Selasa, 17 Januari 2012

Ada dia di matamu - #FF6

Duduk berdua bersama kamu di tepi sawah. Memandang luas hamparan sawah yang hijau. Membiarkan angin siang membelai kita dengan mesra. Bercerita banyak hal tentang hari kita atau hanya sekedar berbagi headshet untuk mendengar lagu bersama. Lalu aku menyandarkan kepalaku di bahumu, nyaman sekali. Sambil sesekali aku bernyanyi mengikuti lagu, kesukaan kita. Lalu kamu mematikannya. Aku mengangkat kepalaku dari bahumu yang nyaman itu. Melihatmu tak mau menatapku. Kamu terlihat bingung.

“Kamu kenapa?” tanyaku.
             Kamu terlihat berpikir bagaimana caranya berbicara. “Emm..”
           “Kamu kenapa? katakan saja.”
           “Sebenarnya aku..”
        Hatiku berdesir. Rasanya dingin. Aku berusaha menenangkan hatiku. Lalu aku menghela nafas sejenak. “Aku tahu..”
                Kamu terlihat kaget. Aku bisa melihat itu. “Kamu tahu?”
                Aku mengangguk pelan. “Ya, aku tahu.”
                “Sejak kapan kamu tahu semua itu?”
                “Sejak aku tak menemukan diriku di matamu. Sedari awal kita bertemu.”
                “I’m sorry Van.”
             “Aku ngerti, sangat mengerti. Pergilah, kembali pada seseorang yang membuatku iri karena tak bisa menggantinya di matamu.”
                “Van, aku bener-bener minta maaf,” ucapmu lirih.
                “Pergilah Al, jangan buat dia menunggu. Aku tak akan memaksamu untuk tinggal, karena aku tahu hanya ada dia di matamu.”
                “Tapi aku tak ingin pergi darimu.”
                “Biar aku saja yang pergi. Jaga dirimu, emm jaga dia baik-baik juga, yang selalu dimatamu.”
                “Vania..”
            Lalu aku bangun dari dudukku dan beranjak pergi. Kamu menahanku. Aku menengok ke arahmu sekali lagi. “Biarkan aku pergi, Al” kataku sambil tersenyum.
              Pedih memang. Tapi itulah yang seharusnya kulakukan. Meninggalkanmu dan mengakhiri jalan yang memang sudah salah sejak kamu terlintas di mataku. Bukan aku dan hanya ada dia dimatamu.

Goodbye, brown eyes
Goodbye for now
Goodbye, sunshine
Take care of yourself
I have to go, I have to go, I have to go
And leave you alone
But always know, always know, always know
That I love you so, I love you so, I love you so
(Avril Lavigne – Goodbye Lullaby)

Senin, 16 Januari 2012

jadilah milikku, mau? - #FF5

Hujan yang sedari pagi sudah turun masih enggan berhenti sampai sesore ini. Aku memilih duduk di teras belakang rumah dengan secangkir kopi panas di cangkir kesayanganku. Menikmati tiap tetes air hujan yang turun di depan mata. Mendengarkan simphoni alam yang luar biasa. Duduk berdua di bangku panjang yang nyaman bersama Pras. Kami memandangi tetesan hujan yang jatuh membasahi dedaunan dengan lembut. Indahnya.

Pras mengambil gitar milik abangku yang memang sengaja diletakkan di kursi panjang ini. Aku masih menikmati hujan dan Pras memainkan sebuah lagu mengiringi simphoni alam yang sebenarnya sudah indah. “Mau nyanyi lagu apa kamu?” tanyaku. Dia hanya tertawa.
“Jangan lagu rock ya. ga pas momentnya, “kataku sambil nyengir.

Aku mengalihkan pandanganku dari hujan. Pras tersenyum padaku. Aku tahu ini bukan genre music kesukaannya. Aku tertawa kecil. Pras tak peduli dan tetap melanjutkan lirik selanjutnya. Kuakui dia menyanyikannya dengan baik. Well, kuakui itu sangat indah, Pras, pujiku dalam hati.

