Senin, 03 Februari 2014

Satellite

Dear my satellite.

Aku masih saja menghitung waktu. Sesekali. Ketika rindu.

Hari ini, di hari ke tujuh puluh delapan sejak seseorang membawamu dariku. Terkadang rasa sesal menggelayut dalam hati, membuatku berandai-andai kembali ke masa itu. Andai aku menjagamu dengan lebih baik lagi, andai aku tak   terpejam di sampingmu malam itu, atau mungkin andai aku terus terjaga bersamamu dan tak membiarkan sedikitpun celah baginya untuk merebutmu dariku. Hanya saja itu semua tak mungkin karena waktu memang tak pernah bisa kembali. Tak akan pernah.

Aku menitipkan begitu banyak hal padamu. Nyaris semuanya kusimpan rapi dalam tiap foldermu, mengelompokkannya dalam lpip  beberapa bagian agar kelak memudahkanku mencarinya. Lalu kita punya kebiasaan bersama menjelang weekend, mengunduh film-film untuk kutonton saat libur. Ah, aku rindu kamu, satelitku. Seharusnya kita sudah menyelesaikan bab 2 makalah seminar atau memulai beberapa bab awal calon novelku.
Sudahlah, aku hanya mengungkapkan rinduku saja karena aku tau kamu tak mungkin kembali, laptopku. Semoga kamu dirawat baik oleh si pencuri dan ia dibukakan pintu hatinya agar tak mencuri lagi. Amiin.



Kota Hujan, 03022014


Salam rindu,
Desvian Wulan

Minggu, 02 Februari 2014

Mr. Chococip


Teruntuk kamu, yang dulu membuatnya jatuh cinta.

Hari ini adalah hari kedua, bulan kedua, tahun keempat sejak pertemuan pertama. Surat ini kutujukan untukmu, yang namanya dulu pernah masuk dalam kisah seorang gadis yang pemalu.
Tahun keempat. Ia yang ingatannya terkadang payah pun  masih mampu mengingat deretan waktu yang mungkin tak pernah kau ingat. Sebaris senyum yang kamu beri pada gadis kecil empat tahun lalu, bayangnya masih saja tergambar dalam tiap gores aksaranya. Ia tak ingin membiarkanmu lenyap seiring waktu yang terus saja berlalu tak mau tahu. Seperti kamu yang mungkin saja tak pernah mengingat siapa namanya.
Dulu, ia hanya gadis kecil yang malu-malu tiap sepasang matanya menangkap dirimu, entah matamu atau hanya sekedar senyummu. Ah, aku lupa tentang senyummu. Katanya, senyummu itu manis dan mampu melelehkan hatinya hingga ia menyebutmu dengan julukan Mr.Chocochip (hanya beberapa orang saja yang tahu julukan itu, tidak termasuk kamu). Bertemu denganmu -yang gagah dalam seragam lorengnya- membuat dunianya menjadi merah jambu, penuh bunga dan balon warna-warni (katanya!). Tahukah kamu, belum pernah ada yang membuatnya itu selain kamu. Jadi baginya, kamu adalah lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta sehebat itu bahkan belum ada yang membuatnya seperti itu lagi hingga surat ini dibuat.


Teruntuk kamu, Mr. Chococip yang kini telah berbahagia.

Impiannya untuk duduk di sampingmu, setia menunggu kepulanganmu, dan menemani tiap langkah perjuanganmu mungkin sudah sirna. Tak lagi ada celah untuk harapan itu. Sedikitpun.
Selembar surat yang tercetak namamu sampai di rumahnya beberapa bulan lalu. Undangan pernikahanmu dengan perempuan yang akan selalu menemani perjuanganmu. Perempuan hebat. Tentu saja. Karena aku tahu, menjadi pendamping abdi negara memang tak mudah. dan aku yakin perempuan yang kau pilih adalah wanita yang kuat.
Menunggu hampir dua tahun, menolak lelaki lain, hingga mengabadikanmu dalam tulisannya, menunjukkan betapa kamu begitu berarti untuknya. Gadis kecil itu patah hati -tentu saja- namun aku tahu ia juga dewasa, menyiapkan diri jika kabar itu sampai kepadanya. Kini ia adalah gadis yang dewasa. Ia tahu jika bukan kamu yang namanya dituliskan Allah untuknya. Ia belajar untuk beranjak dari bagian yang penuh kamu, melangkahkan kakinya dengan lembaran baru, menggores pena yang tak lagi tentang kamu. Ia belajar. Perlahan.


