Rabu, 07 Agustus 2013

Not Too Late #TheParagraph

weheartit.com


Perempuan berambut hitam dengan panjang sebahu duduk di salah satu kursi di sudut perpustakaan universitas, tengah hanyut dalam bacaannya sore itu. Cahaya matahari yang kemerahan menerpa wajahnya lewat jendela yang membuat wajahnya seolah bersinar. Kuabaikan buku yang tadi kuambil dari rak dengan label hukum. Alih-alih membacanya, mataku sibuk mengawasinya seolah takut keindahan senja akan segera berlalu tanpa kuketahui. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan kemudian menutup buku tebalnya. Dibawanya tas dan buku-bukunya kemudian beranjak pergi. Hatiku mencelos. Haruskah aku mengikutinya? Tidak. Aku tak mau ia mengiraku lelaki aneh atau penguntit, atau bahkan  psikopat. Ah, tapi aku tak mau kehilangan kesempatan! Tubuhku baru saja beranjak dan hendak menuju ke arahnya, tapi akhirnya terduduk kembali ketika kulihat seorang lelaki merangkulnya dengan akrab. Aku terlambat.


Kulangkahkan kakiku tak bersemangat menuju petugas perpustakaan untuk mengurus peminjaman buku untuk materi kuliahku. Petugas perpustakaan kemudian menyodorkan selembar kertas padaku setelah selesai dengan peminjaman bukunya. “Apa ini?” tanyaku tak mengerti.
“Aku tak tahu dan lebih baik kau baca saja,” jawabnya sambil kemlbali melanjutkan pekerjaannya.
Kubuka kertas itu sambil berjalan meninggalkan perpustakaan. Goresan tangan yang cantik, pujiku begitu melihatnya. Bibirku membuat sebuah senyum yang tak kusadari ketika membaca tiap kalimat yang tertulis di kertas itu.
Kau harus bergerak lebih cepat. Jangan terlalu banyak membuang waktu atau kau akan kehilangan itu untuk selamanya.
Kalau kau ada waktu, kita bisa membahas tentang apapun di perpustakaan, besok siang pukul dua belas. Ingat, jangan membuang waktumu.
_Sara_

