Jumat, 15 Juni 2012

4# Kerudung Merah



Danau Toba


Toba Lake-North Sumatera

PRAAAANNGGG!!!
Terdengar suara benda pecah belah jatuh ke lantai. Aku yang sedang menikmati makan siangku di salah satu warung makan tak jauh dari danau yang menjadi cirri khas Sumatera Utara ini jadi terkejut dan ikut menoleh mencari sumber suara seperti pengunjung lainnya.
Tidak ada suara yang terdengar beberapa saat setelah bunyi itu sampai akhirnya seorang perempuan tua yang sepertinya adalah pemilik warung makan ini datang. Aku melihat seorang perempuan muda dengan serbet kumal tersampir di bahu kanannya berjongkok mengambil pecahan piring yang tadi dijatuhkannya.
“Berapa piring dan gelas lagi yang mau kau pecahkan, hah?!” bentak perempuan tua itu tanpa mempedulikan banyak pengunjungnya yang memperhatikan mereka. Sementara itu si perempuan muda di bawahnya berwajah ketakutan sambil tak henti-hentinya meminta maaf pada majikannya.
Seorang laki-laki yang sepertinya suami dari si perempuan tua itu datang dan menenangkan istrinya itu lalu minta maaf pada pengunjung atas ketidaknyamanan yang telah terjadi. Si lelaki itu berhasil membujuk istrinya untuk pergi dari sana, sedang si perempuan muda mengikuti tuannya dengan membawa pecahan piring yang tadi ia jatuhkan.
Ada-ada saja, kataku dalam hati dan melanjutkan kembali makan siangku.
Setelah selesai makan siang dan membayarnya, aku melanjutkan lagi perjalanan wisataku di danau Toba. Danau yang terbentuk karena proses vulkanik itu ternyata lebih indah dari yang selama ini kulihat dalam gambar-gambar. Aku sedang mencari objek bagus dengan kamera lensa panjangku ketika aku menangkap seorang perempuan dengan kerudung panjang berwarna merah berdiri memandang danau. Jariku menekan tombol besar itu dan mengambil fotonya secara candid. Entah apa yang membuatku tertarik pada perempuan berkerudung merah itu hingga aku mengambil banyak gambarnya.
Tepat di bunyi klik yang kelima itulah ia menoleh ke arahku yang berdiri agak jauh darinya. Ia memandang kaget padaku yang masih dengan kamera di depan wajahku. Buru-buru kuturunkan kameraku dan memandang ke arah lain hingga tanpa kusadari dia sudah berada di sampingku.
“Hei, kau memotretku?” tanyanya dengan suara yang tidak terdengar marah.
Kualihkan pandanganku ke arah kiri tempat ia berdiri. Aku tersenyum malu. “Maaf ya.”
Alih-alih menjawab permohonan maafku, dia malah mengangkat kedua bahunya. Dengan cepat aku mengenali wajahnya. “Hei, bukankah kamu pelayan yang di warung makan tadi?” tanyaku hati-hati.
Dia hanya mengangguk sambil membenarkan letak kerudung panjangnya. “Tadinya aku memang pelayan di sana, tapi sekarang bukan lagi,” jawabnya sedih.
“Dipecat?” tebakku. Dia mengangguk lagi.
“Aku hanya ingin tinggal di sini, agar aku bisa setiap saat ke tempat ini,” ujarnya. “Tapi perempuan tua itu memang tak pernah suka padaku, apapun yang kulakukan pun tak pernah benar di matanya.”
“Mereka itu siapamu?” tanyaku. “Ouh sorry, aku tak bermaksud ikut campur.”
“Ahh tak apa, mereka itu orang tua suamiku.”
Hatiku mencelos. “Kau sudah menikah?”
“Ya, tapi kini suamiku sudah meninggal,” jawabnya tenang. “Danau Toba inilah tempat kenangan kami, maka dari itu aku tak ingin jauh dari tempat ini.”
I’m sorry to hear that.”
Raut wajahnya terlihat tegar dan kuat. Aku merasa ia bukan tipe wanita cengeng dan terus terbelenggu masa lalu. Lalu kami saling diam beberapa detik sampai akhirnya dia berkata, “Hei, kita belum berkenalan.”
Aku tertawa kecil. “Ah ya, aku Banyu,” kataku sambil mengulurkan tangan padanya.
Dia membalas tanganku dengan erat. “Aku Debby!”
“Namamu bagus,” pujiku dan dia hanya tersenyum.
“Mmm, karena tadi kau sudah memotretku diam-diam, sekarang aku mau lihat foto itu boleh?” pintanya.
Aku mengagguk setuju. Aku menunjukkan gambar-gambar yang tadi kuambil di kameraku itu padanya. Ia mendekatkan badannya padaku untuk dapat melihat denga jelas.
“Kau ini fotografer ya?” tanyanya setelah melihat hasil jepretanku.
“Ahh, tidak seperti itu, itu hobiku  saja.” Lalu kami larut dalam obrolan yang terasa menyenangkan padahl kami baru saling kenal.
“Duh, maaf sekali aku harus pergi sekarang,” ujarnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
“Oh sayang sekali ya, senang berkenalan denganmu,” kataku.
“Sama-sama, semoga liburanmu di Toba menyenagkan dan jangan pernah menyesal datang kemari ya,” aku tersenyum mengiyakan. Setelah membenarkan lagi letak kerudungnya, ia kemudian berjalan meninggalkanku.
Ahh, si kerudung merah sudah pergi sekarang.
Tak lama kemudian setelah  perempuan itu sudah lenyap dari pandanganku, seorang pria menghampiriku. “Bang, tak ada barangmu yang hilang?” tanyanya.
Aku mengerutkan kening bingung. “Maksud abang?”
“Perempuan tadi itu pencopet!”
Buru-buru kurogoh kantung celanaku dan tak kutemukan dompet coklat miliku, lalu jam tangan Swiss Army-ku pun lenyap.
ARRGGHHH, SIAALLL!! SI KERUDUNG MERAH ITU…..!! geramku.
****


