, menjatuhkan air mata, mencipta luka, hingga membentang jarak, namun akhirnya kita kembali lagi dalam lingkaran. Aku hampir saja melupakan bagian dimana kita punya nama panggilan. Dimulai dari aku, kalian biasa memanggilku dengan Mbak Dedel, kesannya terlalu tua dengan dipanggil 'mbak' padahal diantara kita, akulah yang paling muda. Lalu Devi yang punya tinggi badan yang membuatku iri itu dipanggil Bantet, kebalikannya (memang). Tari yang senyumnya manis dengan lesung pipinya dipanggil Bogel. Anita dengan panggilan Oneng memang sering membuat 'gemas'. Terakhir Dhety yang sebenarnya paling tua di antara kita ini sering dipanggil Detol. Hingga saat ini pun, masing-masing dari kita masih memanggil dengan nama-nama itu. :)
Sebuah gerai makanan cepat saji menjadi tempat favorit kita untuk bertemu, bahkan kemarin acara ulang tahun anaknya Bogel pun dirayakan di sana. Semoga masih banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama di sana. Meski kita tak lagi bersama di satu tempat yang pernah menyatukan kita, sesekali kita masih mengatur waktu untuk bertemu sekedar melepas rindu. Kita masih bertukar sapa meski hanya melalui pesan singkat. Membuatku bersyukur telah diperkenalkan dengan kalian, para kurcaci.
Mungkin ini bukan surat cinta seperti yang kalian bayangkan, tapi aku membuatnya penuh cinta. Hehehe.. Terima kasih untuk kenangan yang tercipta. Semoga hubungan kita masih terus terjalin dengan baik meski kita terpisah jarak. Selalu kupanjatkan yang terbaik untuk kalian semua dalam tiap doa, berharap kita semua sukses, bahagia, selalu dilimpahi cinta, dan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik. Amiin.
Kota Hujan, 06022014
Peluk Cium
Dedell
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta
#HariKe-6
Kamis, 06 Februari 2014
Rabu, 05 Februari 2014
Surat Untuk Saudara (Kembar) Ku
Teruntuk kamu, saudara (kembar) ku.
Masa kecil kita terasa lebih manis dan penuh cerita, membuatku selalu rindu jika dibandingkan dengan masa yang kita jalani saat ini. Aku, kamu, terasa ada jarak membentang diantaranya meski sesungguhnya kita berpijak tak benar-benar jauh. Paling tidak lima hari dalam satu pekan, sembilan jam dalam sehari, kita berada dalam satu ruangan yang sama dengan jarak kursi tak lebih dari dua meter. Ya tapi seperti yang kubilang tadi, kita terasa jauh, seperti dua orang asing meski sebenarnya ada satu ikatan yang tak bisa diputus begitu saja.
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana dulu aku selalu ingin bersamamu hingga ada orang yang nyaris mengira kita adalah sepasang kembar. Kamu adalah orang yang pertama kucari ketika aku sampai di tanah kelahiran kita. Hanya kamu. Lalu kita bersepeda bersama -ah, bukan- , kamu memboncengkan aku yang tubuhnya sedikit lebih gemuk dibanding kamu. Dengan tubuh kecilmu, kamu mengayuh sepeda dengan lincah tanpa mengeluhkan beratnya aku. Kita berkeliling desa, singgah di sawah, mandi bersama, tidur bersama, dan masih banyak hal lain yang kita lakukan bersama. Kita benar-benar seperti anak kembar bukan? Kamu selalu mengulurkan tangannya padaku, menahanku agar tak jatuh, mengalah sesuatu untukku, dan menjagaku. Ketika itu aku pun berandai-andai kau adalah kakak perempuanku. Kamu memang kakakku. Sepupu.
Hingga beberapa tahun lalu kamu tinggal di kota yang sama denganku. Muncul harapan kita bisa bersama seperti sepasang kembar di masa lalu, namun waktu rupanya telah mengubah kita. Entah perubahan macam apa yang terjadi pada kita, aku dan kamu, hingga membentuk kita menjadi dua orang asing yang menyebalkan.