Teruntuk kamu, Mr.Chocochip, yang senyumnya (dulu) melelehkan hatinya.

Kusampaikan salam dari gadis kecil pemalu empat tahun lalu. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkahmu dalam menjaga negara, menjaga perempuanmu.

Semoga selalu berbahagia, Mr. Chocochip.




Kota hujan, 02022014


Aku dan gadis kecil empat tahun lalu.





-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta
#Hari ke-2

Sabtu, 01 Februari 2014

Dear Gengges

Kepada yang tersayang, Gengges.

( @Raina_damas85 @tikakyusumawati @dwistidmstria @WandaMaher , dll)


Duabelas Januari lalu, di satu sudut keriuhan pesta pernikahan ketika rinai hujan menahan kalian tinggal sedikit lama di sana. Setidaknya kehadiran kalian bisa membunuh rasa bosannya aku yang bisa saja duduk di balik meja tamu sambil memamerkan senyum manis sampai sore ketika tamu undangan datang.
Aku, kalian, membentuk lingkaran kecil di belakang meja tamu. Tanpa rencana. Ya, terbentuk begitu saja bukan? Kursi-kursi itu pun bertambah seiring derai tawa yang sama derasnya dengan rinai hujan yang begitu ingin memeluk kita seharian.

Dan ketika anak-anak gadis berkumpul, keseruan pun menyeruak hingga nyaris menyamai kerasnya suara penyanyi dangdut di dalam gedung. Hahaha, berlebihan. Tapi memang begitu adanya bukan? Anak-anak perempuan keluarga Karsoredjo memang paling gengges di pesta itu. Tanpa malu-malu, berjejer di depan stand makanan lalu berfoto dengan banyak pose. Lalu ramai-ramai naik ke pelaminan, berfoto dengan sang empunya pesta.

Banyak cerita yang keluar dari bibir kita. Entah tentang nostalgia, rencana dan  impian tentang masa depan, atau sekedar menentukan siapa yang selanjutnya duduk di pelaminan. :D Keseruan kita rupanya menarik perhatian juru rekam pesta (mungkin), hingga ia mengulurkan mikropon pada kita untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Masih kuingat ketika kita saling mengoper mikropon karena tak mau mewakili salah satu, sampai akhirnya kita sepakat untuk mengucapkannya bersama. Diskusi kecil kita lakukan untuk menyusun kalimat dan meminta sang juru rekam menunggu.

Kami dari... Gengges! Mengucapkan selamat menempuh hidup baru...bla bla bla...

Kalimat pun meluncur dengan banyak suara dan kompak (sedikit sih..) Hahaha...
Dear Gengges, cicit-cicit dari Mbah Karsoredjo, aku kadang masih merindukan momen itu. Ketika kita berkumpul dengan derai tawa memeluk kita. Begitu hangat. Kita harus meluangkan waktu seperti ini kapan-kapan. Mungkin jalan-jalan atau sekedar kumpul dan nonton dvd di kamar anak gadis tertua. Hihihihii...

Peluk erat untuk kalian, Gengges.



Kota Hujan, 01022014

Desvian Wulan



-disertakan dalam #30HariMenulisSuratCinta -
#HariKe-1

Kamis, 09 Januari 2014

Surat Untukmu

Teruntuk kamu, lelaki yang kelak akan datang..