**
Aku memandang jam tanganku dengan gelisah. Dosenku masih belum selesai memberikan kuliahnya. Ini hampir jam setengah satu siang dan aku sudah terlambat untuk bertemu dengan Sara. Aku sudah bersiap-siap untuk lari ketika akhirnya dosen di depan sana berkata kalau kuliah sudah selesai. Tak kupedulikan orang-orang melihatku dengan tatapan aneh ataupun sebal karena aku lari sepanjang lorong agar bisa lebih cepat ke perpustakaan.
Hatiku merasa lega melihat ia masih duduk disana, di kursi yang sama ketika aku melihatnya kemarin sore. Nafasku masih terengah-engah ketika sampai di kursinya. “Kamu terlambat,” ucapnya datar dengan mata yang tetepa tertuju pada buku tebal di mejanya.
“Aku minta maaf... kuliah baru selesai... dan aku...,” aku berusaha menjelaskan keadaan dengan nafas yang masih belum normal.
“It’s okay,” ujarnya memotong kalimatku. Ia melihatku ke arahku, tanpa ekspresi. Hatiku tergelitik. Ia semakin menarik bagiku meski tanpa ekspresi seperti itu.
“Aku Bara,” kataku sambil mengulurkan tanganku.
I know. Barata Yudha Wiratama, fakultas hukum semester tujuh, right?”  Hei, dia bahkan sudah tahu tentangku. Apakah ia yang sebenarnya mengamatiku?! What a surpise.
“Hampir satu kampus juga tahu itu,” katanya seakan tahu kalau aku akan menanyakan darimana ia tahu tentangku.
**
“Kamu terlambat, seperti biasa.” Sara kemudian menyesap secangkir cafe latte-nya. Kusodorkan seikat bunga mawar putih padanya. “Sorry, urusan dengan klien baru selesai,” kataku memberikan alasan keterlambatanku. Ia menerima bunga pemberianku dengan senyum yang singkat, sangat singkat
Terkadang aku merasa Sara terlalu kaku dengan kebiasaan on time itu. Bukankah pasti ada hal-hal yang tak bisa diprediksi dengan tepat. Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama hampir dua tahun dan aku tahu ia tak pernah terlambat meskipun hanya satu menit. Meski ia kaku soal waktu, tapi aku tak pernah lelah menghadapinya dan ia pun tak jua lelah menghadapiku yang sering terlambat. Sara terlalu indah bagiku.
“Aku tidak suka membuat orang lain menunggu,” katanya sambil meletakkan cangkirnya.
“Aku tahu itu, Sara. Kau mengucapkannya tiap kali aku membuatmu menunggumu,” kataku santai.
Ia memandangku dengan serius. Aku sudah terbiasa dengan sorot matanya yang tajam dan serius, tapi aku merasakan kalau pandangan matanya kali ini menandakan ada sesuatu yang lebih serius lagi. Diam diantara kami cukup lama, hingga ia membuka suara. “Aku tidak mau membuatmu menunggu.”
Aku terkekeh. “Kau tidak pernah membuatku menunggu, malah sebaliknya aku yang sering membuatmu menunggu,” ucapku sambil meraih tangannya. “Maaf karena terlalu sering membuatmu menunggu, Sara.”
“Kita akhiri saja,” katanya sambil melepaskan tangannya dariku.
“Apa maksudmu?”
“Kita akhiri hubungan ini, apa itu tidak cukup jelas?”
“Sara...,” panggilku. “Aku selalu berusaha untuk tidak terlambat, tapi terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan dan aku tak bisa menghindarinya. Tolonglah mengerti.”
“Aku sudah berusaha untuk mengerti, tapi sepertinya aku yang terlambat menyadari kalau seharusnya kita sudah berakhir sejak dulu.”
“Aku mohon, Sara... aku akan berusaha lebih baik lagi untukmu, tak lagi terlambat untukmu, kumohon...”
Sara memandang ke luar jendela cafe. “Aku akan pergi, dan aku tidak ingin kau menungguku sampai kembali,” ucapnya.
“Kau mau pergi kemana? Kenapa aku tak boleh menunggumu?” Pertanyaan-pertanyaan itu langsung meluncur begitu ia menyelesaikan kalimatnya.
“Karena aku tidak suka membuat orang lain menunggu,” jawabnya singkat kemudian beranjak dari kursinya dan melangkah pergi meninggalkanku.