Btzrg, June 2012

Rabu, 13 Juni 2012

3# Jingga di Ujung Senja



Ampera-Palembang (South Sumatera)

Musi-South Sumatera

Langit sudah mulai kemerahan ketika aku menginjak dermaga setelah selesai menyusuri sungai yang membelah Palembang menjadi dua, Sungai Musi yang tak pernah kering airnya. Aku masih berdiri di atas dermaga untuk sekedar menikmati senja dari tepian sungai Musi. Mataku memandang kagum pada jembatan besar dan kokoh yang berdiri di atas sungai di hadapanku itu. Beberapa jepretan dengan objek  sebuah jembatan besar yang awalnya hendak diberi nama jembatan Bung Karno kuabadikan lewat kamera yang tak pernah luput dariku.
Langit merah di langit Sumatera ini lagi-lagi mengingatkanku pada Disha yang selalu suka dengan sunset. Ia selalu bilang kalau semburat jingga di langit senja itu selalu menenangkan. Aku tersenyum ketika teringat  Disha mengucapkan semua itu di atas jembatan merah di atas sana.
“Aku kembali lagi, Sha,” lirihku. “Ke tempat dimana kita menikmati Musi kala senja.”
Aku mengatur nafasku, tetap berusaha tenang dan tersenyum. “Hanya saja kini aku menikmatinya dari atas dermaga Sungai Musi, bukan dari atas Ampera,” lanjutku.
Aku sedang mengambil gambar lagi dengan kameraku ketika tedengar seseorang berteriak di belakangku. “Jangan lamo lamo di sungai, agek ado Antu Banyu,” teriaknya dengan nada yang terdengar kesal.
Aku seketika membalikkan badanku karena penasaran. Tadi kudengar namaku disebutnya, Banyu. Seorang perempuan berambut panjang sebahu dibiarkan tergerai bebas, dengan kaus putih lengan panjang dan rok panjang yang bergerak tertiup angin sore ada di depan mataku. Aku memperhatikannya yang masih berbicara dengan bahasa daerah pada seorang anak lelaki yang asyik berenang.
Ia sepertinya menyadari kalau aku sedang memperhatikannya. Tatapan matanya memandangku aneh. Aku buru-buru menaglihkan pandanganku dari wajahnya yang kemerahan karena sinar matahari sore.
“Wisatawan ya?” tanyanya ramah.
Aku tersenyum dan mengiyakan pertanyaanya. Ia balik tersenyum padaku dan kemudian duduk di sisi dermaga. Setelah memutar otakku cepat, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Boleh duduk di sini?” tanyaku hati-hati. Wajah sederhana tanpa riasan itu memberiku isyarat, membolehkanku duduk di sampingnya. Detik berikutnya kami saling diam dan aku pura-pura  menyibukkan diri dengan kameraku.
“Dari kota mana?” tanyanya. Aku menoleh setelah berhasil menjepret  perahu tradisional di sekitar dermaga.
“Dari Bogor, tapi kemarin baru dari Belitong,” jawabku.
“Jauh yo, selamat menikmati Palembang lah,” katanya. Perempuan ini sangat ramah dan menyenangkan. Lalu aku iseng bertanya padanya. “Tadi aku dengar kamu panggil namaku, apa kamu tahu aku?” tanyaku tak tahu malu.
Dia tertawa. “Oh ya? siapa namamu memangnya?”
“Banyu.”
 “Banyu?” Ia mengerutkan keningnya. Lalu detik berikutnya terdengar tawa renyah yang menggelitik hatiku. “Mungkin yang kau dengar tadi Antu Banyu maksudmu?”
Aku mengangguk. Lalu dia menjelaskan., “Antu Banyu itu artinya hantu air, jadi ada mitos hantu air di sungai Musi ini katanya selain menyerang orang yang berenang, hantu ini juga menyerang ornag yang berperahu.”
Dia dengan antusias menceritakan mitos tentang Antu Banyu itu padaku, dan aku pun serius mendengarkannya.
“Lalu kau percaya Antu Banyu itu benar-benar ada?” tanyaku setelah ia selesai bercerita.
Dia tersenyum misterius. “Sekarang sudah menjelang maghrib, coba saja lompat ke sungai dan berenang di sana, mungkin hantu yang namanya sama denganmu itu akan menemuimu,” katanya lalu berdiri di sampingku. “Aku pulang dulu ya, semoga beruntung bertemu Antu Banyu.”
Detak jantungku mengencang mendengarnya. Aku tergelak. Perempuan itu kemudian berlari meninggalkanku.
“Hei, siapa namamu?” teriakku.
“Jingga….” Lalu tubuhnya mengecil di mataku dan menghilang. 

Aku tersenyum geli. Teringat beberapa menit lalu ketika Jingga dengan seru menceritakanku sebuah mitos tentang Antu Banyu di sisi dermaga Musi di ujung senja. 


Musi di kala Senja



Btzrg, June 2012

2# Pagi Kuning Keemasan


Lengkuas Island-Belitong


Kubiarkan angin dingin Belitong menerpaku, membuat rambut hitam panjang yang kubiarkan terurai menari bebas. Perahu nelayan yang membawaku dan Banyu terus bergerak menuju pulau kecil di arah jam sepuluh dari Desa Tanjung Kelayang. Sebuah pulau kecil dengan luasnya sekitar satu hektar, Pulau Lengkuas namanya. Kulirik Banyu, lelaki itu begitu bersemangat sejak beberapa hari yang lalu tiba di Belitong, ia bahkan hampir tak bisa tidur untuk mempersiapkan kamera dan peralatannya untuk berburu sunrise di pulau Lengkuas. 

Sesekali ia menurunkan tangannya ke air yang masih bening. Aku bisa melihat rona bahagia di wajahnya karena akhirnya ia bisa menginjakkan kakinya di pulau yang sejak lama jadi target wisatanya, bersamaku.
Perahu yang kami tumpangi ini menepi di bibir pantai setelah menempuh perjalanan sekitar tigapuluh menit dari Tanjung Kelayang. Sepertinya kami belum terlambat untuk sunrise di pulau Lengkuas. Pagi masih gelap ketika kaki kami menyentuh pasir putih yang basah. Banyu merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi dalam-dalam. Ia terlihat sangat menikmati petualangan barunya di Belitong. 

“Well, I’m here now, Disha..,” katanya dengan suara pelan. 

Aku tersenyum mendengarnya. “Yeah, Lengkuas Island,” jawabku.
 