Damn why it's so hard to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I've always felt so much
For you

I'm not that romantic
Even worse I'm sarcastic sometimes
And now it's time I tell you this
What's always been my only wish

Eventhough I'm no spiderman or superman
I'll be the one who guards you
Night and day and trust me
I don't need no spiderweb or laser eyes
Cause you're giving me
The strength to say
Share you life and be my wife

Damn why so hard for me to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I've always felt this much
For you
I'm not that romantic
Even worse I'm sarcastic sometimes
And now it's time I tell you this
What's always been my one
and only wish

Can't believe what I heard
It's so beautiful filled in my soul
Please tell me that I'm not dreamin
Will you be my wife... Baby...

Pras diam lalu berkata, “ Please be mine, be my wife.”
Aku terharu. Suara hujan yang begitu lekat di telingaku mendadak hilang tak berbekas. Angin dingin yang membalut tubuhku pun tak kurasa. 
 

Minggu, 15 Januari 2012

Aku maunya kamu, titik - #FF4

Aku menghempaskan tubuhku yang kelelahan di atas ranjang di kamar kost yang kecil ini. Pekerjaan di kantor yang menggunung, banyak deadline, dan belum lagi harus dapat bagian omelan si Boss. Ah ya, masih ada lagi, tugas kuliah! Aku memang mengambil kuliah malam setelah bekerja. Kupejamkan mata sejenak. Rasanya badanku mau remuk. Aku lelah. Sangat lelah.

Bolehkah aku menyerah Tuhan? Sudah tak sanggup rasanya. Aku jadi teringat solusi dari temanku. “Sudahlah, ngapain juga siyh kerja keras sampe kayak gitu. Nyiksa batin dan badan kamu aja deh,” katanya dan aku hanya tersenyum, miris. “Mending nikah aja, jadi ibu rumah tangga,” katanya lagi. Aku hanya diam mendengar celotehannya tentang pernikahan dan membujukku untuk segera menyusulnya. “Ahh, dia sih enak bisa bicara seperti itu. Dia beruntung bisa mendapatkan suami yang idaman wanita banget,” batinku.

Aku memang belum berpikir sampai ke bagian itu, PERNIKAHAN. Masih terlalu banyak yang belum kuraih. Pekerjaan, pendidikan, dan impian untuk hidupku. Aku ingin lulus kuliah dengan predikat cum laude dan membuat ayah dan ibu tersenyum bangga pada anak wanita satu-satunya ini. Mendapat pekerjaan yang lebih baik dari tempatku saat ini. Aku ingin menabung sebagian pendapatanku dan menabungnya untuk impian mereka, menunaikan rukun Islam yang kelima. Tunggu ya Ayah Ibu. Tiap kali teringat impian-impian tadi, aku menarik diriku dari sesuatu yang bernama ‘putus asa’ itu. Aku mencoba bangkit dan menyemangati diri untuk tetap kuat. Ya, aku harus kuat dan harus kuat!

Ponselku berdering. Telepon dari Ibu. Aku langsung bersemangat untuk mengangkatnya.
“Asalamualaikum, Vi,” sapa Ibu di seberang sana.
“Waalaikumsalaam Bu,”kataku dengan suara sedikit lemah. Sepertinya Ibu merasakannya.
“Kamu kenapa? Sakit?” Tanya Ibu.
“Cuma kecapean aja kok, istirahat sebentar juga udah baikan, Bu.”
“Kamu udah makan, nak?”
“Belum sempet bu.”
“Makan dulu ya. Nanti Ibu telepon Mas-mu buat ngantar makanan ke kost-an ya.”
Aku diam dan terisak. “Kamu kenapa nak?” Tanya ibu mulai cemas.
“Aku kangen Ibu, kangen banget,” kataku dalam isak. “Aku pengen peluk Ibu, makan sup ayam buatan Ibu yang enak itu, disuapin Ibu.”
“Vina, Ibu juga kangen sama kamu. Kamu harus kuat ya, nak. Insya Allah bulan depan Ibu ke Semarang nengok kamu.”
Tapi aku cuma mau Ibu saat ini. Cuma pengen sama Ibu, titik!