**
Paris di musim gugur.
“Kamu masih saja terlambat, Bara.”
Aku melihat arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. “Lima menit,” belaku. Ia tersenyum. Akhirnya aku bisa melihat senyumnya lagi setelah hampir lima tahun kami tak bertemu, bahkan bertukar sapa lewat sambungan telepon ataupun internet pun tidak sama sekali. Kami benar-benar hilang komunikasi. Hingga akhirnya aku tak sengaja bertemu dengannya di salah satu sudut kota Paris. Kami akhirnya setuju untuk membuat janji bertemu siang ini, dengan sedikit kupaksa tentunya.
“Arloji itu masih terlihat baik di tanganmu,” ujar Sara melirik arlojiku.
“Bukankah kamu yang bilang kalau aku akan membutuhkannya untuk mengingatkanku?” kataku.
Sara tersenyum lagi. Apakah Paris begitu hebat selama lima tahun ini, hingga mampu membuat Sara yang datar pelit ekspresi menjadi Sara yang lebih sering tersenyum? Atau ia sudah menemukan seseorang yang lebih baik dariku, yang lebih tepat waktu mungkin?
“Kamu benar. Aku memang selalu membutuhkannya untuk mengingatkanku,” kataku lagi. “Mengingatkanku pada seseorang yang menghadiahiku arloji ini.”
Kami sama-sama terbalut dalam diam masing-masing. “Aku minta maaf,” ucapku. Sara diam, menunggu kalimatku selanjutnya.
“Maaf karena aku membiarkanmu pergi dan tak mengejarmu lima tahun lalu.”
Sara tertawa kecil. “Aku tahu kamu selalu terlambat, Bara,” jawab Sara. “Lima tahun lalu aku berharap kamu akan segera mengejarku atau mencegahku pergi, bahkan berusaha lebih untuk meminta penjelasanku pun tidak. Kamu bukan hanya terlambat soal waktu, tapi juga terlambat menyadari keadaan.”
“Apa aku sudah benar-benar terlambat, Sara?” tanyaku hati-hati. Aku yakin ia pasti mengerti maksud pertanyaanku barusan. Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia meraih cangkir putih di meja dan menyesap cafe latte favoritnya.
“Sara, aku... aku... lupakan saja,” kataku tak jadi melanjutkan kalimatku. Mungkin ini terlalu terburu-buru untuk kembali menyatakan perasaanku padanya. Melihatnya kembali dengan senyumnya setelah lima tahun berpisah saja sudah cukup membuatku bahagia dan memintanya kembali akan membuatku merasa tak tahu malu.
Seorang pria tinggi dengan rambut pirang menghampiri meja kami. Sara menyambutnya dengan hangat, memberikan ciuman di pipinya. Ia kemudian mengenalkanku pada pria itu.
“Bara,” ucapku sambil mengulurkan tangan pada lelaki asing di depanku.
“Aidan. Aidan Smith,” balasnya.
“He’s my husband,” ujar Sara. Aku melihat Aidan menatap Sara untuk beberapa saat yang dibalas dengan senyuman dari bibir Sara.
Hatiku mencelos. Aku benar-benar terlambat.
**
Kulihat arloji hitam pemberian Sara yang masih setia mengingatkanku. Masih ada waktu untuk mencari bunga favoritnya. Tak ingin membuang waktu lagi, segera ku kemudikan mobilku menuju toko bunga yang kuketahui dari pemilik toko bunga yang tadi kukunjungi. Beruntung masih ada bunga yang kucari. Aku pun langsung melanjutkan perjalananku menuju menara paling terkenal di kota Paris, Eiffel.
Aku menghela nafas lega ketika tahu bahwa aku tiba lima menit lebih awal. “Sara tak akan berkata ‘Kau terlambat, seperti biasa’ dengan ekspresinya yang datar itu,” kataku merasa menang. Kuedarkan pandang mencari sesosok perempuan yang selalu on time itu.
**
Darah segar mengalir dari pelipisnya. Lelaki bermata biru itu membuatku melayangkan pukulan beberapa kali ke arahnya. Aku rela bila akhirnya ia yang dipilih Sara untuk menjadi suaminya, tapi aku tak akan membiarkannya menyakiti Sara. Amarahku membuatku tak bisa menahan untuk tak menghampirinya yang tengah bersama seorang wanita dan itu tentu bukan Sara. Beberapa orang berusaha melerai kami, namun Aidan berusaha untuk mendekatiku dan mencoba menjelaskan sesuatu.