Banyu melangkahkan kakinya ke arah mercusuar putih yang sudah berkarat disana-sini. Mercusuar tua yang dibangun Belanda tahun 1882 itu adalah mahkota dari pulau ini yang juga landmark dari Belitong. Kulihat Banyu mengeluarkan sebuah kamera dan tripod yang sudah dipersiapkannya.
Lelaki bermata hitam itu selalu terlihat keren ketika sedang memotret. Ia mengambil beberapa gambar mercusuar produk pabrikan Chance Brother & Co itu sampai akhirnya kamera hitamnya itu mengarah ke arahku yang berdiri tepat di dekat pintu masuk mercusuar. Aku tersenyum. Banyu terdiam, menahan jarinya untuk menekan tombol dan detik berikutnya blitz dari kameranya menerpa wajahku. Ia tersenyum puas kemudian meraih tripod dan berjalan ke tempat lain. Kuikuti langkahya yang panjang dan cepat.
“Saatnya menangkap sunrise, Sha,” katanya ketika ia membetulkan letak tripod-nya.
Aku berdiri di sampingnya sambil mengamatinya yang begitu antusias. “Take the best sunrise for me,” kataku.
“Langit kuning keemasan favoritmu, Sha,” katanya dan terdengar bunyi klik dari kameranya. Lalu terdengar bunyi yang sama dari kamera hitam itu beberapa kali lagi. Banyu menjatuhkan dirinya di atas pasir putih, membiarkan tripod-nya tetap berdiri di depannya.
Ia membiarkan air laut menyentuh ujung celana jeans selututnya dengan malu-malu. Kedua tangannya menyangga tubuhnya dari belakang. Matanya memandang langit kuning keemasan itu dengan sedih. Lalu aku ikut duduk di sisinya dan menyandarkan kepalaku ke bahu kanannya.
“Sekarang kamu tahu ‘kan maksudku kalau langit pagi ketika angkasa berwarna kuning keemasan itu sepertimu?” kata Banyu dan aku hanya diam mendengarkan.
“Ia cantik dan memberiku semangat lebih untuk menghadapi pertarunganku,” lanjutnya. “Dan kamu selalu bilang semburat jingga ketika senja itu lebih menenangkan.”
Matahari sudah lebih tinggi sejak beberapa menit lalu. “Seharusnya kita bisa saling melengkapi seperti mereka.”
Banyu menghela nafas dan melanjutkan lagi kalimatnya. “Meski pagi tak kuning keemasan dan sore tak kemerahan, kamu tetaplah semangatku, Sha.”
Kututup kedua mataku, meresapi kata-katanya. Andai ia tahu kalau aku pun berharap hal yang sama dengannya. Banyu menghela nafas pendek dan mengatur perasaannya. Kuangakt kepalaku dari bahunya yang selalu nyaman.
Kulihat mata itu tak lagi sayu, ada setitik sinar matahari pagi semangatnya terpancar disana. Tapi aku tahu perjalananmu baru saja dimulai, karena bukan sunrise Pulau Lengkuas yang cantik ini tujuan akhirmu.

Banyu, biarkan langit kuning keemasan itu padamu meski langit kemerahan tak lagi menenangkanmu. aku selalu bersamamu pun meski kita telah berbeda…

Aku bangkit meninggalkan Banyu yang masih duduk di atas pasir putih yang sama. Gaun putih panjangku berkibar tertiup angin pagi. Tubuhku dengan cepat melayang di udara meninggalkan daratan Pulau Lengkuas dan mercusuarnya.







Btzrg, June 2012


Senin, 11 Juni 2012

Secondhand Serenade




Secondhand Serenade..

Awalnya emang ga pernah tau dan ga pernah denger sama sekali tentang Secondhand Serenade. Gue suka karena rasa kepo yang tinggi tentang secondhand serenade ini, sama sekali gak ada yang ngenalin gue tentang ini. Sampai akhirnya gue liat trending topic di twitter dengan hastag #SecondhandSerenade selama beberapa hari. Rasa penasaran gue pun semakin tinggi sama hastag itu, dan akhirnya gue mulai untuk cari tau apa sih itu Secondhand Serenade.Kok bisa muncul di trending topic selama beberapa hari, pasti ini sesuatu yang heboh banget deh.. 