Malam ini, hari kedelapan di bulan pertama tahun kesekian, aku menyempatkan diri tuk menuliskan sesuatu untukmu. Bukan surat cinta yang penuh kata rindu, bukan pula surat tentang harapan tuk cepat bertemu, hanya sebuah surat tentang impian kecilku. Kutuliskan sekarang agar kelak aku tak lupa tentang ini jika kita benar -benar sudah bertemu. Kelak.

Kau tahu, aku suka memandang langit sore dari balkon rumahku, rumah orang tuaku. Ketika mendapati langit kemerahan di atas sana, aku bergegas naik dengan ponselku. Ya, aku memotretnya. Hatiku berdecak kagum pada mahakarya di atas sana. Cantik.

Mungkin kau mulai bertanya-tanya apa sebenarnya impianku. Ini hanya sederhana. Jika kelak kita sudah bersama setelah hari itu, ketika kau mengucapkan ijab kabul meminangku, aku ingin kita meluangkan waktu 'tuk menikmati lukisan sore dengan dua cangkir teh atau kopi. Ah, aku tahu kau mungkin sibuk nantinya, tapi aku bisa menunggumu pulang di sana, di teras rumah kita.

Sayang, itu hanya satu dari sekian impian kecilku. Semoga itu sesederhana yang kuharap. Sederhana namun begitu berharga di tengah kesibukan kita masing-masing nantinya.

Selamat melangkah lagi, sayang. Aku masih merapal doa yang sama, semoga Allah selalu menguatkan kedua kakimu 'tuk terus melangkah, menujuku.

Kota Hujan,
Hari kedelapan di bulan pertama

Minggu, 05 Januari 2014

Sah (2)

Sah.
Tiga huruf itu nyaris membuat jantungku lolos dari tempatnya. Binar bahagia terpancar dari manik mata hitamnya serta bibir yang sukses mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas itu menyunggingkan senyum bahagianya.

Adegan pertengkaran sebulan lalu berputar cepat di kepalaku. Ketika rahasia itu sampai di telinganya hingga membuatnya murka, hubunganku dengan lelaki yang kini sedang menyematkan cincin yang kuimpikan untuk hari terhebatku.

Cincin bermata aquamarine itu melingkar di jari manisku. Seharusnya. Aku, bukan perempuan yang dua puluh tiga tahun lalu mengeluarkanku dari tempatku bertumbuh selama sembilan bulan sepuluh hari.

Jumat, 20 Desember 2013

Teruntuk Kamu

Teruntuk kamu,


Bagaimana cuaca di kotamu hari ini? Berapa derajat celcius panasnya? Berapapun itu, kuharap rangkaian aksara yang kau baca kali ini mampu memberikan sedikit kesejukan di hatimu itu.
Hari ini, satu hari sebelum hari kedua puluh satu di bulan keduabelas, aku mendadak rindu pada masa lalu yang seakan tak pernah henti mengikuti dan akhirnya membuatku luluh oleh sesuatu bernama rindu. Ya, aku rindu. Padamu.

Kamu sudah berjalan begitu jauh, bahkan terlalu jauh hingga aku terseok-seok dalam langkahku,mengikutimu yang tak lagi bisa ku kejar langkahnya.

Sabtu, 07 Desember 2013

Kembali ke Kotamu


Beberapa hari lalu aku diingatkan lagi oleh seseorang tentang sesuatu yang dulu begitu menggebu dalam diriku, mungkin juga dirimu, yang mau tak mau membuatku kembali mengingatmu yang satu paket dengan masa lalu. Tentang cita-cita mengunjungi kotamu, kota kita. Berawal dari sapaan yang ramah dibarengi dengan satu garis yang melengkung di bibirmu sore itu, di salah satu kursi di dalam gerbong kereta yang tengah melaju cepat di atas lintasan besinya. Membawa kita dan manusia-manusia lainnya ke kota yang begitu membuatku benar-benar jatuh cinta pada akhirnya.