Sabtu, 14 Januari 2012

"Kamu manis," kataku. - #FF3


Penyanyi di atas panggung café itu adalah alasanku datang kesini. Sepertinya dia menyadari kehadiranku. Sesekali dia melihat ke arahku yang duduk di kursi di sudut ruangan. Dia tersenyum, manis sekali. Akupun tersenyum saat mata kami bertemu. Aku masih ingat bagaimana kami bertemu lima tahun lalu di lorong sekolah saat masih berseragam abu-abu. Sejak dia membantuku dari keusilan anak-anak nakal, karena aku masih murid baru pindahan dari luar kota. Kami beteman dan menjadi dekat. Teman. Bahkan status itu belum juga berubah hingga lima tahun kemudian, saat ini.

Aku memang tak pernah punya cukup nyali untuk mengatakan semua rasa yang kupendam untuknya. Pecundang. Aku hanya terlalu takut kehilangan. Kehilangan dia yang begitu berarti di hidupku lima tahun ini. Seseorang yang membuatku begitu menghargai hidup setelah kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku, Ibu. Saat aku nyaris putus asa, dia datang memberikanku kekuatan lewat senyumannya yang manis itu, membuat aku kembali.

Dia menghampiriku setelah lagu yang dinyanyikannya berakhir. “Hai,” sapanya sambil duduk di kursi di depanku. “Hai, “balasku. 

Ia hendak bicara padaku saat tiba-tiba ponselnya bordering. Satu detik kemudian dia sedang berbicara dengan orang di seberang telepon sana. Sementara aku? Aku menunggunya. Kupandangi wajahnya cukup lama. Melihat mata coklatnya yang indah. Andai aku bisa mengatakannya.

Begitu selesai dengan teleponnya, ia mengalihkan pandangannya padaku. Dia terdiam sejenak, sepertinya sedang memandangiku sambil tersenyum. Oh damn, dia manis sekali!
 “Kamu manis sekali,” kataku. Ternyata aku bisa mengatakan kata-kata itu! Dia tertawa.

“Kamu terlihat beda hari ini. Cantik,“ kataku lagi. Sepertinya aku sudah mulai bernyali sekarang. Lanjutkan!

“Ini hari spesial buatku, aku punya surprise buat kamu,“ jawabnya. 

“Surprise apa?” tanyaku penasaran. “Aku juga punya surprise buat kamu,“ kataku tak mau kalah. Ya, surprise-ku adalah menyatakan perasaanku. 

Seorang laki-laki datang lalu mengecup keningmu. Di depan mataku! Rasanya nyaliku yang sudah sebesar Himalaya runtuh, hancur seperti debu. 


“AYAH??” kataku dengan suara tercekat.
###

Jumat, 13 Januari 2012

Dag Dig Dug _ #FF2

Langit sore ini indah sekali. Suasana sore yang aku suka. Senja. Aku sengaja memilih tempat duduk dekat jendela agar bisa melihat lukisan indah berwarna jingga di luar sana. Aku menikmati langit kesukaanku sambil sesekali meminum cappuccino dari cangkir putih di tanganku. Aku sedang menunggu. Sudah satu jam dan yang kutunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Aku mengenali wangi ini! Ya, hidungku mencium satu aroma wewangian yang sangat kukenal. Aku mengalihkan pandanganku dari senja ke pintu masuk café ini. Benar saja, seseorang yang aku tunggu sudah datang. Dia tersenyum padaku kemudian langkah kakinya menuju arah tempat dudukku. Aku hanya tersenyum dengan debar jantung yang dapat kurasakan makin cepat begitu menemukannya di pintu tadi.
Dia duduk di depanku. Ya, di depanku meski masih ada meja dan satu kursi. Tapi aku masih bisa melihat bola matanya yang berwarna hitam. Cukup lama aku menatapnya seperti itu. Aku selalu menunggu dimana aku bisa menatap matanya yang indah itu, menikmati setiap senti dari lengkungan indah di bibirnya dan tentu saja aku menunggu saat ia mengucapkan kata-kata, tentang apa saja. Aku mendapatkan semua itu sekarang!
Tahukah kamu, aku sudah menunggu cukup lama. Bukan hanya tentang satu jam lalu yang kuhabiskan bersama capucinno dan senja, Ini tentang tiga tahun, sayang!
Dia hanya tersenyum. Ahh, lagi-lagi dia sukses membuat irama jantung ini tak beraturan dan makin cepat. Lelaki impian, begitulah aku menyebutnya. Beberapa detik kemudian dia mengalihkan matanya dan beralih pada wanita yang baru saja datang dan menjadi penghalang bagiku. Penghalang bagi dua pasang mata yang seharusnya bertemu dan bicara. Aku dan lelaki impian. Sekali lagi dia memandangku seakan mengatakan kalau aku harus bertahan.
Aku mencoba membuat satu senyum untuknya dan kemudian mataku meninggalkan raganya yang sedang bersama wanita itu. Aku  kembali menikmati capucino yang mulai dingin seperti hatiku, meski jantungku masih berdebar dengan irama yang masih sama. Mataku beralih memandang senja yang masih enggan pergi.
Aku hanya ingin melewatkan senja yang indah ini bersama kamu, sayang. Ya aku tahu, meski kamu bersama “dia”.