Dimulailah penjelajahan gue tentang Secondhand Serenade di mbah gugel. Pilihan pertama gue jatuh pada situs Wikipedia. Disana dijelasin apa itu secondhand serenade sampai sejarah dan albumnya. Muncul Ohh besar setelah tau profilnya. gue kira itu adalah sebuah band yang biasanya ada beberapa orang, tapi gue salah besar!! Secondhand Serenade ini ternyata cuma terdiri satu orang!! and he's JOHN VESELY..!!

*ini abang John Vesely.. (gantengnyaaa..!!)

 Rasa ingin tahu gue gak berhenti samapi di situ. Gue mencoba download satu lagu buat gue dengerin kayak gimana sih musiknya. Lagu pertama yang gue denger adalah “A twist in my story”.. dan WOW, gue jatuh cintaaaa!! 

Musiknya cantik bangeett,, liriknya juga bagus, dan pastinya suara dari abang John Vesely yang bikin melting ituuhh.. Gak puas Cuma denger satu lagu itu, akhirnya gue cari lagi lagu2nya yang lain. Beberapa lagunya punya kesan tersendiri di hati gue kayak Stranger, Goodbye, Something more, Broken etc..
Pokoknya musik Secondhand Serenade itu cantik, apik, dan bikin jatuh cinta!! 

Gue menikmatinya sendirian.. karena gak ada temen yang tau tentang Secondhand Serenade ini.. Iseng lah gue nyebarin secondhand serenade ini.. Ada satu temenn yang minta di-blutut-in lagu2, dan gue blututin beberapa lagunya secondhand serenade. Setelah gue suruh dia denger, dia pun bilang suka!
Well, sepupu gue juga ikutan coba dengerin setelah gue ngobrolin secondhand serenade di status pesbuk.. Hahaaahaaa..
Tapi serius deh, secondhand serenade ini pas dan mellownya ga berlebihan.. dan pastinya sih cocok di telinga gue yang suka lagu ballad (hahahahahaa..).. petikan gitarnya,, suaranya abang,, liriknya.. ahh,, aku padamuuhhh abang (#ehh), secondhand serenade maksudnyaahh!!




 

Senin, 21 Mei 2012

Dear Abu-abu

Untukmu Abu abu,,

Sesuatu yang sama memang tak akan terulang untuk kedua kali.
Lalu kamu mencoba mematahkannya dengan cara berbeda.
Kamu menarik, mengulur, dan tak berujung.

Kadang membiarkan mereka menari-nari lagi itu bukan tindakan yang tepat, tapi entah harmoni yang mana lagi kau gunakan yang mau tak mau menggoda mereka untuk menari (lagi).
Melenyapkan pelangi dan menempatkan dirimu yang abu-abu di atas langit.

Aku benci dan terkadang merutuki diri sendiri.
Mungkin aku harus menjadi kejam pada mereka, yang selalu kau sihir tuk menari.
Membunuhnya mungkin. Bagaimana menurutmu?