Jujur, aku rindu. Sangat rindu, pada sepasang kembar beberapa tahun lalu. Rindu pada kamu yang selalu ada di sampingku, memboncengkan aku naik sepeda keliling desa, membiarkan aku memeluk pinggangnya agar tak jatuh. Bukan seperti kita yang kini saling membangun tembok di antara jarak yang semu. Besar pula harapku agar tembok itu runtuh berganti dengan kehangatan seperti dulu. Lalu kamu ikut membaur dalam lingkaran bersama saudara-saudara kita yang lainnya yang punya nama Gengges.
Kurang dari enam puluh hari lagi kau akan dipinang oleh lelaki pilihanmu. Selalu kudoakan yang terbaik untukmu, untuk keluarga kecilmu kelak. Semoga keluargamu selalu dilimpahi cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan. Amiin.
Terima kasih atas semua cinta, kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, dan semua kenangan indah.
Selamat berbahagia. Untukmu, saudara (kembar) ku.
Kota Hujan, 05022014
Peluk erat
Desvian Wulan
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta
#Hari ke-5
Masa kecil kita terasa lebih manis dan penuh cerita, membuatku selalu rindu jika dibandingkan dengan masa yang kita jalani saat ini. Aku, kamu, terasa ada jarak membentang diantaranya meski sesungguhnya kita berpijak tak benar-benar jauh. Paling tidak lima hari dalam satu pekan, sembilan jam dalam sehari, kita berada dalam satu ruangan yang sama dengan jarak kursi tak lebih dari dua meter. Ya tapi seperti yang kubilang tadi, kita terasa jauh, seperti dua orang asing meski sebenarnya ada satu ikatan yang tak bisa diputus begitu saja.
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana dulu aku selalu ingin bersamamu hingga ada orang yang nyaris mengira kita adalah sepasang kembar. Kamu adalah orang yang pertama kucari ketika aku sampai di tanah kelahiran kita. Hanya kamu. Lalu kita bersepeda bersama -ah, bukan- , kamu memboncengkan aku yang tubuhnya sedikit lebih gemuk dibanding kamu. Dengan tubuh kecilmu, kamu mengayuh sepeda dengan lincah tanpa mengeluhkan beratnya aku. Kita berkeliling desa, singgah di sawah, mandi bersama, tidur bersama, dan masih banyak hal lain yang kita lakukan bersama. Kita benar-benar seperti anak kembar bukan? Kamu selalu mengulurkan tangannya padaku, menahanku agar tak jatuh, mengalah sesuatu untukku, dan menjagaku. Ketika itu aku pun berandai-andai kau adalah kakak perempuanku. Kamu memang kakakku. Sepupu.
Hingga beberapa tahun lalu kamu tinggal di kota yang sama denganku. Muncul harapan kita bisa bersama seperti sepasang kembar di masa lalu, namun waktu rupanya telah mengubah kita. Entah perubahan macam apa yang terjadi pada kita, aku dan kamu, hingga membentuk kita menjadi dua orang asing yang menyebalkan.
Jujur, aku rindu. Sangat rindu, pada sepasang kembar beberapa tahun lalu. Rindu pada kamu yang selalu ada di sampingku, memboncengkan aku naik sepeda keliling desa, membiarkan aku memeluk pinggangnya agar tak jatuh. Bukan seperti kita yang kini saling membangun tembok di antara jarak yang semu. Besar pula harapku agar tembok itu runtuh berganti dengan kehangatan seperti dulu. Lalu kamu ikut membaur dalam lingkaran bersama saudara-saudara kita yang lainnya yang punya nama Gengges.
Kurang dari enam puluh hari lagi kau akan dipinang oleh lelaki pilihanmu. Selalu kudoakan yang terbaik untukmu, untuk keluarga kecilmu kelak. Semoga keluargamu selalu dilimpahi cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan. Amiin.
Terima kasih atas semua cinta, kasih sayang, kenyamanan, kehangatan, dan semua kenangan indah.
Selamat berbahagia. Untukmu, saudara (kembar) ku.
Kota Hujan, 05022014
Peluk erat
Desvian Wulan
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta
#Hari ke-5
Senin, 03 Februari 2014
Satellite
Dear my satellite.