Aku bukan orang yang mudah mencair dengan orang lain. Selalu butuh waktu untukku ikut hanyut dalam percakapan bersama orang yang baru kukenal, terlebih pada lelaki, namun kamu yang entah dengan sihir apa berhasil membuatku dengan mudahnya hanyut dalam aliran ceritamu. Sebuah perkenalan singkat namun begitu hangat. Kamu mengulurkan tangan lebih dulu dengan bersemangat sembari mengucapkan namamu yang kusambut dengan sedikit malas.

Kota itu, kota kelahiranmu yang menjadi obrolan seru kita di tengah suara deru kereta yang terus beradu dengan bisingnya suara dari penumpang sekitar kita. Kamu menceritakan beberapa tempat yang menurutmu sangat indah, bahkan kamu dengan penuh percaya diri berani bertaruh kalau aku akan jatuh cinta pada mereka. Aku tergelak. Pede benar orang ini, umpatku dalam hati. Detik berikutnya aku tetap mendengarkan dengan baik tiap kata yang keluar dari bibirmu, mengabaikan Sara Bareilles yang kupaksa berhenti menyanyikan King of Anything ketika kau menepuk pelan pundakku untuk memintaku memindahkan jaket double collar yang kuletakkan di bangku kosong sebelahku, yang ternyata adalah milikmu.

Obrolan kita terhenti ketika kamu beberapa kali menangkap basah aku yang menguap di tengah obrolan kita malam itu. Kamu mempersilahkan aku untuk memejamkan mata lebih dulu. Sempat terdengar tawa pelan ketika aku memiringkan badan ke arah jendela kecil di samping kiriku dan memejamkan mataku.

Perasaan kecewa menelusup dalam hatiku ketika kereta kita berhenti di tujuannya pagi itu. Seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan kita mencoba membangunkanku yang begitu pulas. Mataku dengan cepat menyesuaikan keadaan dengan cahaya matahari pagi dan aku tak mendapatimu ketika mataku mencari seorang lelaki yang penuh semangat menceritakan kotanya di sampingku kemarin. Kursi itu kosong tanpa menyisakan sesuatu pun. Ah, setidaknya kita menyempatkan diri untuk saling mengucapkan salam perpisahan.

Kedua kakiku sukses menginjak kotamu yang menyambut kali pertama kedatanganku dengan ramahnya, seolah tersenyum dan mengucapkan selamat datang padaku. Selamat datang di kota yang indah, ujar suara seseorang tepat di telinga kananku dari arah belakang. Aku dengan sigap membalikkan badan dan mendapatimu tepat di depan wajahku, dekat sekali hingga ujung indera pencium kita nyaris bersentuhan, menghadirkan getaran aneh yang tetiba menyerbu aliran darahku yang kemudian menyebarkannya hingga ke seluruh tubuh. Aku berinisiatif untuk mengambil satu langkah ke belakang, lalu kita sama-sama kikuk. Seperti sebelumnya, kamu selalu pandai mencairkan kekakuan suasana. Kamu menawariku sarapan bersamamu dengan makanan khas dari kotamu. Mungkin aku harus mengakui kehebatanmu karena lagi-lagi aku pun menyetujui gagasanmu untuk makan pagi bersama di salah satu sudut pemberhentian kereta yang mulai ramai.

Kamu membuatku menyadari sesuatu dan akhirnya membuatku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa lelaki yang baru kukenal tak sampai dua belas jam lalu ini begitu hebat karena mampu membuatku begitu akrab dengannya, seperti teman yang sudah bertahun-tahun bersama. Aku bahkan tak menyimpan sedikitpun rasa curiga padamu. Siapa sebenarnya kamu? Aku terpaksa menyimpan deretan pertanyaan dalam otakku ketika kamu menawarkan diri untuk menemaniku menikmati kota, menelusuri tiap sudutnya, hingga menemukan tempat yang kau bilang cantik dan indah. Lagi-lagi aku menyetujui gagasanmu itu. Kita membuat janji untuk bertemu lagi di Alun-alun Kidul malam hari nanti. Aku bergumam dalam hati kalau sepertinya liburanku kali ini tak sekedar mengunjungi Malioboro ataupun Parangtritis yang sudah sangat tekenal itu. Akan lebih hebat dari sekedar bayangan awal ketika aku dengan modal nekat mengunjungi kota yang selalu jadi destinasi liburan impianku sejak lama.