Kota Hujan,
21 Mei 2012

Senin, 14 Mei 2012

Cinderella and The Beast




“Cindy, cepat bawakan tas Prada milikku!” teriak Stania dari dalam kamarnya yang kemudian disambung dengan teriakan saudara perempuannya yang bertubuh gemuk, Alexa. “Cindy, jangan lupa dengan high heels merahku!” teriak Alexa dari kamar yang satu lagi.
Sementara itu, Cindy, seorang gadis yang berpakaian kumal dan sedikit berantakan terlihat sibuk sejak pagi sampai matahari tak tampak lagi kini. Setelah mematikan kompor di dapur, ia tergesa-gesa menuju ruang khusus untuk mengambil barang yang diminta oleh kakak-kakak tirinya dan segera mengantarkannya ke kamar mereka.
Setelah selesai puas memoles wajah mereka, Stania dan Alexa kemudian pergi meninggalkan rumah untuk pergi pesta. Malam ini pesta dansa akan diadakan di istana dan tentu saja kedua kakak tirinya sangat ingin ikut serta dalam pesta mewah tersebut. Kabarnya Pangeran Henry ingin mencari seorang perempuan yang akan dijadikan istrinya. Sebenarnya Cindy pun ingin ikut, namun ia tak mempunyai gaun yang pantas untuk dikenakan ke pesta mewah itu.
Cindy yang malang duduk termenung di loteng sempit yang juga telah menjadi kamarnya beberapa tahun ini. Tepatnya sejak Ayahnya yang duda menikah lagi dengan seorang janda beranak dua yang kini pun telah meninggal dunia. Setelah itu Ayahnya pergi berlayar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan belum juga kembali hingga kini. Sebelum pergi berlayar, ayah menanyakan barang apa yang paling anak-anaknya inginkan sebagai hadiah jika ayah kembali dari pelayarannya. Stania meminta tas mewah seperti Prada, Hermes, dan Louis Vuitton. Lalu Alexa meminta yang shoe fetish itu tentu saja meminta sepatu mahal rancangan desainer terkenal seperti Christian Louboutin ataupun Stuart Weitzman. Sedangkan Cindy, hanya ingin Ayahnya bisa kembali dengan selamat dan setangkai mawar merah.
Gadis malang itu duduk seorang diri di dekat jendela kecil yang juga sebagai satu-satunya sumber cahaya di ‘kamar’nya yang sempit dan pengap. Bel rumah berbunyi berulang-ulang ketika Cindy sedang terlarut dalam kenangannya. Dengan langkah gontai, Cindy turun untuk membukakan pintu dan alangkah terkejutnya Cindy ketika ia tahu siapa yang sejak tadi membunyikan bel rumah.
“Ayah?!” seru Cindy tak percaya dan ia langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. “Ayah aku sangat rindu padamu!”
“Begitupun aku, Cindy. Bagaimana kabarmu?” Tanya Ayah. Mereka kemudian bercerita sambil berjalan menuju ruang tengah.

“Lalu mengapa kau tak pergi ke pesta dansa seperti kakak-kakakmu?” tanya Ayah.
 Cindy tertunduk lesu. “Aku bahkan tak punya gaun yang cantik, Ayah.”
Sedetik kemudian sang Ayah membuka barang bawaannya, dibukanya tas besar yang ternyata berisi gaun yang sangat cantik dan tentu saja ada sepasang sepatu kaca.  Ayah menyuruh Cindy segera berganti pakaian dan pergi ke pesta dansa dan dengan senang hati Cindy segera mengenakan gaun dari ayahnya itu.