Aku masih saja menghitung waktu. Sesekali. Ketika rindu.
Hari ini, di hari ke tujuh puluh delapan sejak seseorang membawamu dariku. Terkadang rasa sesal menggelayut dalam hati, membuatku berandai-andai kembali ke masa itu. Andai aku menjagamu dengan lebih baik lagi, andai aku tak terpejam di sampingmu malam itu, atau mungkin andai aku terus terjaga bersamamu dan tak membiarkan sedikitpun celah baginya untuk merebutmu dariku. Hanya saja itu semua tak mungkin karena waktu memang tak pernah bisa kembali. Tak akan pernah.
Aku menitipkan begitu banyak hal padamu. Nyaris semuanya kusimpan rapi dalam tiap foldermu, mengelompokkannya dalam lpip beberapa bagian agar kelak memudahkanku mencarinya. Lalu kita punya kebiasaan bersama menjelang weekend, mengunduh film-film untuk kutonton saat libur. Ah, aku rindu kamu, satelitku. Seharusnya kita sudah menyelesaikan bab 2 makalah seminar atau memulai beberapa bab awal calon novelku.
Sudahlah, aku hanya mengungkapkan rinduku saja karena aku tau kamu tak mungkin kembali, laptopku. Semoga kamu dirawat baik oleh si pencuri dan ia dibukakan pintu hatinya agar tak mencuri lagi. Amiin.
Kota Hujan, 03022014
Salam rindu,
Desvian Wulan
Aku masih saja menghitung waktu. Sesekali. Ketika rindu.
Hari ini, di hari ke tujuh puluh delapan sejak seseorang membawamu dariku. Terkadang rasa sesal menggelayut dalam hati, membuatku berandai-andai kembali ke masa itu. Andai aku menjagamu dengan lebih baik lagi, andai aku tak terpejam di sampingmu malam itu, atau mungkin andai aku terus terjaga bersamamu dan tak membiarkan sedikitpun celah baginya untuk merebutmu dariku. Hanya saja itu semua tak mungkin karena waktu memang tak pernah bisa kembali. Tak akan pernah.
Aku menitipkan begitu banyak hal padamu. Nyaris semuanya kusimpan rapi dalam tiap foldermu, mengelompokkannya dalam lpip beberapa bagian agar kelak memudahkanku mencarinya. Lalu kita punya kebiasaan bersama menjelang weekend, mengunduh film-film untuk kutonton saat libur. Ah, aku rindu kamu, satelitku. Seharusnya kita sudah menyelesaikan bab 2 makalah seminar atau memulai beberapa bab awal calon novelku.
Sudahlah, aku hanya mengungkapkan rinduku saja karena aku tau kamu tak mungkin kembali, laptopku. Semoga kamu dirawat baik oleh si pencuri dan ia dibukakan pintu hatinya agar tak mencuri lagi. Amiin.
Kota Hujan, 03022014
Salam rindu,
Desvian Wulan
Minggu, 02 Februari 2014
Mr. Chococip
Teruntuk kamu, yang dulu membuatnya jatuh cinta.
Hari ini adalah hari kedua, bulan kedua, tahun keempat sejak pertemuan pertama. Surat ini kutujukan untukmu, yang namanya dulu pernah masuk dalam kisah seorang gadis yang pemalu.
Tahun keempat. Ia yang ingatannya terkadang payah pun masih mampu mengingat deretan waktu yang mungkin tak pernah kau ingat. Sebaris senyum yang kamu beri pada gadis kecil empat tahun lalu, bayangnya masih saja tergambar dalam tiap gores aksaranya. Ia tak ingin membiarkanmu lenyap seiring waktu yang terus saja berlalu tak mau tahu. Seperti kamu yang mungkin saja tak pernah mengingat siapa namanya.