Kami akhirnya dibawa ke kantor polisi karena sudah membuat kekacauan di cafe. Beruntung masalah pemukulan itu tak diperpanjang. Aidan memanggilku ketika aku dan pengacaraku hendak meninggalkan kantor polisi.
“Bara,” panggilnya. “Aku minta maaf, tapi aku hanya ingin bilang kalau semua ini hanyalah kebohongan.”
“Kebohongan apa? Membohongi Sara tentang perselingkuhanmu?” tanyaku sambil menahan emosiku.
“Tidak. Tidak seperti itu,” jawabnya. “Aku bukan suami Sara. Kami adalah sepupu dan tentang Sara yang bilang kalau aku suaminya, itu semua hanya cara Sara untuk membuatmu berhenti menunggunya.”
“Apa maksudmu? Kenapa Sara tak ingin aku menunggunya?” tanyaku tak mengerti.
Aidan tertunduk. “Sara sakit.”
Ia kemudian pergi tanpa memberiku waktu untuk bertanya lagi. “Aidan....” teriakku memanggilnya dan ia tak menghiraukanku.
**
Lima belas menit sudah berlalu dan Sara belum juga muncul. Kucoba menghubungi ponselnya tapi tak diangkatnya, pesan singkat yang kukirim pun tak satupun dibalasnya. Pasti terjadi sesuatu padanya, karena ia tak biasanya terlambat ataupun tanpa kabar. Ia mulai membuatku cemas.
Seseorang menepuk pundakku dari arah belakang. Aku membalikkan tubuh dan mendapati perempuan dengan syal warna toska yang sangat kukenal, berdiri di depanku. Ia masih menyimpan syal pemberianku lima tahun lalu. “Sara,” ucapku pelan. Ia hanya tersenyum dengan wajah pucat dan kemudian duduk. Aku mengikutinya.
Matanya memandang lurus ke depan. “Kamu tidak terlambat, tidak seperti biasa,” ucapnya terkekeh. Aku tersenyum dan mengikuti pandangan matanya ke arah menara.
“Kamu yang bilang kalau aku tak boleh membuang waktu atau aku akan kehilangan itu untuk selamanya,” ujarku kemudian menyerahkan seikat bunga berwarna putih padanya. Ia melihatku heran.
“Tentu saja aku tak pernah lupa tentang bunga ini, warna putih dan bukan merah ataupun merah muda.”
Ia tersenyum mendengarkanku. “Sara,” panggilku. Sara mengalihkan pandangannya dari bunga ke arahku. “Aku iri dengan Paris.”
“Kenapa?” tanyanya.
“Paris begitu hebat bisa membuatmu lebih sering tersenyum sekarang, tidak seperti lima tahun lalu ketika kita masih bersama.”
Sara tertawa. Wajahnya bersinar oleh kilau lampu menara, mengingatkanku ketika matahari sore menyorotnya di perpustakaan kampus enam tahun lalu.
**
Aku bertanya kepada penjaga perpustakaan tentang lelaki yang sedari tadi mengamatiku. “Namanya Bara,” jawab penjaga perpustakaan itu.
“Barata Yudha Wiratama, semester tujuh fakultas hukum.” Seseorang menambahkan informasi sambil merangkul pundakku. Dion, kakak lelakiku.
“You know him?” tanyaku sedikit antusias.
Dion terkekeh. “Whoa, ada yang lagi jatuh cinta?” godanya. Aku menunduk malu-malu dengan wajah merah padam. Kulihat penjaga perpustakaan ikut tersenyum.
“Okay, kita bicarain ini di tempat lain, nggak boleh berisik di perpustakaan,” ajak Dion sambil merangkul pundakku dan mengajakku pergi dari perpustakaan.
“Tunggu, “ cegahku sebelum kami berjalan. Dion menunggu dengan sabar. Aku kemudian menitipkan selembar kertas yang kutulis di meja tadi sebelum menuju meja penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku. “Titip untuk lelaki itu ya,” pesanku dan wanita berkacamata itu tersenyum padaku sambil mengacungkan ibu jarinya.
Dion tertawa tertahan melihat tingkahku. Aku menyikut perutnya. “Ayo jalan,” ajakku sambil merangkul lengannya kemudian pergi meninggalkan perpustakaan dan lelaki bernama Bara, yang telah membakar hatiku hingga membuat jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat.