Dua mangkuk ronde menemani obrolan kita malam itu, mengobrolkan banyak hal dan mendengarkanmu bercerita tentang kotamu hingga rencana perjalanan kita esok. Ya, aku menerimamu untuk menjadi pemanduku selama liburanku yang hanya dua hari.  Esok paginya, kamu menungguku di depan tempatku menginap di daerah Malioboro, sesuai janjimu semalam di Alun-alun. Aku tersenyum mantap untuk memulai perjalananku, bersamamu. Aku masih ingat betul ketika kamu menjabarkan dengan menggebu tentang menyusuri sungai bawah tanah Goa Pindul yang akan membuatku terkesan dengan keindahan di dalam goanya yang masih aktif dengan stalaktit dan stalagmitnya. Lepas itu kamu mengajakku mengunjungi pantai Indrayanti kemudian pantai Sadranan yang tak kalah indah dari pantai-pantai lainnya. Katamu lagi, pantai-pantai di Gunung Kidul itu luar biasa cantik dan masih banyak yang tersembunyi. Jalan menuju ke sana pun tak mudah, namun semuanya akan terbayar dengan kecantikan pantainya, debur ombak yang putih, dan pasirnya yang bersih.

Hari sudah sore ketika sepeda motor yang kau pinjam dari temanmu itu membawa kita pulang menuju Malioboro. Kamu menawariku untuk sejenak mampir di tempat yang disebut Bukit Bintang. Seperti Puncak di Cisarua, komentarku ketika kita duduk bersisian sembari menikmat jagung bakar. Kamu hanya terkekeh mendengarnya dengan pandangan mata menatap landscape kota yang berkelip sejauh mata memandang, seperti bintang di langit malam. Kemudian kamu bertanya sesuatu padaku, mengapa aku mau ikut dalam perjalananmu dan bersama orang yang baru dikenal di kereta dari stasiun Pasar Senen. Entah, aku pun tak tahu mengapa aku begitu mudah percaya padamu, mungkinkah karena kebetulan saja? Tak ada yang disebut kebetulan, katamu. Aku mengalihkan pandanganku dari kerlip lampu di bawah sana padamu, menunggu kalimatmu selanjutnya. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu dan melakukan perjalanan ini bersama, kamu bisa saja mengabaikanku ketika di dalam kereta, menolak ajakanku untuk sarapan di Lempuyangan, ataupun menolak pertemuan kita di Alun-alun yang akhirnya menelurkan rencana yang ternyata sudah kita jalani hari ini, jelasmu lagi.

Aku tersenyum mendengar jawabanmu. Menurutmu apa kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, begitu tanyaku. Kamu balik memandangku, mengatakan padaku kalau kamu tak tahu dan jika nanti kita bertemu lagi, biarkan itu menjadi kejutan untuk kita. Jika kamu merindukan aku, maka kembalilah ke kota ini, ia akan menyambutmu dengan senyuman hangat yang sulit kau lupakan, begitu katamu dengan yakin dan tawa yang begitu lepas. Aku pun tertawa mendengarnya. Memang siapa yang akan merindukanmu, kataku geli. Lalu kamu dengan nada penuh keyakinan mengatakan kalau aku boleh saja tak merindukanmu, namun aku akan merindukan perjalanan ini dan tentu saja kota ini. Aku hanya bisa terkekeh mendengar kata-kata yang selalu keluar dengan nada yang penuh percaya diri darimu. Kembalilah jika kamu rindu, katamu yang terakhir sebelum kita meninggalkan bukit itu.