Dulu, ia hanya gadis kecil yang malu-malu tiap sepasang matanya menangkap dirimu, entah matamu atau hanya sekedar senyummu. Ah, aku lupa tentang senyummu. Katanya, senyummu itu manis dan mampu melelehkan hatinya hingga ia menyebutmu dengan julukan Mr.Chocochip (hanya beberapa orang saja yang tahu julukan itu, tidak termasuk kamu). Bertemu denganmu -yang gagah dalam seragam lorengnya- membuat dunianya menjadi merah jambu, penuh bunga dan balon warna-warni (katanya!). Tahukah kamu, belum pernah ada yang membuatnya itu selain kamu. Jadi baginya, kamu adalah lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta sehebat itu bahkan belum ada yang membuatnya seperti itu lagi hingga surat ini dibuat.
Teruntuk kamu, Mr. Chococip yang kini telah berbahagia.
Impiannya untuk duduk di sampingmu, setia menunggu kepulanganmu, dan menemani tiap langkah perjuanganmu mungkin sudah sirna. Tak lagi ada celah untuk harapan itu. Sedikitpun.
Selembar surat yang tercetak namamu sampai di rumahnya beberapa bulan lalu. Undangan pernikahanmu dengan perempuan yang akan selalu menemani perjuanganmu. Perempuan hebat. Tentu saja. Karena aku tahu, menjadi pendamping abdi negara memang tak mudah. dan aku yakin perempuan yang kau pilih adalah wanita yang kuat.
Menunggu hampir dua tahun, menolak lelaki lain, hingga mengabadikanmu dalam tulisannya, menunjukkan betapa kamu begitu berarti untuknya. Gadis kecil itu patah hati -tentu saja- namun aku tahu ia juga dewasa, menyiapkan diri jika kabar itu sampai kepadanya. Kini ia adalah gadis yang dewasa. Ia tahu jika bukan kamu yang namanya dituliskan Allah untuknya. Ia belajar untuk beranjak dari bagian yang penuh kamu, melangkahkan kakinya dengan lembaran baru, menggores pena yang tak lagi tentang kamu. Ia belajar. Perlahan.
Teruntuk kamu, Mr.Chocochip, yang senyumnya (dulu) melelehkan hatinya.
Kusampaikan salam dari gadis kecil pemalu empat tahun lalu. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkahmu dalam menjaga negara, menjaga perempuanmu.
Semoga selalu berbahagia, Mr. Chocochip.
Kota hujan, 02022014
Aku dan gadis kecil empat tahun lalu.
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta
#Hari ke-2
Sabtu, 01 Februari 2014
Dear Gengges
Kepada yang tersayang, Gengges.
( @Raina_damas85 @tikakyusumawati @dwistidmstria @WandaMaher , dll)
Duabelas Januari lalu, di satu sudut keriuhan pesta pernikahan ketika rinai hujan menahan kalian tinggal sedikit lama di sana. Setidaknya kehadiran kalian bisa membunuh rasa bosannya aku yang bisa saja duduk di balik meja tamu sambil memamerkan senyum manis sampai sore ketika tamu undangan datang.
Aku, kalian, membentuk lingkaran kecil di belakang meja tamu. Tanpa rencana. Ya, terbentuk begitu saja bukan? Kursi-kursi itu pun bertambah seiring derai tawa yang sama derasnya dengan rinai hujan yang begitu ingin memeluk kita seharian.
Dan ketika anak-anak gadis berkumpul, keseruan pun menyeruak hingga nyaris menyamai kerasnya suara penyanyi dangdut di dalam gedung. Hahaha, berlebihan. Tapi memang begitu adanya bukan? Anak-anak perempuan keluarga Karsoredjo memang paling gengges di pesta itu. Tanpa malu-malu, berjejer di depan stand makanan lalu berfoto dengan banyak pose. Lalu ramai-ramai naik ke pelaminan, berfoto dengan sang empunya pesta.
Banyak cerita yang keluar dari bibir kita. Entah tentang nostalgia, rencana dan impian tentang masa depan, atau sekedar menentukan siapa yang selanjutnya duduk di pelaminan. :D Keseruan kita rupanya menarik perhatian juru rekam pesta (mungkin), hingga ia mengulurkan mikropon pada kita untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Masih kuingat ketika kita saling mengoper mikropon karena tak mau mewakili salah satu, sampai akhirnya kita sepakat untuk mengucapkannya bersama. Diskusi kecil kita lakukan untuk menyusun kalimat dan meminta sang juru rekam menunggu.