*****

Rabu, 31 Juli 2013

Memilih Tak ingat


Kamu tahu rasanya ketika akhirnya kita bertemu dengan seseorang yang dulu pernah dirindukan begitu besar? Senang, tentu saja. Tapi bagaimana kalau seseorang itu datang ketika kita mulai bisa mengikis rindu yang dulu begitu tinggi menggunung? Ketika hati yang dulu berserak serpihan kini sudah mulai tertata? Tentu rasa senang itu tak akan sebegitu besar ketika rindu itu masih utuh. Kemudian muncul keraguan di persimpangan antara sedih dan senang.Jika bisa memilih, tentu aku akan memilih untuk tak ingat saja, agar aku tak pernah bertemu dengan persimpangan itu. 

Bayang wajah yang hampir buyar dalam ingat mendadak tergambar jelas kembali. Tapi kamu tentu tak tahu ketika itu aku pun menyadari ada yang hilang ketika kamu kembali. Anehnya aku tak merasa kehilangan sesuatu yang hilang itu dan justru menyesalkan bayang wajahmu yang terlalu jelas ke permukaan. Mungkinkah aku sudah berhasil?


Entah berhasil atau tidak, aku tak lagi peduli. Aku hanya tak ingin menghancurkan semua benteng yang sudah kubangun dari retakan-retakan hati yang nyaris mendebu. Tentu kamu juga tak tahu, butuh waktu yang tak sedikit untuk itu. Ah, sudahlah.. Kamu juga tak akan tahu dan mau tahu dengan ocehan anak kecil ini. 

Minggu, 23 Juni 2013

Review: Sampai Ujung Dunia




Sudah lama rasanya tidak produktif dengan tulisan. Sebenarnya ide sih banyak bermunculan, namun terkadang rasa malas datang lebih dulu sebelum saya menuliskannya dan mengembangkannya. Kerjaan saya lagi gila-gilaan ditambah tugas-tugas kuliah dan UAS. Proyek menulis saya pun sampai di-pending dulu. Hahahaa.. cukup curhatnya..
Kali ini saya kembali sebelum deadline kerjaan mulai datang keroyokan dan SP kuliah dimulai. Tapi bukan tulisan fiksi yang saya buat kali ini, melainkan review sebuah film dari dalam negeri. Jujur baru pertama kali buat review, film pula!! Habisnya gatel banget pengen cerita.. 



Ini adalah sebuah film dalam negeri yang keluar  tahun 2012. Film produksi NasiPutih Production yang disutradai oleh Om Monty Tiwa dengan genre romance. Ceritanya sederhana dengan selipan komedi yang nggak bikin film ini hambar. Terlebih dengan profesi yang disandang oleh si dua tokoh pria di dalamnya... (heheheheheee....)
Daud (Dwi Sasono), Anissa (Renata Kusmanto), dan Gilang (Gading Marten) sudah bersahabat sejak kecil. Anissa ditinggal ibunya di sebuah panti asuhan, punya impian untuk pergi ke negeri kincir angin untuk bertemu dengan ibunya. Beranjak dewasa, kedua sahabat lelakinya ini menyadari kalau perasaan mereka ke Anissa lebih dari sekedar sayang persahabatan.. (yah you know lah..)
Ketika hari kelulusan SMA, Daud dan Gilang berantem hebat karena saling cemburu. Hingga akhirnya si Daud nanya ke Anissa siapa yang dipilihnya. Seperti layaknya drama lainnya, Anissa nggak bisa memilih diantara kedua sahabatnya itu. Akhirnya ia meyodorkan selembaran (kayak poster gitu) tentang pengumuman pendaftaran sekolah perhubungan/pelayaran. Dia bilang ke dua sahabatnya kalau dia akan memilih yang pertama membawanya  ke Belanda pakai uangnya sendiri. Dia tahu kalau Gilang berasal dari keluarga lebih mampu, sedangkan Daud hanya anak dari seorang penjahit  dip pinggiran ibukota.
Akhirnya Gilang masuk sekolah perhubungan di Curug dan Daud mendapatkan beasiswa di sekolah pelayaran di Marunda. Dan mereka menjalani pendidikannya disana. Banyak adegan lucu disini, ada Gilang yang sering kena hukuman dan dapet julukan ‘anak mama’, dikerjain senior, Daud yang kabur dari asrama, dll.. sampe ngakak dengan kehidupan mereka di asrama ini. Hahahahaa...

“Di kokpit, mama tidak muat!” – senior Gilang yang diperankan Iwa K. Adegan ini bikin saya ngakak! Hahahahahaaa

Perjuangan mereka pun tak sia-sia, akhirnya mereka lulus pendidikan. Anissa yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang di hari kelulusan mereka itu. Gilang dan Daud (yang subhanallah kerennya pake seragam itu!!) pun mencari Anissa ke rumah kos-nya. Ternyata Anissa masuk rumah sakit dan merekapun langsung ke rumah sakit dan mendapati Anissa terbaring dengan selang infus dan peralatan medis lainnya. Akhirnya mereka tahu kalau Anissa menyembunyikan penyakitnya selama ini dari kedua sahabatnya.
Mulai dari sini sebenarnya ada kejutannya, tapi saya nggak mau ceritain lebih lanjut ahh.. Silahkan nonton sendiri dan temukan kejutannya.. Endingnya sih lumayan buat saya.. Yaa, lumayan nggak bikin saya gemes kayak drama lainnya, ini berarti endingnya cukup baik (bagi saya).  