_Bogor, 13012012_

Kamis, 12 Januari 2012

Halo, siapa namamu? #FF1

Halo, siapa namamu?

“Ok, kalo gitu kita putus aja,” kataku dengan nada yang meninggi dan raut wajah yang sudah lelah. Mendengar ucapanku barusan, lelaki di depanku hanya menatapku datar nyaris tanpa ekspresi. “Ahh, lelaki ini maunya apa sih, menyebalkan sekali. Berarti tidak salah kan kalau aku mengajaknya mengakhiri hubungan ini?!” kataku dalam hati.
                Aku menatapnya menunggu kata-kata keluar dari bibirnya. Aku menghela nafas dan hendak pergi dari hadapannya, bibirnya bergerak hendak bicara. “Yaudah,” katanya singkat dan lagi-lagi tanpa ekspresi. Level rasa kesalku sudah mencapai titik tertinggi saja rasanya. Ingin sekali aku memukulnya dengan wedges tujuh senti-ku ini, tapi tak tega saja karena wedges ini kudapatkan susah payah dan harus berebut dengan orang. hahahaha..
                Kubalikkan badan dan berlalu meninggalkannya. Aku tak mengaharapkan dia akan mengejar dan memanggilku seperti adegan-adegan dalam film. “Hah, memangnya dia pikir cowok yang mau sama gue tuh cuma dia aja gitu? emang yang bisa jalan sama cewek lain tuh dia doang? Gue juga bisa dapetin cowok yang lebih dari dia!” aku menyerocos kesal tanpa henti sepanjang perjalanan pulang.
                Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan memutar lagu-lagu Avril Lavigne yang up beat. Aku sedikit beruntung karena rumah sedang sepi, entah pergi kemana dan hanya aku sendiri di rumah. Saat sedang menikmati lagu, bel rumah berbunyi. Dengan langkah malas dan wajah kesal, aku berjalan menuju pintu depan. Ternyata tamunya seorang laki-laki muda dengan motor hitamnya sudah berdiri di depan rumah.
                “Oh my God..!! cepet banget gue dapet gantinya!” aku bersorak dalam hati. Rasanya jantung ini mau lepas dari tempatnya. Dia tersenyum dan sukses membuat hatiku meleleh. “Cowok yang kayak gini nih yang bakal jadi cowok gue, bkal gue pamerin tuh ke si Mr.Flat!” batinku dengan PD tingkat tinggi.
                “Mau cari siapa, mas? Ayah lagi ga di rumah. Mas ini siapa?” tanyaku tanpa jeda. Ah, konyolnya aku, padahal aku hanya ingin tahu namanya saja. Dia tak menjawab dan hanya tertawa.
                “Hei, Anna,” katanya menyebut namaku. Aku bingung bagaimana dia bisa tahu namaku?
                “Udah lupa sama gue?” tanyanya. Aku menggeleng.
                “Masa udah lupa sih? baru juga ga ketemu sepuluh tahun,” katanya sambil tertawa. Aku mengamati wajahnya dan memoriku menemukan siapa nama orang di depanku ini.
                “Mas Galih!” kataku setengah malu. Ternyata lelaki yang tadinya bakal menjadi calon pengganti Mr.Flat adalah saudara sepupuku sendiri!!
                Kenapa kita harus sepupu ya?. Hahaha..