Kami dari... Gengges! Mengucapkan selamat menempuh hidup baru...bla bla bla...
Kalimat pun meluncur dengan banyak suara dan kompak (sedikit sih..) Hahaha...
Dear Gengges, cicit-cicit dari Mbah Karsoredjo, aku kadang masih merindukan momen itu. Ketika kita berkumpul dengan derai tawa memeluk kita. Begitu hangat. Kita harus meluangkan waktu seperti ini kapan-kapan. Mungkin jalan-jalan atau sekedar kumpul dan nonton dvd di kamar anak gadis tertua. Hihihihii...
Peluk erat untuk kalian, Gengges.
Kota Hujan, 01022014
Desvian Wulan
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta -
#HariKe-1
( @Raina_damas85 @tikakyusumawati @dwistidmstria @WandaMaher , dll)
Duabelas Januari lalu, di satu sudut keriuhan pesta pernikahan ketika rinai hujan menahan kalian tinggal sedikit lama di sana. Setidaknya kehadiran kalian bisa membunuh rasa bosannya aku yang bisa saja duduk di balik meja tamu sambil memamerkan senyum manis sampai sore ketika tamu undangan datang.
Aku, kalian, membentuk lingkaran kecil di belakang meja tamu. Tanpa rencana. Ya, terbentuk begitu saja bukan? Kursi-kursi itu pun bertambah seiring derai tawa yang sama derasnya dengan rinai hujan yang begitu ingin memeluk kita seharian.
Dan ketika anak-anak gadis berkumpul, keseruan pun menyeruak hingga nyaris menyamai kerasnya suara penyanyi dangdut di dalam gedung. Hahaha, berlebihan. Tapi memang begitu adanya bukan? Anak-anak perempuan keluarga Karsoredjo memang paling gengges di pesta itu. Tanpa malu-malu, berjejer di depan stand makanan lalu berfoto dengan banyak pose. Lalu ramai-ramai naik ke pelaminan, berfoto dengan sang empunya pesta.
Banyak cerita yang keluar dari bibir kita. Entah tentang nostalgia, rencana dan impian tentang masa depan, atau sekedar menentukan siapa yang selanjutnya duduk di pelaminan. :D Keseruan kita rupanya menarik perhatian juru rekam pesta (mungkin), hingga ia mengulurkan mikropon pada kita untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Masih kuingat ketika kita saling mengoper mikropon karena tak mau mewakili salah satu, sampai akhirnya kita sepakat untuk mengucapkannya bersama. Diskusi kecil kita lakukan untuk menyusun kalimat dan meminta sang juru rekam menunggu.
Kami dari... Gengges! Mengucapkan selamat menempuh hidup baru...bla bla bla...
Kalimat pun meluncur dengan banyak suara dan kompak (sedikit sih..) Hahaha...
Dear Gengges, cicit-cicit dari Mbah Karsoredjo, aku kadang masih merindukan momen itu. Ketika kita berkumpul dengan derai tawa memeluk kita. Begitu hangat. Kita harus meluangkan waktu seperti ini kapan-kapan. Mungkin jalan-jalan atau sekedar kumpul dan nonton dvd di kamar anak gadis tertua. Hihihihii...
Peluk erat untuk kalian, Gengges.
Kota Hujan, 01022014
Desvian Wulan
-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta -
#HariKe-1
Kamis, 09 Januari 2014
Surat Untukmu
Teruntuk kamu, lelaki yang kelak akan datang..
Malam ini, hari kedelapan di bulan pertama tahun kesekian, aku menyempatkan diri tuk menuliskan sesuatu untukmu. Bukan surat cinta yang penuh kata rindu, bukan pula surat tentang harapan tuk cepat bertemu, hanya sebuah surat tentang impian kecilku. Kutuliskan sekarang agar kelak aku tak lupa tentang ini jika kita benar -benar sudah bertemu. Kelak.
Kau tahu, aku suka memandang langit sore dari balkon rumahku, rumah orang tuaku. Ketika mendapati langit kemerahan di atas sana, aku bergegas naik dengan ponselku. Ya, aku memotretnya. Hatiku berdecak kagum pada mahakarya di atas sana. Cantik.