Beberapa waktu kemudian Cindy kembali dengan gaun dan sepatu kacanya.  Ayahnya pun mengantar sendiri putri cantiknya ke istana Pangeran.  Sesampainya di depan istana, ayahnya berpesan pada Cindy. “Putriku, ini mawar merah yang kau pinta sebelum aku berangkat berlayar dulu,” kata Ayah sambil menyerahkan setangkai mawar  merah yang merekah kepada Cindy.
“Terima kasih, Ayah,” kata Cindy kemudian mencium pipi ayahnya.
“Sebelum kau turun, aku hanya ingin memberitahumu satu hal, pemilik mawar ini adalah seseorang yang telah menolongku dalam perjalanan pulang, ia mengijinkanku memetik mawarnya untuk diberikan padamu namun ia mengajukan syarat padaku,” cerita ayah.
“Syarat? Syarat apa itu?” Tanya Cindy tak mengerti.
“Ia ingin agar anak gadisku yang meminta mawar ini datang ke kastilnya malam ini selepas jam duabelas malam,” jawab Ayah. “Jadi aku harap kau jangan terlambat, kastilnya kearah utara dari istana ini, Jika kau terlambat maka ia akan menghancurkan rumah kita dan semuanya.”
Cindy mengangguk. “Aku akan datang, Ayah.”
Putri cantikpun turun dari kereta kencananya dan memukau seisi istana. Pangeran pun terpesona dengan kecantikan Cindy dan merekapun berdansa. Waktu begitu cepat berlalu, Cindy melihat jam dinding yang berlapis emas itu sudah hampir menunjuk ke angka duabelas.
“Maaf pangeran, aku harus segera pergi,” pamit Cindy namun pangeran menahannya.
“Tapi beritahu aku siapa namamu.”
“Ehmm… Cin..Cinderella.”
Cindy segera berlari dan sepatu kacanya tertinggal satu di tangga istana. Di luar istana, Ayah sudah menunggu dengan keretanya. Cindy segera masuk dan mereka pergi menuju kastil di utara.
Sang pemilik kastil yang ternyata hidup seorang diri di kastil yang besar itu sudah menyiapkan makan malam yang banyak di meja makan. Ia sudah menunggu seorang gadis yang dijanjikan oleh seorang lelaki tua yang tempo hari ketahuan ingin mencuri mawar merahnya.
Pria buruk rupa itu meminta Cindy untuk menikah dengannya, namun Cindy menolaknya dan pria itu tidak marah asalkan Cindy mau menemaninya tinggal di kastilnya. Cindy setuju asalkan ia diijinkan dulu malam itu dan akan kembali lagi besok malam.
**
Pangeran dan pengawalnya mendatangi rumah-rumah untuk mencari Cinderella. Ketika tiba giliran rumah kerumah Cindy, kedua kakaknya pun dengan yakin mencoba sepatu kaca itu namun tak ada yang cocok. Cindy pun mencobanya dan pas di kakinya.
“Tidak mungkin!” Pangeran tak percaya. “Tak mungkin Cinderella adalah seorang gadis kumal sepertimu!”
“Tapi aku punya pasangannya, pangeran,” kata Cindy menunjukkan sebelah lagi sepatu kacanya. “
Ayah Cindy pun tak bisa meyakinkan pangeran.
“Kau pasti mencurinya dari Cinderella!” kata pangeran dengan sombong. “Pengawal, ayo kita pergi!”