Aku selalu rindu pada kotamu, juga kamu. Kabarmu tak lagi kudapat sejak sepuluh bulan lalu, satu tahun setelah pertemuan kita. Surat elektronik, media kita saling bertukar sapa, tak lagi darimu di barisan atasnya.

Dear Sekar,

Hari ini, tepat di hari ketiga di bulan kesembilan, satu tahun setelah perjalanan kita. Seharusnya hari ini aku sedang menunggumu di stasiun tempat kita pertama kali makan pagi bersama, Lempuyangan, sesuai janji kita setahun lalu. Dua piring nasi yang masih panas dengan gudeg, serta dua gelas teh beraroma melati mungkin sudah menanti di warung makan itu. Jujur, aku tak mampu menikmati rasa nikmat yang sama seperti yang kamu rasakan ketika nasi dan gudeg itu menyentuh lidahmu. Aku terlalu sibuk menikmati kamu, wajahmu dari sisi kirimu. Wajah yang beberapa tahun lalu hanya bisa aku lihat dari kejauhan.
Perpustakaan, menjadi tempat favoritku menghabiskan waktu ketika masih menyandang status pelajar berseragam putih abu-abu. Bukan karena buku-buku yang berjejer rapi di setiap rak di ruangan itu,  namun karena kamu. Dari sudut favoritku, di ujung ruang perpustakaan yang sepi, mengawasimu dari balik kaca jendelanya. Melihat tawamu yang begitu menggelitik hatiku, berharap kamu tak menangkap basah aku yang mengawasimu dari perpustakaan ini agar aku bisa lebih lama melihat tawa yang begitu renyah. Satu semester saja perpustakaan menjadi sahabatku, karena setelahnya aku harus ikut orang tuaku ke Surakarta, meninggalkan kamu di kota yang berada di selatan ibukota negara tercinta. 
Aku percaya Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu kelak, dan jaket double collar yang membuatku kesal awalnya itu ternyata adalah jalan yang diberikan untukku. Semalam suntuk kita membicarakan Yogya. Aku bersyukur karena kamu tak mengenaliku sebagai seseorang yang pernah satu sekolah beberapa tahun lalu.
Maaf karena aku tak akan bisa lebih sering mengirimu surat lagi. Kewajibanku sebagai abdi negara akan banyak mengambil waktu yang sebenarnya ingin kuberikan padamu. Tanah di timur nusantara sudah menungguku.  Kamu tentu sudah mendengar kabar tentang gejolak yang terjadi di tanahnya, tempat aku berpijak untuk waktu yang cukup lama.
Sampaikan rinduku pada kota cantik kita, Yogya.

Di Timur Nusantara, 03 September 2013
Pranatha Nayottama

Surat terakhir yang kuterima itu masih terekam dengan baik di salah satu file memori otakku sebelum akhirnya berita dari berbagai media menyelipkan namamu sebagai korban dari penembakan di tanah Papua.  Aku menghela nafas dalam-dalam, menenangkan diri sendiri. Rangkaian gerbong kereta menjadi pemandanganku siang ini. Disesaki dengan banyaknya manusia dan bisingnya suara mesin yang beradu dengan suara dari pengeras suara di atas sana, pun dilengkapi dengan terik matahari yang sukses meneteskan peluh. Lagu Come Home dari  One Republic dan Sara Bareilles mengalun pelan di telingaku. Otakku memindai kembali pertemuan kita di gerbong itu dengan cepat. Kedua sudut bibirku melengkung ke atas, melihatmu tersenyum di sana, di tempat yang tak bisa ku jangkau. Sekali lagi aku membenarkan letak ransel canvas warna beige yang kugendong di pundakku seraya memantapkan hati menuju kotamu, yang kamu bilang akan selalu membuatku jatuh cinta dan akhirnya rindu untuk kembali, Yogyakarta.

****