Rabu, 04 Januari 2012

Lovable

Ada YM muncul di layar laptopku ketika aku sedang serius dengan tugas kuliahku. Kulihat namanya yang muncul disana. “Akhirnya dia muncul juga ke permukaan. hhahaa..” kataku senang. Rasanya sudah lama sekali ia tak menyapaku sejak dia pindah ke Bandung. Manusia gara-gara, cowok menyebalkan yang kurindukan.
Dia : Haii Rei.
Aku : Eh manusia gara-gara. kmana aja?
Dia : Biasalah sibuk. apa kabar kamu?
Aku : baik. kamu pasti sibuk sama organisasi ini itu deh.
Dia : Hahahaa tau aja.  
Aku : Taulah, dari jaman sekolah kan yang bikin lu sibuk Cuma organisasi yang OSIS, ekskul atau apalah itu.
Dia : Hehehe.. perhatian banget sih lu ama gue, sampe segitu ingetnya.
Aku : Gimana gak inget, sampe susah banget ngajak lu maen.
Dia : Ngomong-ngomong tentang maen, lu masih suka maen sampe malem ya?
Aku :  Masih, emang kenapa?
Dia : Ih nih anak bandel banget sih. udah gue bilangin dari dulu jangan suka pulang malem juga!
Aku : Biarin! Emangnya lu gaulnya sama organisasi mulu ! :p

Obrolan kami lewat yahoo messenger malam ini membuatku melupakan tugas kuliah yang deadline besok pagi. Aku hanya tak ingin melewatkan kesempatan ini, kesempatan untuk mengobrol dengannya dan bercerita banyak hal dengannya. Walaupun kadang ia menyebalkan setengah mati, tak jarang pula ia bisa menjadi sosok yang dewasa, memberikan ku semangat agar tak mudah menyerah, memberikan nasihat dan mengingatkanku pada hal-hal baik. Aku merasa ia seperti sosok kakak lelaki yang tak aku miliki. Akupun tak mengingkari kalau akupun menyukainya walaupun sebenarnya aku juga sudah sangat nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini.
Dia : Weekend gue ke Bogor, temenin gue ke Kota tua yuk.
“Oh Tuhan! Mauu bangeet.. “  kataku bersorak.
Aku : OKe, tapi jangan lupa sisir rambut terus bajunya yang rapi ya manusia gara-gara!
DIa : Masih belum berubah aja deh pesen lu kalo kita mau maen atau ketemu.
Aku : Iyalah, biar ga malu-maluin gue. Mau ga?
Dia : Oke deh cerewet. see u..
Aku : Huh manusia gara-gara!
Dia sudah offline.

Matanya mencari-cari tempat yang bagus untuk dijadikannya objek untuk hobi fotografinya. Aku yang duduk disampingnya seperti tak dilhatnya. Dia terlalu asyik dengan kamera dan suasana Kota Tua yang seakan tak pernah membosankan baginya. Anggara namanya, cowok yang sudah tiga tahun ini menjadi temanku. Kami dipertemukan di satu sekolah menengah yang sama dan satu kelas. Ia sosok yang ramah, baik, dan menyenangkan bagiku walaupun kadang ia bisa jadi sangat menyebalkan bagiku. Dengan wajah yang tampan, pintar, dan ramah menjadikannya cowok yang populer dan menjadi idola para cewek-cewek di sekolah. Bahkan tak sedikit cewek-cewek itu minta tolong padaku untuk menyampaikan sesuatu atau hanya sekedar titip salam.
“Rei, gue kesana dulu ya,” katanya sambil menunjuk satu bangunan tak jauh dari museum Fatahilah. Aku mengangguk dan bangun dari dudukku tanpa berkata-kata, tapi ia buru-buru mencegahku. “Lu disini aja, gue cuma sebentar doang kok,”katanya lagi dan langsung berlalu tanpa mendengarkanku.  Aku hanya bengong mendengarnya, dia ini makin menyebalkan saja, teganya dia meninggalkan aku sendirian memangnya aku ini pembantunya!
Aku hanya mendengus kesal setelah dia pergi. Tadinya aku membayangkan pertemuan hari ini akan menyenangkan bagiku, saat dimana aku dan dia bisa bercerita banyak  hal setelah kami berpisah setelah perpisahan sekolah, kehidupan kami di kampus masing-masing, atau hanya sekedar bercanda dan mengenang masa sekolah. Dia memilih untuk melanjutkan studinya di kota Bandung dan aku memilih kota Jakarta. Komunikasi kami sedikit berkurang sejak saat itu, dan aku bahagia ketika akhirnya ia mengatakan bahwa ia akan ke Bogor untuk liburan dan memintaku menemaninya walau akhirnya tetap saja kota tua yang jadi pilihannya.
Sepuluh menit sudah ia membuatku menunggunya dan ia kini sudah duduk di sampingku. Aku menengok ke arahnya dengan wajah kesal. Entah apa dia tak melihat raut wajahku yang kesal ata pura-pura tak tahu, ia hanya nyengir kuda tanpa dosa.
“Balik yuk,” katanya enteng. Aku yang mendengarnya langsung bengong tak percaya.
“Apa? balik?!” tanyaku sedikit marah dan ia mengangguk. “Hhah dasar manusia gara-gara, seneng banget bikin orang susah.”
“Emang lu mau nginep disini? “ katanya dengan nada bercanda.
“Garaaa..!! lu ajak gue kesini buat apa? emang gue peliharaan lu yang siap ikut lu kemana lu mau?” kataku dengan nada yang sedikit meninggi.
“Yaudah gue minta maaf, sebelum balik ke Bogor, kita maen dulu deh biar tanduk lu ga makin tinggi.” Gara sepertinya tahu emosiku dan mencoba sedikit meredamnya. Ah, manusia yang satu ini selalu bisa membuatku melupakan kesalku padanya.
Aku tersenyum sambil memukul lengannya. “Paling bisa lu bikin gue ga marah.”