Mungkin kau mulai bertanya-tanya apa sebenarnya impianku. Ini hanya sederhana. Jika kelak kita sudah bersama setelah hari itu, ketika kau mengucapkan ijab kabul meminangku, aku ingin kita meluangkan waktu 'tuk menikmati lukisan sore dengan dua cangkir teh atau kopi. Ah, aku tahu kau mungkin sibuk nantinya, tapi aku bisa menunggumu pulang di sana, di teras rumah kita.
Sayang, itu hanya satu dari sekian impian kecilku. Semoga itu sesederhana yang kuharap. Sederhana namun begitu berharga di tengah kesibukan kita masing-masing nantinya.
Selamat melangkah lagi, sayang. Aku masih merapal doa yang sama, semoga Allah selalu menguatkan kedua kakimu 'tuk terus melangkah, menujuku.
Kota Hujan,
Hari kedelapan di bulan pertama
Malam ini, hari kedelapan di bulan pertama tahun kesekian, aku menyempatkan diri tuk menuliskan sesuatu untukmu. Bukan surat cinta yang penuh kata rindu, bukan pula surat tentang harapan tuk cepat bertemu, hanya sebuah surat tentang impian kecilku. Kutuliskan sekarang agar kelak aku tak lupa tentang ini jika kita benar -benar sudah bertemu. Kelak.
Kau tahu, aku suka memandang langit sore dari balkon rumahku, rumah orang tuaku. Ketika mendapati langit kemerahan di atas sana, aku bergegas naik dengan ponselku. Ya, aku memotretnya. Hatiku berdecak kagum pada mahakarya di atas sana. Cantik.
Mungkin kau mulai bertanya-tanya apa sebenarnya impianku. Ini hanya sederhana. Jika kelak kita sudah bersama setelah hari itu, ketika kau mengucapkan ijab kabul meminangku, aku ingin kita meluangkan waktu 'tuk menikmati lukisan sore dengan dua cangkir teh atau kopi. Ah, aku tahu kau mungkin sibuk nantinya, tapi aku bisa menunggumu pulang di sana, di teras rumah kita.
Sayang, itu hanya satu dari sekian impian kecilku. Semoga itu sesederhana yang kuharap. Sederhana namun begitu berharga di tengah kesibukan kita masing-masing nantinya.
Selamat melangkah lagi, sayang. Aku masih merapal doa yang sama, semoga Allah selalu menguatkan kedua kakimu 'tuk terus melangkah, menujuku.
Kota Hujan,
Hari kedelapan di bulan pertama
Minggu, 05 Januari 2014
Sah (2)
Sah.
Tiga huruf itu nyaris membuat jantungku lolos dari tempatnya. Binar bahagia terpancar dari manik mata hitamnya serta bibir yang sukses mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas itu menyunggingkan senyum bahagianya.
Adegan pertengkaran sebulan lalu berputar cepat di kepalaku. Ketika rahasia itu sampai di telinganya hingga membuatnya murka, hubunganku dengan lelaki yang kini sedang menyematkan cincin yang kuimpikan untuk hari terhebatku.
Cincin bermata aquamarine itu melingkar di jari manisku. Seharusnya. Aku, bukan perempuan yang dua puluh tiga tahun lalu mengeluarkanku dari tempatku bertumbuh selama sembilan bulan sepuluh hari.
Tiga huruf itu nyaris membuat jantungku lolos dari tempatnya. Binar bahagia terpancar dari manik mata hitamnya serta bibir yang sukses mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas itu menyunggingkan senyum bahagianya.
Adegan pertengkaran sebulan lalu berputar cepat di kepalaku. Ketika rahasia itu sampai di telinganya hingga membuatnya murka, hubunganku dengan lelaki yang kini sedang menyematkan cincin yang kuimpikan untuk hari terhebatku.
Cincin bermata aquamarine itu melingkar di jari manisku. Seharusnya. Aku, bukan perempuan yang dua puluh tiga tahun lalu mengeluarkanku dari tempatku bertumbuh selama sembilan bulan sepuluh hari.
Langganan:
Postingan (Atom)