Aduh duh, masih kebayang betapa gantengnya Dwi Sasono (eh, Daud maksudnya) dengan seragam putih itu, terus Gading dengan seragam hitam pilotnya itu.. gagahnya..! Membuat saya ingin pindah dari darat... (maksudnya??!!) ... Hahahahaa, never mind lah.. ^o^
Overall, film ini recomended lah, apalagi buat yang suka pilot kayak sepupu saya yang kesengsem banget sama Mr.Pilot.. hhihihiii.. Filmnya ringan dengan cerita yang sederhana tapi ngena, soundtracknya juga bagus.. Acting pemainnya juga nggak berlebihan..  Jadi, selamat menonton..  *\(^o^)/*





KotaHujan, 230613

DesvianWulan

Minggu, 12 Mei 2013

The Probability



“Namanya Sekar,” ujarku begitu mengetahui kemana lelaki disampingku ini mengarahkan kameranya. Sedari tadi ia sibuk di balik jendela bidiknya, berusaha menangkap objeknya dan mengabaikanku yang terus mengoceh tentang bagaimana menghitung probabilitas posterior.
“Kamu kenal dia?” tanyanya tanpa sesenti pun matanya beralih dari balik jendela bidiknya.
Aku menyendok es dawet hijau yang masih menempati setengah gelas, tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Siang ini, kami memutuskan untuk mampir di salah satu penjaja es dawet yang biasa berjualan di salah satu sudut pasar dekat stasiun di kota hujan, setelah berkelana mencari buku-buku di dekat stasiun. Kami menikmati es dawet sembari membahas materi kuliah dari dosen kami tentang analisis probabilitas yang diberikan tempo hari. Kemudian ia buru-buru mengeluarkan kameranya ketika matanya menangkap seorang gadis dalam balutan jilbab merah muda. Kulihat gadis itu duduk didepan ruko yang menjual aneka perabot rumah tangga sambil serius menekuni buku diantara lalu lalang pengunjung pasar tanpa terganggu.
Ia akhirnya menyerah dan mengalihkan pandangannya dari gadis berjilbab merah muda padaku ketika aku tak kunjung memberikan jawaban.  “Hei, kamu kenal dia?” tanyanya sekali lagi.
“Teman sekolahku dulu,” jawabku pelan tanpa  melihatnya.
“Single available-kah?”
Aku mengangkat bahu. “Maybe, belum pernah dengar dia menikah.”
“Menarik,” ujarnya yang kemudian meletakkan kameranya dan tak memotret lagi.
“Apanya yang menarik?” tanyaku penasaran.
Dia hanya tersenyum sok misterius.
“Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan? Menghampirinya dan berkenalan langsung atau meminta tolong padamu untuk mengenalkan?” tanyanya iseng.
Aku mengangkat bahu lagi. “Kamulah yang harus memutuskan,” jawabku terkekeh.
Ia terlihat lemas, mungkin sedang dilanda kebimbangan.
“Mungkin kita harus membuat pohon keputusan dan menganalisa probabilitasnya dulu, seperti yang diajarkan dosen kita kemarin,” godaku.
Dia menatapku dengan tatapan penuh semangat. “You’re right! Let’s make it!”
Aku hanya melongo mendengar kata-katanya, yang kemudian disambut dengan tawanya yang geli.
“Just kidding, hey!”

Oh no! Tak terbayang bila kami harus menghitung tingkat probabilitas dari tiap kemungkinan untuk memutuskan tindakan apa yang harus ia lakukan untuk bisa mengenal Sekar, gadis yang kini sudah pergi bersama bukunya dari ruko perabot rumah tangga di sudut pasar. 