Hari ini adalah hari ulang tahun ku. Orang yang paling kutunggu belum juga muncul walau hanya sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Sudah hampir jam dua belas malam dan aku mulai menyerah. Mungkin dia sudah lupa, pikirku. Aku baru saja akan mematikan laptop dan pergi tidur ketika sebuah sms masuk ke handponeku. Akhirnya nama orang yang kutunggu muncul juga. Dengan penuh semangat kubuka sms itu.
Eh cerewet, buka kotak pos depan rumah lu sekarang.
“Apa sih ini orang, bukannya ngucapin ultah malah suruh gue buka kotak posl! “ gerutuku kesal.
Mau ngapain malem-malem buka kotak pos?! balasku.
Tapi sms balasan tak kunjung datang, akhirnya aku dengan segenap keberanian pergi ke kotak pos di dekat pagar rumah seorang diri. Sebuah kotak kecil berhias pita merah sudah ada di dalamnya. Aku langsung kembali ke kamarku untuk membuka isinya.  Ternyata isinya adalah sebuah CD dan karena penasaran tingkat tinggi akhirnya langsung kuputar di laptopku.
Muncul sebuah tulisan “ Happy Birthday Cerewet!!” dan kemudian muncul foto-foto saat kami SMA lalu foto-foto bangunan di kota tua yang dia ambil satu bulan lalu. Aku masih menunggu kejutan selanjutnya, dan ternyata wajahnya muncul dalam video itu. Dengan latar yang kukira adalah kamarnya, ia berbicara, “ Hei Rei happy birthday ya, hope you like this video.”
Kemudian ia mengambil gitar dan jari-jarinya siap diatas senar, tapi sebelum itu ia bicara lagi. “Oh iya Rei, rambut gue udah gue sisir rapi, baju juga rapi dan wangi lho, “ katanya kemudian tertawa malu, akupun tertawa geli melihatnya. 

Meski ku sering mengeluh
Tentang semua tingkah lakumu
Maunya selalu mengatur aku
Tapi kau sangat perhatian
Apa pun yang aku lakukan
Kau ingatkanku jangan lupa makan

Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku..

Walau pun kamu sangat bawel
Kau kometar ini itu
Dan ku tak tahu apa maumu
Kadang bajuku kurang rapi
Kadang sepatuku kurang matching
Atau rambutku yang berantakan

Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku

Lagu itu berakhir dan setelah itu muncul lagi foto. Kali ini foto-foto ku yang diambil secara candid. Aku mengerti sekarang alasan ia meninggalkanku di kota tua saat itu, ia memotretku ternyata. Thanks for this nice surprise, Manusia Gara-Gara.
###