Pangeran yang sombong itu pergi dan membuat Cindy sedih dan ia pun memutuskan untuk tinggal di kastil si buruk rupa. Disana ia menemani pria itu dengan tulus dan memabantunya mengurus kastilnya. Hati Cindy yang terluka karena Pangeran sombong itu pun perlahan mulai terobati oleh kebaikan hati si buruk rupa. Cindy pun menyadari bahwa ia merasa bahwa cintanya tumbuh untuk pria itu.
Cindy mengatakan bersedia untuk menikah dengannya. Tentu saja si buruk rupa sangat bahagia hatinya karena berhasil menemukan wanita yang tulus padanya. Kemudian wajah si buruk rupa berubah menjadi tampan melebihi pangeran sombong. Ternyata ia adalah Pangeran Christo, saudara Pangeran Henry, yang dikutuk menjadi buruk rupa hingga ada seorang wanita yang mencintainya setulus hatinya yang bisa menghilangkan kutukan itu dengan cinta kasihnya.

_The End_


Sabtu, 12 Mei 2012

Weizi si Kancil Nakal




Weizi adalah seekor kancil yang terkenal di seluruh penjuru hutan Lande. Ia terkenal karena kenakalan dan ulahnya yang sering membuat penduduk hutan kesal. Bapak dan Ibu Weizi pun sudah tak tahu bagaimana cara menasihati Weizi. Setiap hari selalu saja ada penduduk hutan yang datang  dan melaporkan ulah si kancil kecil itu, mulai dari berkelahi dengan temannya atapun mengusili penduduk hutan. Jika dinasihati Weizi hanya sekedar mendengar tapi tak pernah dilakukan dan berusaha berbuat baik.
Di pagi yang cerah hari ini, Weizi seperti biasanya berjalan-jalan di hutan Lande yang hijau. Sambil terus berjalan, ia memikirkan kejahilan apa lagi yang akan dilakukannya hari ini. Di tengah perjalanan, seekor ular yang malang berteriak meminta tolong. Weizi berhenti ketika ia mendengar teriakan itu. Ia mencari-cari sumber suara dan akhirnya ia menemukan seekor ular terjebak di bawah batang pohon yang baru saja tumbang. Weizi menghampiri ular tersebut. “Hei ular jelek, apa yang sedang kau lakukan di bawah pohon itu?”
“Tolong aku Weizi, aku kesakitan karena pohon ini menimpa tubuhku,” jawab ular itu merintih.
“Kalau aku membantumu, apa yang akan kau berikan padaku?”
Ular itu diam mendengarnya, ia tak tahu apa yang bias ia berikan pada Weizi jika ia benar-benar menolongnya dari pohon itu. “Hei Ular jelek, kau tidak punya apa-apa untuk diberikan padaku?” Tanya Weizi sedikit kesal karena ular itu hanya diam lama sekali.
“Ya sudah, aku pergi saja. Tak ada ruginya juga untukku jika aku tak membantu ular jelek sepertimu,” cibir Weizi lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan meninggalkan si ular yang terus merintih kesakitan.
Hari itu Weizi merasa bosan dengan hutan Lande yang selalu ia jelajahi hampir setiap hari. Tiba-tiba ia terpikir untuk bermain-main di kebun manusia. Ia pun melangkah menuju kebun yang letaknya tidak terlalu  jauh dari hutan. Sebenarnya penduduk hutan dilarang untuk memasuki wilayah manusia oleh si Raja Hutan, namun Weizi tak mempedulikannya meski ia tahu larangan itu. “Aku hanya ingin main sebentar saja dan tak ada yang tahu, aku kan Weizi si kancil yang pintar,” kata Weizi dengan sombongnya.