*****


Kota Hujan,
110513








Note:
Dibuat karena rasa gemas melihat soal mata kuliah Teori Pengambilan Keputusan tentang Analisa Probabilitas. Semoga setelah FF ini publish, semangat dan ketajaman analisa pun muncul.. Hhahahaaa..  Mari minum es dawet.. ehhh??  mari menghitung..!!

Jumat, 26 April 2013

Bahagia Itu Sederhana


 
Bahagia, satu kata yang selalu menjadi harapan setiap manusia. Satu hal yang terkadang hadir tanpa disadari. Satu hal yang bagi sebagian orang sulit didapatkan dengan mudah. Tentu saja, segala sesuatu itu butuh pengorbanan, tapi bukan berarti tidak lantas bahagia bukan? Terkadang kita melewatkan banyak hal kecil yang sebenarnya disebut bahagia, entah karena kita tak menyadari atau kita yang terlalu sibuk mencari.



Bahagia itu sederhana. Menemukan sahabat-sahabat #juara yang bersatu dalam semangat berbagi yang luar biasa. Bertemu dengan teman-teman yang luar biasa, datang jauh-jauh ke selatan ibukota. Terima kasih telah mengajak saya merasakan indahnya berbagi dan kebersamaan. Berbagi keceriaan dengan adik-adik yang luar biasa di rumah mereka yang  hangat.



Bahagia itu sederhana. Menemukan sesuatu yang membuat kita nyaman hingga tak peduli seberapa banyak yang dikorbankan, yang kemudian terlupa oleh rona bahagia di wajah mereka. Melangkahkan kaki menuju tempat mereka tinggal dalam kehangatan yang luar biasa. Langkah-langkah kecil menyambut kedatangan kita dengan sukacita. Dibalut dengan senyum, tawa, kemudian menghambur dalam pelukan manja. Membuat saya merasa lebih berarti dan lebih mensyukuri hidup.



Betapa hidup itu memang tak selalu mudah, tapi kita masih bisa memetik bahagia dengan kesyukuran dari hidup yang dilalui. Bahagia itu begitu sederhana, kemudian tergantung kita memaknainya seperti apa.  
Terima Kasih sahabat #juara!!


Kota Hujan,
26 April 2013

Sabtu, 06 April 2013

Take Care



Mungkin kamu sedang terjaga ketika jemariku mengungkapkan kata-kata yang tak sempat terucap. Ahh, bukan tak sempat terucap, tapi tak akan terucap. Aku memilih ‘tuk menuliskannya diantara sunyi malam yang masih terlalu buta. Untuk kamu, dimanapun.
Entah apa yang membuatku mencarimu malam ini. Aku kehilangan sesuatu yang terlalu lama menghilang. Bukankah tak mudah menyesuaikan sesuatu yang menjadi kebiasaan? Aku hanya merasa seharusnya kita sedang berbincang seperti biasa malam ini. Bertukar kabar, bertukar cerita, hingga membicarakan hal-hal lainnya, yang membuatku menunggu kalimatmu.
Hingga aku menemukan kalimat itu. Kalimat yang singkat sebenarnya, tapi entah mengapa begitu menggelitik pikiranku. Aku menertawakan harapan yang masih saja tersisa. Mereka masih saja tinggal seakan terus beranak. Akupun bosan mengusir mereka pergi, hingga kubiarkan saja mereka tinggal.
Kalimat itu memang sudah sepantasnya ia berikan padamu. Lalu aku kembali menerka-nerka tentang itu, dan aku yakin kalau yang kuterka adalah benar. Maafkan saja kalau aku terlalu berani menerka. Toh tidak ada yang peduli bukan, entah kamu atau dia.
Ahh, aku mulai menceracau sepertinya. Lebih baik kuakhiri saja sebelum semua menjadi tak jelas dan tak layak. Tapi tunggu, mungkin aku ingin mengucapkan beberapa kata terakhir dulu.

Take Care..
Whereever you are..
(semoga kamu membalasnya dengan senyum, tak peduli sehambar apapun itu)




Kota Hujan,
060413