Hanya beberapa menit perjalanan, sampailah Weizi di kebun milik seorang lelaki bertubuh besar. Weizi mengintip dari balik rerumputan yang tinggi dan lebat, terlihat olehnya sayuran-sayuran segar yang tumbuh di kebun lelaki yang sudah masuk ke dalam rumahnya. Weizi yang merasa lapar pun berniat untuk mencicipi sedikit saja sayuran di kebun. Lalu ia mengendap-endap masuk ke dalam area kebun yang subur. Awalnya ia memakan buah yang kebetulan jatuh dari pohonnya. Ia sangat menikmati makan siangnya hari ini. Ternyata Weizi yang nakal tak puas hanya mencicipi satu buah saja, wortel yang ditanam lelaki itu pun dimakannya begitupun sayuran dan buahyang lainnya di kebun itu dimakan oleh Weizi. Karena makan terlalu banyak, Weizi yang kekenyangan pun terlelap di samping kebun.
Sore harinya si lelaki keluar dari rumahnya dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati kebunnya yang berantakan. Matanya berkeliling mengamati kebun kesayangannya dan mendapati seekor kancil sedang terlelap. Lelaki pemilik kebun yang marah pun mengambil kayu untuk segera member hukuman bagi kancil nakal itu. Namun Weizi segera tersadar dari tidurnya sebelum si lelaki berhasil memukulnya. Weizi segera berlari dengan cepat menuju hutan sementara di belakangnya lelaki besar terus mengejarnya dengan penuh amarah.
Di dekat sungai kecil di dalam hutan Lande, lelaki itu berhasil menangkap Weizi. Lelaki itu tertawa puas karena berhasil menangkap kancil nakal itu. “Kau sudah mengacaukan kebunku, kali ini tak akan kulepaskan dan akan kumasak kau jadi sop untuk makan malamku!”
“Siapa saja yang mendengarku, tolong aku!” teriak Weizi di dalam cengkeraman lelaki besar itu.
“Inilah balasan untukmu kancil nakal!” kata lelaki itu sambil membawa Weizi keluar hutan Lande. Weizi terus berteriak meminta tolong namun tak ada yang menyelamatkannya. Belum sampai keluar hutan, lelaki yang membawa Weizi itu berteriak kesakitan dan akhirnya terjatuh. Weizi pun terbebas dari cengkeraman lelaki  yang kemudian lari terbirit-birit.
Di balik kegelapan, Weizi melihat seekor ular yang tadi siang ia tinggalkan ketika ular itu meminta pertolongannya. “Apakah kau ular yang tadi siang tertimpa pohon itu?” Tanya Weizi.
“Ya, aku Pitto si ular yang tadi kau tinggalkan,”jawabnya.
“Mengapa kau begitu baik padaku setelah apa yang kulakukan tadi siang?”
“Kejahatan tak harus dibalas dengan kejahatan, Weizi.”
“lalu bagaimana dengan manusia itu? Bukankah kau melukainya?”
“Aku melukainya sedikit untuk melepaskanmu, tapi ia akan baik-baik saja karena aku tak berbisa.”
“Terima kasih Pitto, sekarang kita berteman?” Tanya Weizi mendekat ke arah Pitto.
“Tentu saja asalkan kau tidak berbuat nakal dan mengganggu penduduk hutan lagi,” kata Pitto mengajukan syarat.
Weizi mengangguk setuju. Sejak saat itu Weizi tak lagi menjadi kancil yang nakal dan ia bersahabat baik dengan Pitto.